Iwan Fals Insaf, Jokowi Malah Mabuk

Foto: LINE Today

Dulu aku suka padamu, dulu aku memang suka…ya ya ya Dulu aku gila padamu, dulu aku memang gila…ya ya ya

***

COWASJP.COM – Itu potongan lagu Mirasantika dari Rhoma Irama, menggambarkan orang yang kecanduan minuman keras beralkohol dan narkotika, tapi kemudian insaf dan bertransformasi menjadi orang baik dan bersih dengan meninggalkan mirasantika.

Penggemar Bang Haji pasti hafal lagu itu. Jutaan jumlah penggemar Bang Haji di seluruh Indonesia dihimpun dalam wadah penggemar Forsa, Fans of Rhoma Irama and Soneta Group, diketuai oleh wartawan senior jebolan Jawa Pos, Surya Aka Irama. Mereka berkumpul secara berkala setiap ada show Rhoma Irama. Mereka punya ritual khusus dan tampil sebagai impersonator yang mirip dengan tampilan khas Rhoma Irama terutama potongan rambut dan cambang serta atribut khas seperti baju panggung lengkap dengan gitar tanpa kepala. Para penggemar Rhoma yang tidak gabung di Forsa disebut sebagai ABRI alias Anak Buah Rhoma Irama.

BACA JUGA: Korupsi dan Jual Beli Demokrasi

Sampai sekarang lagu-lagu bertema dakwah dari Rhoma Irama masih tetap berpengaruh kuat. Rhoma adalah satu-satunya penyanyi yang secara konsisten membawa misi dakwah dalam musiknya. Tidak terhitung berapa banyak orang yang tercerahkan dan mengalami transformasi karena lagu-lagu dakwah Rhoma Irama.

Tema lagu-lagu dakwahnya selalu aktual, termasuk Mirasantika yang sampai sekarang masih sering dinyanyikan di panggung. Bahkan Iwan Fals, legenda musik folk Indonesia menyanyikan lagu itu berkolaborasi dengan Rhoma Irama. Paduan dua genre musik yang beda itu menghasilkan aransemen yang unik dan asyik dinikmati.

Iwan Fals begitu menghayati lagu itu sebagai bagian dari perjalanan hidup pribadinya yang getir. Anak laki-laki sulungnya, Galang Rambu Anarki, meninggal akibat narkotika. Kematian Galang sangat memukul Iwan dan menjadikannya berubah untuk menjalani hidup bersih tanpa alkohol dan narkoba. Transformasi Iwan Fals membawanya menjalani hidup yang lebih religius. Iwan juga sudah kembali ke jalan yang benar menjadi penyambung lidah rakyat menyuarakan kritik terhadap ketidakadilan rezim.

OMA.jpgSampai sekarang lagu-lagu H Rhoma Irama masih tetap berpengaruh kuat. Konsisten membawa misi dakwah dalam musiknya. (FOTO: kompasiana.com)

Rhoma Irama sendiri juga masih belum bisa menyelesaikan persoalan narkotika di keluarganya. Anak kesayangannya, Ridho Rhoma, dua kali ditangkap karena narkoba dan sekarang masih mendekam di tahanan. Tantangan dakwah paling besar sejak zaman para nabi sampai sekarang selalu datang dari anggota keluarga terdekat.

Di Indonesia narkoba dan minuman keras menjadi problem sosial yang akut. Peredarannya luas sampai ke kampung-kampung dan sangat sulit dideteksi. Minuman keras jenis oplosan yang mencampur alkohol berkualitas rendah dengan bahan-bahan berbahaya beredar luas di kalangan masyarakat bawah. Alkohol menjadi sumber kriminalitas sekaligus menjadi pencabut nyawa yang kejam.
Setiap saat muncul kejadian kematian akibat miras oplosan. Seorang anggota polisi yang mabuk di sebuah kafe di Cengkareng menghunus senjata api dan menembak empat orang, tiga mati seketika dan satu luka parah. Peristiwa yang terjadi Kamis dinihari (25/2). Siang harinya media ramai memberitakan kebijakan baru yang diteken pemerintahan Jokowi yang membuka izin investasi industri minuman keras sebagai turunan dari UU Cipta Kerja Omnibus Law.

Izin pendirian industri alkohol itu memang khusus diberikan untuk daerah tertentu seperi Bali, NTT, Sulawesi Utara, dan Papua. Tetapi peredaran produk alkohol itu tidak akan bisa dibatasi dan pasti bakal beredar di seluruh Indonesia. Inilah konsekuensi yang harus dihadapi bangsa Indonesia dengan ditekennya Omnibus Law yang disebut-sebut bakal membuka lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia. Pembukaan pabrik alkohol tentu menyerap tenaga kerja. Tapi risiko sosial yang dihadapi akibat peredaran minuman beralkohol tampaknya tidak dihitung oleh pengambil kebijakan.

Masyarakat Jawa mengenal  istilah “Molimo” alias “Lima M”, untuk menggambarkan lima perbuatan yang harus dihindari karena akibatnya yang desktruktif, yaitu mabuk (minum alkohol), madat (mengonsumsi narkoba), main (berjudi), madon (berzina main perempuan), dan maling (mencuri, korupsi). Lima serangkai itu menjadi penyakit sosial yang harus dihindari karena akibatnya yang destruktif terhadap tatanan masyarakat.

rhoma.jpgDuet Spektakuler Iwan Fals dan Bang Haji Rhoma Irama di acara 25 Tahun Indosiar. (FOTO: Vidio.com)

Lima M menjadi rangkaian karena satu hal akan memengaruhi hal lainnya. Satu perbuatan M akan menjadi penyebab empat M lainnya. Local wisdom masyarakat kita mengajarkan bahwa di antara molimo itu yang menjadi pangkal kejahatan nomor satu adalah mabuk. Orang yang mabuk dan hilang kesadaran akan gampang melakukan kejahatan lainnya seperti berzina, mencuri, dan bahkan membunuh. Kasus polisi mabuk di Cengkareng membuktikan betapa destruktif kejahatan rentetan yang terjadi karena mabuk.

Indonesia tentu butuh investasi untuk menggerakkan roda ekonomi yang sekarang macet terkena resesi akibat pandemi. Tetapi mengundang investasi tidak harus dilakukan dengan membabi buta tanpa memperhitungkan risiko sosial yang lebih besar. Kebijakan ekonomi liberal yang diadopsi pemerintah Indonesia sekarang ini merupakan bagian dari gerakan ekonomi neoliberal yang bergerak menunggangi globalisasi.

Dengan globalisasi modal dan investasi akan mengalir ke semua negara tanpa bisa ditahan oleh batas-batas geografis. Modal dan uang bergerak laksana air yang mencari tempat paling rendah dan paling menguntungkan yang memungkinkan persaingan bebas tanpa aturan.

Globalisasi mensyaratkan adanya perdagangan bebas yang mengharuskan negara-negara untuk membuka pasar sebebas-bebasnya. Barang apa saja bebas masuk, investasi apa saja boleh masuk. Undang-Undang Omnibus Law didesain untuk menjadikan Indonesia dataran rendah yang terbuka yang gampang dialiri investasi. Peraturan birokrasi dipangkas supaya investasi asing gampang masuk. Peraturan yang memproteksi dan memberi perlindungan  barang-barang produk dalam negeri dihapus karena tidak sesuai dengan prinsip perdagangan bebas.

OMA1.jpgH. Rhoma Irama (tengah) dan Ketua Forsa Pusat Surya Aka Irama (paling kanan). Surya Aka adalah anggota CowasJP (Perkumpulan Para Mantan Karyawan Jawa Pos Group). (FOTO: kapanlagi.com)

Globalisasi sering disebut bisa menciptakan level playing field, lapangan permainan yang datar dan rata. Semua pemain bebas bermain  dan bersaing di atas lapangan yang rata itu. Tentu saja pertandingan akan seru dan asyik dinikmati kalau para pemain yang tampil punya kualitas yang merata dan punya profesionalitas yang sama-sama tinggi.

Gol demi gol akan terjadi dari permainan yang seimbang dan adu teknik-strategi yang terbuka. Tapi kalau tim yang  berasal dari kelas Premier League Eropa dibiarkan tarung bebas melawan tim kelas tarkam Indonesia, yang terjadi bukan permainan tapi pembantaian.

Itulah gambaran yang terjadi pada globalisasi sekarang ini. Negara-negara lemah seperti Indonesia dipaksa membuka pasarnya untuk investasi asing dengan aturan seminim mungkin dan tidak boleh ada proteksi untuk produk dalam negeri. Pada saat bersamaan pasar negara-negara maju tetap tertutup bagi produk luar dan diproteksi dengan berbagai aturan yang sulit ditembus oleh negara-negara lemah seperti Indonesia.

Pasar rokok yang sangat besar di Indonesia sekarang dijajah oleh sigaret asing produk Phillip Morris dan kawan-kawan. Tapi giliran rokok kretek Indonesia akan masuk ke pasar negara maju aturan yang diterapkan tidak mungkin ditembus dan rokok kretek dinyatakan sebagai barang yang terlarang untuk masuk ke pasar negara maju. Produk-produk lain dari Indonesia mengalami hal yang sama. Pasar negara maju sulit ditembus oleh produk Indonesia, tapi pasar dalam negeri Indonesia terbuka lebar terhadap berbagai impor. Maka apa saja diimpor, mulai dari beras, kedelai, gula, sampai garam dan apa saja.

Globalisasi adalah keniscayaan dunia. Tapi yang kita inginkan adalah globalisasi yang berkeadilan, bukan globalisasi yang menjadi kedok kolonialisme dan imperialisme gaya baru. Itulah yang membuat banyak orang kecewa dan membenci globalisasi. Bahkan ekonom Amerika pemenang Nobel, Joseph Stiglitz menuangkan kekecewaannya dalam bukunya “Globalization and It’s Discontent” (2002).

Ia mengritik peran Dana Moneter Internasional IMF, Bank Dunia, dan Organisasi Perdagangan Dunia WTO, sebagai agen penindasan negara maju terhadap negara miskin atas nama globalisasi. Stiglitz menegaskan penjajahan global ini dalam jangka pendek seolah menguntungkan negara maju, tapi pada jangka panjang akan menghancurkan kita semua. Stiglitz mengusulkan negara-negara maju untuk ikut melindungi pasar negara-negara miskin, dan sekaligus menghargai nilai-nilai budaya lokal.

Investasi pabrik miras di Indonesia yang sekarang digagas Presiden Jokowi merupakan bagian dari globalisasi perdagangan bebas yang tidak fair dan tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.

Boleh saja Presiden Jokowi mabuk investasi, tapi jangan seperti orang mabuk miras yang membabi buta mengizinkan produk apa saja masuk demi investasi. Harusnya Jokowi ikut berdendang bersama Iwan Fals dan Bang Haji Rhoma, “Sekarang tak-tak-tak-tak

‘Ku tak mau tak”. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda