Isra' Mi'raj dan Elon Musk

Berhasilkah Elon Musk merealisasikan proyek kolonisasi planet Mars? (FOTO: Facebook)

COWASJP.COM – Hari-hari ini, saya mendapat banyak undangan untuk ceramah Isra’ Mi’raj. Hampir setiap hari. Mulai dari kalangan siswa SMA, universitas, sampai komunitas dokter, dan pengusaha.

“Kami berharap Bapak memberikan taushiah hikmah Isra’ Mi’raj, dalam sudut pandang sains,” kata ketua panitia dari SMAN 15 Surabaya, saat audiensi ke rumah.

Bagi saya, ini menggembirakan. Karena, dua hal. Yang pertama, tumbuhnya kesadaran di kalangan anak muda untuk mengkaji agama secara lebih substansial dan mendalam. Dan yang kedua, tersampaikannya pesan ilmiah di dalam peristiwa Isra’ Mi’raj yang sangat fenomenal itu.

Termasuk, tema yang diajukan oleh Universitas Tidar Magelang. Yakni, “Meniti Ilmu Pengetahuan Menuju Puncak Keimanan.” 

Ini menunjukkan, bahwa kajian keagamaan di era milenial ini tidak lagi didominasi oleh dogma. Atau, apalagi taklid buta. Melainkan, mengarah kepada kajian yang bersifat ilmiah. Bahwa keimanan bukanlah sekadar percaya. Melainkan, sebuah keyakinan yang harus diperoleh melalui pemahaman dan pembuktian-pembuktian.

BACA  JUGA: Waspadai Efek Long Covid Syndrome​

Hal yang sama, saya lihat ada di sejumlah komunitas pengusaha. Yang juga meminta kajian ilmiah tentang Isra’ Mi’raj. Bahkan meminta bedah buku. Salah satu karya saya, yang berjudul: “Terpesona di Sidratul Muntaha”. Bedah buku semacam itu juga diminta oleh Fakultas Kedokteran UB dan RS Saiful Anwar Malang. Bahkan, dijadwalkan setiap bulan.

Ataupun, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada, yang juga mengundang kajian dan diskusi. Dengan tema yang lebih mendasar: “Beragama dengan Akal Sehat”. Sambil menyebutkan durasi kajian yang diminta, selama 2,5 jam.

Ini sebuah gerakan kesadaran beragama yang perlu diapresiasi. Yang terjadi di kalangan Islam perkotaan. Atau, educated people. Di mana mereka haus akan pengetahuan agama. Yang diperoleh melalui jalan ilmiah. Serta, bisa memuaskan akal sehat mereka.

xxx.jpgElon Musk. Proyek kolonisasi Mars memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi. (FOTO: news.yahoo.com)

Peringatan Isra’ Mi’raj ini seolah menjadi momentum. Karena, di dalam peristiwa ini terkandung nilai-nilai keimanan dan keilmiahan sekaligus. Dalam dosis yang sangat tinggi.

Perlu penguasaan sains mutakhir untuk bisa menjelaskan perjalanan Rasulullah SAW. Baik yang terjadi antara Mekah – Palestina, dalam peristiwa Isra’. Atau, apalagi saat Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Di mana beliau melintasi dimensi-dimensi langit pertama sampai ketujuh.

Tentang perjalanan melintasi langit itu, Allah menantang manusia untuk bisa melakukannya. Sebagaimana difirmankan di ayat berikut ini.

“Wahai masyarakat jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan sulthan.” [QS. Ar Rahman: 33]

Ayat ini sangat menarik. Karena, memberikan motivasi kepada manusia untuk melakukan perjalanan ke luar angkasa. Bukan hanya kepada umat Islam. Melainkan, kepada seluruh masyarakat manusia. Bahkan, kepada bangsa jin sekalipun.

Sambil, diberikan syarat bahwa hal itu hanya bisa dilakukan jika kita memiliki 'sulthan'. Yakni, kekuasaan dan kemampuan di bidang sains dan teknologi. Termasuk, finansial dan berbagai fasilitas untuk mewujudkan proyek luar angkasa itu.

Kita jadi teringat kepada Elon Musk. Pebisnis Amerika yang termasuk dalam jajaran orang terkaya dunia. Dan sedang mempersiapkan proyek kolonisasi planet Mars.

Dengan semua persiapan yang sedang dikebut beberapa tahun terakhir, dia berharap tahun 2024 bisa mengirim pesawat tanpa awak ke Mars. Untuk penjajakan. Mempersiapkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan. Dan, pada tahun 2026 sudah bisa mengirimkan manusia mendarat di Planet Merah.

Jika proyek ini berhasil, manusia Bumi akan bisa berwisata ke planet yang berjarak rata-rata 225 juta km itu. Lintasan orbit Mars menyebabkan ia kadang berada dalam jarak terjauh sekitar 400 juta km. Atau, jarak terdekat 56 juta km.

Sejauh peradaban, proyek luar angkasa dengan membawa manusia ini adalah yang pertama. Karena itu, disebut sangat ambisius. Dan sangat berisiko. Elon Musk bersama timnya harus bekerja ekstra keras dan hati-hati untuk mewujudkannya. 

Karena, bukan hanya pesawat tanpa awak. Yang sudah berulang kali bisa dilakukan oleh para ilmuwan dan teknolog. Sepanjang abad ini. Melainkan, membawa manusia. Yang harus terjaga keselamatan dan segala kebutuhannya.

Berbeda dengan Isra’ Mi’raj. Di mana Nabi SAW diperjalankan oleh Allah. Dan, menugaskan malaikat Jibril untuk mendampinginya. Yang dijamin keamanannya.

Proyek kolonisasi Mars ini memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi. Karena, planet Mars bukanlah planet yang layak huni.

Tapi, proyek semacam ini memang tidak mustahil untuk berhasil. Bagi siapa saja. Yang memiliki 'sulthan'. Seperti difirmankan oleh Allah di QS. Ar Rahman: 33. Selebihnya, kenyataanlah yang akan berbicara.

Wallahu a’lam bissawab ..(*) 

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 12 Maret 2021]

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda