SBY Mbangun Kayangan

Ketika Pak SBY menghadiri pagelaran wayang kulit dengan Ki Dalang Manteb Sudarsono. Tiga tahun silam. (infobimo.blogspot.com - demokrat.or.id)

COWASJP.COM – Syahdan, Kiai Semar Badranaya gundah gulana hatinya melihat kondisi negeri yang karut marut. Rakyat menderita penyakit dan kelaparan. Para ksatria dan petinggi negeri makin jauh dari rakyat karena masing-masing sibuk dengan urusan kekuasaan. Semar mendapatkan bisikan wangsit dari langit bahwa jika para penguasa negeri tidak segera diingatkan maka bencana besar akan menimpa negeri berupa pagebluk penyakit menular yang akan membunuh banyak penduduk negeri.

BACA JUGA: Korupsi dan Jual Beli Demokrasi

Apa daya, Semar hanya seorang punakawan, suaranya tidak didengar oleh para penguasa, meskipun sebenarnya Semar membawa titah langsung dari Tuhan. Semar yang bertubuh ekstra tambun dan bermuka jelek sering dilecehkan meskipun dia adalah keturunan dewa langsung. Bapaknya adalah Sang Hyang Tunggal dan kakeknya adalah Sang Hyang Wenang. Semar diturunkan ke alam mayapada sebagai representasi ilahiah yang berfungsi mengingatkan para penguasa Amarta untuk tetap berjalan pada rel kebenaran.

Semar menjalankan fungsi “amar makruf” mengajak kepada kebenaran, dan sekaligus juga “nahi munkar” mencegah kejahatan. Kekuatan kebaikan di mayapada diwakili oleh Pandawa Lima yang langsung dikawal oleh Semar bersama trio punokawan anak-anaknya, Patruk, Bagong, dan Gareng. Sementara kekuatan angkara disebutkan mewujud pada kekuasaan koalisi Kurawa yang berkekuatan 100 orang bersaudara dipimpin oleh Duryudana. Semar dan anak-anaknya sering terlibat konfik dengan Kurawa ketika menjalankan fungsi “nahi munkar”.

Kisah-kisah pewayangan ini menjadi filosofi kekuasaan yang sampai sekarang diamalkan oleh para pemimpin di Indonesia. Para presiden Indonesia mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh pewayangan tertentu dan mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh itu. Para presiden Indonesia meyakini filosofi kekuasaan ala Jawa bahwa seorang pemimpin mendapat mandat wahyu kedaton dan menjadi wakil Tuhan di bumi untuk menjalankan titahnya.

Presiden Soeharto menyamakan dirinya dengan tokoh Semar, bukan secara fisik tapi secara substansial. Semar memang gendut dan bermuka jelek tapi sakti mandraguna karena mempunyai ilmu kedewataan. Semar adalah wujud kemanunggalan kawula dengan gusti yang dalam khazanah mistisisme Islam disebut sebagai “wihdatul wujud” menyatunya manusia dengan Tuhan sebagai pencipta. Manusia mempunyai sifat-sifat keilahian karena diciptakan sebagai khalifah, wakil Tuhan, di bumi.

Pak Harto mengidentifikasikan dirinya sebagai Semar karena tokoh ini membawa suara Tuhan yang tidak boleh dibantah sekaligus juga membawa suara rakyat. Semar adalah tokoh two in one, dua dalam satu. Suara rakyat adalah suara Tuhan, vox populi vox dei. Karena itu rakyat harus menyatu dengan raja sebagai penguasa.

Soeharto meyakini bahwa negara harus bersifat integralistik yang menyatukan kepentingan kolektif masyarakat dengan penguasa. Karena itu hak-hak individu harus menyatu kedalam hak kolektif dalam bentuk demokrasi permusyawaratan dan permufakatan. Demokrasi liberal berdasarkan hak-hak individu tidak mempunyai tempat dalam sistem kekuasan kolektif Jawa.

SBY.jpgSBY - Susilo Bambang Yudhoyono turun gunung. (FOTO: CNN Indonesia/Safir Makki)

Presiden Jokowi tidak pernah secara langsung mengidentifilasikan dirinya dengan tokoh pewayangan tertentu, tapi ia menjalankan kekuasaannya berdasarkan filosofi kekuasaan Jawa. Jokowi sering disalahpahami, terutama oleh Fadli Zon, yang menyamakannya dengan Petruk, anak Semar, punokawan berhidung panjang dan bertubuh jangkung.

Jokowi disebut sebagai Prabu Kantong Bolong dalam kisah Petruk Dadi Ratu yang menggambarkan seorang pembantu dari kalangan rakyat jelata yang secara tidak sengaja mendapatkan wahyu kedaton dan menjadi raja yang berkuasa. Prabu Kantong Bolong disebut sebagai manifestasi “kere munggah bale” orang miskin yang kaya mendadak menjadi OKB, orang kaya baru, nouveau riche, yang akhirnya tidak kuat menyangga derajat.

Petruk memang jadi ratu singkat hanya semalam. Petruk memang bukan keturunan ningrat sebagaimana raja-raja pada umumnya. Petruk adalah bagian dari man on the street yang terpisah dari elite sosial. Tapi Petruk punya misi keilahian karena dia anak Semar yang keturunan dewa. Karena itu meskipun hanya menjadi raja semalam tapi Petruk berani mendobrak istana dewa di kayangan Jonggring Salaka dan mengobrak-abriknya karena para dewa sudah lupa akan tugas-tugasnya dan asyik sendiri dengan kekuasaannya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  juga tidak mempersonifikasi dirinya dengan tokoh wayang tertentu. Fisik SBY yang tinggi besar seharusnya lebih mirip dengan Werkudara. Tapi Werkudara adalah tokoh yang kasar dan kurang tatakrama sopan santun. Ia bebicara ngoko, bahasa Jawa kasar, kepada siapa saja termasuk raja dan dewa. Werkudara adalah personifikasi manusia egaliter yang sangat demokratis. Meskipun kasar tapi ia polos dan jujur dan punya tenaga hebat seperti raksasa. Werkudara bisa menghancurkan apa saja ketika marah dan mengamuk.

SBY mungkin lebih tepat digambarkan sebagai Duryudana, raja Astina yang memimpin koalisi 100 orang saudara kandungnya. Tapi, tidak pernah ada orang yang mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh pewayangan Kurawa karena citra umum yang menganggap Kurawa sebagai representasi kejahatan di dunia. Padahal Kurawa tidak hanya berisi orang-orang jahat. Sama juga dengan Pandawa yang tidak semua sifatnya baik dan terpuji. Puntadewa Raja Pandawa adalah sosok suci yang terjaga dari kejahatan.
Tapi Puntadewa gemar judi sampai mempertaruhkan kerajaan dan istrinya sendiri. Werkudara kuat, sakti, dan jujur, tapi kurang tatakrama dan tidak terlalu cerdas. Arjuna tampan dan punya kehebatan strategi perang yang tiada tanding, tapi dia womanizer, main perempuan di setiap tempat. Nakula-Sadewa si anak kembar menjadi nomor ikut yang tidak banyak punya inisiatif.

Di pihak Kurawa ada tokoh jahat tapi banyak manusia bijaksana juga. Adipati Karno panglima perang Kurawa adalah lambang patriotisme dan nasionalisme kelas wahid. Right or wrong my country. Itulah semboyan Adipati Karno yang rela bertempur melawan saudara-saudara sendiri pada Perang Baratayudha untuk membela kehormatan negaranya. Para ksatria Kurawa adalah nasionalis dan patriot yang rela mati demi negaranya.

Duryudana sebagai pemimpin Kurawa menjadi orang terakhir yang maju perang dalam pertempuran one on one melawan Werkudara. Duryudana punya kesaktian hebat dan Werkudara terdesak dan hampir kalah. Tapi kemudian Kresna, penasihat Pandawa, membisiki Werkudara membocorkan rahasia kelemahan Duryudana. Maka Werkudara menghantam paha kiri Duryudana yang menjadi Achille’s Hill pengapesannya. Duryudana mati dengan kaki sempal sebagai pahlawan negaranya.

Framing ki dalang yang negatif membuat Kurawa selalu menjadi tokoh antagonis yang jahat, meskipun mereka semua menjalankan peran darma baktinya kepada negara secara paripurna sampai titik darah penghabisan.

Perjalanan politik Indonesia mutakhir sekarang ini sama dengan cerita pewayangan itu. Ontran-ontran yang terjadi pada Partai Demokrat belakangan ini memunculkan tokoh-tokoh yang dianggap pahlawan dan tokoh yang dianggap sebagai pengkhiatan jahat seperti Sengkuni di pihak Kurawa.

SBY sekarang sedang memerankan tokoh ”Semar Mbangun Kayangan”. Ia melihat perjalanan politik negaranya sudah melenceng dari rel kebenaran dan dia ingin mengingatkannya. Para dewa yang marah menurunkan pagebluk penyakit menular untuk mengingatkan para penguasa.

Semar membangun kayangan dengan mencari tiga pusaka sakti, yaitu Jamus Kalimasada, Payung Tunggulnaga, dan Tombak Karawelang. Tiga hal itu akan membuat kokoh kekuasaan kayangan yang dibangun Semar. SBY ingin membangun dinasti politik kayangan yang berpusat di Cikeas dan diperintah oleh anak-anak dan para punokawan dekat SBY.

SBY sedang berusaha membangun kayangan untuk anak-anaknya dan mempersiapkan pusaka senjata pamungkas untuk memenangi pertempuran memperebutkan kursi kepresidenan 2024. Partai Demokrat ibarat Payung Tunggalnaga dan Tombak Karewalang yang menjadi senjata penting dalam perang nanti.

Karena itu SBY harus turun gunung seperti Semar yang merasa mendapat wangsit dari para dewa. SBY harus mempertahankan Partai Demokrat dari orang-orang yang dianggapnya berkhianat. Tujuh orang kader Partai Demokrat yang dikomandani Marzuki Alie dan Jhoni Allen Marbun dianggap sebagai penghalang upaya SBY untuk membangun kayangan. Karena itu Marzuki, Jhoni, dan kawan-kawannya harus disingkirkan.

Lakon SBY Mbangun Kayangan masih panjang. Berbagai intrik politik masih akan bermunculan. Marzuki Alie dan kawan-kawan pasti akan melawan dan pertempuran terbuka tidak terhindarkan. Akan muncul Sengkuni-Sengkuni yang dianggap sebagai pengkhianat. Episode goro-goro Partai Demokrat akan makin memikat untuk dilihat. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : kempalan.com

Komentar Anda