Peradaban tubuh

Revolusi Madu

Panen madu. (FOTO: istimewa)

Memelihara kecintaan terhadap kemurnian madu, memberi nafas peradaban di sepanjang zaman

***

COWASJP.COM#sastra_psk

Keluar dari kasak-kusuk vaksin. Dalam kondisi pandemi covid begitu pentingnya menjaga tubuh tetap sehat, aktif dan dinamis dalam kerja untuk keluarga dan sebagainya.

Bicara masalah madu sejak zaman nabi, madu di khalayak ramai sudah tahu baik untuk kesehatan atau obat, penangkal segala penyakit dan sifatnya sangat alami. Selama jenis madu apapun tidak mengalami campur tangan manusia nakal, dari proses ternak, pengadaan pangan lebah sampai pembuatannya tanpa komposisi campuran bahan lain, madu sudah punya nilai istimewa untuk tubuh manusia. Madu tidak ada kata kadaluwarsa atau fermentasi. Tetap baik  untuk kesehatan, tidak bisa dibantahkan.

madu.jpgMengemas madu sebagai industri rumah. (FOTO: istimewa)

Menengok zaman dahulu madu jadi andalan dikosumsi untuk kesehatan dikalangan keluarga keraton, priyayi atau bangsawan. Mengingat madu itu manis, lembut dan lezat rasanya. Selain itu madu sumber minuman atau makan dibutuhkan setiap manusia untuk bertahan hidup. Di dalamnya mengandung antioksidan, vitamin, mineral, bahkan air. Selain itu madu juga mengadung enzim tertentu, membantu tubuh mencerna makanan dan sistem imun bekerja dengan baik. Secara keseluruhan, madu menyehatkan pencernaan, tulang, hingga menyeimbang berat badan. Ringkasnya menurut penelitihan ilmiah, bahwa madu lebah berperan penting dalam menghentikan pertumbuhan mikroba. Enzim di dalamnya dapat merangsang kesehatan tubuh manusia dan fungsinya meningkatkan zat antibodi melawan penyakit yang menyerang. Hal tersebut pernah disampaikan dalam muktamar ke dua bagi kedokteran Islam, dilaksanakan di Kuwait (1982) dihadiri oleh 24 negara, baik dari Timur tengah maupun Eropa. 

Maka dari itu madu seiring dengan perkembangan peradaban zaman, tidak bisa dijadikan monopoli konsumsi di kalangan masyarakat kelas atas saja. Sudah sepantasnya madu juga jadi kosumsi di berbagai kalangan masyarakat. Memanfaatkan madu murni memberi andel besar pada tubuh manusia. Mengingat tubuh biologis yang terbangun dari kesatuan sistem saling berinteraksi menjalankan aktivitas kehidupan.

Memproduksi madu multiflora, menjaga kualitas dan kemurnian yang alami. Dengan sendiri memperlakukan madu sebagai Rahmat Sang Pencipta alam semesta dan seisinya untuk setiap manusia. Harus disyukuri dan dipelihara. Dengan demikian sudah seharusnya kita hidup tidak lepas dari madu murni. Sebuah kebutuhan diawali dari membuat kelompok kecil, yang terdiri peternak lebah, produsen, supplier, agen (distributor), pengecer dan konsumen. Bersama-bersama menjaga keberadaan kemurnian madu untuk tubuh manusia. Menjalin emosional solidaritas sosial untuk menjaga kemurnian madu. Serta membangun perekonomian kreatif dan mandiri dan saling memberi keuntungan satu sama lainnya di saat masa pandemi covid sedang berlangsung, tak ada yang tahu sampai kapan redanya. Dengan keberadaan tersebut kita seyogyanya: MENYAZAKATI TUBUH 

1/ Mengkonsumsi madu memanjakan tubuh.

2/ Mengkonsumsi madu menyehatkan tubuh.

3/ Mengkonsumsi madu memelihara tubuh.

4/ Mengkonsumsi madu menjaga tubuh.

Bicara produk madu murni, mana yang lebih tepat diproduksi pabrik (industri besar) atau home industri. Alangkah baiknya terlebih dulu kita mengenal sifat madu murni tidak lain adalah madu multiflora, berasal dari binatang lebah (tawon) memakan jenis-jenis buah dan bunga. Dari perut binatang itu mengeluarkan jenis minuman yang disebut madu. Dari asalnya madu terjaga kemurniannya, tanpa melalu proses komposisi bahan lain  sudah banyak khasiatnya dan lebih baik. Selain itu, madu yang terjaga kemurniannya tetap higinis dan halal. Mengingat madu murni sudah higinis dan jenis minuman halal. Madu murni dikemas rapi dan tertutup rapat yang pada umumnya seperti dilakukan pabrik besar, malah menimbulkan bahaya, terutama dalam perjalanan pengiriman jarak jauh, lebih-lebih pengiriman dengan menggunakan pesawat. Kemasan yang rapi tanpa lubang bisa menimbulkan letupan, tutupnya mudah retak dan merembes. Seperti yang pernah dituturkan Wati kepada Ainor Rachman pedagang (pemain) madu pada penulis lewat WA.

BACA JUGA: Eksplorasi Tubuh dari Sistem Biologis ke Metabolisme Politik

Madu murni multiflora produksi home industri lebih menarik dan tepat. Dengan sifat madu tidak mudah dikemas tersebut butuh perhatian khusus sampai ke tangan konsumen. Maka dari itu madu mempertahankan kemurniannya tidak bisa diproduksi berskala besar seperti yang dilakukan pabrik besar tersebut.Tentunya kemurniannya perlu dipertanyakan. Mengingat madu bisa dikemas yang rapi dan tertutup rapat tentunya sudah dikomposisi dengan bahan lain.

Home industri madu murni multiflora dengan asas paguyuban dan gotong royong. Pada zaman dahulu masyarakat desa memanfaatkan madu. Dari salah satu seorang warga atau lebih, secara kebetulan rumahnya ditempati sarang lebah liar. Dengan sendirinya tercium oleh warga lain, bahwa ada tetangga rumahnya ditempati sarang lebah liar. Bawaan sifat masyarakat desa suka guyub dan suka gotong royong, maka pemilik sarang lebah liar tersebut dengan suka rela bersama masyarakat setempat (tetangga dekat) madu murni itu dimanfaatkan bersama secara terbuka. Mereka mengunakan madu itu sekedarnya dan kebetulan membutuhkan. Biasanya dibutuhkan ketika tertimpa naas luka bakar, keluarganya ada yang sakit diobati dengan madu secara alami. Dari realitas yang sangat sederhana, maka membudidayakan lebah (berternak) menjadi home industri madu multiflora sama halnya memberikan nafas peradaban di sepanjang zaman.  Membangun peradaban tubuh sehat mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (melaksanakan berbagai jenis pembangunan fisik) maupun non-fisik (nilai-nilai tatanan, seni budaya maupun iptek).

Madu murni multiflora tidak lain adalah Rahmat dari Sang Pencipta kehidupan alam semesta dan seisinya. Pada lebah (tawon) yang mengeluarkan madu adalah pemberian Sang Pemilik kehidupan, sudah jadi kewajiban setiap hamba-Nya menjaga atau memelihara kemurniannya sebagai rasa bersyukur. Dengan diproduksi lewat home industri, disertai membangun komunal (kelompok) kecil. Kelompok terdiri dari peternak lebah, produsen, supplier, agen, pengecer sampai konsumen. Bersama-sama menumbuhkan kesadaran terhadap madu asli begitu penting untuk tubuh manusia, kebutuhan tambahan menjadi kebutuhan vital dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA: Sastra PSK Melawan Kebisingan dengan Imaji

Dengan kelompok kecil home industri madu asli mutiflora, memakai manejemen desa yaitu paguyuban dan gotong royong tidak lepas memperkuat tali silaturahmi atau solidaritas sosial. Tentunya bertolak belakang dengan madu prodak industri besar berskala nasional. Dalam home industri madu murni multiflora lebih mengutamakan mengandalkan dua hal, yaitu kualitas madu menjaga kemuniannya dan krebilitas pelaku pemain (pedagang) madu. Sebagai jaminan dengan dua hal tersebut, madu diupayakan terjaga kemurnian dari tangan-tangan kotor atau curang. Dalam perspektif home industri madu murni tentunya tidak meninggalkam menjaga integritas paguyuban dan gotong rorong, membangun kesadaran menyimpan madu murni di setiap keluarga untuk kebutuhan sendiri dan tetangga yang membutuhkan (kebetulan tidak menyimpan). Menyimpan madu tak ubahnya seperti menyimpan minyak kayu putih, minyak tawon, obat luka (yodium) dsb untuk keperluan mendadak.

Juga perlu diketahui lagi, madu murni tidak bisa dikuasi pemerintah maupun pemilik modal besar. Madu asli atau murni mustahil diproduksi oleh industri besar terjaga kemurnian atau keasliannya. Begitu juga dengan penjualan madu murni bisa dilakukan seperti orang-orang kampung menjual produksi jajan atau kue buat sendiri di hari-hari besar keagamaan, seperti idul fitri, natal dan sebagainya. Dengan cara penjualan tersebut, tentunya juga sebagai jaminan dua hal tersebut - kemurnian madu serta kredibilitas pedagang mudah terlihat di khalayak ramai. Dengan sendirinya terjadi jalinan silaturahmi yang mengikat solidaritas sosial dari eksistensi madu, tidak menutup kemungkinan terjadi membangun perekonomian kreatif dan mandiri dengan asas paguyuban dan gotong royong. Juga dengan mudah membuka ruang dialog tentang pentingnya madu dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentunya dengan ruang dialog tak ada dusta di antara mereka. Kalau terjadi kenakalan atau kecurangan di antara mereka dengan sendirinya terseleksi secara alami dari komunitas tersebut.

Mengembalikan madu murni memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Terutama menjaga stamina dan meredakan sakit dengan rutin mengkonsumsi madu lebah. Lebih jauh madu dikutip dalam buku berjudul "Sumbangsih Keilmuan Islam Pada Dunia" oleh Prof. Dr. Ahmad Fuad Basya, di masa kebangkitan Islam, madu merupakan bahan penting yang turut memperkaya obat-obatan yang digunakan para dokter muslim untuk mengobati berbagai macam penyakit. Dari pendapat tersebut tentunya begitu vitalnya madu murni dikonsumsi secara rutin (tidak berlebihan) untuk tubuh.

BACA JUGA: Ruang Tunggu Korek Api

Home industri madu murni multiflora, jadi kelompok kecil yang terdiri dari peternak lebah, produsen, supplier, agen, pengecer dan konsumen, bisa menjadi kebutuhan perlu digalakkan pada setiap kabupaten maupun kota di seluruh tanah air. Negeri katulistiwa yang hijau dan kaya dengan sumber daya alam dan terkenal dengan rempah-rempahnya. Tidak menutup kemungkinan terjadi revolusi madu memperkuat pertahanan kesehatan Nasional. Banyak yang mengetahui dan paham, bahwa madu murni sejak zaman dulu beriringan menyertai dunia obat-obatan tradisional (jamu) atau herbal warisan nenek moyang sebagai sumbangsih pada dunia kesehatan dan kedokteran.

Mengingatkan kembali lebah mengeluarkan madu di sarangnya, itu adalah rahmat dari Sang Pencipta alam semesta. Diperuntukan siapa saja tanpa melihat kelompok, golongan, kulit, agama, bangsa, etnis, suku dan sebagainya. Sebagai rasa bersyukur dengan Rahmat-Nya, home industri madu asli/murni sebuah kelompok kecil ada pada setiap kabupaten atau kota, menjadi garda depan dalam dunia kesehatan melahirkan bangsa yang bisa bertahan hidup dalam setiap kahanan (situasi) pandemi, penyebaran penyakit (wabah) begitu cepat sampai antar negara, yang sering terjadi pada setiap zaman. (*)

*) Saiful Hadjar, penulis adalah arek kampung Kaliasin, Surabaya. Aktif di dunia teater, seni rupa dan sastra. Juga aktif melakukan gerakan kebudayaan di tanah kelahirannya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda