Mudik dan Kekonyolan Massal

Prof Jared Diamond, ahli sejarah evolusi dari Amerika Serikat. (FOTO: littlebrown.com)

COWASJP.COM – Manusia adalah makhluk paling cerdas di planet bumi ini. Karena itu manusia menjadi penguasa peradaban jagat raya ini. Sejarah jutaan tahun peradaban bumi menunjukkan kehebatan manusia sehingga bisa survive dan menjadi penguasa dunia sampai sekarang.

Tetapi, sejarah dunia juga menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk bodoh dan konyol yang sering melakukan tindakan ngawur yang merusak dirinya sendiri. Kebodohan dan kekonyolan itu menjadi penyebab hancurnya peradaban manusia di masa silam.

BACA JUGA: Hantu Komunis di Kemendikbud​

Virus kecil Covid-19 sekarang ini membuktikan kehebatan manusia sekaligus kekonyolannya. Vaksin bisa ditemukan dalam tempo singkat, itulah bukti kehebatannya. Tapi manusia tetap ngeyel tidak mau menghindari kerumunan dan enggan berprokes, itulah bukti kekonyolannya.

Indonesia sudah melakukan vaksinasi massal secara gratis. Itu langkah cerdas. Tapi larangan mudik tetap saja diakali untuk dilanggar, itu bukti kebodohan dan kekonyolan yang merusak dirinya sendiri, self destruction, yang pada akhirnya bisa membahayakan keberadaan umat manusia.

Prof Jared Diamond, ahli sejarah evolusi dari Amerika Serikat, melakukan studi komprehensif terhadap sejarah evolusi umat manusia sejak jutaan tahun yang lampau sampai sekarang. Ia menyimpulkan bahwa manusia punya potensi otak yang dahsyat untuk membangun peradaban yang super canggih. Tapi, di sisi lain, manusia punya kelemahan dan kekonyolan fatal yang bisa menghancurkan dirinya sendiri.

Pada 2004, Jared Diamond memberikan kuliah umum (public lecture) atas undangan National Council for Science and the Environment, Amerika Serikat. Judul pidato yang dibawakannya sangat menarik, “Lessons from Environmental Collapses of Past Societies (Pelajaran dari Keruntuhan-keruntuhan Masyarakat Masa Lalu)”. Judul ini merupakan semacam resume dari buku ilmiahnya  yang sudah menjadi bacaan publik dunia, termasuk di Indonesia, seperti: The Third Chimpanzee: The Evolution and Future of the Human Animal (1991); Guns, Germs, and Steel: The Fate of Human Societies (1997); Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed (2005), The World Until Yesterday (2012), dan Upheaval (2019).

Prof Jared menyimpulkan bahwa peradaban manusia muncul karena kehebatan otak manusia. Tapi akan hancur karena kelalaian dan kekonyolannya sendiri.

Bukti sejarah runtuhnya peradaban besar seperti Maya dan Aztec maupun Pulau Hijau, menunjukkan kekonyolan manusia yang mengabaikan lingkungan.

Keruntuhan itu terjadi karena bencana lingkungan akibat kekonyolan manusia yang menebangi hutan semaunya, dan akibat wabah penyakit yang dibawa oleh manusia sendiri. Peradaban Amerika Latin musnah dalam sekejap karena wabah penyakit yang dibawa oleh conquestidores Eropa. 

Kondisi abai yang konyol itu indikasinya muncul lagi sekarang ketika peradaban manusia diserang oleh pandemi.

Manusia disebut sebagai hewan yang berpikir. Genus manusia, spesies manusia, sama dengan hewan, tapi bedanya manusia bisa berpikir dan hewan tidak. Manusia punya akal, hewan tidak.

Karena punya akal itulah manusia bisa survive, bertahan hidup, menghadapi tantangan alam yang ganas, bisa menghindari ancaman binatang buas, bisa menyelamatkan diri dari bencana alam, bisa mencari dan mengumpulkan makanan untuk dirinya dan kelompoknya, dan bisa menghindari penyakit yang mematikan.

Orang beriman yakin bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai mahluk yang sempurna baik bentuk fisik maupun akalnya. Fisiknya yang berjalan tegak dengan dua kaki yang kokoh dan dua tangan yang seimbang membuat manusia lincah bergerak di semua medan alam. Ukuran badannya ideal, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek membuat manusia lincah bergerak di semua medan alam. Berat badannya ideal, rata-rata di bawah 100 kilogram menunjang mobilitas manusia untuk lincah bergerak di semua medan.

Fisik manusia lebih lembut dan tidak dibekali dengan senjata tubuh seperti taring, tidak punya kuku yang tajam, atau lidah yang berbisa. Tapi jari manusia yang lembut dan tidak berkuku tajam membuat manusia bisa fleksibel memegang apa saja mulai dari sendok-garpu sampai senapan otomatis yang mematikan.

Manusia tidak punya jari tangan dengan kuku yang kokoh dan tajam seperti singa, tapi dengan jari yang lentur dan lembut manusia menciptakan alat tulis dan menumbuhkan peradaban tulis-menulis yang menjadi puncak mahkota peradaban dunia sampai sekarang.

buku.jpgSalah satu buku tulisan Prof Jared Diamond. (FOTO: tokopedia.com)

Manusia tidak punya taring yang runcing dan tajam seperti harimau atau buaya yang menjadikan dua binatang itu predator paling ganas yang bisa merobek dan menelan mangsanya yang jauh lebih besar dan kuat. Dengan gigi yang rapi dan bibir yang lembut manusia menciptakan makanan dari bahan apa saja di bumi dan mengolahnya menjadi kuliner bercitarasa tinggi. Singa, harimau, atau buaya menjadi makhluk karnivora yang hanya memakan daging mentah seumur hidupnya, tapi manusia menjadi makhluk omnivora, memakan apa saja yang ada di atas tanah, baik yang bergerak maupun tidak bergerak. Bahkan buaya pun bisa diolah oleh keterampilan manusia menjadi steak dan disajikan sebagai kuliner dengan rasa eksotisme yang tinggi.

Agama menyebutkan bahwa manusia menjadi makhluk unggul terbaik penguasa jagat raya karena punya akal yang mengejawentah dalam iman dan amal baik. Tanpa iman dan amal baik manusia sama saja dengan spesies hewan lainnya, dan malah derajatnya lebih rendah dari hewan, karena akal manusia punya kemampuan destruktif yang dahsyat yang bisa menggancurkan dunia hanya dengan menekan tombol senjata nuklir.

Para ilmuwan evolusionis tidak percaya bahwa manusia adalah makhluk jadian yang turun ke bumi sudah dalam kondisi built-up sempurna seperti sekarang. Manusia, dalam pandangan kaum evolusionis, tumbuh dan berkembang secara gradual dalam proses evolusi puluhan juta tahun sebelum mencapai bentuk yang sekarang. Proses evolusi manusia ini hanya sekedipan mata dibanding dengan keseluruhan evolusi penciptaan bumi dan jagat raya yang merentang jauh sampai miliaran tahun yang lampau.

Manusia disebut sebagai spesies yang satu jenis dengan simpanse dan bonobo, dua jenis kera besar yang berjalan dengan dua kaki dan punya dua tangan panjang yang menjuntai. Secara bentuk fisik tiga spesies ini mempunyai kesamaan, bentuk kepala bulat, mata, hidung, dan bibir yang sama, serta bentuk tubuh yang serupa.

Manusia-Purba-Neanderthal.jpgManusia Purba Neanderthal. (FOTO: newscientist.com - idntimes.com)

Selain bentuk fisik yang punya kemiripan, manusia dan simpanse mempunya kemiripan yang nyaris sempurna dalam struktur genetiknya. Para ahli evolusi-genetika menyebut kesamaan genetik ini mencapai 98 persen, dan bahkan lebih tinggi lagi sampai 98,4 persen. Jadi, antara kita dengan simpanse hanya punya perbedaan genetik 1,6 persen.

Perbedaan sekecil itu akhirnya bisa membuat perbedaan dahsyat yang sangat menakjubkan. Simpanse dan bonobo masih hidup di hutan atau dalam kerangkeng di kebun binatang.

Dari perbedaan gen yang kecil itu ternyata manusia bisa menemukan bahasa yang akhirnya menemukan baca tulis yang membuat peradaban manusia maju pesat meninggalkan dua saudara sepupunya, simpanse dan bonobo.

Jared Diamond menyebut peristiwa yang terjadi kira-kira 65 ribu tahun yang lalu itu sebagai keajaiban, great leap foward, lompatan besar ke depan, seolah terjadi begitu saja. Lompatan besar itu terjadi di wilayah Eurosia, di Eropa dan Afrika sekarang, dan menjadikan spesies manusia Neandethral menjadi mahluk unggul penguasa dunia. Neandthral inilah yang menjadi kakek-moyang yang menurunkan umat manusia modern.

Jared Diamond tidak memasukkan unsur agama dalam kajiannya. Karena itu periode great leap foward itu hanya disebutkan sebagai keajaiban dunia. Manusia yang beriman akan sadar bahwa itulah lubang besar kelemahan ilmu pengetahuan yang hanya bisa dijawab dengan iman. Sangat mungkin pada periode ajaib itulah Nabi Adam turun ke bumi dan membawa manusia menjadi khalifah Allah  dengan membawa peradaban yang canggih.

Bumi yang berumur miliaran tahun ini mengalami beberapa kali kehancuran. Dinosaorus yang raksasa dan perkasa hancur dan hilang musnah dari bumi. Hewan-hewan raksasa purba dengan berat puluhan ton bisa musnah bersama kehancuran alam. Manusia yang hanya berukuran rata-rata 1,65 meter dan berat 70 kilogram pasti sangat mudah hilang musnah dari bumi.

Penyebab utamanya adalah kekonyolan manusia sendiri. Manusia adalah makhluk dahsyat dengan otak dan akal yang hebat. Tapi manusia adalah makhluk konyol dan bodoh yang suka lupa terhadap pengalaman sejarah.

Peradaban manusia yang hebat bisa hancur karena kekonyolan dan kebodohan manusia sendiri. Kali ini, pandemi Covid 19 ini akan menguji otak dan sekaligus iman manusia apakah bisa survive, atau akan hilang musnah. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : kempalan.com

Komentar Anda