Pawon Teh Tudung, Spot Kuliner Baru di Magelang

Menghadirkan Nostalgia Minum Teh dan Nasi Jagung

HM Tazbir Abdullah, mantan Kepala Dinas Pariwisata DIY dan Sekretaris Percepatan Pariwisata Halal Kemenparekrat menikmati Teh Tudung di Pawon Teh Tudung.

COWASJP.COM – “Nasi jagungnya endezzzz sekali Guys. Really recommended!“ Begitu kesan Bobby Ardyanto Setya Aji usai menikmati menu di Pawon Teh Tudung (PTT).

Bobby bersama keluarga –istri dan kedua anaknya— hari itu, mencari tempat untuk merayakan HUT pernikahannya. Tempat makan sekaligus santai dengan pemandangan alam yang aduhai. Dipilihnya Pawon Teh Tudung yang berada di Lereng Sumbing, Windusari, Magelang.

Pemilik Java Villas Boutique Hotel dan Joglo Mandapa Hotel & Resto ini pun berangkat pagi dari Jogja. Jam 07.00 sudah meluncur. Sekira satu jam lebih sedikit, mereka sampai di PTT. Dengan panduan Google Maps. Lancar. 

Bobby lantas memesan menu spesial yang ada di PTT. Mulai dari Nasi Lereng Sumbing dan Nasi PTT. Juga Teh Tudung. Lha nasi jagungnya mana? 

Nasi jagung itu ada di Nasi Lereng Sumbing. Namanya menunya memang Nasi Lereng Sumbing. Menu ini terdiri dari nasi jagung dengan sayur lompong, oseng ikan asing, urap (gudangan) dan peyek teri. Sedangkan Nasi Pawon Teh Tudung (PTT) adalah nasi gurih bunga telang yang diberi lauk kering kentang, serundeng kelapa, dan ayam suwir.

“Keren ini. Lokalitasnya tinggi. Masakannya enak. Yang seperti ini banyak dicari,“ tambah Bobby yang kini menjadi Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DPD DIY. GIPI adalah organisasi yang lahir sebagai amanah UU Pariwisata. Tempat berhimpunnya asosiasi para pelaku pariwisata. Ada 20 asosiasi pariwisata bergabung di GIPI DIY.

erwam2.jpgBobby Ardyanto Setyo Ajie dan keluarga menikmati menu Nasi Jagung di Pawon Teh Tudung.

Kesan menarik juga disampaikan oleh mantan Kepala Dinas Pariwisata DIY dan Sekretaris Percepatan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata HM Tazbir Abdullah. Begitu sampai lokasi, Tazbir langsung berkomentar. “Bagus tempatnya. Keren. Lain waktu ke sini lagi deh,“ ujar Tazbir yang datang bersama dua rekannya.

Pemilik Restoran Narasa yang spesial menyajikan masakan Aceh di Jogja ini juga terkesan dengan pengemasan Teh Tudung. Tazbir pun mencoba dan menikmatinya. “Mantap!“ kata pria asal Nangro Aceh Darussalam ini.

Apa sih Teh Tudung? Pemilik usaha keluarga Pawon Teh Tudung H Tri Fatah Suryono menjelaskan. Dikatakannya, orang-orang Jawa, di kampung, di desa, di gunung maupun di kota, punya kebiasaan minum teh. Di keraton, di rumah, di warung, di tempat hajatan, minumnya teh. Maka, dalam tradisi Jawa, termasuk di Keraton Yogyakarta, ada yang namanya Patehan. Ini petugas atau Abdi Dalem yang bertugas menyediakan minuman teh untuk Raja maupun tamu kerajaan. 

Patehan juga dikenal dalam setiap hajatan. Itulah seksi atau panitia yang mendapat amanah membuat minuman teh yang disajikan untuk para tamu. Kebiasaan masyarakat sejak dulu, teh diminum dalam kondisi panas. Kemepyar. Begitu kata orang mengekspresikan suasana psikologis saat minum teh panas.

erwan3.jpgMenikmati Teh Tudung dengan gula aren di Pawon Teh Tudung

Masyarakat Jawa memiliki kearifan lokal untuk menjaga agar sajian teh tetap panas atau hangat. Yakni dengan membuat “selimut“ untuk membungkus teko atau poci yang berisi teh. Selimut itulah yang disebut Tudung.

“Dari situlah nama Pawon Teh Tudung kami ambil. Kami ingin menghadirkan nostalgia cara minum teh yang dulu hadir di keluarga-keluarga kita. Menuang langsung dari poci atau teko yang dijaga kehangatannya dengan tudung. Tudung ini menjadi barang wajib di daerah Genito, Windusari, Magelang yang sejuk ini,“ jelas Tri Fatah.

PTT yang memiliki tagline “Melestarikan Warisan Adiluhung“ ini memang berada di Kaki Sumbing. Tepatnya di Desa Genito, kecamatan Windusari, kabupaten Magelang, pada ketinggian 700-an mdpl. Udara pun sejuk segar karena masih ada hutan di sekitar lokasi yang dikelola Perhutani. Jika tanpa tudung, teh atau minuman lain yang disajikan akan cepat dingin.

Teh Tudung ini disajikan tanpa gula. Ini juga mewarisi kebiasaan masyarakat sejak dulu yang suka minum teh pahit. Bukan teh manis. Karena itu pula, sajian teh utama di PTT juga teh pahit. Gula biasanya dimakan terpisah. Gula yang pas adalah gula merah (gula Jawa) atau gula Aren. 

erwa4.jpgTamu dicek suhu tubuhnya sebelum masuk ke Pawon Teh Tudung

“Gula arennya digigit dulu, kemudian baru nyeruput tehnya. Atau seruput tehnya terlebih dulu, baru menggigit gulanya. Begitu pula yang kami sajikan di PTT,“ ujar Tri Fatah sembari memeragakan cara minum dan menggigit gula aren. 

Alumnus Geologi UGM ini lantas menceritakan dari mana teh yang diolah untuk PTT. Kebiasaan turun-temurun di desa Genito dan sekitarnya, cerita Tri Fatah, pohon teh ditanam sebagai pembatas lahan. Baik di tegalan, maupun kebun atau halaman. Ditanam di sela tanaman utama. Pohon teh tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan minum teh keluarga. “Jadi semacam ketahanan pangan kecil-kecilan,“ katanya berseloroh.

Teh di kebun, di halaman rumah itulah yang kemudian diolah. Pun untuk yang disajikan di PTT. Daun dipetik dari kebun sendiri. Lalu disangrai dengan tembikar yang terbuat dari tanah. Dipanasi dengan kayu bakar di atas tungku yang juga terbuat dari tanah. Bukan dengan kompor. Cara tradisional itulah yang dipertahankan untuk memunculkan sensasi rasa khas teh tudung PTT. “Kami di sini biasa menyebut teh Jawa. Bukan teh pabrik,“ tambah Tri Fatah.   

erwan5.jpgDeretan Gunung terlihat dari Pawon Teh Tudung

Apakah PTT hanya menyediakan teh? Kendati namanya Pawon Teh Tudung, rumah makan di Lereng Sumbing ini tidak hanya melulu menyediakan teh. Untuk minuman, tersedia juga berbagai pilihan seperti aneka jus buah. Namun yang menarik, citra tradisional tetap ditonjolkan untuk sajian minuman ini. Karena PTT juga menyediakan wedang jahe sereh, wedang ronde, teh bunga telang, dan kopi. 

“Sama dengan teh, kopi yang kami sajikan pun kopi lokal Sumbing. Sesuai dengan tujuan kami untuk mengembangkan potensi lokal di sekitar sini. Kami ada Arabica Sumbing yang kami ambil dari petani kopi lokal Windusari. Penyajiannya pun tradisional. Tidak memakai barista. Kami sajikan dalam bentuk kopi tubruk,“ paparnya.

Teh maupun kopi ini tidak hanya bisa dinikmati di PTT. Pengunjung bisa membawa pulang dalam bentuk kemasan. Tehnya dikemas dengan brand Genitos Tea seberat 20 gram. Di dalam kemasan ini ada dua potong gula aren. Jadi, saat di rumah, masih bisa merasakan sensasi minum teh Jawa dengan gula aren. Sedangkan kopi arabica Sumbing dikemas dalam kemasan seberat 100 gram. Tersedia pula Teh Bunga Telang dalam kemasan.

Di saat Pandemi, jam buka PTT mengikuti aturan pemerintah. Buka setiap hari. Senin-Jumat buka jam 09.00-19.00, Sabtu-Minggu buka jam 07.00-19.00. Jika pemerintah membuat edaran untuk tutup, PTT pun juga menutup warungnya.

erwan1.jpgSaat kabut turun menyelimuti Pawon Teh Tudung

Diterangkan pula, PTT juga membuat menu khusus untuk Goweser atau yang olahraga pagi di Sabtu-Minggu. Untuk membantu goweser atau siapa pun yang ingin sarapan setelah olahraga pagi. Atau mereka yang tidak memasak saat hari libur, PTT menyiapkan menu khusus tambahan di akhir pekan yakni soto ayam. 

Datang ke PTT memang tidak sekadar ngeteh, ngopi maupun ngemil. Lokasi yang ditempati rumah makan menu ndeso ini sangat instagramable. Berada di deret atas dari sawah terasering. Lalu, di kejauhan, jika langit terang, deretan gunung bisa terlihat. Mulai dari Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Telamoyo dan Ungaran. Di sisi kanan, ada Gunung Giyanti dengan hutan lebatnya. Kemudian di sisi belakang, ada Gunung Sumbing.   

Selain pemandangan alam yang indah tersebut, sejumlah spot foto yang bisa dipakai untuk membuat konten media sosial juga disiapkan. Ada payung berdiameter 3 meter bertuliskan Pawon Teh Tudung Lereng Sumbing. Payung ini sekaligus semacam “papan nama“ yang bisa dilihat tamu begitu pertama datang. 

Ada pula jaring trampolin yang bisa dipakai untuk bergaya di atas tanaman umbi, ada gebyok tradisional Jawa, maupun sejumlah tulisan berisi pepatah Jawa maupun bahasa Indonesia. Pendopo Limasan yang menjadi bangunan utama juga menjadi spot foto yang menarik dengan background sawah hijau dan tulisan Pawon Teh Tudung dari bambu. 

Disediakan pula aksesoris payung kertas warna-warni untuk properti berfoto ria. Semuanya gratis. Hanya Lazy Bag warna-warni yang disewakan.

Pengelola PTT sadar betul dengan pengembangan pariwisata dan tren media sosial. Atraksi kuliner yang dihadirkan dipadu dengan atraksi wisata alam sehingga membuat para tamu tertarik datang. Terbukti, dari akun media sosial banyak tamu yang mengunggah eksotisme Teh Tudung, nasi telang maupun nasi jagung.

Kemasan sajian Teh Tudung, berupa poci lengkap dengan tudungnya, ditambah tiga cangkir serta gula aren, sudah menjadi atraksi tersendiri. Komposisinya sudah memancing tamu untuk memotret lalu meng-upload ke media sosialnya. 

Begitu pula penyajian nasi jagung (Nasi Lereng Sumbing) dan nasi telang (Nasi Pawon Teh Tudung). Dengan piring bambu, nasi dibuat tumpeng sebagai simbol gunung, dibungkus daun pisang, dan dihidangkan di atas lembaran daun juga. 

Semua itu jika difoto dengan background pemandangan yang ada di PTT menjadi foto yang luar biasa.

“Niat kami sejak awal memang memaksimalkan potensi yang ada di sekitar. Sekaligus sebagai bentuk syukur kami diberi tempat yang indah dan kekayaan kuliner yang luar biasa. Maka, kami ajak anak-anak muda sekitar untuk menyajikan itu semua untuk para tamu. Mereka kami rekrut menjadi karyawan dengan kami bekali pengetahuan seputar wisata desa. Kebetulan ada keluarga kami yang selama ini berkecimpung di pariwisata,“ tandas Tri Fatah.

Sebelum dibuka, Keluarga Tri Fatah mengumpulkan perwakilan para pemuka masyarakat dan pemuda desa. Ada sembilan perwakilan dari dusun yang ada di Desa Genito. Termasuk pengurus BUMDes. Mereka diajak untuk menampilkan potensi yang ada di dusunnya. Pada kesempatan tersebut, terungkap sejumlah potensi yang siap dikembangkan dan dikolaborasikan dengan PTT.

Ada yang memiliki kebun buah jambu. Ada yang memiliki tanaman bonsai. Ada yang membuat tempe. Produksi peyek dari beragam bahan. Dan ada pula yang mengembangkan benih sayur dan sebagainya. Juga ada ternak lebah madu yang dikelola BUMDes. Mereka siap berkolaborasi dan bersinergi. Dari sejumlah potensi tersebut baru madu dan kopi yang sudah ikut dipasarkan di PTT.

“Memang masih awal. Tapi kami yakin, ke depan ini akan sangat menjanjikan perkembangannya. Dan kami berharap, langkah kami ini bisa ikut memajukan desa, membantu meningkatkan ekonomi masyarakat dan tentu saja membantu mengenalkan Magelang dan Lereng Sumbing dari sisi lain,“ pungkas Tri Fatah. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda