Banjir Jakarta dan Perang Opini di Medsos

Banjir DKI Jakarta. Sejumlah wilayah di Jakarta terendam banjir akibat hujan deras sejak dini hari 19 Februari 2021 tadi. (FOTO: Antara/ Akbar Nugroho Gumay - pikiran-rakyat.com)

COWASJP.COM – Sepekan terakhir hujan deras melanda hampir semua wilayah di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Bahkan sejumlah kota besar di Pulau Jawa seperti Semarang juga dilanda banjir besar. Curah hujan yang tinggi dan manajemen pengelolaan air yang kurang baik memicu banjir ini. Namun, di balik musibah yang tidak pernah kita harapkan datangnya tersebut, ada keprihatinan saat membaca berbagai postingan (status) di media sosial (medsos). Yang ada bukan memberikan saran atau pilihan solusi, tetapi hanya caci maki. Sayangnya, dan ini sangat memprihatinkan lagi,  media arus utama seakan terseret arus media sosial.

Sebuah kota mengalami banjir besar tentu saja sebuah musibah. Musibah banjir bisa terjadi di negara mana saja. Juga disebabkan karena berbagai faktor yang muaranya ada dua: faktor manusia dan faktor alam. Faktor alam tidak bisa kita otak-atik tentu saja karena sepenuhnya memang sebuah fenomena alam, curah hujan yang tinggi atau juga sebagai dampak perubahan iklim. Di Pulau Jawa, musim hujan yang terjadi pada Januari dan Februari tahun 2021 ini memang cukup tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) pada pertengahan Februari 2021 sudah memprediksi bahwa akan terjadi potensi banjir yang besar karena hujan yang ekstrem khususnya di wilayah Jabodetabek. Sebagai warga yang tinggal di wilayah Jabodetabek, praktis sepanjang bulan Februari ini hujan terjadi hampir setiap hari. Bahkan dalam beberapa hari hujan turun dari tengah malam hingga pagi hari.

anies.jpgGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat meninjau korban banjir Jakarta, 25/2/2020. (FOTO: ANTARA/DEVI NINDY - jpnn.com)

Curah hujan yang tinggi terutama jika sebuah wilayah tidak memiliki tata kelola air yang baik tentu saja membawa risiko terjadinya banjir saat hujan deras melanda. Bahkan di Kota Surabaya yang pengelolaan kotanya dinilai sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia, juga tidak lepas dari ancaman banjir. Banjir juga terjadi di kota-kota besar lain di Pulau Jawa seperti Semarang, Bandung, Bekasi, Depok, Tangerang, dan tentu saja DKI Jakarta.

Opini di (Sosial) Media

hujan deras dan banjir akan terjadi berulang. Seperti halnya peristiwa-peristiwa lainnya, opini masyarakat terkait musibah banjir ini bisa ditangkap dalam lalu lintas komunikasi di media sosial mulai Facebook, Twitter, Instagram, Facebook, dan TikTok. Dan sama seperti musibah itu sendiri, opini publik yang terbelah juga selalu berulang. Alih-alih masyarakat dunia maya (netizen) menyampaikan rasa empati dan keprihatinan atas banjir awal 2021 ini, sebaliknya yang ramai adalah caci maki. Lebih spesifik mencaci pemimpin poilitik yang bukan pilihan (dukungan)-nya dan mencari celah pembenar jika yang memimpin daerah banjir adalah pemimpin politik pilihan mereka.

Media sosial memang wilayah komunikasi yang bebas dan tanpa batas meski dilindungi dalam koridor UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), tetap saja opini tanpa filter akan selalu membanjiri ranah media sosial. Filternya adalah netizen sendiri dan tentu saja dengan tingkat pendidikan masyarakat pengguna internet yang beragam, akan susah membedakan mana informasi yang positif, konstruktif, dan produktif dan mana yang negatif, destruktif, dan hoax. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat pun masyarakatnya masih banyak yang termakan hoax. Arus informasi yang kontraproduktif di media sosial ini seharusnya bisa difilter di media-media arus utama baik media cetak, online, maupun siaran berita di televisi. Namun yang terjadi media semakin asyik memberitakan yang menjadi viral di media sosial, tidak peduli itu konstruktif atau destruktif, bahkan saat terjadi musibah banjir saat ini.

Dari berbagai platform media sosial seperti penulis sebutkan di atas, kita analisis singkat bagaimana  opini yang terbentuk terkait fenomena banjir di Jabodetabek saat ini. Seperti halnya beberapa isu besar dan strategis lain seperti penanganan pandemik covid-19, opini netizen terkait banjir Jabodetabek secara garis besar terpecah dalam dua kelompok besar. Yaitu pertama, opini dari kelompok pendukung mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan biasanya paralel bahwa mereka juga pendukung Presiden Jokowi. Kedua, opini pendukung Gubernur DKI Anies Baswedan. Tentu saja polarisasi opini banjir di media sosial ini tidak jauh dari polarisasi yang terjadi saat Pilkada DKI 2017, Pilpres tahun 2019, dan Pilpres tahun 2024. Meskipun banjir yang terjadi sekarang terjadi di hampir seluruh wilayah Jabodetabek (tiga provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten) namun yang menjadi sasaran tembak utama (terbanyak) dalam lalu lintas opini di sosial media terkait banjir ini adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

medsos.jpg

Mengapa demikian? Tentu saja penulis tidak dalam posisi untuk bisa memberikan prediksi yang paling akurat mengapa demikian. Namun sebagai praktisi komunikasi, arus komunikasi di media sosial baik itu organik maupun non organik (digerakkan oleh buzzer), tak lepas dari kelanjutan perang opini dalam Pilkada DKI 2017, Pilpres 2019, Pilkada DKI berikutnya (2022/ 2024/?), dan Pilpres 2024. JIka arus lalu lintas opini terkait banjir tak lepas dari faktor agenda-agenda politik tersebut, masyarakat akan sulit mendapatkan informasi yang objektif dan konstruktif di media sosial terkait banjir di Jabodetabek. Masyarakat hanya akan membaca opini yang sudah terbelah menjadi dua kelompok besar.

Salah satu tagar yang paling trending di Twitter terkait banjir saat ini adalah #AniesNgapainAja yang hingga Senin (22/2) sore kemarin dicuit oleh 5.421 tweets. Kalau kita membaca tagar tersebut, sudah jelas bahwa yang membuat adalah dari kubu opini anti Anies Baswedan. Belum tampak tagar yang membela Anies Baswedan dan menjadi trending di Twitter. Netizen dari kubu opini pro Anies menyampaikan cuitannya juga pada tagar yang sama, selain juga terjadi perang opini di tagar #BanjirJakarta. Meskipun seringkali tidak substantif, opini yang terbentuk di Twitter sangat digemari oleh publik. Kali ini tidak saja oleh kalangan generasi muda, tetapi generasi babby boomers juga ikut meramaikan diskursus di Twitter.

Polarisasi  opini juga terjadi di platform sosial media yang lain seperti Facebook, Instagram, dan mungkin TikTok. Tetapi tetap yang Twitter selalu menjadi keranjang bagi pembentukan opini-opini untuk mendukung atau menyerang opini-opini terkait isu-isu politik.

Sayangnya, pada peristiwa banjir Jabodetabek ini, media-media konvensional arus utama juga cenderung mengikuti tren di media sosial. Berita-berita yang membentuk polarisasi opini atau menggiring pada suatu polarisasi opini lebih dominan dibandingkan mengupas tuntas akar persoalan mengapa banjir masih terjadi di wilayah Jabodetabek. Kita lebih mudah menemukan judul-judul berita di media (terutama online) yang menyerang Gubernur DKI Anies Baswedan daripada serangan kepada Gubernur Banten atau Jawa Barat.

Dalam beberapa kesempatan Gubernur DKI Anies Baswedan menyampaikan bahwa sebagai pejabat publik munculnya suatu kritik dari masyarakat adalah hal yang wajar dan biasa dalam berdemokrasi. Tidak perlu overreaktif. Pendapat ini sangat baik namun kita tentu tetap mengharapkan lahirnya sebuah masyarakat informasi yang sehat di Indonesia. Baik itu di media arus utama maupun media sosial, ruh jurnalisme seharusnya tetap ada, bahwa informasi itu harus tunduk kepada objektivitas dan kebenaran. Sehingga media dan media sosial tidak sekadar menjadi tempat orang menumpah sumpah serapah.(*)

 

Penulis: TOFAN MAHDI adalah Redaktur Tamu Harian Disway dan seorang praktisi komunikasi.

Pewarta : Tofan Mahdi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda