Dua Hari Mengikuti Silaturahim Aqua Dwipayana (2)

Menghubungkan Bisnis Besar, Tolak Komisi karena bukan Makelar

Aqua Dwipayana saat menjamu makan siang Wakil Gubernur Akademi Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Palito Sitorus dan Budi Salim di rumahnya Sawitsari.

COWASJP.COM – Gerai ritel fesyen Centro Ambarukmo Plaza tutup. Video pamitan para karyawannya viral di media sosial. Jika nanti ada penggantinya, juga dengan huruf awal C, maka ada peran A di sana. A ini inisial dari Aqua Dwipayana.

“C dan C lalu di depan dikasih A, Aqua. Jadinya ACC. InsyaAllah jalan,“ seloroh Motivator dan Penulis buku best seller Aqua Dwipayana dalam silaturahim makan siang di rumahnya Sawitsari, Yogyakarta, Rabu (31/3). Aqua menyampaikan hal tersebut di hadapan sahabatnya, Budi Salim, pemilik Citrus Department Store.

BACA JUGA: Bertemu Tiga Jenderal, Terpesona Mie Obama​

Siang itu Aqua Dwipayana menjamu makan siang dua sahabatnya. Dua sahabat tersebut merupakan alumni Lemhanas 2017. Yang satu seorang jenderal angkatan udara, Wakil Gubernur Akademi Angkatan Udara Marsekal Pertama (Marsma) Palito Sitorus SIP, MM. Satunya lagi pengusaha ritel yang punya gerai di banyak supermarket tersebut. 

Pengusaha ritel tersebut ke Yogyakarta dalam urusan bisnis. Membuka gerai ritel fesyen di Ambarukmo Plaza yang sebelumnya ditempati Centro. Dia akan bertemu Presiden Direktur Ambarukmo Plaza Tjia Edy Susanto. Pertemuan tersebut terjadi berkat Aqua Dwipayana. Aqua-lah yang menghubungkan keduanya.

Dalam silaturahim makan siang itu Aqua menegaskan betapa dirinya sangat berbahagia bisa menyambungkan dua pengusaha besar. Di tengah situasi sulit sekarang ini, jika ada seorang pengusaha yang membuka bisnis pastilah sangat membantu masyarakat. Jika Citrus membuka gerai di Ambarukmo Plaza pasti akan membuka lapangan kerja baru masyarakat Yogyakarta. “Sesuatu yang sangat mulia. Harus saya dukung,“ tegas ayah dua anak ini.

Lalu Aqua dapat apa? Ia minta bagian saham tidak?

erwannyar1.jpgAqua Dwipayana saat menjamu makan siang Wakil Gubernur Akademi Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Palito Sitorus dan Budi Salim di rumahnya Sawitsari.

Seakan tahu yang ada di benak Budi Salim, Aqua pun bercerita panjang lebar. Ia cerita tentang kiprahnya dalam menghubungkan para sahabatnya dalam berbisnis. Misalnya menghubungkan dua sahabat dalam bisnis batubara senilai ratusan miliar. Dia sama sekali tidak mau mendapat komisi. Kebahagiaan yang dia peroleh karena bisa membantu usaha sahabatnya, tidak dapat dinilai dengan uang berapa pun besarnya.

“Urusan ini, saya tidak hanya membantu Pak Budi ini. Saya membantu masyarakat yang lebih luas. Kalau usaha Pak Budi ini berjalan, masyarakat akan mendapatkan lapangan pekerjaan. Ekonomi Yogyakarta bisa bergerak. Jadi urusannya lebih besar ini hahaha. Makanya, saya tidak butuh komisi,“ kelakar Aqua.

Aqua lantas melanjutkan. “Kita berdoa saja, pandemi segera berakhir, ekonomi jalan, masyarakat sehat,“ tambahnya.

Soal menghubungkan para sahabat untuk berkolaborasi, bersinergi ini bukan hal baru bagi Aqua. Ini adalah “pekerjaan“ dia sehar-hari. Juga sudah saya tulis juga dalam buku “Produktif Sampai Mati : Kiat Sukses Pasca Pensiun, Inspirasi Aqua Dwipayana“. 

Dalam buku terbitan April tahun 2016, lima tahun lalu, saya tuliskan bagaimana seorang Aqua Dwipayana menghubungkan Direktur Utama Angkasa Pura I Sulistyo Wimbo Hardjito dengan Pangdam XVI/Pattimura  Mayjen TNI Doni Monardo. 

Dalam Bab 10 “Mempertemukan Teman, Mensinergikan Kebaikan“ di buku tersebut, program Angkasa Pura I untuk menghijaukan bandara bisa berjalan dengan dukungan kolaborasi dari Doni Monardo yang juga Pendiri Yayasan Budiasi. Yayasan ini telah membagikan 8 juta bibit pohon dan tanaman langka di seluruh Indonesia dan negara tetangga, Timor Leste. Wimbo dan Doni bertemu berkat Aqua.

Aqua juga selalu menegaskan kalau dirinya bukan makelar. Perantara usaha ataupun perantara masalah. Keduanya sangat transaksional. Sesuatu yang hubungannya tidak langgeng. Hubungan silaturahim yang terjadi hanya sesaat. Berlangsung hanya karena sedang butuh. 

erwannyar2.jpgAqua Dwipayana berdoa di makam Bapak saya di Wedi, Klaten.

Sedangkan Aqua selalu membangun silaturahim dengan hati. Bukan karena materi. Hubungan yang panjang, dirawat, dan tidak transaksional. Itu bisa dilihat dari banyaknya sahabat Aqua yang berada dalam Komunitas Komunikasi Jari Tangan. 

Budi Salim mengaku salut dan dibuat kagum dengan prinsip dari suami Retno Setiasih ini. Budi lantas menunjuk liputan media yang dipigura di ruang tamu rumah Sawitsari itu. “Bener yang ditulis di koran itu. Pak Aqua ini memang manusia langka,“ ujar Budi sembari menunjuk satu halaman koran yang dipigura di dinding. Judul tulisan di Harian Jogja itu Dr Aqua Dwipayana, Manusia Langka.

Budi lantas bercerita pengalamannya ketika akan membuka satu gerai ritelnya. Saat itu ada satu usaha yang mencoba menggagalkannya. Lantas ada pihak yang membantu sehingga menjadi lancar. Tapi, ujung-ujungnya minta jatah komisi. “Beda dengan Pak Aqua ini,“ tandasnya.

Jika menyangkut rezeki semacam ini, Aqua selalu menyatakan dirinya tidak butuh duit. Karena saat lahir tidak membawa duit, dan saat mati pun tidak membawa duit. “Selama ini, saya sudah dicukupkan rezekinya oleh ALLAH. Dan saya sadar, kita ini hanya menjadi perantara atau penyalur rezeki dari TUHAN untuk orang lain.“

Aqua juga menjelaskan, dengan membantu sahabat-sahabatnya tanpa imbalan komisi, urusannya pun dimudahkan oleh ALLAH. Dirinya sehat, keluarganya sehat, sharing komunikasi dan motivasi yang dilakukannya selalu lancar. Buku yang diterbitkannya juga terjual dengan mudah.

erwannyar3.jpgAqua Dwipayana dipandu Andi, marketing Percetakan Macanan Jaya Cemerlang berkeliling melihat fasilitas percetakan.

Pernyataan Aqua tersebut juga disampaikannya saat silaturahim ke percetakan di Klaten PT Macanan Jaya Cemerlang. Saat itu Marketing di Percetakan ini bertanya dari mana seorang Aqua Dwipayana mendapat untung kalau hasil penjualan buku-bukunya untuk mengumrohkan orang.

“Jual buku ini kan bisnis Pak. Perlu modal besar untuk mencetak. Lalu, kalau hasil penjualan buku untuk mengumrohkan orang, dari mana Pak Aqua mendapatkan keuntungan?“ tanya Andi, marketing yang mendampingi kami saat bersilaturahim ke percetakan ini, Rabu (31/3) sebelum menjamu makan siang Budi Salim dan Marsma Palito Sitorus.

Saat ditanya oleh Andi seperti itu Aqua juga menjawab rezeki sudah diatur oleh ALLAH. Dirinya hanyalah perantara. Dia mengaku sangat berbahagia jika bisa membahagiakan orang lain. 

Soal bahagia ini, ada kutipan menarik yang bisa dibaca di buku “Produktif Sampai Mati“. Bunyinya seperti ini: “Jika Anda membuat seseorang bahagia pada saat ini, Anda membuat dia bahagia juga 20 tahun lagi, saat dia mengenang peristiwa itu....“

erwannyar4.jpg4.jpgAqua Dwipayana (paling kiri) saat makan malam bersama Budi Salim beserta Marsma Palito Sitorus dan istri.

Dan membuat orang lain bahagia itulah yang terus dilakukan Aqua Dwipayana. Dalam setiap silaturahimnya, kebahagiaan terpancar dari para sahabatnya ataupun orang-orang yang ditemuinya. 

Seperti saat Aqua bersilaturahim ke ibu saya di Klaten. Lalu berdoa di makam ayah saya yang telah tiada 3 September 1998. Ibu saya yang sudah berusia 81 tahun, yang senang membaca buku termasuk buku The Power of Silaturahim dan Produktif Sampai Mati, bahagia sekali didatangi pakar komunikasi ini.

Sama seperti saat sowan ibu mertua pada malam sebelumnya, Selasa (30/3), komunikasi dengan ibu saya pun sangat cair. Ibu saya bisa tertawa dengan guyonan yang disampaikan Mas Aqua.

Sehari setelah kedatangan Aqua Dwipayana, saya kembali menemui ibu karena ada pertemuan dengan teman-teman alumni SMAN 2 Klaten. Saat ketemu ibu, beliau masih menceritakan kedatangan Mas Aqua. Terus menanyakan kemana saja setelah dari rumah itu. Saya ceritakan Mas Aqua terus silaturahim mengunjungi para sahabat dan orangtua sahabatnya.

Ibu pun terus mendoakan semoga silaturahim yang dilakukan Mas Aqua Dwipayana lancar, berkah dan manfaat. “Dan Mas Aqua beserta keluarga selalu diberi kesehatan,“ doa ibu saya. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda