Jejak Covid-19 di Otot dan Paru-Paru

Ketika Gus Agus Mustofa masih di ICU RS Unair Surabaya. (DESAIN: Padma Press)

COWASJP.COM – Dampak Covid-19 ternyata panjang. Bukan hanya saat dinyatakan positif. Dan sedang terinfeksi. Melainkan berminggu-minggu setelah dinyatakan negatif pun, dampaknya masih membekas. 

“Pak Agus sebaiknya melakukan chest teraphy,” saran sahabat saya, Dr dr Ferdiansyah, Sp.OT(K). Ia adalah Ketua Program Studi Orthopaedi & Traumatologi, FK Unair.

BACA JUGA: Usai Badai Sitokin Merasa Lapar

Saya berbincang-bincang dengannya dua minggu lalu. Seusai memberikan kajian agama dan sains kepada para mahasiswa PPDS - Program Pendidikan Dokter Spesialis. Yakni, para dokter yang mengambil spesialis Orthopaedi, di FK Unair. Itu adalah kali ke sekian, saya diundang olehnya untuk memberikan kajian. Kepada setiap generasi mahasiswa yang berbeda.

Chest teraphy adalah sejenis terapi untuk melatih otot-otot dada. Setelah mengalami trauma sakit yang berat. Di antaranya, Covid-19. Di mana virus menginfeksi paru-paru. Melemahkan fungsinya. Dan, kemudian melemahkan otot pernapasan di sekitar dada. Yang menjadikan si penderita tidak bisa bernapas dengan normal.

Pak Ferdi menyarankan chest teraphy itu dikarenakan melihat saya belum pulih benar dari sakit setelah opname 14 hari. Karena serangan Covid-19. Terlihat dari napas saya. Ketika saya memberikan ceramah. Agak memburu dan sesekali tersengal. Khususnya, ketika memberi penjelasan agak panjang dan tidak terputus.

Iapun lantas mengirimi saya video tutorial untuk menjalankan terapi itu secara mandiri. Prinsipnya, di fase pemulihan, seorang penyintas Covid-19 harus hidup aktif. Tidak boleh enggan atau takut bergerak. Meskipun lemah. Atau, bahkan sakit di persendian dan otot-ototnya.

Saya mengalami hal itu. Di hari pertama pulang dari rumah sakit, saya tidak mampu berjalan normal. Tertatih-tatih. Otot kaki dan persendian terasa lemas. Tidak bertenaga. Dibarengi ketidak-seimbangan tubuh. Sehingga, jalannya terhuyung-huyung.

Saya lihat otot kaki, mulai dari betis sampai paha menggelambir. Tidak kencang seperti sebelumnya. Saya pegang dan saya urut-urut, tidak terasa ototnya. Lembek. 

Demikian pula otot lengan. Mulai dari pundak sampai ke pergelangan. Di bagian atas, otot biceps dan triceps saya yang biasanya agak menggelembung karena rajin angkat dumbbell, mengendur. Terasa berat untuk diangkat, meskipun tanpa beban.

Sejak di rumah sakit, otot-otot dada, terutama di bagian iga juga terasa nyeri. Dan sempat menjadi perhatian khusus dr Alfian, spesialis paru yang intensif memberikan terapi kepada saya. “Saya kasih obat pain killer ya, Pak Kyai,” katanya, saat itu.

Sakit di otot-otot iga itu, bahkan masih terus terasa sampai saya sudah diperbolehkan pulang. Isolasi mandiri di rumah. Terasa nyeri ketika saya mencoba menarik napas panjang, dengan mengembangkan diafragma. 

Itupun tidak berhasil memasukkan oksigen cukup banyak ke paru-paru. Karena, paru-paru saya seperti sulit untuk dikembangkan. Seperti balon udara yang karetnya terlalu tebal. Sehingga butuh tenaga ekstra untuk menggelembungkannya.

Itulah sebabnya, saya memberikan perhatian khusus kepada saran Dr dr Ferdiansyah Sp.OT(K). Karena, memang terjadi penurunan kualitas paru-paru dan otot-otot saya. Yang itu tidak bisa diatasi dengan obat-obatan. Melainkan, mesti dengan latihan fisik. Mengembangkan kembali otot-otot gerak. Dan otot-otot pernapasan.

Ferdiansyah.jpgDr. Ferdiansyah, dr., SpOT(K) yang menyarankan Gus Agus Mustofa untuk melakukan chest teraphy. (FOTO: orthopaedi.fk.unair.ac.id)

Maka saya membuat program latihan fisik itu. Yang harus dilakukan setiap hari. Agar efeknya langsung terasa. Menjadi kebiasaan bagi tubuh saya.

Untuk melatih otot gerak, saya memilih jalan pagi keliling masjid nasional Al Akbar. Setiap pagi. Saat matahari sudah terang bersinar. Minimal satu jam. Dengan cara itu, saya bisa melakukan beberapa latihan otot gerak sekaligus. 

Yakni, melatih kekuatan semua otot-otot kaki. Mulai dari pergelangan, betis, lutut, paha, sampai ke pinggang. Sekaligus, melatih otot pernapasan. Dengan cara menghirup dan menahan napas sambil berjalan.

Awalnya, saya hanya bisa melakukannya satu putaran. Satu kilometer lebih sedikit. Otot-otot sudah terasa capai. Dan napas ngos-ngosan. Saya sempat heran. Sedemikian lemah otot-otot gerak dan pernapasan saya.

Usai jalan, saya mencari tempat lapang untuk melakukan stretching alias peregangan. Semua otot mulai dari kaki, pinggang, punggung, sampai pundak dan leher. Peregangan itu bermanfaat untuk mengembalikan kelenturan otot. Bahkan, setelah dipakai jalan berkeliling, yang membuatnya terasa kaku.

Hari-hari berikutnya, saya terus menaikkan porsi latihan. Dua kali keliling. Tiga kali keliling. Sekarang, minimal sudah tiga kali keliling. Sekitar 3,5 kilometer. Setiap pagi. Sambil sesekali BERLARI-LARI kecil. Sampai napas terasa ngos-ngosan. Dilatih untuk bisa menghirup oksigen lebih banyak. Kemudian, diakhiri dengan stretching.

lemas1.jpgDESAIN: YouTube - Agus Mustofa.

Khusus latihan pernapasan dan otot-otot tangan, di rumah saya menambah lagi porsinya. Dengan menyanyi dan bermain piano. Sekitar satu jam. Dengan bernyanyi, saya berlatih memainkan otot diafragma. Secara berirama dan terkendali. Sedangkan dengan piano, saya melatih kekuatan dan kelenturan otot-otot halus di sekitar jari, pergelangan, dan lengan bagian bawah. Yang juga terasa kaku-kaku.

Alhamdulillah. Terapi masih terus berjalan. Kondisi fisik saya semakin membaik. Meskipun, masih ada satu keluhan yang sampai sekarang terasa mengganggu aktivitas. Yakni, nyeri otot di lengan kanan bagian atas.

Sempat saya beri pain killer – obat penghilang rasa sakit – selama lima hari berturut-turut. Tapi, tidak mempan. Terasa sakit kembali, setiap pengaruh obatnya hilang. Rupanya, memang harus diterapi melalui latihan. Bukan hanya latihan fisik. Melainkan, juga latihan kesabaran …

“Sesungguhnya, Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” [QS. Al Baqarah: 153]

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 19 Februari 2021]

Penulis adalah Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda