Begini Paru-Paru Saya Pasca Covid-19

Paru-paru Gus Agus Mustofa setelah sembuh dari Covid-19. Hasil CT scan terlihat berkabut di paru kanan dan kiri. Muncul jaringan parut akibat adanya perlukaan. (FOTO: Facebook - Agus Mustofa)

COWASJP.COM – Seorang kawan bertanya di facebook, “Bagaimana keadaan paru-paru Mas Agus, setelah sembuh dari Covid-19?”

“Kalau discan, kondisi paru-parunya seperti apa ya? Sekadar ingin tahu,” sambungnya.

BACA JUGA: Jejak Covid-19 di Otot dan Paru-Paru

Ia ingin tahu lebih jauh, karena sebelumnya saya bercerita bahwa kemampuan sistem pernapasan saya menurun pasca terserang Covid-19.

Tidak seperti biasanya. Usai sakit ini, bernapas seperti membutuhkan upaya. Ibarat menggelembungkan balon udara yang karetnya tebal. Agak berat.

Selain tidak bisa bernapas panjang dan dalam, juga gampang “ngos-ngosan” ketika digunakan untuk beraktivitas yang mengerahkan tenaga. Meskipun, tidak terlalu besar.

Dengan latihan setiap hari, kini pernapasan saya memang semakin baik. Termasuk, otot-otot dada. Dan, juga otot gerak. Tetapi, terasa belum pulih seperti sebelumnya.

Maka, pertanyaan tentang kualitas paru-paru saya itu memang menggelitik. Saya pun menjadi ingin tahu. Seperti apa ya sekarang. Setelah mengalami pneumonia akut. Radang yang sangat serius. Terserang virus Covid-19 selama berhari-hari. Sampai harus dirawat di RS Universitas Airlangga selama 14 hari. Dan, masuk ICU selama 5 hari. 

Saya sempat mengalami penurunan saturasi oksigen cukup rendah. Sehingga mesti diterapi dengan HFNC – High Flow Nasal Cannula. Yakni, semprotan oksigen murni bertekanan tinggi ke dalam paru-paru. Dengan slang yang dimasukkan melalui hidung. Berkecepatan 40 liter per menit.

Dari CT-Scan saat itu diketahui bahwa paru-paru saya penuh dengan bercak-bercak putih. Menggambarkan keradangan yang serius. Dan mengalami perlukaan di sana-sini. Dalam kondisi seperti itu, tentu sistem pernapasan sangat bermasalah. Oksigen tidak bisa terserap pembuluh darah di paru-paru. Sehingga dada terasa sesak. Dan, napas tersengal-sengal.

Tetapi, setelah sembuh dari Covid-19, dan sudah dinyatakan negatif, kenapa masih juga terasa berat untuk bernapas? Apa yang terjadi dengan paru-paru saya?

CT SCAN LAGI

Maka, saya pun memutuskan untuk melakukan CT-Scan kembali. Sebagai bahan evaluasi. Dan perbandingan kondisi saat sakit dengan sesudah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Senin, 22 Februari 2021, saya CT-Scan di RS Islam Jemursari, Surabaya. Saat pendaftaran di ruang Radiologi saya ditanya: “Ini pasca Covid-19, ya Pak?”

“Iya,” jawab saya pendek.

paru-paru.jpgGus Agus Mustofa dan alat CT Scan. (FOTO: Facebook - Agus Mustofa)

“Bapak membawa surat bukti sudah negatif Covid-19?” tanyanya lagi.

“Ada,” kata saya sambil memberikan surat hasil tes PCR. Tertanggal 27 Januari 2021.

Dia baca sebentar. Kemudian mengatakan bahwa tes PCR itu sudah terlalu lama. Hampir sebulan. Sehingga tidak bisa dijadikan rujukan.

“Bapak mesti tes lagi. Agar bisa CT-Scan. Tidak harus PCR. Cukup tes antigen saja,” sarannya.

Maka, saya daftar lagi ke bagian IGD. Untuk mendapatkan tes antigen. Tidak seramai biasanya. Antreannya hanya ada beberapa orang. “Apakah penyebaran pandemi sudah mulai menurun ya?,” pikir saya.

Tak lama kemudian, saya sudah masuk ke ruang swab. Diambil sampelnya melalui hidung. Dan satu jam kemudian saya menerima hasilnya: negatif. Alhamdulilah.

Siang itu saya boleh menjalani CT-Scan. Di bagian dada dan sekitarnya. Paru, jantung, liver dan ginjal. Malam hari jam 9, hasilnya baru jadi. 

Menurut dr Adi Habibi, Sp.Rad yang memeriksa hasil CT-Scan, kondisi kesehatan saya sedang mengalami proses pemulihan. Jantung dan pembuluh darah besar normal. Liver saya juga normal. Baik ukurannya, densitasnya, maupun tidak ada nodula atau bintil di sana. Demikian pula ginjal saya: normal. Homogen densitasnya. Dan tidak bernodula.

Khusus paru-paru, terlihat bekas pneumonia. Radang serius akibat serangan khas virus. Sedang dalam masa pemulihan. Gambar terlihat berkabut di paru kanan dan kiri. Bronchus atau cabang tenggorokan yang menuju paru dalam kondisi baik. Tidak ada pembesaran kelenjar di sepanjang trakea – saluran napas. Dan, tidak ada penumpukan cairan di paru.

ADA JARINGAN PARUT

Secara umum, kondisi baik. Cuma, mulai timbul fibrosis. Yakni, semacam jaringan parut yang muncul akibat adanya perlukaan. Jaringan parut adalah jaringan sel yang tidak elastis. Contohnya, jika tangan kita terluka agak dalam, maka ketika sembuh akan memunculkan bekas luka. Seperti bekas jahitan. Bekas luka itu bersifat padat dan kaku. Tidak seelastis jaringan normal di sekitarnya.

Begitulah yang terjadi pada paru-paru saya. Bekas-bekas perlukaan itu mulai mengering. Tapi, menimbulkan jaringan parut – fibrosis. Jika jumlah fibrosisnya banyak, itu akan mengurangi daya elastistas paru-paru saya. Dan, itulah yang menyebabkan gerak napas saya terasa berat. Seperti menggelembungkan balon udara yang karetnya tebal. Kurang elastis.

Agar tidak keterlanjuran menebal dan kaku, maka di masa pemulihan ini paru-paru harus dilatih sesering mungkin untuk mengembang. Semaksimal bisa. Setiap hari. Agar tetap elastis. Termasuk jika ada jaringan parutnya. Ikut menjadi lebih elastis.

Keesokan harinya, hasil itu saya konsultasikan kepada dr Alfian Nur Rosyid, Sp.P, spesialis paru yang merawat saya selama di RSUA. Dia membenarkan, bahwa sedang terjadi masa pemulihan. 

“Perlu rehabilitasi pernapasan, untuk meningkatkan kualitasnya. Karena, fibrosis itu membuat elastisitas paru menjadi berkurang,’’ paparnya.

Namun demikian, dr Alfian bersyukur. Karena saturasi oksigen di dalam darah saya ternyata sangat baik. Secara konsisten selalu di kisaran 97 – 98 – 99 %. Itu menunjukkan fungsi sistem pernapasan saya secara keseluruhan mulai kembali normal. 

“Alhamdulillah …,” timpal saya.

“Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".” [QS. Luqman: 12]

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 26 Februari 2021]

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda