Sastra filsafat:

Sastra PSK Melawan Kebisingan dengan Imaji

Kaleng-kaleng kosong. (FOTO: pixabay.com)

COWASJP.COM – Satu.

Hidup di tengah suasana politik gelap, rasa resah dan mengandung banyak tanya di setiap pemberitaan televisi, radio, media cetak, media online dan ada di berbagai media sosial (medsos) tak pernah ada setitik cahaya walaupun hanya sekejap saja. Saya dalam situasi itu hanya merasakan terbukanya dunia informasi dengan disertai peralatan yang canggih, sajian narasi, statement, foto, video dan gambar tak memberi jeda berfikir atau merenung, jadi tumpukan persoalan dari waktu ke waktu tak pernah terselesaikan - perang kata-kata tak terelakan, selalu gaduh seperti kaleng-kaleng kosong berbunyi telah mengganggu relung hatiku.

kaleng.jpgNoah Deledda, seorang seniman yang hanya menggunakan ibu jarinya membuat lekukan dan kerutan pada logam lunak kaleng kosong menjadi sebuah karya yang fantastis. (FOTO: liputan6.com)

Kita sering mendengar, bahwa kita adalah bangsa besar, berbudaya tinggi (adiluhung) di negeri sangat kaya-raya dan indah pemandangannya - negeri zamrud  katulistiwa dan gemah ripah loh jinawi. Ternyata itu hanya suara kaleng-kaleng kosong, suara pembelaan terhadap kepemimpinan jauh dari kebutuhan dan  keinginan rakyat. Sejenis pembodohan dan penipuan teroganisir dilakukan secara terang-terangan dan arogan, serta melakukan berbagai opologi  pembenaran menabrak konstitusi, jadi teror membuat rakyat apatis atau pesimis dalam lingkaran kehidupan serba gamang, tertekan dan gaduh, terkena krisis ekonomi di tengah pandemi covid-19, juga terdampak pada dunia pendidikan, kesehatan, sosial, keagamaan dan sebagainya, jadi korban ketidakadilan penguasa yang memihak pada pemilik modal besar. Semua ada batas di atas segala kehendak-Nya, ada jeda untuk direnungkan:

POST KOLONIAL 

Negeri mampu kau jadikan rumah sakit jiwa, selebihnya kehendak Sang Pencipta

#sastra_psk

Dua.

Dalam situasi dan kondisi politik mengancam kedaulatan kehidupan berbangsa dan bernegara memerlukan ketajaman intuisi dari seorang penyair, hadir berperan aktif dirinya sebagai mahkluk berfikir atas kesadaran sebagai pemimpin ada pada setiap diri manusia ikut serta bertanggung jawab menghadapi  berbagai persoalan datang bertubi-tubi sebelum menjadi lebih parah. Di antara banyak persoalan yang sedang menimpa negeri ini, tentunya mengambil satu persoalan dianggap jadi sumber berbagai persoalan mengancam eksistensi kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu adanya gejala mau ingin mengubah falsafah dasar negara merdeka atas rahmat-Nya, menjadi negara sekuler dengan disertai memutus mata rantai sejarah perjuangan para syuhada melawan pemerintahan kolonial. Hal tersebut semestinya tidak harus dilakukan atau terjadi selama masih mau mengaku dirinya, "Saya Indonesia Saya Pancasila" Kembali pada eksistensi tanah air:

IBU PERTIWI 

Surga ada di telapak kakinya, jika berjalan jangan diberi alas kaki agar tetap selamat, terjaga dan terpelihara []

#sastra_psk

Sebagai mana lazimnya seorang sastrawan, khususnya penyair ikut serta berperan aktif sebagai warga negara menghadapi banyak persoalan menimpa negara, seorang penulis salah satu senjatanya: Menulis terdorong  obsesi, tak bisa ditahan membuncah dalam dada, karena ada realitas mengganggu tatanan kehidupan tersebut di atas. Dengan demikian mengejawantahkan diri untuk melahirkan puisi serta gagasan dari lubuk hati yang dalam. Peran serta penyair tersebut dalam hal ini dengan sendirinya memilih jenis dan bentuk puisi mengisi khasanah dunia sastra, hal seperti itu sudah tidak bisa dihitung banyaknya. Mengingat pilihan jenis dan bentuk puisi adalah otoritas setiap penyair, masing-masing punya alasan sendiri untuk menyemarakkan dunia sastra tak pernah habis dikupas oleh masyarakatnya, bertebaran nilai-nilai sastra dari para penyair menyetubuhi ruang batin keluar dari keterasingan realitas kehidupan yang memenjarakan dirinya.

MAINSTREAM PENULIS

Berjalan dengan otak dikemudi dengan intuisi

#sastra_psk

Tiga.

Hidup di tengah-tengah bunyi kaleng-kaleng kosong, saya memilih menulis Puisi Satu Kalimat (PSK), dikenal dengan jenis puisi pendek atau epigram berbentuk satu kalimat, sebuah bangunan kalimat, bertingkat atau tidak sebagai pilihan ekspresi seorang penyair telah lelah membaca bunyian kaleng-kaleng kosong tersebut. Menulis  PSK, tidak lain kepiawaian penyair bermain akrobat kosa kata dengan didorong intuisi yang muncul dari intensitas latihan memainkan kata-kata, sebuah dorongan bisikan hati mengejawantahkan   pengalaman berfikir, merenung dan melihat gejala dari peristiwa kehidupan sedang terusik di era zamannya. Pilihan menulis jenis puisi pendek pernah dijalani oleh beberapa sastrawan pendahulu kita, seperti Ramadhan KH dan Sitor Situmorang di antaranya, turut menyertai karya-karya sastranya yang lain.

BACA JUGA: Ruang Tunggu Korek Api

Maka dari itu kutulis  sastra PSK sejenis epigram terikat dengan bentuk satu kalimat, juga terdorong kekuatan intuisi setelah mendapat pengalaman melihat, membaca, merenung, berfikir dan terlibat langsung terhadap kejadian-kejadian yang  menggangu dan meresahkan keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, dikarenakan dari bunyi kaleng-kaleng kosong mendominasi perpolitikan punya akses ke pejabat elite penentu  membuat kebijakan dan pelaksanaan mengelola negara - bermental makelar jauh dari kebutuhan dan keinginan rakyat kecil. Bertolak dari pemikiran tersebut, menghadirkan PSK tidak untuk bersaing keras-kerasan bunyi dengan kaleng-kaleng kosong itu dari pemberitaan di berbagai jenis media massa atau media sosial (medsos) yang melelahkan. Sebaliknya menulis PSK dikarena ketidakmampuan melihat keganjilan-keganjilan realitas kehidupan terlalu lama berlarut-larut tanpa ada upaya mencari jalan keluar. Dengan sendirinya  sebagai penyair tidak ingin kehilangan dirinya - bersamaan beriringan dengan realitas yang mengganggu tatanan kehidupan tersebut, ada hasrat dengan segala kemampuan mengungkapkan mimpi-mimpinya berupa akrobat kata-kata membangun ruang imajinasi sarat makna, sebuah proses kreatifitas yang kritis dan dinamis. Tentunya dengan PSK jenis puisi pendek kesannya tidak lengkap, namun hadir untuk melawan kelelahan membaca mengikuti dinamika realitas politik kaleng-kaleng kosong berbunyi nyaring - membangun ruang imajinasi sarat makna adalah ruang membaca di balik peristiwa-peristiwa yang mengganggu tersebut, menjadi sebuah perenungan, pencerahan, katarsis dan juga bisa berkelanjutan jadi agen perubahan, selalu menawarkan estetika baru, yaitu etika masa depan selalu berkembang di atas kepentingan menjaga tatanan kehidupan untuk semua golongan yang beradab. (*)

Penulis: Saiful Hadjar, aktif di sastra, teater dan seni rupa, tinggal di Surabaya.

#sastra_psk

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda