Kiprah Eko Londo di Sirkuit Lawak

COWASJP.COM – Hampir setahun ini Eko Londo duet dengan Cak Suro memproduksi lawak Suroboyoan (bahasa Jawa ala Surabaya) lewat youtube. Salah satu kreasinya ditayang di atas tulisan ini. 

Eko Londo berjuang dari nol di sirkuit lawak Indonesia. Kini dia memanfaatkan media sosial yang digandrungi dan efektif mengglobal. 

Sebagai pelawak, dia mengalami berbagai cerita. Jatuh bangun. Pasang surut. Dan kini dicekam pandemi. Tanggapan lawak menurun drastis, bahkan nol. 

"Tapi saya tidak boleh menyerah. Dan, saya tidak akan pernah melupakan Aneka Ria Srimulat yang menjadi kampus saya untuk belajar melawak," kata Eko Londo saat sambang penulis di Tropodo Indah, Waru, Sidoarjo. 

Dia lantas mengisahkan awal mulanya terjun di sirkuit lawak sampai ber-youtube-ria sekarang ini dengan gaya bertutur di bawah ini:

***

Saya ini anak tunggal. Bapak Cina keturunan, mama Belanda. 

Bapak bernama Subiyanto yang lahir dari Ibu orang Madura bersuami orang Cina. Mama bernama Helena Kohen. 

Namanya anak tunggal ya dimanja. Tapi saya tidak mau jadi anak malas. Lulus SMA saya bekerja di perusahaan EMKL Karunia Samudera di Tanjung Perak Surabaya. 

EkoLondo-2.jpg

Saya lahir di Surabaya 25 Agustus 1957. Tahun 1977 sudah bekerja. Di usia 20 tahun. Dan, di usia 20 tahun pula saya menikahi gadis Surabaya, orang Jawa, bernama Setiani (waktu itu usia 17 tahun). 

Karena itu di usia saya sekarang yang menjelang 64 tahun, saya sudah punya 12 cucu dari 5 anak saya: Elok, Koko, Febri, Erika, dan Herlina. 

Banyak orang nggak percaya umur saya sudah 60-an. Mungkin karena saya seneng terus walaupun sedang mengalami kesulitan hidup. 

Saya lanjutkan cerita saya. Saya kerja di EMKL dua tahun, 1977 - 1979.

Setelah itu saya gabung grup lawak Surya Grup bersama Cak Jalal almarhum, Cak Herry Koko, Cak Naryo dan Cak Prapto. 

Tahun 1984 gabung Srimulat Jakarta dan diterima oleh pendirinya Pak Teguh dan Bu Jujuk. Tahun 1985 saya diperintahkan Pak Teguh untuk gabung Srimulat Surabaya di THR (Taman Hiburan Rakyat). 

Nama panggung saya waktu itu Eko Handai Taulan Hawai Five O John Tralalalala. 

Saya memang belum pernah jadi pelawak top Indonesia. Tapi ada di mana-mana. Hahahahaha. Yang penting banyak teman. Rajin silaturahim. Itu modal hidup saya yang paling utama. 

Waktu itu Srimulat sering tayang di TVRI. Ketika Indonesia masih punya satu Stasiun Televisi. Hanya TVRI. Belum ada RCTI, SCTV, Indosiar, TvOne dan lain-lain. 

Dalam perjalanannya, seingat saya awak 1990-an Aneka Ria Srimulat Jakarta krisis pemain. Banyak pelawak-pelawak topnya diboyong seorang boss. Antara lain Johnny Gudel, Paimo, Sumiati. 

Srimulat Surabaya tetap jalan. Waktu itu diperkuat Mamik Prakoso, Kadir, termasuk saya. 

Gegara Srimulat Jakarta krisis bintang, lantas Mamik Prakoso dan Kadir ditarik dari Surabaya ke Jakarta. Saya juga nyusul ke Jakarta. 

Ketemulah saya dengan Gogon, Basuki di Jakarta. Pokoknya heboh lagi. 

Tapi ya itulah pelawak. Sulit kumpul bareng. Tak lama kemudian masing-masing bikin grup sendiri. Basuki, Timbul dan Kadir bikin Grup Batik (Basuki Timbul Kadir). 

Mamik Prakoso ngajak Gogon dan saya bikin Grup Sumirat. Sumirat artinya menurut Mamik, cahaya kemilau di dalam keraton. 

Nah, Grup Sumirat sering diminta main di berbagai night club. Lumayan juga hasilnya. Apalagi setelah Mbak Sumiati ikut gabung. Waktu itu Mbak Sumiati sudah menikah dengan dr Hari Siregar. 

Ada peristiwa lucu di area pusat hiburan Mangga Besar Jakarta. Suatu malam terjadi gegeran antar pelawak. Gara-gara pengaruh alkohol. Mamik geger dengan Basuki. Gogon versus Timbul. Saya versus Kadir. Oalah. Besoknya masing-masing menyesali dan saling memaafkan. Kapok alkohol wis. 

Kami semua sempat ditahan di Koramil setempat. Tapi besok paginya dilepaskan. Didamaikan. Rukun maneh wis. 

Kemudian oleh Pak Teguh saya diminta memperkuat Srimulat Surabaya. Nama panggung saya ubah menjadi: Eko Tralalala. Di Surabaya waktu itu saya bermain bersama Vera, Isye, Miarsih, Bambang Gentolet, Didik Mangkuprojo, Alukard Nunuk Murdono almarhum yang dulu sering berperan sebagai Drakula. 

Sampai Srimulat Surabaya bubar. Perkembangan zaman, THR makin sepi. Tergerus ramainya supermarket dan hipernarket. THR tinggal kenangan. Tapi di situlah berbagai cerita rakyat tergurat. Sangat merakyat. Tak kan terlupakan. 

Namun nama Srimulat tetap ada. Bermain di luar. Kecil-kecilan.Tidak di THR lagi. 

Saya bersama Cak Jadi Galajapo, Cak Lutfi, Cak Priyo Aljabar kemudian bikin grup lawak sendiri. 

Dan sekarang saya duet dengan Cak Suro ber-youtube-ria. Nama panggung pun berubah jadi Eko Londo. Dan kami para pelawak pantang menyerah. Masio pandemi koyok ngene. 

Rezeki ada saja dari Allah. Buktinya saya pernah mendapat rezeki besar tak disangka-sangka dari Kakek saya di daratan Cina. Ayahnya bapak saya. Alhamdulillah. (*)

Pewarta : Slamet Oerip Prihadi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda