Surat “Cinta” dari Polisi

CCTV untuk tilang elektronik atau Electronic Trafic Law Enforcement (ETLE). (FOTO: cnnindonesia.com)

COWASJP.COM – Kamis lalu (15/4/2021) saya dapat surat “cinta” dari polisi. Pasalnya, saya terdeteksi melanggar aturan lalu-lintas, melalui kamera CCTV di Jalan A. Yani, Gayungan, Surabaya.

Saya diduga mengendarai kendaraan di atas batas kecepatan maksimum. Atau menjalankan kendaraan di bawah batas minimum.

CCTVJalan-2.jpgFoto mobil penulis yang diduga melakukan pelanggaran batas kecepatan maksimum/minimum. (FOTO: istimewa)

Karena itu, saya dikenakan pasal 287 jo pasal 106 ayat (4) huruf g. Atau pasal 115 huruf a.

Yaitu, melakukan kesalahan melanggar batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah. Dendanya lumayan tinggi. Yaitu Rp 500.000. Agar jera. Istilah populernya, biar kapok. 

Menurut saya, itu bagus. Agar pengguna jalan lebih tertib. Kalau melihat pasal yang berlapis, rasanya sulit untuk lepas dari jeratan hukum.

Meski dalam mobil yang saya kendarai telah dilengkapi dengan GPS. Yang bisa mencatat odometer. Atau kecepatan. Juga ada kamera video mobil. Yang bisa merekam di depan maupun di belakang.

GPS, misalnya, bisa menyimpan data kecepatan sesuai odometer.

Tapi, anggap saja, pelan-pelan, juga akan kena pelanggaran. Apalagi melebihi kecepatan. Karena seusia saya yang hampir kepala 7, ngebut di jalanan rasanya sudah tidak waktunya lagi.

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Saya justeru salut kepada aparat kepolisian. Yang sigap, dan siap tiap saat untuk merekam mobil saat lewat pukul 06.00 lebih sedikit.

Itu perlu diacungi jempol.

Pagi itu, sudah merupakan kebiasaan saya, setiap pagi berangkat olahraga. Yang dimulai pukul 06.00.

CCTV, memang tidak perlu dijaga 24 jam. Bisa saja kejadian sebelumnya di reply kembali. Sesuai dengan kebutuhan.

Asalkan rajin, polisi bisa mereply kejadian paginya. Sebelum mereka mulai bekerja. Atau hari sebelumnya.

Bahkan sebulan atau dua bulan sebelumnya, juga bisa direply. Asalkan hard disk-nya cukup untuk menyimpan data.

Karena itu, pengguna jalan sekarang, jangan coba-coba mengebut karena tidak ada polisi di jalan.

Zaman sudah maju. Teknologi sudah tinggi. Tidak perlu lagi polisi jemur diri di jalan. Apalagi dalam kondisi wabah Covid seperti sekarang.

Polisi cukup duduk manis di belakang layar monitor. Dan melakukan “jepretan” dan merekam pada setiap ada kendaraan yang diduga melanggar.

Terima kasih polisi. Semoga jalanan raya bisa lebih aman. Dan lebih tertib lagi.

Dalam surat yang dikirim kepada saya, tidak saja pasal pelanggaran. Tapi lengkap dengan tiga foto yang dituduhkan.

Karena ini hanya dugaan, Polantas masih memberikan kesempatan untuk konfirmasi melalui website.

Pelanggar bisa akses ke domain https://etie.jatim.polri.go.id.

Melalui website ini saya diberi kesempatan untuk konfirmasi. Artinya, polisi tidak sewenang-wenang memvonisnya. (*)

Pewarta : Nasaruddin Ismail
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda