Diduga Covid, Bayi pun Diisolasi

COWASJP.COM – Cerita Covid rasanya belum ada henti-hentinya. Juga tetap menarik.

Karena, pengalaman antara satu dengan yang lain berbeda-beda. Yang dirasakan pun berbeda pula.

Saya mungkin di antaranya. Hanya saja, saya masih beruntung, dibanding teman yang lain. Mungkin termasuk OTG. Orang tanpa gejala. 

Terdeteksi covid, saat akan terbang ke Banjarmasin. 7 Desember 2020 lalu.

Saya mungkin terlalu percaya diri (PD). Karena tidak merasakan apa-apa. Karena itu, hasil rapid pun tak saya baca. Langsung saya serahkan kepada petugas di Bandara Juanda. Eh ... ternyata reaktif.

Kaget .... terkejut ... bingung. Semuanya jadi satu.

Saya pun, pulang. Sampai di rumah, lebih bingung lagi. Isteri, anak, cucu, semuanya harus menjauhi. Semua harus pakai masker di rumah. Tidur di kamar, sendirian. Semuanya harus dilakukan sendiri. Tidak bolah campur dengan yang lain.

Satu minggu isolasi mandiri, telah berlalu. Rapid pun dilakukan lagi. Hasilnya, masih reaktif. 

Isolasi pun diperpanjang. Tambah satu minggu. Di-rapid lagi. Eh .... masih reaktif juga. Sampai tiga minggu. Tetap reaktif.

Jadi, tiga kali rapid, tak juga kunjung hilang. 

Pikiran sudah ke mana-mana. 

Setelah 18 hari, isolasi, rasanya jenuh juga.

Makan, tidur, olahraga ringan, jemur diri, terus dilakukan.

Saya pun swab test. Dengan harapan Covid sudah hilang. Alhamdulillah. Hasilnya tidak terdeteksi Covid, alias negatif.

Bagi saya dan keluarga, hal itu sudah cukup berat. Cukup membuat stres. Cukup membingungkan.

Tapi, ternyata lebih membingungkan lagi ketika hal yang sama menimpa cucu saya. Apalagi masih bayi. Atas rekomendasi Prof Dr dr Bambang Purnomo, cucu saya di suruh ke Rumah Sakit Islam (RSI) Jalan A. Yani, Wonokromo, Surabaya. Untuk rawat inap. 

Karena sering muntah. Badannya panas. Dan mencret.

Maka, bergegaslah ke sana. Tapi, untuk masuk rumah sakit di saat kondisi pandemi Covid seperti sekarang tidaklah mudah. Meski bayi sekali pun.

Sampai di RSI, check up lengkap pun dilakukan. Termasuk swab. 

Rumah sakit membolehkan rawat inap, bila hasil swabnya negatif.

Padahal, kondisi Kenan, cucuku kian lemah. Tiap ada yang masuk ke perutnya, termasuk susu dan obat, dimuntahkan kembali.

Tragis memang. Tapi, protokol kesehatan di rumah sakit mengharuskan demikian. Saya pun tak bisa berbuat apa-apa.

Apalagi, dokter melihat hasil foto rontgen, di paru-parunya ada sesuatu yang mencurigakan.

Sampai sekarang pun, cucu yang belum genap usia 1,5 tahun, dan lahir prematur itu hanya bisa berbaring lemas di rumah.

Kami pun harus menggunakan protokol kesehatan padanya. Sedih, kasihan, campur jadi satu.

Itulah kondisi saat ini. Untuk pelajaran bagi yang sehat. Harus tetap jaga diri. Termasuk untuk anak dan cucu. Meski bayi sekali pun.

Semoga hasil swabnya negatif. Agar kami bisa menyayanginya seperti biasa.

Aamiin. (*)

Penulis: M. Nasaruddin Ismail, Wartawan Senior di Surabaya

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda