Guyonan Lawas: NU Cabang Nasrani (1)

Bertarung di Arena Bebas

Syeikh Nawawi Al Bantani adalah guru KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan. (FOTO: Facebook)

COWASJP.COM – NU Cabang Nasrani. Ini guyonan lama. Sejak Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) masih menjadi ketua umum PBNU. Saat ini, goyonan itu ramai lagi dibicarakan gara-gara Ketua Umum KH Said Aqiel Siradj kembali melontarkan guyonan tersebut saat menerima kunjungan Kapolri yang baru, Jenderal Listyo Sigit Prabowo di kantor PB NU beberapa hari lalu.

Saat pertemua itu, Sigit menceritakan kedekatan dirinya dengan kiai-kiai NU. Dimulai sejak dia menjabat Kapolres di Pati, Jawa Tengah dan kemudian berlanjut ketika menjadi Kapolda di Banten. Baik Pati maupun Banten adalah dua daerah yang memiliki akar pesantren kuat. Di dua daerah itu banyak ulama pesantren yang alim alamah.

Said-Aqil-Siradj-2.jpgKapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo (kanan) bersama Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj (tengah). (FOTO: bisnis.com)

Nah, karena kedekatannya itu, Sigit “dinobatkan” sebagai warga NU cabang Nasrani. “Saya tidak tahu, apakah kartu anggota NU saya masih berlaku apa tidak?” katanya berseloroh. Pertanyaan yang bernada bercanda itu, gayung bersambut dengan guyonan kiai Said yang menegaskan bahwa keanggotaan Sigit sebagai nahdliyin cabang Nasrani masih berlaku. Belum kadaluwarsa!

Untuk menegaskan kedekatannya dengan kiai-kiai NU, Sigit lalu menceritakan gagasannya untuk memerintahkan anggota Polri untuk belajar kitab kuning, juga merupakan buah dari kedekatan dengan NU. Yakni, ketika dia tugas di Banten. 

Kiai-kiai di Banten, katanya, memberikan masukan, untuk menghalau munculnya pemikiran dan gerakan radikal, salah satunya dengan mempelajari kitab kuning karya ulama asli Banten, Syeikh Nawawi Al Bantani. 

Syeikh Nawawi adalah salah satu ulama asal Jawa yang pernah menjadi Imam Masjidil Haram. Beliau lahir 1813, dan meninggal pada 1897. Dua pendiri ormas Islam, KH Hasyim Asy’ari (NU) dan KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) adalah murid beliau ketika keduanya belajar di Makkah. Kitab karangan Syeikh Nawawi yang popular di Indonesia sampai saat ini di antaranya Riyadh al-Sholihin. Beliau adalah leluhur Wapres KH Ma’ruf Amin.

Saya paham sepaham-pahamnya. Soal NU Cabang Nasrani itu, jelas guyon. Jika ada yang mengganggap serius dan sampai dengan wajah tegang mempersoalkannya, saya rasa hanya “kurang Ngopi saja”. Beda sudut pandang. Beda wilayah permainan. 

Maka, saya pun tidak akan membahas persoalan itu secara serius. Jika nyatanya saya tergelitik untuk menulis, itu karena saya kebetulan melihat tayangan di youtube. Di tayangan itu, seorang ustadz mengcounter beberapa orang yang sempat mempersoalkan “guyonan” Kiai said itu. 

“Kalau itu cabang, mana SK-nya? Kalau cabang resmi, khan harus berdasarkan SK,” kata ustadz itu. Lalu dia menguraikan bahwa NU itu adalah organisasinya para ulama dan pengikutnya. “Lha pengikut ulama itu macam-macam,” tandasnya. Si Ustadz lalu mengatakan bahwa semua itu, tercantum dalam Qanun Asasi atau aturan dasar Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Penasaran! Saya pun cari Qonun Asasi itu. Dan ternyata, yang dirujuk si ustadz tadi adalah pidato Rais Akbar Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari. Pidato ini disampaikan saat pendirian Jam’iyah NU di Surabaya pada 16 Rajab 1344 H.

Dalam pidato itu, setelah menguraikan bahwa para kiai itu adalah sekelompok umat Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah bergeser dari kebenaran, Mbah Hasyim menyerukan; 

“Marilah Anda semua dan segenap pengikut Anda dari golongan dari para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondong masuk Jam’iyyah yang diberi nama, “Jam’iyyah Nahdlatul Ulama” ini. Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa raga”.

 Kutipan ini sudah lama dan sering “diviralkan”. Saya pun berkali-kali membacanya. Namun, kalimat, “dan segenap pengikut Anda” lepas dari perhatian saya. Saya baru ngeh (memperhatikan dan mengerti) setelah melihat youtube itu.  

Setelah saya angan-angan sejenak, saya baru ngeh kalau kalimat itu ternyata mengandung perspektif yang sangat luas. Salah satunya, NU “dimungkinkan” memiliki cabang di luar Islam. NU Cabang Nasrani dan NU Cabang Kristen (yang menjabat julukan ini salah satunya Luhut Binsar Panjaitan), misalnya. Meski, masih dalam ranah guyon. Tidak sampai di-SK.

***

Berdakwah adalah mempromosikan. Mengenalkan. Mengajak orang yang belum ikut agar bersedia ikut. Mengajak orang yang belum satu pemikiran, menjadi satu pemikiran.

Kegiatan itu, tentu mengharuskan seorang da’i (orang yang berdakwah) memiliki wilayah pergaulan luas. Tidak cukup sebatas di lingkungan masjid atau lingkungan orang-orang sholeh saja. Orang fasik (orang Islam yang masih berbuat maksiat) pun harus dipergauli. Bahkan, orang non muslim pun idealnya juga dipergauli.

Bagaimana bisa berdakwah, menyampaikan kebenaran Islam bila tidak pernah bergaul? 

Perusahaan yang menggelontorkan uang miliaran untuk belanja iklan, pada umumnya punya dua target. Target pertama adalah memelihara loyalitas para kunsumen setia. Perusahaan ingin, agar para pelanggan setia itu, tidak lari ke lain hati.

Beriklan dengan target orang yang sudah setia menggunakan produk, sekilas terkesan janggal. Namun, kalau dilihat dari perspektif menjaga atau memelihara loyalitas, maka miliaran pun uang dikeluarkan untuk iklan bisa dipahami. Karena kalau perusahaan itu tidak menjaga ritme itu, maka bisa terjadi jeda (kekosongan). Nah, kekosongan atau jeda itu, berpotensi untuk diisi kompetitor. Manawarkan produk yang kurang lebih sejenis, tapi beda pembuat.

Saya ingat betul, salah satu strategi yang ditempuh Jawa Pos untuk merebut pasar koran lain, adalah mengisi kekosongan itu. Langkah konkretnya, Jawa Pos tetap hadir (terbit) ketika tanggal merah. Logikanya sederhana. Ketika tanggal merah itu, sebagian orang punya waktu longgar. Nah, waktu longgar itu, salah satu hiburannya adalah membaca koran.

Di saat orang butuh huburan (baca: bacaan), ternyata koran langganannya tidak terbit. Maka, terbuka peluang untuk Jawa Pos memperkenalkan diri. Dari kenalan awal itu, bisa terjadi fall in love. Jatuh cinta di pandangan pertama. Dan selanjutnya, terserah Anda. Bisa menjadi pelanggan setia. 

Ini namanya strategi menyalip di tikungan. Dan Jawa Pos, sukses dengan strategi itu. Para pelanggan konservatif yang awalnya loyal dengan koran lain, di antaranya Kompas, bisa direbut hatinya di tanggal merah “penuh berkah” itu. Jawa Pos pun tumbuh menjadi koran besar. Koran Nasional yang terbit dari Surabaya. 

Sepertinya, hal ini pulalah yang menjadi spirit Jawa Pos membuat koran lebaran. Koran yang terbit selama liburan hari raya Idul Fitri. Dengan kebijakan ini, Jawa Pos praktis terbit sepanjang tahun. Non stop. 

Terkait dengan terbit di hari raya Idul Fitri ini, saya termasuk yang tidak sependapat. Menurut saya itu sudah “terlalu” berorientasi profit. Cara berpikir dan bersikap yang tidak berimbang. Aspek sosial kemanusiaan dinafikan. Tapi dari perspektif menyalip dalam tikungan itu, langkah itu bisa dimengerti. Bisa dibenarkan secara logika.

 Target kedua dari menggelontorkan iklan adalah memperkenalkan kepada masyarakat luas. Kepada khalayak umum yang menjadi kosumen. Yang belum mengerti menjadi mengerti. Khalayak yang belum kenal, menjadi kenal. Ini artinya, sasaran yang dituju adalah wilayah yang antah berantah. Arena bebas yang belum terjamah.

Dari “pertarungan” di arena bebas itu, diharapkan perusahaan mendapatkan pelanggan baru. Dan itu adalah “berkah” untuk perusahaan. Perusahaan pemasukannya semakin banyak. Semakin sehat. Brandingnya di masyarakat juga semakin kuat.

Menurut saya, plus minus yang harus dilakukan para pendakwah (da’i) ya seperti itu. Satu sisi harus tetap merawat umat Islam yang sudah beriman melalui mimbar-mimbar masjid. Namun, bersamaan dengan itu, tidak boleh melupakan umat Islam yang masih jarang datang ke masjid. 

Mereka harus tetap dijaga loyalitasnya (keimanan/tauhidnya) sebagai muslim. Untuk itu, mereka harus diberi “bacaan”. Jangan sampai, “tanggal merah” tidak punya bacaan, mendapatkan sodoran “bacaan” pihak lain. Terkena jurus menyalip dalam tikungan.

Tidak kalah penting dari itu, para da’i, harus berani masuk di kawasan “pertarungan bebas”. Karena dari kawasan ini, memungkinkan akan mendapatkan “konsumen” baru. Para da’i, harus berani keluar dari sarangnya. Berinteraksi luas dengan komunitas yang tidak sealiran dengan dirinya. Juga berinteraksi dengan komunitas yang di luar agamanya. (bersambung)

 

Oleh: Akhmad Zaini, Wartawan Senior di Tuban.

Penulis adalah mantan Wartawan Jawa Pos, kini menjadi pendidik di IAINU Tuban.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda