Catatan: Dua Cendol yang Berbeda

Cendol dawet. (Foto:Good News From Indonesia)

COWASJP.COM – Cendol salah satu minuman tradisional yang masih disukai masyarakat. Saya menulis minuman Cendol teringat Pasar Blauran. Lokasinya di Surabaya Pusat. Tempatnya memang di jantung kota Surabaya. Pasar Blauran yang pernah terbakar beberapa kali ini lantai dasar tengah ditempati stand makanan tradisonal.

Pasar Blauran yang belum banyak direnovasi ini bentuknya sederhana. Tapi di dalamnya berlantai tiga. Sebelum terbakar yang kali pertama pasar ini hanya satu lantai. Ada beberapa los yang ditempati pedagang basah, sembako dan sebagian kios buku, kain, pakaian jadi dan barang kelontong.

Pasar Tradisional ini gak pantas disebut  sebagai pasar mati suri, seperti Pasar Tunjungan. Di pasar ini tetap eksis sebagai pasar kuliner tradisional dan makanan ringan juga tradisional. 

Meja terbuat dari kayu di situ tempat menjual aneka makanan dan minuman legendaris. 
Di awal tulisan saya sebut minuman Cendol. Sebagai pendamping es Cendol dan kelapa muda masih ada kuliner Gado-Gado, Tahu Campur Lamongan, Soto Ayam dan Rujak Cingur. O ya ada lagi jajan pasar (klanting, kelepon, uyel-uyel, getuk dan lain-lain). 

Saya menulis Pasar Blauran dan minuman khas Cendol terinspisari dari Video Ustadz  Ali Murtadlo. Dia pensiunan wartawan senior Jawa Pos. Ustadz yang satu ini asli putra Pacitan. Lokasi daerahnya sama dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, presiden kita yang ke 6 (dua periode)

cendol-dawet.jpg1.jpgCendol dawet. (FOTO: kompas.com)

Ustadz Ali M, selain ganteng, bahasa Inggrisnya cas cis cus, fasih sekali. Inspirasi Cendol ini juga datang dari Pak Dahlan Iskan (Pak DI), putra asal Magetan yang pernah jadi Mentari BUMN. Dan jangan lupa, beliau juga mantan "Panglima" Kebangkitan dan Kejayaannya Imperium Jawa Pos Group! Bersama Pasukan Khususnya yang terbangun di Markas Kembang Jepun. Ini fakta sejarah yang tidak bisa diganggu gugat. 

Pak Dahlan yang rajin menulis setiap hari di Disway mendapat julukan Sang Begawan Media. “Semua atrikelnya yang diupload bagus dan enak dibaca. Dan Perlu”. 

Versi tulisan Cendol Pak DI (Dahlan Iskan) dan Ustadz Ali Murtadlo memang beda. Namun demikian sama-sama menarik untuk dibaca sebagai tambahan khasanah pengatahuan. 

Cendol versi Pak DI banyak memberikan informasi tentang kesehatan kita. Juga berbagai hal yang sedang terjadi di muka bumi. Di berbagai aspek kehidupan. Apalagi di saat kita masih dalam cengkeraman pandemi Covid 19. 

Cendol yang ditulis Pak DI bukan minuman segar. Maaf Pak DI belum lama ini terpapar Covid-19. Alhamdulillah sekarang kesehatannya makin membaik. Ini termasuk Ustadz Misbahul Huda dan Gus Agus Mustofa, yang mengalami nasib sama seperti Pak DI. Kini semuanya sudah baik dan sudah beraktivitas seperti sedia kala.

cendol-ali.jpgLukisan pwmu.co saat menayang tulisan Ali Murtadlo berjudul: "Istiqomah dengan Great Habit".

Cendol Pak Di menceritakan darahnya saat terpapar ada gumpalan kecil-kecil. Ketika Pak DI di rumah sakit merasa heran juga. Hasil pemeriksaan dokter yang merawatnya semua baik. Ketika terpapar Pak DI sempat saya WA. Jawaban WA yang saya terima : “Matur nuwun Mas Dirman. Ini barusan dicek lagi. Saturasi Oksigen 96 (bagus lebih dari 95), Tekanan darah 137/69 dan Suhu Badan 36,6” 

Pak Di sendiri kala itu merasa heran. Dalam tubuhnya ada gumpalan darah. Pak DI sendiri sulit menyebut gumpalan darah yang kecil tersebut. Akhirnya Pak DI menyebutnya Cendol.

Sebutan darah menggumpal tersebut memang pantas disebut Cendol. Mengapa ?. Cendol memang tidak bisa mengeras. Dia bisa melunak dan lentur. 

Alhamdulilah pak DI sekarang sudah sehat. Bisa senam lagi setiap hari. Tapi masih mengenakan topi. Padahal, kata beliau sendiri atas keterangan dokter, kalau mau mendapatkan vitamin D secara maksimal tatkala berjemur sambil senam: JANGAN MENGENAKAN TOPI! 

Kelompok senam Dahlan iskan juga gembira bisa bertemu kembali dengan Pak Dahlan, di kala pagi hari olahraga senam. 

Cendol dari Ustadz Ali Murtadlo berupa ini. Dia rajin kirim video ke grup WA CowasJP (Perkumpulan Para Mantan Karyawan Jawa Pos Group). 
Kali pertama video yang diuplod ke Cowas singkat kata isinya begini:  Cendol adalah minuman khas yang enak. Segar dan banyak disukai masyarakat.
` Cendol Ustadz Ali Murtadlo memang perlu disimak. Shooting videonya memang menarik. Latar belakang ada tanaman hias warna warni. Ini yang membuat penonton video merasa ayem dan menyejukkan. Apalagi setiap ganti shooting dengan latar belakang yang berbeda. Mungkin lokasi pengambilan videonya tidak jauh dari rumah Ustadz Ali. Kira-kira tak jauh dari lokasi masjid yang baru dibangun.

Narasi video dari Ustadz Ali berbagai macam masalah. Kalau diibaratkan minuman cendol banyak variasinya. Ada cendol yang berwana hijau, warna putih, dan warna pink. Semua warna cendol ini mempunyai arti dan falsafah yang mendalam.

Nah Cendol Ustdz Ali Murthado banyak  memberikan nasihat. Khususnya di saat masalah yang terjadi di masyarakat. Pesannya memang mendalam. Pemirsa videonya perlu “Menekan Tombol Lonceng agar berbunyi”.  

Saya sabahat lama ustadz  Ali Murtadlo.  Saya yakin ustadz yang satu ini akan istiqomah membuat video yang bermanfaat bagi umat. Aamiin. 

Sekadar info minuman Cendol yang meyegarkan ternyata populer di Indonesia dan Asia Tenggara. Mulai Brunei, Kamboja, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Myanmar. Di Jawa Barat, Cendol merupakan minuman khas yang terbuat dari tepung hunkwe. Di Jawa Tengah dikenal dengan nama minuman es dawet. Khusus di Kabupaten Banjarnegara dikenal dengan cendol (Dawet) Ayu. (*)

Penulis: K. Sudirman, Wartawan Senior di Surabaya.

Pewarta : K. Sudirman
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda