Eksplorasi Tubuh dari Sistem Biologis ke Metabolisme Politik

Grafis Saiful Hadjar "Tubuh 17"

COWASJP.COM – Sketsa-sketsa grafis Saiful Hadjar sebagai sumber imaji puitik merupakan suatu hibrid antara sketsa dan puisi. (Beberapa tulisan Saiful Hadjar ditayang di situs Cowasjp.com beberapa hari lalu). Tubuh biologis yang terbangun dari kesatuan sistem yang saling berinteraksi menjalankan aktivitas kehidupan. Tubuh bukan lagi sekadar organ biologis tetapi sebuah sistem yang berinteraksi dengan di luar tubuh membangun makna politik dan ideologis. 

Utamanya tubuh perempuan sebagai subyek yang tersubordinasi sebagai obyek yang selalu dikuasai dan terkalahkan.

BACA JUGA: Sastra PSK Melawan Kebisingan dengan Imaji

Tubuh dalam imaji grafis dan puisi Saiful Hadjar menjadi hibrida yang mampu keluar dari persoalan-persoalan biologis semata. Tetapi tubuh sebagai mikrokosmos mampu memantulkan kembali persoalan-persoalan di luar tubuh yang mempengaruhi dan dipengaruhinya. Tubuh sebagai mikrokosmos menyimpan persoalan-persoalan yang berlangsung di jagad raya. Persoalan-persoalan yang berlangsung dalam tubuh biologis merupakan refleksi dari persoalan-persoalan yang berlangsung di luar tubuh.

Imaji merupakan substansi imajinasi merupakan daya pikir untuk membayangkan (gambar, angan-angan)  atau menciptakan gambaran ( lukisan, karangan, dan sebagainya). Dapat pula berupa kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang (KBBI). Ibn Sina dan Alfarabi menuturkan bahwa, karya seni bersifat imajinatif. Di dalam karya seni sebagai hasil imajinasi mengungkapkan aspek-aspek dari penikmatan yang menyentuh atau memberikan kenikmatan estetis. Begitu juga pendapat Remy Sylado, bahwa berpuisi merupakan suatu kepandaian manusia memanfaatkan imaji ke dalam tantangan kreatif merangkai kata-kata terpilih dan membangunnya menjadi seni.

Peran imajinasi terkait dengan imaji, citra, gambaran. Sebuah daya dalam memanfaatkan konsep mental bukan sekadar sensasi dalam menghasilkan produk dari aktivitas produksi secara intensif. Sebuah  produk yang mampu melampaui batas-batas yang memberikan makna yang lain. Obyek bukan sekadar benda tetapi memberikan peluang makna (imajinasi) menjadi yang lain dilatari pengalaman literer dan kultural penikmatnya. Sketsa tubuh bukan hanya bentuk tubuh tetapi di dalamnya berhubungan dengan konteks di luar tubuh.

BACA JUGA: Ruang Tunggu Korek Api

Lebih jauh imajinasi merupakan daya pikir, membayangkan, merealisasikan, berdasarkan pengalaman dan rekaan menjadi isi dari sebuah ciptaan karya kreatif yang dihasilkan seniman. Hasil kreativitas yang variatif dan kualitasnya ditentukan oleh latar belakang kultural, kemampuan berpikir dan pengalaman hidup si pencipta. Pasti tidak ada karya yang lahir dalam kekosongan karena imajinasi dilatari oleh pengetahuan dan lingkungan tempat tinggal.

Tubuh sebagai hasil imajinasi yang dilatari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki si pencipta tak lagi memiliki muatan tunggal, tetapi memungkinkan berbagai persoalan berdiam di dalamnya. Sketsa tubuh dalam muatan politis tidak lagi berdiam sebagai sistem organ tetapi telah berubah fungsi sebagai propaganda untuk mempengaruhi orang lain untuk meyakinkan bahwa yang direpresentasikannya benar.  

Tubuh2.jpgGrafis Saiful Hadjar "Tubuh 16"

SKETSA: /keindahan tubuh biasa dijual/menuduh lelaki berserban berbuat zina // [TUBUH 16]

Sebagaimana tubuh yang dijadikan obyek seksualitas ia dieksploitasi dari religiositasnya ke ranah profan dan hanya ditempatkannya sebagai obyek seksualitas yang mencelakakan sebagai aib dan harus dipermalukan. Persoalan yang kerap menjerembapkan tokoh dengan memperalat teknologi. Di negeri ini tidak sedikit tokoh yang terjatuh dari panggung politik karena perselingkuhan dan atau karena hubungan seksual di luar pernikahan. Juga ketika tokoh agama direkayasa melakukan mesum dengan perempuan cantik tanpa kepastian hukum.

Di sisi lain tubuh (perempuan) sebagai subyek mampu mempengaruhi lawan jenis berbuat apa yang dikehendakinya. Seorang pejabat negara melakukan korup dan menimbun hasil korupsinya dalam berbagai aset dan aksesoris berharga mahal  dihadiahkan kepada istri gelapnya. 

Tubuh.jpgGrafis Saiful Hadjar "Tubuh 17"

SKETSA: pesona tubuh jadi barang simpanan /tempat pencucian uang// ( TUBUH 17).

Dalam tubuh lain ketelanjangan menjadi sumber perenungan untuk memaknai tubuh dan fungsinya. Renungan tentang fungsi tubuh dan martabatnya sebagaimana dalam 

TUBUH 18 tubuh yang setia /menjaga kelamin/detak nafasnya terdengar/sampai nirwana //

Hubungan antara organ tubuh dan sebagai tubuh memiliki hubungan mutualisme, jika tubuh mampu mengendalikan organ kelamin maka ia berfungsi sebagai tubuh (manusia) yang memiliki akal dan mengendalikan syahwat dengan mempertimbangkan yang boleh dan tidak.  Keputusan berbuat dilandasi oleh akal sehat.

 Dari imajinasi Saiful Hadjar dilahirkan “sketsa”  grafis dan puisi, sebuah hibrid yang meleburkan antara sketsa dan puisi. Baik sketsa sebagai puisi dalam bentuk garis atau puisi sebagai sketsa dengan kesederhanaannya. Namun kesederhanaan tersebut mengandung berbagai imajinasi lain tentang persoalan-persoalan tubuh yang lebih kompleks. Dari persoalan tubuh biologis ke metabolisme politik bernegara dan berbangsa. Hibrida yang mungkin tidak banyak menyukai, namun yang pasti ini dilahirkan di negeri yang bineka rakyat dan budayanya dan tidak sedikit persoalan yang menyertai.

Tubuh3.jpgGrafis Saiful Hadjar "Tubuh 46"

Bagi Saiful Hadjar tubuh telanjang menjadi idiom yang bebas mengumpamakan berbagai persoalan yang berkecamuk di negeri ini. Teks puisi yang dilahirkan bukan hanya ilusi yang mengindah-indahkan kata tetapi sebuah teks yang mengabadikan peristiwa politik dalam kehidupan sehari-hari. Teks persoalan yang memadat dalam garis tubuh yang telanjang. Tubuh yang disubordinasi sebagai obyek dan tubuh yang berontak melawan sebagai Subjek. Ini salah satu perbedaan yang dimiliki Saiful Hadjar sebagai seniman yang mampu melakukan eksplorasi tubuh dari sifat biologisnya dan ditransformasikan ke dalam persoalan-persoalan politik. Ketelanjangan tubuh kerap terjebak aroma seksualitas beralih menjadi imaji-imaji politik kotor yang menjijikkan. Betapa dekat tubuh wangi perempuan dan bau busuk tubuh penguasa. Sebab Garis tubuh menjarah ruang imaji /tak habis dikupas tukang cerita// (TUBUH 46).

Selanjutnya Kepiawaian Permainan Saiful Hadjar dalam Puisi Pendek dan Sketsa. Puisi-puisi pendek Saiful Hadjar cukup menarik sebagaimana juga dapat dicermati dalam buku puisi “Lelah Membaca Indonesia.” Kumpulan puisi yang dekat dengan persoalan sehari-hari. Diksinya sederhana dan sangat biasa. Tapi dari hal biasa dan sangat sederhana itu menampakkan hal yang lain. Hal biasa yang mengundang banyak tafsir. 

Dua istri cukup

Tua muda sama saja (KB)

Sebuah puisi yang mengingatkan kita pada iklan Keluarga Berencana, :”dua anak cukup/laki perempuan/ sama saja). Kesederhanaan dan kecerdikan Saiful Hadjar dalam memainkan peristiwa di sekitar menjadi subjek lain  yang berbau kritik dan jenaka. Ia tidak jauh mengambil diksi tapi bisa jauh dalam pemberian makna. 

Puisi pendek menjadi pilihan sebagai antitesis terhadap perkembangan puisi mainstream. Saiful mampu keluar dari yang lazim, meski ia bukan yang pertama memulai. Ia cukup jeli untuk ambil bagian tanpa harus sama dengan yang lain. Ia dengan enteng bermain-main dalam persoalan sosial politik dan humaniora. Dalam pilihan sikap puisi pendek, Saiful mengambil pilihan puisi satu kalimat, permainan yang unik untuk menegaskan pilihan “ideologi” dalam berpuisi. Satu kalimat sebagai antitesis terhadap berbagai narasi panjang namun kehilangan isi.

BACA JUGA: RupaPuisi

Permainan garis dalam sketsa-sketsa yang dihasilkan merupakan sikap untuk menjadikan kesederhanaan garis sebagai ungkapan atas persoalan yang ada. Sketsa sebagai karya yang memiliki nilai yang sama dengan lukisan berwarna. Sketsa Saiful bukan sekadar garis dan obyek gambar, tetapi sebagai subyek dengan segala persoalannya. Bagi Saiful Hadjar sketsa sebagai subjek tak ubahnya sebagai puisi dalam bentuk garis yang memberikan multi tafsir bagi penikmatnya. Dalam permainan sketsa Saiful Hadjar mengambil pilihan terhadap tubuh perempuan sebagai subyek. Garis yang membangun bentuk dan makna perempuan. Sketsa sederhana kerap kali tubuh indah perempuan yang dipaparkan mengandung aroma menyedihkan. Namun sebagai subyek sketsa tubuh tersebut menyimpan perlawanan terhadap realitas yang meletakkannya sebagai subordinat dalam kekuasaan. 

Sketsa bagi Saiful bukan rancangan yang akan diteruskan ke dalam lukisan. Sketsa-sketsa Saiful, merupakan lukisan yang telah selesai. Garis hitam sebagai ungkapan terhadap seluruh pemikiran dan persoalan yang dihadapinya. Hanya dengan garis Saiful mencoba mengungkapkan seluruh persoalan melalui tubuh perempuan sebagai subjek. Hibrid Sketsa dan puisi  keduanya bisa berdiri sendiri dan lebur antara keduanya saling melengkapi makna. Permainan yang bukan sekadar main-main tetapi permainan sebagai relaksasi terhadap realitas yang menegangkan. (*) 

Penulis: Hidayat Raharja, aktif di dunia pendidikan sebagai gerakan kebudayaan, juga aktif di sastra, dan seni rupa, tinggal di Sumenep, Madura. Selain itu Pengelola Sekolah SMA Negeri Sampang.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda