Merasakan "Kecepatan" Layanan GeNose

Anak mbarep penulis (kiri) saat melakukan pemeriksaan dengan alat GeNose karya UGM di RS Sardjito, Jogja.(Foto: Erwan W)

Kelebihan dari alat pelacak virus melalui embusan senyawa organik dari mulut ini adalah hasilnya jauh lebih cepat diketahui hanya 3 menit (The Conversation.com). Bahkan Tirto.id menulis sekitar 80 detik saja! Benarkah membuat pemeriksaan di klinik lebih cepat?

***

COWASJP.COM – MASA isolasi mandiri (isoman) 14 hari, berakhir. Anak mbarep yang isoman di Shelter Unisa sudah pulang pada hari ke-10. 22 Februari 2021. Lanjut isoman di rumah selama 4 hari dari tanggal keluar shelter. Harus selalu menerapkan 3M plus menempati kamar terpisah. Fasilitas kamar mandi terpisah.

"Jika mengalami keluhan segera periksa ke pelayanan kesehatan terdekat." Begitu pesan Dokter Masykur Rahmat. Dokter penanggung jawab pasien di Shelter Unisa.

Kondisi sehat. Fit. Sebagaimana yang tertulis pada surat pengantar "lulus" dari Pesantren Covid-19 RS PKU Gamping di Shelter Unisa: "tidak ditemukan tanda dan gejala ISPA."  

Selama di shelter mendapat layanan yang memuaskan. Makan tiga kali. Vitamin. Pemeriksaan dokter. Olahraga. Senam pagi. Kamar bersih. Fasilitas wifi. Dan sosialisasi yang baik bersama penghuni shelter yang lain. Inisiatif yang keren dari Muhammadiyah-Aisyiyah beserta Ortom di bawahnya seperti LazisMu dan PKU Muhammadiyah.

wan1.jpgAnak mbarep (kiri) main pingpong saat tinggal di Shelter Unisa. (Dok, pribadi).

Di rumah, kami juga melakukan isoman sejak anak mbarep terkonfirmasi positif Covid. Saat itu anak mbarep tes antigen akan berangkat tugas ke Bogor, Selasa (9/2) dan diyakinkan dengan hasil test PCR yang keluar Kamis (11/2). Positif. (Baca : Isoman pun harus Diperpanjang)

Beruntung, rumah kami di lahan 81 M2 memiliki kamar yang bisa kami tempati sendiri-sendiri. Anak mbarep di kamar yang dekat akses kamar mandi. Bisa minim interaksi. Saya di kamar sendiri yang ada kamar mandi sendiri. Istri dan anak ragil di kamar atas. Memanfaatkan kamar mandi samping. Alhamdulillah, bisa berjalan sesuai prosedur hehehe

Kami bersikap dengan asumsi sebagai orang yang positif Covid. Interaksi kami batasi. Masker selalu kami kenakan. Piring dan peralatan makan sendiri-sendiri. Harus dicuci sendiri-sendiri. Cuci pakaian sendiri-sendiri.

Makan? Alhamdulillah, dukungan dari saudara, kerabat, tetangga sangat luar biasa. Dalam beberapa hari tidak perlu memasak. Paling hanya menanak nasi. Bersyukur sekali mendapat dukungan dan doa berlimpah dari banyak pihak.

Ketika harus memasak dan persediaan bahan masakan tidak ada, kami pesan ke tetangga untuk membelikan. Atau ketika bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih habis, tinggal WA ke tetangga yang buka warung. Sayuran habis? Untung ada "Mas Eko". Bukan tetangga, bukan saudara. Tetapi baik hati. Mau mengantar sayuran tiap hari (kalau perlu). Cek saja akun IG @sayurmaseko Gratis ongkir untuk belanja di atas Rp 50 ribu.  

*

Saat anak mbarep pindah ke Shelter Unisa, kamar yang sebelumnya dia pakai tetap kami kosongkan. Kemudian kami bersihkan untuk dia tempati kembali usai karantina di Pesantren Covid-19. Makan kami siapkan di meja depan kamar.

Empat hari setelah isoman di rumah, melengkapi 10 hari di Shelter Unisa pun selesai. Saatnya tes untuk mengetahui sudah negatif atau masih positif Covid. Tes swab antigen atau swab PCR?

Eh, lagi ramai penggunaan GeNose produksi UGM. Yang mulai diterapkan juga di stasiun dan rumah sakit. Oke, kita mencoba GeNose saja. Apalagi pemeriksaan GeNose juga mulai dibuka di Rumah Sakit Akademi (RSA) UGM 12 Februari 2021. Jadi ada RS Sardjito, RS Bhayangkara dan RSA UGM.

wan.jpgAnak mbarep saat meniup kantong udara untuk pemeriksaan GeNose.

Kami pun mencoba mengakses. Mencari info dan kontak yang bisa dihubungi. Lihat poster digital yang beredar di media sosial. Jadwal pemeriksaan ternyata tidak setiap hari dan tidak 24 jam. Ada yang hanya sampai jam 11.00. Ada yang sampai jam 12.00. Ada yang buka pelayanan sore. Pun hanya beberapa jam.

Pada saat anak mbarep terkonfirmasi positif (9/2) kami sebenarnya sudah mau mencoba GeNose. Datang ke RS Sardjito pukul 10.45. Karena tutupnya jam 11.00. Eh, ternyata sudah tidak melayani. "Sehari hanya 100 orang. Dan sudah habis antreannya!" Kata petugas satpam yang mendaftar calon pengguna GeNose.

Karena "kehabisan" jatah GeNose, kami memilih tes antigen di laboratorium yang ada di dekat rumah. Waktu itu, kami bertiga hasilnya negatif.

Tak ingin kasus "kehabisan jatah" di RS Sardjito terulang, kami mencoba ke RSA UGM yang lebih dekat rumah. Kami pun berangkat berempat. Go show. Saya yang nyopir. Anak mbarep di kursi tengah. Istri dan anak ragil di kursi belakang. Pokoknya jaga jarak.

Sesampai di RSA UGM ternyata pemeriksaan GeNose sudah tutup. Kami datang telat. Tidak melihat jadwal. Di brosur digital ada jadwal dan tempat pemeriksaannya. "Sebaiknya daftar lewat telepon atau online," kata petugas di RSA UGM.

suasanan.jpgSuasana klinik yang melayani GeNose di RS Sardjito. Petugas berpakaian hijau yang bertugas memanggil pasien dan menyerahkan kantong udara pemeriksaan GeNose.

Hari itu, Kamis (25/2) jadwal hanya sampai jam 12.00. Kami datang habis makan siang. Sekitar jam 13.00. Pikiran kami, ada yang buka pukul 14.00. Sehingga ada waktu satu jam "puasa" sebelum menjalani pemeriksaan GeNose.

Puasa? Ya, untuk pemeriksaan GeNose, pasien diharapkan tidak makan, tidak minum, setidaknya satu jam sebelum pemeriksaan. Juga tidak merokok, memakan jengkol, pete atau yang berbau sejenis.

Gagal "go show" di RSA UGM, kami coba mendaftar lewat telepon untuk esok hari. Ternyata, jadwal di RSA UGM untuk pelayanan GeNose sudah full. Petugas malah menganjurkan ke UGM saja. Kampus UGM?

"Iya. UGM ada pelayanan mencoba GeNose di Gedung Pascasarjana lantai satu sayap Utara," ujar petugas layanan GeNose RSA UGM yang dihubungi istri saya lewat telepon. Petugas tersebut lantas memberi nomor kontak yang bisa dihubungi.

Langsung istri menghubungi nomor tersebut. Dan.... Jadwal penuh sampai tanggal 28 Februari. Luar biasa.

Ya sudah. Pilihan kembali ke RS Sardjito. Kami sudah tahu jam buka pelayanan serta batas jumlah orang yang dilayani. Buka jam 09.00-11.00 hanya untuk 100 orang setiap harinya. Harus datang langsung ke loket pelayanan. Kami sepakat besok pagi berangkat jam 08.30 agar bisa ambil tiket antrean awal karena hari Jumat.

Jumat pagi, kami siap-siap. Menu sarapan pagi sudah kami siapkan sejak sore. Dan akhirnya kami bisa sampai ke RS Sardjito jam 09.30. Hehehe tetap tidak bisa datang awal... Sudah berderet orang menunggu. Mereka menunggu di bawah tenda yang disediakan di depan ruang pemeriksaan.

Bertiga saya turunkan di depan pintu masuk pemeriksaan, saya muter mencari tempat parkir. Tanda "parkir mobil penuh" diletakkan di depan pintu masuk arah parkir. Tapi saya terus saja. Saya punya lokasi parkir yang saya pakai ketika diminta mengisi acara pertemuan dokter di tempat ini. Waktu itu, bersama Yunet Batik, kami menampilkan fashion show dan demo membatik.

Syukur alhamdulillah. Masih ada tempat parkir di lantai dua. Petugas parkir memberi aba-aba agar mobil tidak diaktifkan hand rem-nya. Ya, dapat tempat parkir di deret depan mobil-mobil yang parkir di lokasi yang sebenarnya. Jadi, jika mereka mau keluar, mobil saya harus bisa digeser maju atau mundur agar tidak menutupi jalan. "Jangan di-hand rem Pak. Nol-kan saja!" perintah petugas parkir.

Segera saya menyusul ke tempat pemeriksaan GeNose. Ternyata lumayan jauh. Ngos-ngosan juga. Tampak istri dan kedua anak saya sedang mengisi form pendaftaran. "Dapat antrean ke-85 dan selanjutnya. Masih komanan (kebagian), alhamdulillah," ujar istri.

Kok belum selesai ngisi formnya? Alamak. Ternyata ada empat lembar yang harus diisi. Form isian yang menanyakan identitas diri, penanggung jawab pasien, pernyataan kesediaan ditangani sesuai prosedur rumah sakit Sardjito dan lain-lain.

Ada juga permintaan izin, boleh atau tidak hasil pemeriksaan digunakan untuk praktik pendidikan dokter. Bagaimana metode pembayaran yang akan dipakai. Bayar sendiri, BPJS, atau asuransi lain. Terlalu njelimet kalau untuk sekadar mencoba GeNose.

Lembar yang secara khusus untuk GeNose berisi pernyataan pernah kontak pasien Covid-19 atau tidak, punya gejala atau tidak, tidak makan dan minum, tidak merokok sebelum dites GeNose. Juga ada pertanyaan apakah sudah tes antigen, dan tes PCR.

Di bagian bawah ada tanggal dan jam yang menyatakan waktu pernyataan tersebut selesai dibuat. Form yang selesai diisi, dikumpul ke satpam yang bertugas melakukan pendaftaran awal. Kemudian menunggu dipanggil untuk mendapatkan urutan menggunakan GeNose.

Kami pun menunggu di bawah tenda. Waktu menyelesaikan form, di bagian bawah kami tulis jam 10.15 (istri), 10.19 (anak ragil), 10.23 (saya). Dan anak mbarep yang paling akhir 10.30.

Ternyata yang pertama dipanggil justru anak mbarep. Pukul 11.02 sudah dipanggil untuk mendapatkan kantong udara guna pemeriksaan GeNose. Langsung menuju di kursi kosong yang berderet di ruang itu.

Lantas diminta membuka kantong plastik yang sudah ditempeli stiker identitas diri itu. Lalu diminta menekan tombol biru penutup lobang tiup. Dorong saja agar pipa terbuka. Lalu tiup hingga kantong menggelembung. Dan segera tutup dengan mendorong tombol biru tadi sehingga posisi lubang menutup.

Setelah itu, kita diminta meletakkan kantong udara yang telah berisi "nafas" atau udara dari mulut kita itu ke keranjang. Bertumpuk dengan kantong-kantong udara lainnya. Jam 11.04 anak saya selesai dan melakukan pembayaran di loket 14 yang terpisah dari lokasi "peniupan kantong GeNose" tersebut. Beaya Rp 40 ribu.

Urutan berikutnya ternyata bukan saya, bukan istri saya atau anak ragil. Aneh. Diselingi banyak orang. Setengah jam berlalu belum juga dipanggil. Pukul 11.35 saya pun menanyakan ke petugas. Mengapa kami sekeluarga, mendaftar bareng, mengumpulkan berkas bareng, tetapi dipanggilnya tidak berurutan. Bahkan sudah setengah jam sejak panggilan untuk anak mbarep, belum ada lagi panggilan untuk kami.

Petugas yang bertugas memanggil dan kemudian memberi "kantong sebul" itu tidak bisa menjawab. Hanya mengatakan, "Sabar pak. Tunggu dipanggil saja."

Saya katakan semestinya dalam pelayanan publik prinsip first come first served dijalankan. Yang datang satu rombongan, bisa berkoordinasi dengan lebih baik. Misalnya melakukan pembayarannya juga bersamaan, menerima hasil juga bareng. Sehingga datang bareng, pulang juga bisa bareng. Tanpa banyak waktu terbuang untuk saling menunggu.

Merasa tidak punya kemampuan untuk mendesak lebih jauh, kami pun pasrah menunggu panggilan. Dan baru pada pukul 11.50 panggilan untuk anak ragil. Lalu untuk saya tiga menit kemudian dan istri saya tujuh menit berikutnya. Kumandang azan salat Jumat terdengar.

Kami bertiga bergegas ke masjid di bagian belakang rumah sakit. Dekat dengan parkir mobil saya. Sedangkan istri menunggu hasil di bawah tenda di depan ruang pemeriksaan tadi.

Berharap usai salat Jumat hasil pun keluar. Toh, diagnose GeNose tidak memakan waktu lama. Sejak awal penelitian dan ujicoba, saya sudah menulis soal GeNose yang dipuji sejumlah menteri. Salah satu pujian berkaitan dengan kecepatan waktu untuk melihat hasil pengujian.

Kelebihan dari alat pelacak virus melalui embusan senyawa organik dari mulut ini adalah hasilnya jauh lebih cepat diketahui hanya 3 menit. Bahkan ada yang menulis sekitar 80 detik saja!

Orang yang dites cukup mengembuskan nafas dan sensor dengan kecerdasan buatan akan mengidentifikasi apakah terdapat Volatile Organic Compound (VOC). Hasil tes dinyatakan reaktif jika VOC terdeteksi.

Alat pendeteksi virus corona ini juga memiliki kemampuan mendeteksi kasus positif dengan sensitivitas 89-92%. Setara dengan tes menggunakan PCR (89%) dan tes cepat berbasis antigen (89,9%).

Begitu yang banyak ditulis oleh media.

Informasi mengenai kecepatan itulah yang membuat kami berharap antrean di klinik pemeriksaan GeNose RS Sardjito itu tidak memakan waktu lama. Maka, ketika anak saya mendapat panggilan pemeriksaan pada pukul 11.00, kemudian giliran kami yang berikutnya, hasil pun bisa segera kami dapat. Ya toleransi hingga 30 menit mungkin make sense.

Tapi benarkah penerapan di lapangan eh di klinik bisa secepat itu?

***

Hasil pemeriksaan anak saya yang jam 11.00 itu ternyata keluar pada pukul 12.07.36. Kemudian hasil berikutnya, juga tidak konsisten. Pemeriksaan anak ragil saya yang jam 11.50 keluar hasil pukul 14.01.07. Sekitar 2 jam 10 menit.

Pemeriksaan saya yang berlangsung pukul 11.53 keluar hasil pada 13.47.51. Butuh waktu sekitar 1 jam 55 menit. Sedangkan untuk isteri saya, yang mengembuskan nafas ke kantong pada pukul 11.57 justru keluar hasilnya pada 13.25.45. Paling cepat dari rombongan kami. Sekitar 1 jam 28 menit.

Alhamdulillah semuanya negatif.

Jika dihitung sejak kami datang, hingga kami pulang, semuanya memakan waktu hampir 5 jam. Datang jam 09.30, meninggalkan RS sekitar pukul 14.30. Jadi, untuk mencoba GeNose butuh waktu 5 jam! Jauh lebih lama dari saat kami tes Antigen.

Variasi waktu yang dibutuhkan itulah yang membuat kami bertanya-tanya. Kenapa bisa terjadi? Apakah hal itu bisa diperbaiki? Bagaimana cara memperbaikinya?

Sepanjang pengamatan di lokasi, molornya waktu pemeriksaan lebih karena standar operasional prosedur pelayanan yang belum ada. Saya tidak melihat adanya papan informasi prosedur yang menggambarkan alur pelayanan dan waktu yang diperlukan. Satu hal yang lazim untuk institusi yang memberikan layanan publik.

Kedua, tidak rapinya sistem administrasi dan penerimaan dokumen. Sejak mulai penerimaan form isian identitas diri untuk pemeriksaan hingga penataan kantong yang sudah terisi embusan nafas. Tidak ada sistem yang rapi. Bagaimana mungkin bisa urut ketika kantong itu ditumpuk begitu saja di dalam keranjang?

Maka tidak perlu heran ketika yang lebih awal mengisi kantong tersebut malah justru terakhir menerima hasil. Seperti kasus anak ragil saya di atas.

Ketiga, form pengisian data untuk pemeriksaan GeNose terlalu ribet. Terlalu banyak data yang diminta. Apa relevansinya nama ayah-ibu ditanyakan? Form ini masih sangat mungkin disederhanakan. Tidak perlu empat lembar. Cukup setengah lembar. Sehingga tidak perlu waktu lama untuk mengisinya. Toh, saat mendaftar kita sudah diminta kartu identitas (KTP).

Saya punya agenda kegiatan sehabis Jumatan. Jam 12.45 terpaksa harus meninggalkan mereka di RS Sardjito. Anak mbarep saya yang sudah mendapat hasil pemeriksaan (negatif) yang ikut pulang. Nanti dia yang menjemput ke rumah sakit.

Saya pulang untuk berganti motor. Langsung berangkat mewakili Ketua GIPI DIY ke seminar Pemasaran Digital Pariwisata yang diadakan oleh Badan Otorita Borobudur di Westlake Resort. Tak jauh dari rumah saya. Saya tetap minta di-update hasil pemeriksaan GeNose lewat whatsapp. Ingin saya cocokkan dengan pemeriksaan antigen.

Di acara seminar ini ada pemeriksaan antigen. Begitu datang, saya registrasi pemeriksaan antigen. Langsung ditangani. Nomor urut 24. Usai hidung saya "disogok", saya diminta menunggu.  Di luar ruang pemeriksaan, sudah ada mantan ketua ASITA DIY. Mas Udi dan Uda Edwin. Keduanya juga menunggu hasil tes antigen. Nomornya 21 dan 22.

Tak menunggu lama, ada petugas yang memberikan hasil. "Untuk nomor 21 sampai 24 hasilnya negatif. Bisa segera menuju tempat makan makan siang." Rupanya seminar yang juga dilakukan secara online ini diawali makan siang. Tepat jam 14.00, seminar hybrid ini dimulai.

Prof Djoko Budiyanto dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan Mas Hanintiato Joedo dari Rumah Kreatif Jogja menjadi narsum di Westlake. Sedang Mikhael Gaery Undarsa (Tiket.COM) menyampaikan materi dari Jakarta. Semuanya bisa diakses lewat zoom. Acara dipandu Direktur Pemasaran BOB Agus Rochayadi.

Sehari menjalani dua tes uji untuk mendeteksi virus C-19 dengan pengalaman yang berbeda merupakan sesuatu yang luar biasa. Banyak hikmah di dalamnya.

Setelah membaca tulisan ini, semoga gambaran Anda tentang kecepatan GeNose tidak tergerus.

Setelah membaca tulisan ini, semoga layanan di RS Sardjito juga bisa terus ditingkatkan. Karena,saran dan masukan yang sama saya tulis lewat link yang saya terima dari layanan RS Sardjito. Link yang juga dikirim ke semua orang yang mengajukan pemeriksaan di RS Sardjito.

Salam sehat. Tetap semangat! (*)

 

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda