Penginapan Serba Bambu Dibuka di Lereng Sumbing

Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata Disparpora Kabupaten Magelang Gunawan Andi P (kiri) saat meninjau kamar D'Lengkong Homestay. (Foto : Erwan W)

COWASJP.COM – Tempat kuliner dan penginapan yang memadukan kekuatan wisata alam dan kuliner tradisi dibuka di kawasan Lereng Sumbing, Magelang. Tepatnya di Desa Genito, Windusari, Magelang. Nama tempat kuliner baru ini adalah Pawon Teh Tudung. Sedangkan penginapan atau homestay-nya diberi nama D'Lengkong. 

Penginapan ini tidak hanya berupa kamar homestay tetapi juga tenda. Fasilitas tenda lengkap dengan kasur, bantal, guling serta fasilitas yang sema dengan kamar homestay.

 Uniknya, bangunan homestay di D'Lengkong terbuat dari bambu. Juga bangunan penunjangnya. Pintu gerbang, resepsionis, mushola, tempat sabun, meja, kursi, semuanya bernuansa bambu.

Pembukaan ditandai dengan penanaman pohon teh dan doa dari kiai setempat. Prosesi pembukaan juga diisi dengan pemukulan kenthongan sebagai tanda mulai beroperasinya usaha jasa pariwisata tersebut.

bambu1.jpgProsesi penanaman pohon teh di depan pintu resepsion D'Lengkong Homestay.

Pemukulan kenthongan dan penanaman pohon teh dilakukan oleh Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang Gunawan Andi Prihananta. Didampingi pejabat Muspicam Windusari. 

Ditampilkan pula kesenian tradisional Genito, hadroh. Para hadirin juga diajak untuk melihat fasilitas penginapan. 

Rangkaian acara pembukaan dilakukan dengan melaksanakan protokol kesehatan. Tamu yang hadir dibatasi sesuai kapasitas dengan menerapkan jaga jarak. Para tamu juga diperiksa suhu tubuhnya dan disediakan hand sanitizer sebelum masuk lokasi acara. Disediakan pula masker bagi yang lupa mengenakannya.

Pengelola tempat kuliner dan penginapan ini, H. Ir. Tri Fatah Suryono mengatakan nama DLengkong diambil dari sebutan untuk lokasi berdirinya penginapan ini. Warga sekitar menyebut tikungan Letter S yang ada di depan homestay dengan sebutan Lengkong.

bambu2.jpgCamat Windusari Subiyanto bersama istri di depan Merapi Room (tenda).

Saat membangun homestay para perajin bambu dari sejumlah sentra bambu di Magelang dan Yogyakarta ikut terlihat. Dari Magelang ada perajin bambu Salaman, Candimulyo dan Genito, Windusari sendiri. Dari Yogyakarta ada perajin bambu dari Cebongan, Sendari, Warak (ketiganya di Sleman) dan perajin dari Dlingo (Bantul).

Di awal operasional ini, ada dua bangunan bambu dan enam tenda. Kamar bambu dinamai Sumbing Room dengan harga promo Rp 399 ribu/malam. Sedangkan yang tenda disebut Merapi Room dipatok harga promo Rp 132.500 per orang/malam (minimal dua orang). “Ke depan, insyaAllah, kami bisa segera menambah bangunan bambu ini,“ urai Tri Fatah.

Fasilitas bagi tamu di Sumbing Room ini setara dengan hotel. Mulai dari welcome drink (minuman selamat datang), sarapan pagi, teh gula kopi, pemasak air, fasilitas handuk, sabun, sampo, sisir dan kamar mandi dalam dengan air hangat. Serta sandal, air mineral dan api unggun. Api unggun ini gratis untuk yang menginap di Sumbing Room.

bambu3.jpg

Sedangkan untuk yang memilih menginap di Merapi Room (tenda), kamar mandinya terpisah dari tenda. Tidak ada fasilitas handuk dan api unggun. Namun, fasilitas lainnya sama dengan yang Sumbing Room.
Para tamu DLengkong juga bisa melakukan beragam kegiatan seperti bermain voli atau jalan pagi melewati walking track yang sudah disiapkan. Ke depan, juga ada paket outbond. Dan paket wisata mengeksplorasi wilayah Magelang. Ada pula paket wisata edukasi dengan menggandeng petani budidaya lebah madu di Genito.

Experience (pengalaman) para tamu dengan lokalitas juga bisa didapat saat api unggun di malam hari. Tamu bisa bebakaran dengan hasil bumi warga sesuai dengan musim panen petani sekitar seperti singkong, ubi atau jagung.

bambu4.jpgGerbang penginapan bambu D'Lengkong.

“SDM untuk menjalankan operasional penginapan ini semua warga lokal sekitar Genito, Windusari. Mereka kami rekrut secara terbuka melalui info lowongan pekerjaan di media sosial warga. Ini salah satu upaya kami memberdayakan SDM lokal,“ urainya. 

SDM ini kemudian disiapkan dengan pelatihan yang diberikan oleh profesional di bidang perhotelan. Para karyawan dibekali kemampuan soft skill cara menerima tamu (hospitality), memberi layanan yang baik dan prima (service excellent) maupun ketrampilan pendukung lainnya. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda