30 Tahun Perang Melawan Hantu Diabetes (2 Habis)

Selalu berdua. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu saya bersama istri sudah lebih dari 25 tahun jalan pagi sekitar Jalan DIponegoro, Jalan WR Supratman, Jalan Imam Bonjol dan Jalan dr Soetomo. Kemudian balik ke Jalan Diponegoro. Kadang kadang mampir di Pasar Pakis sekalian belanja. Pokoknya asyik lah.!

Di sisi lain saya sendiri  merasa sangat beruntung punya istri Rr Sri Astuti yang kini telah berusia 71 tahun 7 bulan. Pasalnya selama lebih dari 25 tahun ini saya tidak pernah sekalipun jalan pagi sendirian. Selalu berdua meski sudah menikah lebih dari 52 tahun. Kami berdua sejak pengantin baru 13 Maret 1968 jika pergi selalu beriringan. Kemana saja. Ke hajatan, reuni keluarga, darmawisata atau ke plaza misalnya selalu berdua. Kecuali ke kantor. Kami ingin sehat. Sehat juga berdua. Gembira juga berdua.

BACA JUGA: 30 Tahun Perang Melawan Hantu Diabetes (1)

Tentu saja, kami sekarang juga ingin bergembira bersama anak cucu dan menantu. Apalagi sekarang telah memiliki delapan orang cucu, dari tiga orang anak. Alhamdulillah cucu pertama sudah sarjana jebolan Unair. Yang empat masih mahasiswa Unair, Unbra dan UPN. Kemudian yang tiga orang masih SMP dan SD.

Di bagian lain, saya tak henti-hentinya mengucap syukur Alhamdulillah. Ketiga anak anak saya sudah lebih dari lima tahun semuanya manajer di masing masing perusahaanya. Kemudian yang membahagiakan lagi ketiganya diparingi oleh Allah SWT istri yang soleha. Tinggal kami suami istri yang secara berkala mengingatkan mereka betapa pentingnya menjaga kesehatan. Menyadari pentingnya olahraga dan menghindari banyak makan dan makan enak enak. Karena prinsip kami makan enak bisa lupa diet. Enak atau nggak enak gak boleh lebih dari 3/4 piring.

Bahkan bila perlu 1/2 piring cukup. 

Lantas minum manis?Oo .. itu saya ibaratkan minum jamu galian singset. Karena sering minum manis badan jadi singset alias kurus karena diabetesnya jadi tidak terkontrol. Bisa bisa 300 mg/dl. Semakin hari semakin tinggi bisa mencapai 500 mg/ dl. Akh ... ngeri komplikasinya. Bisa ke jantung, gangreng dan stroke. Ini yang kami hindari. Jadi saya belum tentu sebulan sekali minum manis.

Semua itu sudah saya lakukan sejak saya ketahuan punya hantu simpanan. Diabetes!

Diabetes memang bukan milik saya saja. Juga milik almarhum ibu saya. Sehingga faktor keturunanlah yang dominan. Jadi sayalah satu satunya anak yang mewarisi diabetes.Tidak ada anak yang lain. Karena saya anak tunggal. Sayalah pewaris tunggal diabetes almarhum ibu.

Tapi di sisi lain saya harus bersyukur pada Allah SWT karena saya diberi pengetahuan yang cukup tentang seramnya wajah hantu diabetes. Sehingga sampai 30 tahun ini diabet saya terkendali. Tak seorang pun dari teman, famili maupun tetangga yang mengira saya puluhan tahun perang melawan diabetes. Soalnya saya tidak pernah dirawat di rumah sakit karena diabetes. 

Dr-JBH.jpgDr JBH Bowo Spd. (FOTO: Koesnan Soekandar/ Cowas JP)

Terus terang, saya merasa menang perang melawan diabetes. Karena sampai sekarang berat badan saya tidak susut. Tetap 60 kg. Wajah tidak pucat. Alhamdulillah organ organ lain baik. Karena  dua atau tiga bulan sekali cek darah. Khusus untuk diabetes saya sebulan sekali cek ke laboratorium. Selain itu  sayapun seminggu dua kali cek diabetes sendiri di rumah. Hem ... diabetes saya Alhamdulillah terkontrol dengan baik. Sebelum makan 93 mg/dl 2 jam sesudah makan 142 mg/dl. Kolesterol 168 mg?/dl. Semua terkontrol dengan baik.

Kuncinya? Diet sewajarnya, olahraga jalan pagi sesuai usia dan disiplin minum obat yang diresepkan dokter.

Semua prinsip itu juga dilaksanakan dengan tertib oleh istri saya. Karena istri saya sudah 10 tahun juga harus perang melawan diabetes. Sungguh, faktor keturunan dari ibu mertualah yang  membuat tujuh bersaudara istri saya mengidap diabetes. Lima di antaranya sudah almarhum akibat cengkeraman diabetes.

Bersandar dari situlah, maka istri saya tidak sembrono. Karena itu diabetnya sebelum makan 120 mg/ dl sesudah makan 163 mg/ dl.

Melihat kenyataan itu Dr JBH Bowo Spd dan Dr Silvia Pantauw Spd memuji istri saya. 

"Bagus itu ... diteruskan obatnya dan dietnya. Jangan lupa olahraga," ujar Dr.Bowo, dokter asal Munntilan, Jawa Tengah itu.

Alat.jpgAlat pemantau diabetes yang dipergunakan 5 hari sekali di rumah. (FOTO: Koesnan Soekandar/ Cowas JP)

Sementara Dr Silvia di lain kesempatan ketika ditanya soal apakah obat diabetes bisa merusak ginjal, Dr Silvia dengan ramah menjawab bahwa yang bisa merusak ginjal itu adalah obat obatan pengurang rasa sakit yang dikonsumsi jangka waktu lama. Misalnya sampai bertahun tahun melebihi dosis yang ditentukan.

Di bagian lain,  Dr Bowo     di suatu hari mengatakan, jika seseorang mengetahui salah seorang tua yang mengidap dibetes, "Ya harus sadar diri jangan makan enak enak dan berlebihan. Harus olahraga sehingga diabetesnya bisa dihambat ," kata dokter yang sementara Covid-19 belum reda ini hanya praktek pagi di Poli Santo Yosep Jalan Ciliwung Surabaya.

Sedangkan Dr Silvia yang dikenal ramah ini dalam perbincangan santai  mengungkapkan, bahwa stress bisa menaikkan kadar gula bagi penderita diabetes melitus. "Jadi lebih banyak santai saja. Yang penting disiplin minum obat", kata dokter yang praktek sore di lokasi Apotik Kimia Farma Jalan Kapuas Surabaya.ini.

Memang, yang dikemukakan kedua dokter spesialis penyakit dalam itu sungguh mengandung kebenaran. Karena itu pada semua anak anak saya yang usianya sudah di atas 45 tahun saya katakan harus semakin rajin olahraga dan kontrol darah di laboratorium,  terutama cek kadar gula. "Ingat faktor keturunan risikonya lebih lebih tinggi ", ujar Dr JBH Bowo pada saya sambil wanti wanti untuk mengingatkan anak anak saya. 

Tentu saja  mengatakan: "Siap....!"

Ternyata kesiapan saya tidak sia sia. Semua anak saya pun kompak menyatakan:" Siaapp....! Alhamdulillah (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda