Kisah Sekred Majalah Jayabaya

Asyiknya Rawat Inap di RS Lapangan Indrapura

Bu Wuwuh Rahayu, Sekretaris Redaksi Majalah Jaya Baya ketika dites swab sebelum pulang dari Rumah Sakit Lapangan Jalan Indrapura, Surabaya, 10 Januari 2021.(FOTO: dokumen pribadi)

Rumah Sakit Lapangan Jalan Indrapura Surabaya yang didesain sebagai rumah sakit rujukan pasien Covid-19 tadinya dianggap lokasi yang angker. Mistis. Seram. Benarkah hal itu benar adanya? Inilah kesaksian langsung Sekretaris Redaksi Majalah (Bahasa Jawa) Jaya Baya, Bu Wuwuh Rahayu. Beliau mengisahkan pengalamannya selama 9 hari opname (rawat inap) di situ. Ini rumah sakit darurat di bawah tenda besar. Sederhana. Tapi bila dilakoni dengan ketawakalan semuanya terasa baik-baik saja. Asyik-asyik saja. Dan, yang pasti, Bu Wuwuh telah negatif Covid dan sembuh seperti sedia kala. Alhamdulillah.

***

COWASJP.COM – SABTU malam 2 Januari 2021 lalu merupakan malam kelam bagi Bu Wuwuh Rahayu, Sekretaris Redaksi Majalah Jaya Baya. Di saat warga Surabaya lagi santai, Bu Wuwuh harus cepat-cepat meluncur ke Rumah Sakit Lapangan (RSL) Indrapura, Surabaya. Tak jauh dari Masjid Kemayoran Surabaya. 

Beliau positif terinfeksi Covid-19. Ini berdasarkan hasil swab di sebuah laboratorium ternama di Surabaya. Setelah menjalani isolasi dan perawatan 9 hari di situ, Bu Wuwuh dinyatakan sudah negatif Covid-19.  Bu Wuwuh merasa lega.

`Setelah dinyatakan sembuh ada acara yang menarik di RSL itu. Sebelum pulang ke rumah masing-masing ada acara khusus di RSL yang terkenal “angker” tersebut. Peserta isolasi harus mengikuti acara wisuda. 

Mereka adalah para peserta yang sudah dinyatakan negatif Covid 19. Setelah mengikuti acara wisuda, barulah mereka pulang ke rumah masing-masing. Mereka pulang dengan membawa surat hasil pemeriksaan. Selembar surat atau semacam piagam dari dokter yang menyatakan bahwa nama pasien yang tertera dalam surat tersebut sudah Negatif Covid. 

 Mereka juga mendapatkan masker “Merah Putih”. Bentuk maskernya sederhana. Seperti masker jenis skuba berlambang Garuda. 

Masker ini pertanda sama dengan merdeka atau negatif Covid-19. 

Ibu yang usianya sudah di atas 50 tahun ini boleh ke mana saja, setelah menjalani isolasi mandiri lagi selama  5 hari di rumahnya. Tetap menjaga protokol kesehatan. Selalu pakai masker, sering cuci tangan, dan menjaga jarak. Peraturan yang wajib dilaksanakan oleh semua orang.

Bu Wuwuh diwisuda di halaman depan RSL Indrapura bersama tiga orang pasien yang lain. Semuanya memakai masker warna merah putih. 

Bagi mereka yang sudah gejala ringan setelah dirawat di RSL Indrapura, juga bisa dipulangkan ke rumah masing-masing. Mereka tentu wajib isolasi mandiri di rumah beberapa hari sesuai ketentuan yang berlaku. Sekitar dua minggu. 

Mereka boleh pulang, tapi maskernya bukan Merah-Putih. Mereka pulang dengan mengenakan Masker Medis. 

Bu Wuwuh mengisahkan, ketika masuk di RSL Indrapura, entah mengapa perasaannya lega. Dia bersama beberapa pasien ditempatkan ditenda-tenda ber AC. 

Di dalam tenda ukuran besar itu disediakan oksigen. Selama dirawat dalam tenda mereka boleh berkomunikasi. 

MENU MAKANANNYA ENAK BANGET

Asyik banget pokoknya selama melakoni rawat inap di RSL Indrapura. Menurut Bu Wuwuh, soal makan jangan kuatir. 

“Menunya enak-enak agar imunitas pasien meningkat cepat. Enak banget,”  kata Bu Wuwuh. 

Menu makanan tiap hari berganti-ganti. Pagi nasi dengan lauk yang bermacam-macam. Mirip nasi campur, masih ditambah buah dan susu. 

Menu siang hari nasi dengan lauk yang bervariasi, buah semangka, snack , minuman sari buah, dan puding. 

Menu makan malam selain nasi ada buah kafnag melon/nanas juga masih ditambah kue dan susu. 

“Soal makanan di RSL berlebihan. Yang jelas setiap waktu makan ada telur, ayam, daging dan sayur," tambahnya. 

RSL Indrapura juga disebut sebagai museum kesehatan. Rumah sakit ini dulunya dikenal sebagai rumah sakit kelamin. Tahun 1970-an dulu. 

Rumah Sakit Indrapura  sudah lama tidak ada pasien. Sepi. Beda jauh dengan yang RSUD dr. Soetomo, RS BDH (Bhakti Dharma Husada), dan RS dr. Soewandi Jalan Tambakrejo Surabaya. 

Nama Rumah Sakit Indrapura kini jadi terkenal kembali sejak pandemi Covid-19 melanda bumi Nusantara. Bahkan pandeminya mendunia. 

Memang, RSL Indrapura berbau mistik dan beraroma angker. Sebab di museum RS Indrapura ada beberapa benda yang dianggap mistik. Seperti boneka Nini Thowok, bahkan ada boneka jaelangkung. 

Sejak RSL Indrapura dimanfaatkan untuk pasien positif Covis 19, suasananya lain. 

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, dan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto (waktu itu) secara langsung meresmikan Rumah Sakit (RS) Lapangan Covid-19 Pemprov Jatim, Selasa 2 Juni 2020.

Di lapangan yang luas itu dipasang tenda jumbo, tempat untuk merawat pasien positif Covid-19.

Selama dirawat di RSL Indrapura, Bu Wuwuh punya banyak cerita yang menarik. 

Apa saja yang dialami Bu Wuwuh selama sembilan hari di RSL?  

Bagaimana dia terinfeksi Covid 19, Bu Wuwuh bercerita dengan gaya bertutur seperti dibawah ini :

***

SAYA pertama kali kena diare Minggu pagi 27 Desember 2020. Wah sehari sampai 5 kali BB. Saya minum obat new diatab. Saya kira masuk angin biasa, karena itu saya minta dikeroki. 

Diare sudah sembuh, tapi badan terasa lemah, lemas, ada mual. Saya periksa ke dokter di klinik BDS Jalan Pacuan Kuda, Surabaya.  Di sana juga diperiksa laboratorium. Ternyata hasilnya ada gejala tipus. 

Saya diberi obat dan disuntik anti mual.

Hari Senin pagi 28 Desember 2020 kok badan tetap lemes dan ada rasa mual-mual. Saya balik lagi ke dokter klinik BDS. Setelah diperiksa langsung opname (rawat inap) selama dua hari. 

Waktu itu saturasi oksigen ke paru-paru kurang. Harusnya di atas 95. Waktu itu saya dibantu oksigen agar nafas tidak sesak. 

Saya merasa sedikit galau. Dokter menganjurkan untuk foto toraks/paru-paru.

Rabu sore 30 Desember 2020 foto toraks/paru-paru di klinik Bio Test Jalan Kartini Surabaya. Hasilnya keluar Kamis 31 Desember 2020, saya dinyatakan kena pneumonia bilateral, infeksi di paru-paru.

Saya lantas pulang dan disarankan oleh Dokter untuk Test Swab. Waktu itu saya merasa lemas dan mual karena lambung bermasalah dan sulit makan. Makan cuma sedikit.

Di rumah saya konsultasi sama Pak RW dan disarankan test swab di puskesmas Sabtu 2 Januari 2021. Coba Tes Swab di Puskesmas Tembok Dukuh, tapi hasilnya antara 5 — 10 hari. Koq lama sekali. Akhirnya saya test Swab di klinik Gleneagles Jalan Taman Ade Irma Suryani Nasution. Setelah hasil Swab keluar, saya di WA Klinik Gleneagles bahwa hasilnya positif Covid.

Saya langsung memberitahu Pak RW kalau hasil swab-nya positif. 

dirman1.jpgPasien laki-laki saat berjemur di halaman RSLI. (FOTO: dokumen pribadi)

Pak RW menganjurkan saya untuk menjalani isolasi di RS Lapangan Indrapura (RSLI) yang dikelola Pemprov Jawa Timur itu. 

Sabtu malam itu juga 2 Januari 2021 pukul 20.00 WIB, saya langsung ke RSLI mendaftar dengan membawa hasil foto toraks dan hasil Swab positif. Di sana saya harus menjawab banyak pertanyaan. 

Untuk masuk RSLI saturasi oksigen tidak boleh di bawah 95, diukur dengan alat Oximeter. 

Saturasi (kadar oksigen dalam darah) yang normal 95 - 100. Kalau sampai hanya 60 berati sangat parah. 

Jadi yang bisa dirawat di RSLI adalah pasien yang tidak sangat parah. 

BANYAK PASIEN LUAR KOTA

Banyak oasien di RSLI yang ber-KTP luar kota. Ada yang dari Malang, Sidoarjo, Mojokerto, Nganjuk, Ponorogo, Madiun, bahkan ada yang dari Jakarta dan luar pulau. 

Rata-rata penularan dari cluster keluarga dan kantor. 

Ada pasien dari Malang satu keluarga 7 orang, dari Sidoarjo juga satu keluarga 5 orang. Juga ada anak yang masih kecil.

Akhirnya saya masuk di RSLI dan ditempatkan di tenda B. Tenda yang khusus difasilitasi oksigen untuk pasien yang ada keluhan atau yang agak parah.

Saya masuk langsung dibantu oksigen. Keluhan yang lain-lain tidak ada. Saya tidak batuk. Cuma napas terasa ngos-ngosan. Hal yang gak pernah saya alami. Dada terasa sesak.

Di tenda B pasiennya cukup banyak. Berkisar 16 -21 pasien. Rata-rata agak parah. Ada yang diinfus selain dibantu oksigen. 

Pasien yang tidak ada keluhan sama sekali masuk kamar yang sudah ada. Bukan di tenda. 

Bila ada pasien yang kondisinya makin parah dirujuk ke RS Dr Soetomo. 

Sewaktu saya di Tenda B ada 4 pasien yang dirujuk ke RSUD dr Soetomo. Bagi pasien yang kondisinya sudah membaik biasanya langsung dipindah ke kamar-kamar yang kosong.

Awal masuk RSLI Sabtu 2 Januari malam saya langsung dibantu oksigen. Alhamdulillah, 3 hari kemudian, 5 Januari pagi sudah lepas oksigen. 

Saya tidak ada keluhan lagi dan tidak batuk.

Karena itulah saya wajib bergabung di grup WA Tenda Medis. Kalau ada pengumuman biasanya langsung di-share di grup WA tersebut. 

Misalkan pengumuman besok ada test swab, siapa saja yang ikut. 

dirman2.jpgKetika diwisuda negatif Covid 19 di RS lapangan Indrapura. Acara sebelum pulang. Bu  Wuwuh Rahayu (no 2 dari kiri). (FOTO: dokumen pribadi)

Atau kalau pasien ada keluhan juga bisa disampaikan lewat grup. 

Bisa juga langsung datang ke Tenda Medis (tenda D). 

Jumat 8 Januari saya dipindahkan dari Tenda B ke Tenda C. Khusus pasien wanita. Di Tenda C waktu itu ada 16 pasien.  

***

Saya di RSLI 9 hari. Peraturan di RSLI pasien harus swab lagi setelah 8 hari opname. Saya swab awal 2 Januari. Berarti saya swab lagi (tambah 8 hari) Minggu tanggal 10 Januari 2021.

Sewaktu saya di-swa ada 52 orang yang antre. Hasilnya: yang negatif 6 orang, 46 pasien lainnya masih positif.

Di RSLI sesama pasien bisa saling cerita. Di sana semuanya gratis. Saya ulangi, semuanya GRATIS! 

Dapat makan sehari 3 kali, menunya setiap hari ganti-ganti, makanannya enak-enak. Rawon, pecel, urap-urap, sayur asem, sop, oseng-oseng dan lain-lain. Juga ada buah, susu, poding dan kue. 

Terima kasih Pemprov Jatim. Alhamdulillah. 

Tiap-tiap pasien juga dapat peralatan mandi 1 tas, terdiri dari sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampho, handuk, sandal, baju daster, jilbab dan cd, bra khusus wanita. 

Bagi yang laki-laki dapat cd, celana pendek, kaos, sarung dan sandal cowok. 

Juga dapat botol minum atau tumbler.

TENDA CAFE

Di RSLI juga ada tenda café. Di situ tersedia air panas dan minuman kopi, susu, jahe, dan teh, gula, kita bisa bikin sendiri.

Juga tersedia alat-alat untuk olahraga/ fitness treadmill atau sepeda statis juga ada tenis meja. Dan lain-lain. Tiap pagi ada senam pagi dan acara berjemur. Lantas jalan-jalan muter-muter. 

Rasanya seperti tidak sedang sakit dan tidak sedang berada di rumah sakit. Enjoy banget. 

Senam pagi kadang dipandu tenaga medis dokter/perawat. Kadang dipandu sesama pasien.

Kalau mau mencuci baju di RSLI juga tersedia mesin cuci. Mesin cucinya ada 9 unit. 

Saat itulah kita bisa ketemu sesama pasien. Bisa saling cerita dan silaturahmi. Jadi tambah saudara. 

dirman3.jpgTenda tempat merawat pasien positif Covid-19 di RS Lapangan Jalan Indrapura Surabaya. (FOTO: dokumen pribadi).

Isolasi di tenda-tenda kalau mau ke toilet tersedia Toilet Portable di beberapa tempat. Bagi yang opname di kamar, sudah ada toilet di kamarnya. 

Menurut saya RSLI kok tidak serem ya. Kata orang-orang angker. Ah, siapa bilang? Wong saya sudah menjalaninya sendiri. Kenyataannya baik-baik saja. Bahkan yang saya rasakan asyik-asyik saja. 

Dokter dan perawat di RSLI ramah dan sabar-sabar. Ada yang seneng guyonan. Dokter yang viral dokter Rozak. Video nya sudah beredar ke mana mana.

Sebelum kita pulang, pagi ada brifing dari dokter. Brifingnya tidak barengan. Digilir antara yang hasil tesnya negatif dan yang masih positif. 

Setelah pulang, di rumah masing-masing kami diharuskan isolasi mandiri 5 hari. Semua baju yang dibawa dari RSLI harus dicuci sendiri tidak boleh di-laundry.

Pas tanggal 10 Januari 2021 ada syukuran di RSLI,l. Pasien yang sembuh di Jatim mencapai angka 5 ribu orang.

Sebelum wisuda juga ada brifing lagi dari Relawan Pendamping. Misalkan kalau ada masalah di kampung atau di tempat kerja, bisa menghubungi Relawan Pendamping. Call Center Relawan Pendamping 088222303030.

Sebelum pulang tiap-tiap orang disemprot densifektan dan semua tas yang dibawa. Setelah disemprot disinfektan, cuci tangan dan ganti masker. Bagi yang sudah negatif pakai masker Merah Putih. Setelah tas disemprot disinfektan dimasukkan plastik warna kuning, boleh pulang. 

Isolasi di RSLI itu ada yang 4, 5, 6 hari sudah pulang. Karena mereka tergolong OTG dan tidak ada masalah atau tidak ada keluhan. 

Jadi tidak harus 10 hari baru boleh pulang. Terkadang yang pulang ada yang hasil test swab-nya masih positif. Tapi menurut dokter di RSLI kategorinya sudah sembuh dan sudah dianggap tidak menularkan. 

Yang penting di rumah harus menjalani tambahan lagi isolasi mandiri selama 5 hari. 

Bagi yang masih positif tapi sudah boleh pulang, harus pakai masker medis. Dan plastik untuk tempat tasnya berwarna hitam.

Selanjutnya kita harus keluar dari Grup WA Tenda Medis. Pindah ke Grup Alumni RS Lapangan Indrapura. (*)

Penulis: K. Sudirman, GM Majalah Jaya Baya.

Pewarta : K. Sudirman
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda