COWASJP.COM – Langkah menarik dan strategis dalam mengembangkan kuliner Nusantara dilakukan oleh Indonesian Chef Association (ICA) Badan Pengurus Daerah (BPD) DIY. Asosiasi para chef ini berharap makanan Nusantara bisa mendunia. Harapan tersebut disesuaikan dengan potensi yang begitu besar dan kuat yang dimiliki oleh kuliner di negeri ini.

Apa yang dilakukan oleh ICA untuk membawa makanan Nusantara menuju pasar dunia? Mereka melakukan “aksi nyata“ dengan menggelar “Plating Competition, Cooking Demo Culinary Talk Show”.

Kegiatan tersebut dipakai sebagai ajang mengajak publik untuk semakin percaya diri terjun dalam bisnis kuliner. Meningkatkan motivasi dan semangat berkarya para pelaku bisnis kuliner maupun masyarakat pada umumnya. “Kegiatan ini juga untuk memahami positioning makanan Nusantara di dunia internasional,“ jelas Chef Dodik Prakoso, MM, CHE, humas ICA, Rabu (24/2).

Dodik menjelaskan, kegiatan yang digelar sebagai acara HUT ke-14 ICA ini sudah berlangsung 15 Februari 2021. Tema besar kegiatan yang berlangsung di Prima Plaza Hotel tersebut adalah “Makanan Nusantara Menuju Pasar Internasional.“ Ulang tahun ICA sebenarnya jatuh pada tanggal 25 Januari 2021. Acara dibuka oleh Chef Anton Yanwar selaku Ketua ICA DIY.

Ketua ICA DIY Chef Anton Yanwar

Rangkaian acara dimulai dari pagi. Diawali dengan penyelenggaraan Plating Competition, dimana kompetisi ini terbuka untuk umum dan diikuti oleh 40 tim yang berasal dari DIY dan Jawa Tengah. Kompetisi ini bersifat terbuka untuk seluruh kalangan baik dari kalangan chef profesional yang berasal dari hotel atau restoran maupun dari kalangan akademisi dan kalangan masyarakat umum.

“Kami berharap ini juga menambah wawasan tentang kuliner Nusantara khususnya pada generasi muda. Sekaligus untuk menjalin silaturahmi dan membuka jaringan antarsekolah (akademi) kuliner, pelaku bisnis kuliner, antarkomunitas pemerhati kuliner maupun masyarakat secara umum,“ tambah Chef Dodik.

Pada plating competition yang bertajuk “Menggali Kuliner Nusantara”, seluruh peserta lomba diminta untuk menata makanan utama dan makanan penutup. Makanan ini sudah diolah sebelumnya dari properti masing - masing di atas piring yang sudah disiapkan oleh panitia lomba.

Challenge atau tantangan pada kompetisi ini terletak pada bentuk dan warna piring yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi “black box challenge.” Tidak ada peserta yang tahu piring apa yang akan mereka dapatkan untuk menata hidangan makanan yang dilombakan.