Sepenggal Kisah Capt Afwan, Pilot SJ 182

Saat acara angkatan dari kiri: Capt. Sugiono (alm), Capt Afwan, Capt. Khalik, Capt. Agus Dwi, Capt Yudi. Berdiri: Capt. Hasan Basri (suami penulis). (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Kematian memang niscaya. Ada banyak kisah di balik peristiwa, terutama kematian. Terlebih kepergian yang mengundang banyak mata dan telinga seperti jatuhnya pesawat SJY 182 kemarin (9/1/2021). Sepenggal kisah pun ditinggalkan Capt Afwan bagi saya.

Mungkin juga menjadi kisah bagi banyak orang  di luar sana.

Tulisan ini tak ingin menambah jumlah tulisan di media sosial sebagai glorifikasi. Tulisan ini hanya berbagi bagaimana sebuah nasihat disampaikan melaluinya. Tak hendak menilai amal dan ibadah seseorang. Sebab siapalah kita, mengira amal semata yang mengantar kita ke Surga. Sebab sesungguhnya kehendak-NYA  yang menempatkan kita di mana. Hanya kehendak dan Ridha-NYA.

Tetapi kisah selalu punya cara membawa kita pada satu titik, belajar.

Saya mengenalnya sejak awal pernikahan di awal 90-an. Saya menikahi teman satu angkatannya di Sekolah Penerbang TNI AU. Dari sekian banyak teman satu angkatannya, kebetulan sekali Afwan ditempatkan di Skadron yang sama dengan suami. Sama-sama menerbangkan C-130 Hercules, dan bersama-sama berdinas di Halim Perdanakusuma. Ada tiga orang yang bersama-sama menjadi perwira pertama di sana saat itu. Suami saya, Hasan Basri, bersama Afwan, dan Nuryani.

Ketika kami meninggalkan masa lajang, dan menempati rumah dinas di Halim, Afwan dan Nur belum lagi. Tak heran, ada satu dua saat manakala suami harus berdinas agak lama, sebagai tempat bertumpu dan bertanya tentu teman terdekatnya saat itu. 

pilot1.jpgAlmarhum Capt. Afwan. (FOTO: dok. Capt. Hasan Basri)

Ambil saja satu waktu, ketika sebuah insiden memaksa mas tinggal di Papua lebih lama. Padahal itu masih awal setelah pernikahan. Saya, yang canggung di lingkungan baru, cukup terbantu dengan jengukannya (disambangi Afwan) sesekali. Apalagi saat itu, kami belum lagi mampu memasang telepon di rumah dinas kami. Atau ketika dalam keadaan hamil, sebagai anggota PIA saya tetap diwajibkan ikut arisan. Kadang saya diantarkan pulang dari Skadron naik mobil jemputan skadron yang padat. Demikian beragam kisah kecil, tak istimewa barangkali. Meski begitu ingatan ini memastikan kebaikan hati Almarhum Afwan. 

Waktu berkurang dengan satu demi satu dari mereka bertiga meninggalkan masa lajang. Dan berkeluarga seperti kami. Termasuk Afwan. 
Seperti banyak kehidupan yang melewati saya, saya melihatnya tak jauh berbeda dengan teman-teman perwira di sekitar suami. Dengan aneka kisah dan perilaku.

Selepas masa wajib dinas TNI AU, kebetulan juga Afwan dan suami saya sama-sama masuk ke Garuda Indonesia. Meniti lagi dari awal, menghabiskan tabungan kami demi lisensi sipil, memasuki dunia baru. Dunia penerbangan sipil. 

Tentu, kali ini kami harus meninggalkan rumah dinas kami, dan menempati rumah sendiri di pinggir luar Jakarta, sementara mas Afwan tetap di "pusat hidup" di Jakarta. 

Kehidupan kami kian berbeda. Gaya hidup kami pun kian menjauh. Setidaknya ada berbagai kisah yang mampir ke pengetahuan kami, sampai hidup mengujinya dan ia terpaksa memulai kehidupan pernikahan yang baru.

Sejak masa itu, kami pelan-pelan melihat perjalanannya berhijrah. Dalam segalanya ia menunjukkan konsistensi berada di sana. “Kenapa sekarang jarang aktif bersama kita,” begitu tanya teman-teman seangkatannya. 
Ia menjawabnya dengan penuh keyakinan, “Saya harus menembus segala hal yang terjadi di masa lalu.” 

pilot2.jpgPesawat Boeing 737-500 dengan nomor penerbangan SJ182 milik maskapai nasional Sriwijaya Air yang jatuh pada Sabtu (9/1/2021). (FOTO: cnbcindonesia.com)

Suami saya dan Afwan hampir selalu bersinggungan dalam perjalanan karier yang sama, dari Garuda sempat ke Lion dan berujung di Sriwijaya. Hanya saat suami pindah ke Jordan lalu Riyadh, mereka tak berada dalam satu maskapai. Tapi yang berbeda mungkin cara kami berjalan.

Kami rasanya berjalan di tempat. Dengan gaya hidup yang relatif di situ saja. Sementara, mas Afwan benar-benar meniti jalan hidup yang kian bijak dan dalam. Ia benar-benar menjadi sosok baru dalam dua dekade terakhir. Ia masih Afwan yang suka bercanda dan banyak senyum jika kami bertemu. Tetapi sosoknya kian menumbuhkan rasa hormat kami. Ia telah menjadi sosok yang pantas menjadi “Master of his fate, and Captain of his soul.”

Hingga tulisan ini saya buat, belum lagi jenazahnya ditemukan. Meski ada harap akan selamat, namun rasanya kecil kemungkinannya. Kemarin kami bertandang ke rumahnya di Cibinong. Pipit, panggilan istri Mas Afwan -- ibu dari tiga putri shalihahnya, bertutur. Kemarin lalu, mas Afwan memintanya untuk dibangunkan sebelum dhuhur, hendak rehat sejenak katanya. Menurut pengetahuannya ia terjadwal terbang pukul 17.00, sehingga direncanakan pukul 14.00 akan berangkat dari rumah.

Pukul 09.00, mobil jemputan terbang sudah terparkir manis di depan rumahnya. Tak melihat sosok Afwan keluar dari rumah, sopir pun mencoba menghubungi berkali-kali. Akhirnya menanyakan kepada Pipit. Selidik punya selidik, ternyata Afwan salah melihat jadwal, pukul 14.00 ternyata departure time (waktu terbang/berangkat) dalam schedule. Akhirnya, Afwan segera bersiap.

“Baju dan celananya belum disetrika, masih kusut,” cerita Pipit tergugu. “Saya sudah tawarkan untuk menunggu sebentar agar saya setrikakan,” lanjutnya. Tapi Afwan menolak halus, tak ingin membuat sopir menunggu, juga tak ingin penumpang menunggu karena keterlambatannya.

“Lima belas tahun kami menikah, baru kali itu dia pergi terbang dengan pakaian kusut,” sesal Pipit. Alih-alih marah, Afwan membelai kepala Pipit dengan penuh sayang dan berkata, “Abi pakai jaket koq,” hibur Afwan berkali-kali menenangkan Pipit yang merasa bersalah karena itu. 
Berbekal air teh manis, dan telur rebus dua butir, Afwan pun pergi. Dan pergi untuk selamanya.

“Saya ingin bertemu lagi dengan dia di sana,” suara Pipit kian pelan dan pedih.

Dan saya merasa menyusut.

Merasa begitu payah dalam menjalani hidup ini.

Mas Afwan memang tak mengajari dengan kata-kata. Tapi melihat betapa semua memandangnya dengan hormat, jejak yang begitu indah. Tanpa banyak buih kata-kata, dengan sederhana kami diajarkan makna sesungguhnya berhijrah.

Selamat jalan Capt. Lead the way. Semoga kami bisa menyusuri jejakmu.(*) 

Bekasi, 11 Januari 2021 dini hari.

Penulis: Decy C. Widjaja, yang suaminya juga pilot sahabat Almarhum Kapten Afwan.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda