In Memoriam

Berto Riyadi Mendahului

Almarhum Berto Riyadi, mantan wartawan Jawa Pos dan Radar Bogor yang rendah hati dan pekerja keras. (FOTO: Facebook)

COWASJP.COM – Tuhan tidak pilih kasih. Ketika Dia memanggil pulang seseorang, tentu bukan karena pertimbangan dosa atau kesucian, tua atau muda, akan tetapi mungkin karena Dia tak menghendaki kita mempertentangkan keabadian. 

Biarlah kesemuanya menjadi rahasianya sendiri --seperti tanya yang bergema dalam sunyi. 

Selamat jalan, Pak Berto
Aku yakini aku akan menyusulmu..

 *

Innalilahi Wa Innailahi Rojiun 

BERTO RIYADI 

(27 Juni 1952 - Sabtu 14.03 WIB, 3 April 2021)

mas-berto1.jpgPemakaman jenazah Almarhum Berto Riyadi. (FOTO: Facebook)

Almarhum adalah seorang sahabat baik. Pernah sama-sama menimba ilmu di "Jawa Pos ", Biro Jakarta, Jalan Prapanca 40, Jaksel, 1989 hingga 1991. Seorang peliput cabor tinju dan beladiri yang tekun, konsisten, penuh komitmen. Kami menjadi tim olahraga yang solid, bersama Wahyudi, yang sudah lebih jauh mendahului, Sulaiman Ros, Agus Sudjoko, Bambang Indra Kusumawanto. Di Surabaya, Suhu Slamet Oerip Prihadi (SOP), menjaga gawang Desk Olahraga bersama Cak Abdul Muis, Fuad Ariyanto, Wijoyo Hartono, serta Kholili Indro (alm), Arif Novantadi.

"Terakhir bertemu saat sholat Subuh berjamaah di Masjid Al Ikhsan, dekat rumah, Kamis lalu. Waktu itu dia sempat menunjukkan luka di kakinya akibat kena jalu ayam jantannya. Dia bilang, dia sebenarnya nggak boleh kena luka, karena dia penderita diabetes. Menjelang meninggal gula darahnya sempat tinggi," tutur Agus Sudjoko (Ado). 

mas-agus-sujoko.jpgMas Agus Sudjoko (kanan) tetangga rumah dan sesama mantan Jawa Pos yang mengikuti proses pemakaman Alm. Berto Riyadi. (FOTO: Facebook)

Mereka (Agus Sudjoko dan Berto Riyadi) bertetangga. Demikian juga dengan beberapa wartawan senior olahraga lainnya, termasuk Syahrisad Dawan. Seorang rekan sesama "Jawa Pos " yang juga tinggal di sana, Kanzul Fikri, sudah lebih dulu dipanggil Sang Khalik. 

Allahumaghfirlahu
Warhamhu
Wa'afihi
Wa’fu anhu 

Semoga diterima amal ibadahnya, diampuni segala kesalahannya dan dilapangkan kuburnya. 

mas-berto2.jpgAlmarhum Berto Riyadi (kiri) dan Mas Sulaiman Ros. Sesama mantan Jawa Pos. (FOTO: Facebook)

Insyallah  memperoleh tempat terbaik di sisi-Nya. 

Setelah disemayamkan di Rumah Duka, di Perumahan Astek (wartawan), Lengkong Gudang Timur (Leguti), Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, almarhum dimakamkan Sabtu malam, 3 April 2021, Ba'da Maghrib, di Pemakaman Umum Mangga, Leguti, sekitar 500 meter dari rumah. Beberapa rekan wartawan olahraga senior, Ado dan Hermanto, ikut mengantar kepergian almarhum ke pemakaman.

PEKERJA KERAS

Almarhum Berto Riyadi adalah wartawan Jawa Pos era perjuangan. Beliau hijrah dari Harian Merdeka (Jakarta) gabung Jawa Pos  di Biro Jakarta awal tahun 1985. "Saya suka etos kerja teman-teman wartawan Jawa Pos " kata Almarhum kepada Slamet Oerip Prihadi ketika meliput PON XI,9 - 20 September 1985 di Jakarta. 

Waktu itu kantor Biro Jawa Pos  di Jakarta masih nebeng kantor pemasaran Tempo di lantai 2 di sudut belalakang gedung Senen, Jakarta. Sangat sederhana. Ada AC tapi nggak terasa dinginnya.  Ya, Jawa Pos waktu itu memang masih prihatin. Babat alas. Dari koran yang nyaris mati, kemudian dibangkitkan kembali. 

Jawa Pos  diakuisisi Majalah Berita Mingguan Tempo awal April 1982. Perkembangannya positif. Tahun 1985, tirasnya naik lumayan. Tahun 1982 cetak 6.500, terjual 1.200 an. Tahun 1985 tirasnya sudah mencapai 40.000 an. Jawa Pos  untuk kali pertama mengirimkan pasukan peliput PON pada 1985 dari Surabaya. Berkekuatan 5 orang: Abdul Muis Masduki, "Boy" Haryatno Adenan (almarhum), R. Widjojo Hartono, Bambang Supriyantoro, dan Slamet Oerip Prihadi. Di Jakarta sudah ada Berto Riyadi, Sulaiman Ros, Abdul Rahman. 

Dua halaman khusus Jawa Pos  disediakan untuk berita-berita PON 1985. Waktu itu per halaman koran masih 9 kolom. Lebih lebar. Tidak seperti sekarang yang hanya 7 kolom. 

Waktu itu koran daerah yang berani melakukan liputan khusus seperti itu, dengan pasukan sebanyak itu, hanya Jawa Pos. 

Semua wartawan ditugasi membuat berita liputan sendiri (bukan copas) minimum 3 berita. Lazimnya 4 sampai 5 berita/tulisan per hari. Bervariasi. Ada straight news, features, analisis, dan berita ringan  Pasti lengkap dengan foto-fotonya. 

tubagus.jpgTubagus Adhi (tengah, penulis) dan wartawan-wartawan senior Jakarta. (FOTO: Facebook)

Nah, semua wartawan Jawa Pos  dari Surabaya belum tahu peta Jakarta. Alhasil di hari pertama dan kedua PON 1985 banyak yang kesasar. Dari tempat laga balik ke kantor semuanya terlambat. Karena kesasar. Oh waktu itu semuanya bawa sepeda motor dari Surabaya. Diangkut kereta api dari Stasiun Pasar Turi. Benar-benar Bonek. 

Hal itu dilakukan semata-mata untuk berhemat dalam transportasi selama di Jakarta. Baru di hari ke-3 masing-masing personel dari Surabaya hafal arah jalan dari tempat laga (sesuai cabor yang jadi tugasnya) ke kantor. 

Semua personel menginap di hotel sederhana dekat kantor Jawa Pos  di Jalan Senen Raya Jakarta. 

Di sinilah terlihat bagaimana Berto Riyadi menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras pers. Walaupun baru bergabung dan saling kenal, Berto Riyadi sudah seperti sahabat lama. Dan paham berita dan tulisan apa yang diinginkan Jawa Pos. Sesuai pengarahan Pemimpin Redaksi Dahlan Iskan. (Waktu itu Pak Dahlan belum masuk jajaran direksi). 

Kenangan manis inilah yang membuat persaudaraan dengan para wartawan di Surabaya tetap erat sampai Mas Berto berpulang ke rahmat Allah 3 April lalu. 

Usai meliput PON 1985, pasukan peliput tak segera pulang. Ngopi bareng dulu untuk merancang apa yang perlu diliput besok 

Yang pasti berkat liputan-liputan khusus seperti ini tiras Jawa Pos terus melonjak naik. 

Satu tahun kemudian, 1986, tiras Jawa Pos  menembus 100.000 eksemplar per hari. Prestasi ini merupakan resultante 3 liputan khusus:

1/ Revolusi Filipina. 

2/ Sukses Ellyas Pical menjadi petinju kali pertama Indonesia yang juara dunia. Ellyas Pical sukses merebut juara kelas bantam IBF. 

3/ Liputan khusus perjuangan Green Force Persebaya merebut juara Divisi Utama PSSI Perserikatan. Musim kompetisi 1986/1987 Persebaya baru merah posisi runner up, karena kalah 0-1 oleh PSIS di final. Musim kompetisi 1987/1988 Persebaya sukses merebut tahta juara Divisi Utama setelah mengalahkan Persija 3-2 di final. 

Nah, dalam tugas meliput total semua gerak gerik dan program latihan serta laga Ellyas Pical itulah, peran Berto Riyadi sangat besar. 

Sehingga kemudian Jawa Pos mekar besar luar biasa menjadi Imperium koran Nusantara. 

Tahun 1990-an, Jawa Pos punya wartawan-wartawan yang ditugasi di ibukota negara-negara besar. Mulai Washington, London, Roma, Sofia, Berlin, Istanbul, Hong Kong, Tokyo, Kuala Lumpur, Melbourne. 

Hampir 70 persen berita Jawa Pos adalah hasil buruan wartawan sendiri. Hasil hunting dan investigasi wartawan JP sendiri. Nilai lebih inilah yang sekarang memudar. Sampai-sampai Dr. Sirikit Syah, pengamat dan pengajar media di Surabaya menuliskan: jurnalistik sekarang adalah jurnasilstik humas, bak corong pemerintah. 

Apakah koran harian (media cetak) Indonesia akan kembali kepada khittah-nya. Independen dan Hunter. Bukan penyebar rilis lagi. Wallahualam. 

Semoga Mas Berto Riyadi, mantan pejuang pers Indonesia itu diampuni semua dosa-dosanya oleh Allah SWT. Arwahnya diterima di Surga Allah. 

Aamiin ya Robbal 'Aalamiin.(*) 

Penulis: Tubagus Adhi, Wartawan Senior di Jakarta.

Pewarta : Tubagus Adhi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda