Selamat Jalan Cak Ipin, Pendiri Pojok Arena JTV Berguguran

Almarhum Arifin Hamid, salah seorang Pendekar Pojok Arena JTV. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Habis sudah, pendiri dan pioner program Pojok Arena  yang digandrungi jutaan bahkan mungkin puluhan juta para pemirsa TV Lokal JTV (Jawa Pos TV) itu. 

Kini, semuanya tinggal kenangan. 

Bukan saja programnya yang lama terkubur (dihilangkan oleh manajemen baru yang tidak suka olahraga, khususnya sepakbola). Entah mengapa? Padahal dulu Jawa Pos membesar dan digandrungi pembaca lantaran berita-berita olahraga dan khususnya sepakbola jadi barometer para pembaca. Manajemen baru sepertinya melupakan akar sejarah  Jawa Pos. 

Pendirinya pun kini berguguran. Meninggal dunia. Kini di alam kubur!

Tokoh terakhir yang menyusul empat rekannya, yang lebih dulu pulang ke rahmatullah itu adalah Arifin Hamid. Dia paling senior di antara pendiri program yang lahir bersamaan dengan Pojok Kampung itu.
Arifin Hamid meninggal dunia, Selasa (12/01/2021) malam di RS dr Soetomo, Karang Menjangan Surabaya, karena lama diserang diabetes melitus. Ia meninggal setelah lama purna tugas dari JTV.

Sebelum meninggal, Arifin masih berkarya di stasiun televisi Grup Siantar Top. Ia juga aktif mengelola media portal PenaIndonesiaKu.net. 
“Aku saiki duwe media online, cak. Alhamdulillah tak kelola sendiri. Pimred aku dewe. Wartawane yo aku dewe.. hehe,” ujar Cak Ipin, sapaan adik kandung Direktur Lensa Indonesia Joko Irianto Hamid ini.

Pengakuan itu meluncur ketika kami bertemu dalam jumpa pers di sebuah Warkop Kawasan MERR Juanda. Kala itu, saya mewakili media online Berita Rakyat. Sebagai pemimpin redaksi merangkap jadi wartawan. Kayak Cak Ipin he he.

Di depan wartawan baru dan muda, Cak Ipin selalu bercerita tentang kiprahnya ketika sama-sama di Pojok Arena. Kayak masa emasnya. Dan, saya kala itu kebetulan sebagai Eksekutif Produser. 
Arifin sebagai kameramen. Empat rekannya: Abdul Rozak (repoter, adik kandung penulis), Kholili Indro (Produser), Faizal Alfino (reporter), Zamzami (kameramen). 

Bersama saya dan kelima orang inilah lahirlah Pojok Arena. Program ini diciptakan untuk mengimbangi Lensa Olahraganya ANTV, yang top markotop itu.

Kami tayang untuk urusan olahraga regional. Terutama mendampingi kiprah Persebaya. Adalah Abdul Rozak, adik kandung saya, yang paling ngejos meliput Persebaya. 

Sampai-sampai tim olahraga Jawa Pos yang lebih dulu unggul dalam pemberitaan, sempat kepontal-pontal (kewalahan) mengimbangi liputan update Pojok Arena.

Betapa tidak. Tim Olahraga Jawa Pos benar-benar ditinggal pentolannya. Selain saya hijrah sebagai eksekutif produser. Saya menarik Kholili Indro dari redaktur sepak bola nasional ke produser Pojok Arena.

Karuan saja Pojok Arena pun jadi buah bibir. Rekan-rekan wartawan TV Jakarta mulai melirik. Khususnya yang biasa meliput sepak bola.

Kru Pojok Arena mampu membuat siaran langsung. Green Force Persebaya yang akan laga di kandang PSS Sleman rencananya disiarkan langsung. Sayang gagal karena hujan deras (lapangan banjir) dan pertandingan ditunda. 

Di lain waktu, kru Pojok Arena berhasil menayangkan langsung laga Persebaya v Persela Lamongan di Stadion Surajaya, Lamongan. Saat itu ribut. Geger suporter sebelum dan setelah pertandingan. 
Seiring dengan naiknya pamor Pojok Arena, seorang wartawannya meninggal dunia. Abdul Rozak. Pemain gelandang Tim SIWO PWI Jatim di Porwanas Makassar ini, terserang penyakit paru-paru basah akut. 

Ia meninggal dalam usia masih muda dan baru menikah. Usai pemakaman, Arek-Arek Persebaya memberikan penghormatan kepada almarhum Rozak dengan mengenakan ikat pita hitam di lengannya.

Saat itu, laga Persebaya live via ANTV. Tris Irawan sebagai repoter ANteve siaran langsung tak henti-hentinya menyebut nama Rozak dan JTV (Pojok Arena).

“Pemain-pemain Persebaya mengenakan pita hitam di lengannya. Itu sebagai penghormatan kepada meninggalnya wartawan olahraga Pojok Arena,” sebut Tris kala itu.

arifin1.jpgTim Pojok Arena generasi kedua. Foto tim seusai rapat di sebuah villa di Selekta, Batu, Jawa Timur. (FOTO: Dok Pribadi/JTV)

Sepeninggal Rozak, Pojok Arena mulai redup. Apalagi Kholili Indro diminta balik lagi memperkuat Tim Olahraga Jawa Pos. 

Hengkangnya kedua pendekar ini, membuat Tim Pojok Arena goyah. Apalagi Zamzami Putra Langit pun merasa kehilangan Rozak. Enggan bertahan di Pojok Arena.

Kameramen handal saat Persebaya live laga di kandang Persela Lamongan ini mendapatkan momen eksklusif. Dia bisa nyuting Bonek yang tewas terlindas truk. Zamzami kemudian memilih membuat program baru: Omah Doyong. Kisah perceraian yang dibuat kayak sinetron.

Wis lumpuh total Pojok Arena! Saya pun mulai tidak nyaman. 

Manajemen baru juga kurang mendukung program ini. Nggak jelas! Presenter andalan kami, Riska Indah juga henkang ke Jakarta. Gabung tivi nasional. Bayangkan, wartawan TV  lokal diterima langsung di TV Jakarta. Kalau tidak berkualitas mana mungkin. 
Inilah akibat dari manajemen yang tidak bisa merawat nilai-nilai keunggulan JTV. 

Cak Ipin tetap tegas. Bersama Alfino minta saya tetap mendampingi tim Pojok Arena. Kedua pendekar ini ingin bangkit lagi.

Pojok Arena merekrut generasi kedua. Saya bangga, teman-teman semangat. Kami malah sempat rapat akbar di Selecta, Batu. Hari itu, saya menyatakan berpisah.

Tongkat estafet Pojok Arena saya serahkan kepada Cak Ipin dan Alfino. Mereka menambah kekuatan baru. Merekrut wartawan-wartawan Koran.

Ada Enes Panderman, Gentur Mukti, Ismed, Alfian dan Arif Jepang. 

Presenternya masih ada Ririn, yang atlet ski ari Jatim itu. Dan, Sinar Yuliati yang cantik dan kini disunting perwira tinggi Polri. 

Sinar pindah ke Jakarta dan lebih mapan hidupnya ketimbang rekan-rekannya di Pojok Arena. “Sekarang Sinar tambah makmur Cak,” sebut Alfino kala itu.

***

Kembali ke almarhum Arifin Hamid. Dari sentuhan tangannya, mantan kameraman Stasiun TV Nasional Indosiar dan TPI ini melahirkan banyak karakter kameraman, reporter, presenter dan prosuder yang handal.

Termasuk Alfino, yang baru saja meninggal tahun lalu. Alfino karirnya terus menanjak. Dari reporter menjadi produser. Bahkan dia sempat mendapat bea siswa belajar di Stasiun TV Jerman Deutsche Welle (DW). 

Alfino.jpg

Foto kenangan Faizal Alfino (kiri) dan Abdul Muis Masduki (penulis) di Warkop Cowas JP Karangmenjangan, tahun 2016. (FOTO: CoWas JP)

Sayang dia menolak naik pangkat lebih tinggi. Bahkan, mengundurkan diri karena idealismenya. Dia kemudian menekuni bisnis barang antik.

Alfino sendiri meninggal dunia tidak melalui proses sakit. Ia meninggal seusai berwudlu. Menjelang shalat Isya. 

Yang mengalami sakit adalah Kholili Indro dan Zamzami. Zamzami meninggal setelah Alfino. Sebelum Alfino adalah Enes yang meninggal setelah dirawat di rumah sakit menyusul kecelakaan. 

Cak Ipinlah orang pertama yang memberitahu saya bahwa Zamzami meninggal 2 Juni 2020 lalu. Dia mengirim foto almarhum Zamzami yang masih gondrong itu pukul 02.28 WIB.

“Dia sekarang di rumah sakit cak. Saya gak tahu dikubur jam berapa,” jawab Cak Ipin ketika saya langsung telepon dini hari itu.

Sepeninggal Zamzami kami tak pernah jumpa lagi dengan Cak Ipin. Kita hanya saling sapa di japrian WA (WhatsApp). Saling kirim karya dan pujian.

Cak Ipin lah orang paling dekat dengan ibu saya. Yang sebentar lagi memasuki 100 hari meninggalnya. 

Setiap kali lewat rumah ibu di Jalan Karang Menjangan, Surabaya, Cak Ipin mampir. Ia bercerita tentang Rozak dan keluarganya.

Bila Hari Raya tiba, Cak Ipin kadang bersama Alfino berkunjung ke ibu almarhum. Kadang sendirian sembari memberi sesuatu ketika meninggalkan rumah ibu. 

Saya trenyuh. Mbebres mili (keluar air mata) kala ibu kami bercerita tentang kebaikan kedua rekan adik saya itu.

“Cak Amu itu orangnya tegas. Kadang keras. Tapi medidik. Hatinya baik dan lembut, walau suaranya meledak-ledak,” puji Cak Ipin kepada Ade Maulana, wartawan muda dari Berita Rakyat yang kini jadi Ketua KJJT (Komuitas Jurnalis Jawa Timur).

Cak Ipin juga pesan sama Ade. “Kalau kerja sama dia. Satu hal yang perlu anda camkan. Jangan bohongi Cak Amu. Dia tahu kalau kamu bohong. Kelasnya dia di jurnalistik itu wis koyok wali. Gestur tubuh dan hatimu bisa dia baca.” 
Ade nyengir mendengar pesan Cak Ipin di depan saya langsung.

Ya. Cak Ipin memang dituakan sesama rekan wartawan. Malah dia ada yang menyebut abah. Petuahnya selalu didengar yunior-yuniornya. 

Di usia yang sudah bercucu-cucu, Cak Ipin masih sanggup ke lapangan cari berita. Tak segan-segan memanggul kamera. Rekan-rekan wartawan banyak yang salut. Sungkan dengan keseniorannya.

Cak Ipin termasuk orang terakhir dari tim lapangan Pojok Arena yang gugur. Sebelum dia adalah Zamzami, Faizal Alfino, Kholili Indro dan Ernes Panderman, generasi kedua Pojok Arena.

Kini Pojok Arena yang sudah lama terkubur itu telah mengubur pula para pendiri dan pendekarnya. Karya-karya mereka kala itu sempat mewarnai berita-berita olahraga di Pojok Kampung dan Pojok Pitu yang masih eksis.

Selamat jalan rekan-rekan. Mohon maaf atas salah dan khilaf kami. Semoga kalian husnul khotimah dan diterima amal ibadahnya. Allahumma Amin. (*)

Penulis: Abdul Muis Masduki (Cak Amu), mantan Wartawan Jawa Pos dan JTV.

Pewarta : Abdul Muis
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda