Perempuan dan Pemulihan Ekonomi Pasca-Pandemi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan kontribusi perempuan dalam berbagai sektor ekonomi kini telah melampaui laki-laki. (FOTO: istimewa - independensi.com)

COWASJP.COM – Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari satu tahun berdampak besar pada perekonomian nasional. Tahun 2020, ekonomi mengalami pertumbuhan negative 2,07 persen. Pandemi juga menyebabkan meningkatnya pengangguran hingga 9,7 juta orang. Pengangguran terbuka naik dari 4,9 persen menjadi 7 persen. 

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat, per September 2020, jumlah penduduk miskin bertambah 2,76 juta menjadi 27,55 juta. Dengan tambahan itu, tingkat kemiskinan yang sempat turun hingga di bawah 10 persen, yaitu 9,7 persen, kini kembali double digit: 19,19 persen.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dengan memberikan berbagai program. Ada bantuan sosial tunai, bantuan pangan non-tunai, subsidi upah, subsidi listrik, BLT UMKM, BLT dana desa, dan sebagainya. Masih ada bantuan BUMN dan bantuan korporasi. 

Selain program-program tersebut, tampaknya pemerintah perlu memfokuskan upaya pemulihan ekonomi melalui program untuk perempuan. Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara “Srikandi Ekonomi Syariah Bersinergi Mendukung Pemulihan Ekonomi” kemarin mengungkap kontribusi perempuan dalam berbagai sektor ekonomi kini telah melampaui laki-laki. 

Di sektor UMKM, perempuan sudah mendominasi dengan kontribusi hingga 53,76%. Dari sini pekerja juga dominan hingga 61%. Di sektor investasi, perempuan juga mendominasi hingga 60 persen. Dominasi itu juga bisa dilihat dari lebih banyaknya investor perempuan dalam pembelian ORI-17 (55,8%) dan ORI-18 yang mencapai 57,82 persen. Secara umum, investor perempuan di pasar modal sudah mencapai lebih dari 40 persen. 

Kontribusi perempuan dalam perekonomian juga tampak meningkat pesat di dunia kerja. BPS mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan telah mengalami perbaikan signifikan. Pada 2015, TPAK perempuan sebesar 48,87% dan naik menjadi 50,77% di 2016 dan terus meningkat hingga 50,89% pada 2017. Data itu menunjukkan, lebih separo perempuan usia di atas 15 tahun yang mencari kerja sudah memperoleh pekerjaan. 

Bukan hanya itu. Pada berbagai sektor, perempuan sudah memperoleh gaji lebih tinggi dari laki-laki. Di antaranya adalah  sektor ekonomi konstruksi, transportasi,  pergudangan, dan  real estat. Rata-rata upah buruh perempuan di kategori konstruksi, misalnya, sebesar Rp 2,91 juta dan laki-laki Rp 2,62 juta.  Di  real estat, gaji karyawan perempuan  Rp 3,21 juta  dan laki-laki  Rp 3,04 juta. Namun secara keseluruhan, laki-laki masih menerima gaji lebih besar. Pada tahun 2018, rata-rata gaji laki-laki sebesar Rp 2,91 juta dan perempuan Rp 2,21 juta.

ekonomi.jpg

Di banyak keluarga, perempuan juga menjadi kepala rumah tangga. Dalam catatan Jurnal Perempuan, saat ini sebanyak enam juta rumah tangga di Indonesia dikepalai oleh perempuan. Setiap tahun kepala keluarga perempuan meningkat hingga 14%. 

Fakta-fakta tersebut sudah cukup menjadi alasan begitu pentingnya melibatkan perempuan dalam pemulihan ekonomi akibat Covid-19 ini. Apalagi, menurut penerima Nobel ekonomi, Amartya Sen, mengungkapkan bahwa ekonomi mustahil berkembang tanpa melibatkan perempuan sebagai agen atau sebagai bagian dalam perhitungan ekonomi. 

Selama ini, peran perempuan yang begitu besar kurang diperhatikan. Ada beberapa penyebab. Salah satunya adalah  dunia patriarki, di mana laki-laki selalu dominan dan menjadi sentral, termasuk di bidang ekonomi. Apalagi, banyak pekerja perempuan bekerja dalam sektor nonformal. Apa yang dikerjakan perempuan sering dianggap tidak bernilai ekonomi, karena dianggap sebatas pencari pendapatan tambahan. Bukan pencari nafkah utama. 

Ini pula yang di-stigma-kan pada buruh migran yang 70 persen adalah perempuan. Keterampilan perempuan banyak yang lebih dikaitkan dengan urusan-urusan domestik yang dianggap nilai ekonominya  rendah. Sebagai buruh migran, tenaga perempuan dianggap murah karena dianggap tak punya nilai ekonomi. Skill-nya juga tidak dihargai karena dianggap hanya pekerjaan rumah tangga. Padahal, kontribusinya terhadap pendapatan rumah tangga tak ternilai harganya. 

Di Indonesia, perempuan memang begitu diharapkan berkontribusi besar secara ekonomi dalam rumah tangga. Pemerintah melibatkan perempuan dalam misi-misi penting, di antaranya adalah pengentasan kemiskinan. Keberadaan menteri khusus perempuan, yaitu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menunjukkan bahwa pemerintah sangat mengharapkan perempuan bisa berdaya yang pada akhirnya dapat mensejahterakan keluarga. 

dodolan-cabe.jpgInvesting in small business loans for Indonesian Women Micropreneurs. (FOTO: blog.mekar.id)

Di Jawa Timur, perempuan benar-benar dilibatkan dengan diberi tugas  untuk ikut menanggulangi kemiskinan. Itu tampak dari berbagai program  Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sejak 2012, Pemprov telah menginisiasi pendirian lebih dari 11 ribu koperasi perempuan. Sebanyak 8.605 adalah koperasi wanita di setiap desa dan kelurahan di Jatim. Juga  2.500 koperasi wanita berbasis fungsional (kelompok pengajian dan komunitas). 

Jika jumlah anggota minimal adalah 20 —sebagai syarat minimal pendirian koperasi-- maka jumlah wanita yang terlibat dalam aktivitas pengentasan kemiskinan ini mencapai 220.000 wanita. Faktanya, banyak koperasi wanita yang anggotanya lebih dari 200, sehingga bisa jadi lebih dari sejuta perempuan dilibatkan dalam lembaga ekonomi itu. 

Belum lagi belasan Bank Wakaf Mikro (BWM) berbasis pesantren yang juga menyasar perempuan. Lembaga keuangan mikro syariah ini memang hanya memberi pembiayaan kepada perempuan dalam skala mikro. Satu BWM minimal mengelola dana Rp 4 miliar yang mestinya bisa memberikan pembiayaan kepada 4.000 perempuan. 

Dengan posisi perempuan seperti itu, jika pemerintah serius mengandalkan perempuan, maka semestinya persoalan kemiskinan dan kesejahteraan akan lebih cepat dapat diatasi. Begitu juga pemulihan ekonomi akibat pandemic Covid-19 ini. Untuk itu, pemerintah harus fokus  pada program pemulihan ekonomi melibatkan perempuan. Wujudnya bisa BLT UMKM perempuan, bantuan koperasi wanita, BLT ultra-mikro, BLT pekerja perempuan, BLT pekerja informal, dan sebagainya.(*) 

Penulis adalah Dosen Ekonomi Syariah FEB Universitas Airlangga dan Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda