Suka-Duka Vaksinasi Dua Cowasers

Suasana antre vaksinasi di Puskesmas. (FOTO: dokumentasi pribadi Mansyur Effendi)

Dua orang Cowasers: Mansyur Effendi dan Theresia Oemiati mengisahkan suka-dukanya dalam menjalani vaksinasi Covid-19. Cowasers adalah sebutan para anggota Cowas JP (Perkumpulan Mantan Karyawan Jawa Pos Group). Mas Mansyur - sapaan Mansyur Effendi - dan Theresia Oemiati sudah berusia di atas 60 tahun. Mbak Oemi - sapaan Theresia Oemiati - bahkan tahun ini genap usia 70 tahun. Perlu perjuangan ekstra. Ditegur dengan cara kurang sopan. Para petugas lupa bahwa mereka sudah manula alias sepuh. Sudah mulai pikun dan perlu layanan yang baik. Apakah para petugas vaksinasi juga dibekali etika sebagai pelayan publik? Kita tidak tahu. Inilah suka duka kedua Cowasers tersebut saat menjalani proses vaksinasi:

***

COWASJP.COM – Alhamdulillah, hari ini saya (Mansyur Effendi) sudah lolos (dari berbagai persyaratan), dan akhirnya bisa disuntik vaksin.

Tapi sebelumnya ada adu argumen, karena awalnya saya dinyatakan gagal lagi setelah gula darah saya sudah saya tekan. Harus ditunda lagi pelaksanaan vaksinasinya. 

Perlu saya tambahkan bahwa kaki kanan saya sudah diamputasi akibat diabetis. 

Tapi hasil tes kemarin saya dinyatakan lolos. Memenuhi persyaratan medis. 

Tapi mengapa pagi tadi 26/2/2021 dinyatakan gagal lagi? 

"Kenapa dok?" tanya saya.

Jawaban dokter: "Bapak tidak bisa divaksin gegara tidak bisa jalan 100 m tanpa alat bantu yaitu kruk."

Loh, syarat apa pula ini? 

Saya harus membuktikan bahwa saya bisa jalan dengan kaki palsu sejauh 100 meter. Drama apa lagi ini? 

"Loh, kemarin nggak ada pertanyaan yang ada hubungan dengan alat bantu," sergah saya. 

Dokter nggak mau diam, terus dia membacakan point tentang itu. Dokternya ngeyel. Saya pun juga gak mau menyerah. 

"Terus apa gunanya dok saya direhab oleh dokter untuk latihan jalan tanpa kruk, dari 5 m terus 10 m, dan seterusnya. Saya udah jerih payah berusaha dapat kaki palsu, karena ingin ada aktivitas di luar tidak membebani keluarga yang lain," kata saya. 

Perlu dicatat, kaki palsu itu saya peroleh hasil sumbangan Dr Aqua Dwipayana. Dan bantuan beberapa Cowasers lainnya. 

Dokter masih nggak  mau kalah. Beliau lantas ambil HP, membacakan poin-poin yang ada di HP.

"Saya ngerti juga Dok. Sekarang logikanya, kalau pakai alat bantu pun ditolak, artinya orang yang cacat sudah gak boleh dapat vaksin. Artinya biar mereka mati aja gitu, terus keluarganya biar susah, gak boleh berusaha supaya terbebas dari membebani orang lain. MATI AJA DOK", teriakku. 

Ngapain saya kemarin dulu antre dari pagi hingga siang, terus hari ini gula udah baik ditolak lagi. 

manshur1.jpgMas Mansyur mulai latihan dgn kaki palsu buatan Pak Soegenk di Bengkel Kapal (Kaki Palsu), Airlangga Kauman Gg 3 no 33 Mojosari. Maturnuwun MAS AQUA DWIPAYANA yg telah memberikan bantuannya utk membelikan Kapal utk Mas Mansyur, 4 Agustus 2019. (FOTO: Cowas JP)

Saya terus mengambil HP, kemudian sang dokter, dokter Widya, saya foto.

Sebelum saya keluar saya ditahan oleh dokter yang lain. Saya disuruh menunggu, permasalahan akan ditanyakan ke dokter yg menangani vaksin dari Dinas Kesehatan Surabaya. 

Lama juga menunggu.

Setelah setengah jam, dr Widya masuk lagi ke ruangan vaksin, saya disuruh jalan untuk di tes. 

"Udah baik pak," kata dr Widya. 

"Oh saya kira sampai Jalan Kenjeran, Dok. He he he," jawab saya. Dokternya juga ketawa.

"Bapak bisa humor juga yaa," kata dokter. 

Akhasil saya lolos screening, akhirnya juss. Disuntik vaksin.

"Sudah pak ditekan (bekas suntikannya)," kata dokter. 

"Loh sudah to dok. Alhamdulillah," kataku. 

Ealah ngene tok. 

KISAH MBAK OEMI

Aku lain lagi ceritanya. 

Karena kemarin kontrol mata ke Undaan, gak bisa vaksin bareng-bareng warga RT Manukan Kulon Surabaya. 

Hari ini, Jumat 26/2/2021 bakda  subuhan tak pruput biar dapat nomor awal. Eh sdh banyak yang sudah antre. Sepuh-sepuh (tua-tua) lagi hahaha kayak aku. Ada ibu muda yang otak atik mesin pendaftaran (Puskesmas Manukan, canggih lho), tapi tariknya gak keluar. Dicoba lagi sama yang antre dibelakangnya, gak bisa juga. 

sukoto.jpgMbak Oemi (paling kanan) bersama para Cowasers, 25 September 2019. Ketua Cowas JP, Mas Sukoto, no 4 dari kanan, kaos merah. (FOTO: Cowas JP)

Ada yang menemui petugas. Lho kok petugasnya marah-marah. Sambil mukul-mukul mesin pendaftaran, petugas itu berkata keras: "Ini bukan mesin pendaftaran untuk covid. Hari ini gak ada vaksinasi. Adanya besok dan daftarnya manual!!"

Astaghfirullah.

Orang ini gak tahu apa lupa ya yang lagi antre ini kan orang tua semua. Masak cara jawabnya gak sopan blas. 

Dengan kecewa para lansia pulang dengan ngedumel opo tumon, wis tuwek gaptek pisan kok dimarahi karo bengok2. Petugas muda itu masih muda. Pasti pinter juga. Tapi akhlaknya itu loh. Koq begitu ya?? (*) 

Penulis: Mansyur Effendi (mantan karyawan pracetak) dan Theresia Oemiati (mantan Sekretaris Redaksi Jawa Pos dan kini masih aktif sebagai Sekretaris Redaksi Harian DI's Way.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda