FGD GIPI DIY - Dispar Kota Yogya

Usulkan Travel Corridor, Konsorsium Jogja dan Perkuat Story Telling

Ketua GIPI DIY Bobby Ardyanto Setyo Ajie memaparkan tantangan pariwisata saat Pandemi dalam FGD bersama Dinas Pariwisata Kota Yogya, Kamis (25/2). (Foto: Erwan W)

COWASJP.COM – Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY merekomendasikan beberapa hal agar pariwisata tetap jalan di masa pandemi dan masyarakat tetap sehat. Di antaranya travel corridor dan Jogja Consortium (Konsorsium Jogja) serta integrasi antar destinasi wisata dengan memperkuat story telling.

Usulan tersebut disampaikan Ketua GIPI DIY Bobby Ardyanto Setyo Aji dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Kamis (25/2). Hadir dalam FGD yang berlangsung di Hotel Novotel Suite Malioboro ini, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Purwadi, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogya Wahyu Hendratmoko dan 30 pengurus GIPI DIY.

Bobby menegaskan, penerapan travel corridor dan Konsorsium Jogja sebagai jawaban atau jalan keluar agar industri pariwisata tetap mampu bertahan dan bergerak di masa pandemi covid-19. Kedua hal tersebut dilandasi sikap yang mesti dipegang erat para pelaku pariwisata yaitu Sinergi dan Kolaborasi. Sinergi dan kolaborasi antarpelaku wisata, antara pelaku wisata dengan pemerintah (daerah) maupun pemerintah daerah satu dengan pemerintah daerah lainnya.

erwanyar.jpg  
"Penerapan travel corridor ini bisa dibentuk dengan kesepakatan atau kerja sama antarpemerintah daerah. Misalnya Pemerintah DIY dengan pemerintah provinsi lain di Jawa-Bali yang saat ini sama-sama menerapkan pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM)," tegas Bobby.

Bpbby menambahkan, dengan penerapan travel corridor tersebut, pelaku wisata bisa mendatangkan wisatawan dalam kondisi yang aman dan memenuhi standar penerapan protokol kesehatan yang menjadi syarat mutlak saat Pandemi.

Guna menerapkan travel corridor tersebut, lanjut dia, pelaku pariwisata di DIY akan membentuk konsorsium dengan menyiapkan paket-paket wisata yang menarik dan aman dikunjungi oleh wisatawan. Ditegaskannya, industri pariwisata di DIY siap untuk memberi subsidi dengan harga yang bersahabat.

"Temen-temen PHRI bisa memberikan harga kamar dan restoran yang baik, kawan dari Organda dengan transportasinya, temen dari PPJI dengan paket makanan. Begitu juga dengan HPI, Asita dan lainnya. Karena Jogja itu satu. Jogja itu kita, jadi saatnya nyawiji (bersatu). Siap teman-teman! " ucap Bobby.

"Siaaappppp!" pengurus GIPI yang berasal dari berbagai asosiasi pariwisata menyahut dengan teriakan keras.
 
Travel Corridor dan Konsorsium Jogja itu bisa berjalan baik jika industri pariwisata di daerah tujuan juga sudah menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Hal tersebut selama ini juga telah disiapkan oleh GIPI bersama Dinas Pariwisata dan pemerintah daerah. Sejumlah usaha jasa pariwisata dikondisikan sudah tersertifikasi untuk protokol CHSE.
 
Selama masa pandemi, lanjut dia, banyak wisatawan yang datang secara insidental dan pemerintah di daerah tujuan mengalami kesulitan untuk memantau wisatawan termasuk kondisi kesehatan mereka.
 
"Namun dengan menerapkan travel corridor, maka wisatawan akan datang dan mengikuti paket wisata yang ditawarkan. Kondisi wisatawan pun bisa dipantau dengan lebih baik," tandas pemilik Java Villas Boutique Hotel ini.
 
Bobby juga menggarisbawahi, kendati kondisi pariwisata di DIY mengalami penurunan signifikan sepanjang 2020, pelaku usaha jasa pariwisata di wilayah tersebut tidak cengeng dan mengeluh dengan kesulitan yang dihadapi. "Kondisi memang sulit bagi teman-teman pelaku wisata tetapi semuanya tetap semangat dan tidak mudah menyerah," tandasnya.

Bobby mengajak semua yang hadir dalam FGD untuk meningkatkan length of stay (lama tinggal) wisatawan yang datang ke Jogja. Jika selama ini hanya 1,8 hari, harus bisa ditingkatkan. Caranya dengan memperkuat dan mengintegrasikan satu destinasi dengan destinasi lain yang berkaitan.

Dia mencontohkan, dengan memperkuat story telling Grebeg, misalnya, wisatawan bisa ditahan selama 3 sampai 4 hari di Jogja. "Kemudian, jika antar Kampung Wisata di Kota Jogja yang jumlahnya 17 bisa bersinergi dan mengintegrasikan paket budaya yang dimilikinya, bukan hal sulit untuk menarik wisatawan menginap di homestay Kampung Wisata," tegasnya.
 
Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengingatkan agar pengembangan pariwisata di masa pandemi harus dilakukan secara bijaksana. Hal ini penting supaya industri pariwisata tidak bertentangan dengan upaya pengendalian kasus covid-19.
 
"Memang pengembangan industri pariwisata dengan pengendalian kasus ini seperti air dan minyak. Tidak bisa menyatu. Bisa disatukan tapi tidak campur. Harus dilakukan secara hati-hati dan bijak. Kita ingin pariwisata jalan, masyarakat sehat," ingatnya.

erwannyar1.jpgWakil Walikota Yogyakarta Heroe Purwadi. (Foto Erwan W)

Wawali yang juga Ketua Satgas Covid-19 Kota Yogya ini lantas menguraikan "perjalanan" kasus Covid di Yogyakarta. Mulai dari awal hingga perkembangan terakhir penerapan PPKM bulan Februari 2021. Ia menekankan bahwa libur panjang pada Agustus, Oktober, dan Desember 2020 memberikan dampak pada menggeliatnya sektor pariwisata di Yogyakarta, namun di sisi lain juga terjadi kenaikan kasus covid-19.
 
"Harus ada strategi tertentu agar pengembangan industri pariwisata tidak justru meningkatkan kasus. Kami tidak ingin kondisi pada Agustus, Oktober, dan Desember 2020 itu terulang. Jangan sampai terulang karena saat ini kasus covid-19 di Yogyakarta sudah mulai bergerak turun," ujarnya.
 
Kunci utama dalam upaya pemulihan ekonomi termasuk dari sektor pariwisata, lanjut Heroe, adalah penerapan protokol kesehatan secara ketat. "Tidak boleh ada celah atau lubang sedikit pun karena pasti akan menimbulkan dampak pada peningkatan kasus," tambah dia.
 
Jika diperlukan, Heroe mengusulkan agar seluruh pelaku di sektor industri pariwisata bisa melakukan deklarasi bersama bahwa seluruh pelaku wisata komitmen menjalankan protokol kesehatan secara ketat. "Ini juga untuk memberikan kepercayaan untuk wisatawan yang akan datang ke Yogyakarta," tegasnya.

Heroe juga menceritakan upaya Pemkot untuk membatasi pengunjung yang tidak taat protokol kesehatan masuk ke Kota Yogya. Salah satunya dengan menolak kendaraan umum, bus pariwisata maupun mobil pribadi dari luar kota yang tidak bisa menunjukkan surat tes swab antigen.

"Masih banyak bus pariwisata yang penumpangnya tidak memiliki surat keterangan tes antigen. Ini tidak bisa kita biarkan. Ke depan mungkin akan kita siapkan GeNose di terminal bus pariwisata agar setiap yang datang ke Jogja melakukan tes," tandas alumnus Fisipol UGM ini.

Heroe juga sempat menyinggung tren baru masyarakat dalam berwisata. Menurutnya, masyarakat ada kecenderungan "takut" untuk datang di tempat tertutup. Lebih senang tempat yang terbuka. Selain itu, wisatawan juga akan lebih menikmati satu tempat tapi secara mendalam.

"Sehari, satu atau dua tempat saja tapi mendalam. Mungkin ini yang disebut micro tourism. Maka mestinya saatnya destinasi wisata diperkuat kedalamannya. Harus ada narasi-narasinya agar wisatawan bisa lebih mendalami satu obyek," ungkap Heroe.

erwannyar-1.jpgLitbang GIPI DIY Dr Ani Wijayanti. (Foto: Erwan W)

Pemantik diskusi lain, Litbang GIPI DIY Ani Wijayanti juga menyampaikan tren wisata ke depan. Menurut doktor pariwisata lulusan UGM ini, solo travel, family travel dan green travel (wisata alam terbuka) akan menjadi tren. Ani juga menyebut peluang wellness tourism, staycation, food culture dan artisan product dalam wisata pasca Pandemi ini.

"Semakin banyak wisatawan yang bepergian untuk mencari pengalaman unik. Mereka tidak lagi datang di banyak tempat pada satu hari, melainkan datang di satu tempat untuk mendalami yang ada di tempat itu. Mengeksplorasi lebih dalam pada satu tempat," katanya. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda