Berlayar Bersama Nanggala 402

Harus Betah Hidup di Ruang Sempit

COWASJP.COM – KRI Nanggala 402 bersama 53 awaknya dinyatakan tenggelam.Bangsa Indonesia pun berduka.

Ini merupakan kali pertama, kapal selam Indonesia tenggelam.

Sebelumnya kapal selam Kursk, juga tenggelam 12 Agustus 2000. Di Laut Barents, bersama 118 awaknya. Kapal selam bertenaga nuklir milik Rusia.

Insiden itu menjadi salah satu kecelakaan maritim paling nahas dalam sejarah pelayaran militer. Seluruh awak --berjumlah 118 orang-- yang ada di dalamnya tewas, seperti dikutip dari History, Kamis (22/4/2021).

Di kala perebutan Irian Barat (sekarang Papua dan Papua Barat), 1962, Indonesia memiliki satu lusin kapal selam. Buatan Rusia. Untuk memperkuat armada laut. Yang dikenal dengan Operasi Mandala.

Cerita tentang kapal selam. Saya mempunyai kenangan tersendiri berlayar dengan KRI Nanggala 402.

Ruang dalamnya sempit. Penuh dengan peralatan canggih.

Personelnya pun, terbatas. Dan sangat khusus. Karenanya, awak kapal selam harus orang berkemampuan khusus pula.

IQ di atas rata-rata. Banyak persyaratan untuk jadi anggota pasukan khusus yang satu ini.

Termasuk soal kesehatan dan ketahanan fisik.

Yang tak kalah penting adalah, betah hidup di ruang sempit.

Yang tidak bisa hidup di ruang sempit, tak bakal diterima jadi anggota satuan kapal selam.

Nanti bisa stres. Dan bisa ngamuk.

Karenanya, awak kapal selam merupakan prajurit berkemampuan khusus.

Prajurit kapal selam, termasuk pasukan elit. Pasukan khusus.

Seperti halnya Pasukan Katak. Atau Intai Amfibi (Taifib) Marinir TNI AL.

Untuk masuk ke kapal selam pun, tidak boleh sembarang orang. Meski anggota TNI AL, sekalipun.

Hanya orang-orang yang telah mendapatkan rekomendasi intelijen TNI AL, yang boleh masuk ke kapal selam.

laut.jpg

Kapal selam, memang penuh rahasia. Peralatan yang dimiliki pun, serba rahasia pula.

Ketika Jenderal Benny Moerdani jadi Menteri Pertahanan dan Keamanan RI ke-17 (1988-1993), dan mendapatkan brevet di Dermaga Ujung, Surabaya, saya diperbolehkan ikut meliput. Kejadian ini tahun 1990 (masa jaya-jayanya Harian Jawa Pos. Dan, saya memang ditugasi Jawa Pos khusus untuk meliput kegiatan-kegiatan Armatim TNI AL sejak 1982).

Tapi, begitu dilaporkan ke Pak Benny, sapaan akrab Benny Moerdani, justeru dimarahi. Maka gagallah saya masuk kapal selam.

Tapi, akhirnya saya diizinkan juga untuk masuk kapal selam KRI Nanggala 402. 

Meski dibolehkan berlayar bersama KRI Nanggala 402, tapi tak berarti bebas semuanya. Misalnya memotret. Atau mewawancarai. Tidak boleh sembarangan. Semuanya ada batasan yang ketat.

Mungkin, karena saya tahu batasan itu pula saya diperkenankan untuk meliput acara di dalam kapal selam.

Kala itu, saya diundang meliput penyematan brevet Hiu Kencana, kepada tiga perwira tinggi TNI AL.

Salah satunya Wakil Kepala Staf TNI AL.

Untuk dapat brevet itu, syaratnya harus ikut berlayar dengan kapal selam.

Karena ikut berlayar itu pula, saya pun diakui sebagai warga kehormatan Hiu Kencana.

Sebagai bukti, saya juga diberi piagam satuan yang bersemboyan: “Tabah Sampai Akhir”.

Brevet itu, disematkan di kedalaman 76 meter dari permukaan laut. 

Meski acara itu di kedalaman hampir 100 meter, tak berarti bisa merasakan tekanan atmosfer seperti halnya saat menyelam.

Sebab, tekanan di dalam kapal selam bisa diatur. Meski terasa, tapi sangat kecil. Bisa diatasi dengan falsafah. Yaitu menekan hidung dengan jari, sambil menekan menghembus napas. Maka tekanan pun akan hilang. Telinga pun, terasa blong.

Saya kebetulan juga pernah mengikuti sekolah selam di Armatim. Sekarang Armada 2. Sehingga mudah untuk menyesuaikan diri.

Saya berangkat dari Surabaya dengan helikopter. Mendarat di KRI yang disiapkan di Selat Madura. Dekat Situbondo sana.

Dari KRI baru pindah ke kapal selam. Yang Sudah mengapung di Selat Madura itu.

Dari kapal, satu demi satu, kami turun tangga besi yang menuju ke atas anjungan.

Sebab, lubangnya pun hanya sebesar badan. Di dalam, ada ruangan kosong. Ukurannya mungkin hanya bisa diisi beberapa orang, bila berjejer. Di situlah upacara penyematan brevet itu dilakukan.

Komandan Satuan Kapal Selam Kolonel Laut (P) Soeparno, Arek Suroboyo yang belakangan menjabat KSAL (28 September 2010 - 17 Desember 2012), menyematkan brevet.

Usai acara resmi, KRI Nanggala 402 pun muncul kembali ke permukaan laut.

Saya lupa, berapa lama berada di dasar laut. Hanya lewat pengeras suara, disebutkan kalau kapal sedang duduk di dasar laut.

dini.jpgFoto penulis Nasaruddin Ismail ketika masih muda dulu tahun 1990. (FOTO: istimewa)

Yang mengesankan. Meski hanya sebentar di dalam kapal selam, namun begitu melihat alam bebas di atas permukaan laut, terada indah sekali. Saat itulah keindahan alam di atas permukaan laut terlihat begitu indahnya. Allahuakbar!

Dalam benak saya, bagaimana kalau berhari-hari berada di dalamnya. Betapa indahnya pemandangan di alam bebas. Ya Allah, hamba sangat bersyukur pernah mengalami menyelam bersama KRI Nanggala 402. Yang kini menjaga lautan Nusantara di alam keabadian. Atau dalam istilah kebanggaan para pelaut sendiri mereka itu sedang "beristirahat dalam angin yang tenang di laut yang indah".

Surat penugasan mereka tidak dicabut. Mereka juga tidak mengembalikan surat tugas itu. Selamanya. Mereka menyebut diri mereka masih dalam status sedang "patroli abadi"

Semoga arwah seluruh awak KRI Nanggala 402 diterima di sisi Allah. Aamiin. (*) 

Tulisan: Nasaruddin Ismail, Wartawan Senior di Surabaya.

 

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda