Pertemuan JPKL dan BPOM

Tidak Ada Toleransi untuk Kemasan Mengandung BPA

Pertemuan Ketua Umum JPKL (Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan) Roso Daras (baju putih, sebelah kiri) dengan wakil BPOM di Jakarta, Kamis siang 4 Februari 2021. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – "Tidak ada toleransi untuk kemasan yang mengandung BPA (bisphenol A) bagi bayi, balita dan janin!" tandas Ketua Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL), Roso Daras. 

BPA sangat berbahaya bagi balita, bayi dan janin. 

BACA JUGASurat Kepada BPOM Ingatkan Bahaya BPA

Roso Daras menyambut baik undangan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) -- dalam hal ini diwakili oleh Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan, Dra Cendekia Sri Murwani, Apt, MKM. 
Pertemuan ini merupakan langkah klarifikasi atas surat dari Ketua Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (surat nomor: JPKL _ BPOM 01/Januari / 2021) yang berisi tentang usulan peninjauan pencantuman peringatan pada kemasan plastik yang mengandung BPA.  

Pertemuan JPKL dan BPOM tersebut tergelar pada Kamis 4/2/2021 di Gedung F lantai 2 Kantor BPOM, Jakarta. 

BACA JUGA: BPOM Edukasi Soal Hoax​

"Kami mengucapkan terima kasih atas sambutan baik Ibu Cendekia beserta staf yang bersedia mendengarkan usulan JPKL. Dalam pertemuan itu kami langsung menyampaikan usulan sebagai tindak lanjut surat yang pernah kami kirimkan. Yaitu tentang pencantuman pada kemasan plastik dalam hal ini galon isi ulang yang mengandung BPA agar tidak dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin pada ibu hamil. Karena ini sudah mendesak, situasinya sedang tidak normal, kita lagi menghadapi Corona. Jadi harus lebih hati hati dalam mengkonsumsi makanan ataupun minuman," ungkap Ketua JPKL  Roso Daras dalam siaran persnya. 

Lebih jauh, Roso menyampaikan bahwa dasar perlunya pemberian label tersebut, selain merujuk pada hasil penelitian, juga kebijakan negara - negara maju yang sudah melarang penggunaan plastik BPA. 

Roso menegaskan JPKL mempunyai perhatian sama dalam hal pengawasan terhadap peredaran makanan dan minuman, dalam hal ini fokus pada kemasannya. 

Sekretaris Jendral JPKL, yang akrab dipanggil Mas Yus, menambahkan bahwa yang terpenting kita sepakat bahwa BPA adalah racun. Demi kesehatan bayi, balita dan janin ibu hamil, BPA tidak ada toleransi untuk batas aman. Harus benar-benar bebas dari paparan  BPA. 

"Jadi, kalau BPOM sudah mau memberikan label bertuliskan kemasan galon isi ulang tidak boleh dikonsumsi bayi, balita dan janin pada ibu hamil, setidaknya telah menyelamatkan bayi, balita dan janin pada ibu hamil di Indonesia," papar Mas Yus. 

APA BAHAYA BPA? 

Dalam pertemuan itu Cendekia meminta pihak JPKL menunjukkan hasil kajian ilmiah tentang bahaya BPA. Sehingga perlu ditinjau ulang oleh BPOM, dan urgennya mencantumkan peringatan kepada para konsumen tentang bahayanya plastik mengandung BPA. 

Dalam pertemuan itu, BPOM juga menghadirkan ahli yang menjelaskan bahwa paparan BPA dalam jumlah tertentu masih tidak berbahaya. 

Akan tetapi, menurut Ketua JPKL, untuk bayi, balita dan janin pada ibu hamil tidak mentolerir adanya kandungan BPA. 

"Jangan main - main kalau untuk bayi, balita dan janin pada ibu hamil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahaya mengintai dari risiko kanker, autis dan berat badan yang kurang," tandas Roso Daras. 

Dalam pertemuan itu Mas Yus, menjelaskan bahwa usulan pencantuman peringatan bahwa plastik BPA tidak baik untuk bayi, balita dan janin pada ibu hamil tentu mempunyai dasar ilmiah maupun landasan peraturan pemerintah yang berlaku. 

"Untuk meneliti tentu bukan kewenangan wartawan. Dari berita dan jurnal internasional sudah jelas menerangkan bahwa BPA berbahaya. Kami membawa lampiran bahwa BPA berbahaya dari berbagai negara di dunia. Dan sebelum itu, JPKL telah merujuk pada hasil penelitian dari negara - negara lain yang dengan itu memutuskan melarang penggunaan plastik BPA," ungkap Mas Yus. 

"Kami juga akan melakukan pendekatan kepada  Kemenperin yang bersinergi dengan BPOM,  yang juga  memiliki otoritas untuk mensyaratkan adanya pelabelan pada kemasan," ungkap Roso Daras.(*) 

Rilis JPKL

Pewarta : Roso Daras
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda