Peradaban tubuh (2)

Tubuh yang Kesepian

Saiful Hadjar, (tak) lelah mengucap Selamat Pagi Indonesia. Foto kenangan 28-02-2011, 05:58 WIB. (FOTO: wordpress.com)

COWASJP.COMgemulai tubuh

sebuah puisi liris membelah angin

#seni_dsri: TUBUH 51

SATU

Semula berangkat dari iseng menggambar bentuk tubuh telanjang. Saya lakukan di tengah-tengah kesibukan, kerja, sarasehan, seminar, berkumpul sesama pencita dan pekerja seni atau sedang sendiri di mana saja. Menggambar di kertas apa pun setelah itu saya buang. Kalau dikumpulkan semua bisa dipastikan banyak dan sulit memeliharanya. 

Dari hal tersebut tiba-tiba ada keinginan membuat karya seni tentang tubuh dari sudut pandang yang tidak banyak disentuh para seniman.

Saiful-Hadjar-4.jpgSaiful Hadjar (penulis), tiba-tiba ada keinginan membuat karya seni tentang tubuh dari sudut pandang yang tak banyak disentuh. (FOTO: istimewa)

Bagi saya, tubuh sintal, montok dan ranum lebih tepat dinikmati dari pada diabadikan (digambar). Lain dengan tubuh yang ringkih, kerempeng, gembrot dan bentuknya sudah tidak beraturan lebih manarik. Juga tidak kalah untuk jadi objek yang insipiratif dan imajinatif menyentuh banyak persoalan di segala aspek kehidupan. Dengan demikian bicara tentang berbagai bentuk tubuh telanjang tak hanya berhenti sebatas memberi kesan negatif atau image (gambaran) porno.

Dari latih gambar tubuh secara intens, yang dilakukan dengan setia dan cinta sampai di puncak kejemuan, menjadi kenikmatan tersendiri dari kegiatan menggambar itu sendiri. 

Selain itu jadi lebih paham tentang makna garis mencapai berbagai sudut pandang (posisi) objek - setiap garis yang lahir dari dorongan getaran jiwa merekam objek menjadi kesatuan, dengan sendirinya menghadirkan ruang imaji. Semuanya merupakan daya untuk membentuk gambaran (imaji) secara tidak langsung adalah konsep-konsep mental yang didapat dari sensasi (penginderaan). Itu adalah aktivitas produktif yang mengintensifkan sebuah objek dengan cara tertentu. Menciptakan maknanya sendiri dari diri sendiri dengan kepandaian memanfaatkan imaji ke dalam tantangan kreatif menjadi karya seni.

Bertolak dari mendapatkan pemahaman di atas, beberapa gambar (tubuh) sempat tersimpan, 50 karya lebih saya angkat jadi karya sketsa grafis (teknik cukil jenis kayu atau cetak tinggi). 

Selain itu dengan sadar apa yang saya lakukan di tengah-tengah perkembangan seni grafis mengalami tantangan berat. Terutama menghadapi keberadaan atau perkembangan begitu pesat dunia produk cetak reproduksi dan perkembangan seni rupa pada umumnya. 

Kenyataannya semakin lama semakin canggih secara teknik, sangat menarik secara rupa dan terjangkau harganya. 

Saiful-Hadjar-5.jpg

Dengan sendirinya perhatian pada seni grafis (seni murni) semakin menurun. Maka dari itu persoalan tubuh dengan sentuhan seni grafis berkeinginan memberi keunggulan dan keunikan tersendiri. Dibanding dengan perkembangan dunia produk cetak reproduksi yang begitu hebat dan juga tak ingin ketinggalan dengan perkembangan seni rupa lainnya.

DUA

Begitu pula dengan puisi pendek bertema tubuh juga dibuat dengan iseng dengan intensitas terjaga dilakukan sejak tumbangnya Orba (Orde Baru) 1998. 

Menangkap persoalan tubuh berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan dalam keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. Tidak lepas dari penangkapan panca indera disertai dengan pengalaman maupun pengetahuan. Dari penghayatan sebuah peristiwa dengan cara cermat atau teliti. Membangkitkan pemahaman tentang tubuh sebagai sesuatu yang berkait dan sifatnya yang komplek di tengah perkembangan peradaban yang sedang berjalan. Menggambarkan kepiawaian mengakrobatkan kata-kata dengan cara apa adanya atas pertimbangan pengalaman, pengetahuan dari lubuk hati yang dalam. Menjadi sebuah puisi, yaitu pilihan kosa kata membangun ruang imaji bersentuhan nilai-nilai estetika.

Berwujud jadi puisi imaji, mengambarkan atau imaji yang memberi suguhan langsung dengan bahasa yang lugas, tanpa kembangan-kembangan kosa kata yang mengaburkan gambaran yang hendak dibangun. Juga tidak banyak menonjolkan emosi, karena sudah mengikat di dalam atau menyimpan perasaan penciptaannya yang sedang tergiur dengan pesona atau suasana yang direkam. 

Dengan sendirinya perasaan atau emosi  yang dihadirkan, tertulis menjadi puisi liris. Karya puisi yang menghidupkan perasaan atau emosi antara pencipta dengan penikmat dalam sebuah ruang imaji ada di karya tersebut.

Saiful-Hadjar-6.jpg

Lebih jauh, puisi liris mengandung dua elemen, yaitu antara menyatakan perasaan yang samar-samar menyatu dengan objek yang tidak menutup kemungkinan tergelincir dalam puisi gelap. Puisi yang kehilangan kontak dengan pembaca - puisi menguap begitu saja sebelum habis dibaca. Maka dari itu, menghadirkan puisi liris membutuhkan kecerdasan pencipta memainkan kosa kata, menghadirkan semiotik yang dapat mengikat pembaca menciptakan ruang dialogis yang imajinatif, inspiratif dan unik.

TIGA 

Mempertemukan puisi pendek dengan sketsa grafis yang dibuat secara iseng atau coba-coba, jadi sebuah kebutuhan yang datangnya secara tiba-tiba. Tanpa perencanaan yang matang dan secara spontan. Merupakan perjalanan proses kreatif karya seni yang dibuat secara iseng menjadi perhatian serius. Makin lama makin terasa bahwa karya seni tentang tubuh tersebut terwujud mencerminkan (imaji) seorang yang sedang bicara sendiri, dalam keterasingan dan merasa kesepian. Pembicaraan dalam batin di tengah-tengah dinamika problematik kehidupan yang komplek sedang bergejolak. Seperti sebuah tubuh kehilangan kontak dengan tubuh-tubuh lain dalam sebuah sistem berinteraksi yang peduli dengan segala persoalan, dalam perkembangan peradaban yang sedang kita hadapi bersama.

Lebih jauh perlu diketahui, bahwa puisi pendek dan sketsa grafis, kelihatan sangat sederhana dan tidak lengkap. Puisi pendek dengan unsur utama kata-kata dan sketsa grafis dengan unsur utama garis bukan berarti karya tidak selesai - tidak bisa disebut sebagai puisi kesimpulan atau sketsa bagan yang membutuhkan kelanjutan untuk disempurnakan. 

Dua karya seni tersebut bisa dikatakan sudah selesai dan menjadi karya mandiri. Artinya juga bisa jadi karya berdiri sendiri-sendiri tanpa keterkaitan.

Mengumpulkan puisi pendek dan sketsa grafis dengan satu tema - dalam satu ruang imaji dengan unsur utama berbeda (kata dan garis), memiliki daya ungkap dan cara berbeda yang memerlukan kecermatan atau ketelitian. Menjadi karya dalam kesatuan memberi gambaran (imaji) seperti pertemuan antara tubuh-tubuh  (manusia) dalam satu pembahasan (ungkapan) berbekal pengalaman, pengetahuan dan penghayatan masing-masing, setiap tubuh yang berbeda-beda. Meskipun terjadi perbedaan atau perselisihan, bisa saling mengisi, melengkapi, mengontrol dan mengembangkan tema yang dibahas. Begitu juga dengan mempertemukan puisi pendek dan sketsa grafis bisa memberi perspektif lebih komplek. Tentunya menjadi pembahasan menarik tentang tubuh satu tema karya seni dalam ruang imaji (#seni_dsri), merupakan peran aktif tubuh dalam sebuah perkembangan peradaban yang sedang berlangsung pada zamannya. 

BACA JUGA: Peradaban Tubuh

Maka dari itu dua karya seni tersebut bisa berdiri sendiri, ketika jadi kesatuan di pertemuan dalam satu ruang imaji, tentunya bisa saling melengkapi dan lebih menghidupkan ruang dialog imaji tersebut. Tanpa menghilangkan kemungkinan buruk dalam dunia seni yang dekat dengan permainan metafora, simbol, tanda dan sebagainya, bisa menjadi alat penyebaran kebohongan, fitnah, adu domba dan sejenisnya. Tentunya dengan dunia seni pula bisa menjelma jadi ruang dialog imaji antara tubuh-tubuh tempat jiwa atau roh memerankan dan mempertanggung jawabkan dirinya sebagai manusia berpikir soal kebudayaan, selalu berproses mendekati kehidupan yang sempurna. (*)

Penulis: Saiful Hadjar, aktif di teater, seni rupa dan sastra, tinggal di Surabaya.

#seni_dsri (Dalam Satu Ruang Imaji)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda