Sharing Sekadar Melepas Rasa Jenuh

Mansyur Effendi (penulis) kini bisa jalan-jalan bersama cucunya dengan sepeda motor matic roda tiga. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Ada kejadian-kejadian yang tidak akan pernah dirasakan dan dialami oleh teman-teman dan saudara-saudara yang masih mempunyai kaki lengkap kanan dan kiri

Sobat-sobat sekalian yang aku kenal, mari kita sama-sama mensyukuri secara terus menerus, atas semua yang ada di tubuh kita. 

Rasa syukur akan berlipat ganda setelah kita kehilangan salah satu anggota badan vital kita. Apalagi yang berpasangan, ada kanan ada kiri, seperti tangan, kaki, dan mata.

Coba Anda bayangkan kalau salah satu dari pasangan itu nggak ada, anda akan menangis berkepanjangan, seperti yang aku alami sekarang ini.

Sebetulnya udah lama juga kejadiannya. Kaki kanan saya diamputasi (di bawah lutut) tepatnya pada 5 Juni 2019. Artinya sampai sekarang udah satu setengah tahun atau 18 bulan, tapi rasanya masih belum bisa merasakan kenyamanan sedikit pun. Belum bisa beradaptasi sepenuhnya dengan kondisi ketika kaki kanan saya telah diamputasi. 

Tapi saya sangat bersyukur banget, karena nyawa ini masih ada di ragaku yang sudah mulai renta.

Banyak sekali saudara-saudara kita yang baru beberapa bulan diamputasi, berakhir meninggal dunia. Rata-rata karena infeksi langsung menabrak jantung dan mengakibatkan penderita meninggal dunia. Saudaraku sendiri sudah ada 2 orang yang mengalami demikian.

Kembali pada pokok cerita yang saya anggap lucu dan saya bisa tertawa sendiri.

Sahabat... 

mansyur1.jpg

Yang paling awal ketika jahitan (bekas amputasi) sudah sembuh, saya masih merasa punya kaki kanan. 

Ketika tidur rasanya seperti telapak kaki kanan saya terasa gatal. Ketika akan digaruk ternyata kosong, karena sudah diamputasi. Yang ada hanya selimut yang membungkus kaki bawah lutut kanan.

Saat kebelet mau kencing, keburu turun dari tempat tidur, eeee jatuh, karena merasa masih ada kaki kanan untuk berdiri. 

Duuuuh sakitnya, karena sarafnya terjepit. Untung jahitannya nggak sampai terbuka.

Saraf kaki yang terpotong rasanya ingin bereaksi juga, sehingga secara bersamaan ingin bergerak. Akibatnya gerakan kaki (kanan) seperti diempaskan dengan kuat dan cepat. Yang melihatnya pasti heran. Isteri saya sendiri pun sangat kaget, sepertinya kok nggak mungkin.

Saat tidur telentang orang lain melihat aku pasti akan tertawa, karena pasti tangan kananku bermain-main dengan kaki kanan yang tinggal separo.

Mengapa? 

Ya, secara naluri aja ingin mengelus-elusnya hingga kantuk datang dan tertidur. 

Yang bikin jengkel adalah komentar isteri saya melihat aku tiduran telentang gak pakai baju. 

"Wah kayak bayi telentang mainan kaki," katanya. 

Kalau sudah begitu saya langsung bereaksi kayak mancal sepeda sambil telentang. 

Coba kalau sudah seperti itu apa nggak menggelikan. 

Sampai sekarang pun, rasa seperti punya kaki masih ada, yang mau tidak mau tangan ini ingin mengelus-elus bekas potongan kaki tersebut. Kemudian timbul rasa nyaman, tenang, dan perasaan ikhlas.

Kamar depan rumah saya disediakan Rumah Singgah untuk pasien RS Universitas Airlangga.  Suatu ketika ada pasien dari Makassar yang menyewa kamar tersebut bersama temannya. 

Kebetulan kaki palsu saya tergeletak di bangku cor yang ada di teras. Paginya dia cerita kepada isteri saya bahwa temannya tadi masuk kamar dengan gemetaran. Karena melihat ada potongan kaki di luar. 

Setelah dijelaskan bahwa itu kaki palsu, tertawanya meledak, termasuk aku juga yang punya kaki palsu itu. 

Sahabat, sepertinya masih banyak hal yang menggelikan, tapi ada juga yang selalu merepotkan orang lain. Satu di antaranya adalah, saat aku ke teras rumah, karena merasa lelah kaki palsunya aku lepas. Saking asyiknya lupa nggak memakai lagi kaki palsu. Lantas saya masuk ruang dalam rumah dengan walker (alat bantu yang selalu aku buat jalan tanpa memakai kaki palsu). 

Begitu teringat bahwa kaki palsu saya tertinggal di teras, siapa pun akan saya teriaki. Cucu saya Najwa atau istri saya. 

"Tolong ambilkan kaki saya yang ketinggalan di teras."

Jawabnya malah menjengkelkan, "Kaki yang kanan apa yang kiri"? Weladalah.... 

Ada satu lagi kisah lucunya. Saat menjalani rehabilitasi kaki (kiri) di RS Universitas Airlangga,  yang menangani dua orang dokter wanita yang sama-sama cantik. 

Kaki kiri saya yang utuh perlu direhabilitasi karena sebelum kaki kanan saya diamputasi, saya sangat jarang sekali berjalan. Berbulan-bulan. Begitu pula setelah kaki kanan saya diamputasi. Karena itu kaki kiri saya jadi mengecil dan melemah. 

Usai proses rehabilitasi, salah seorang dokter yang cantik itu sibuk mencari-cari sandal saya di kolong bed. 

Terus saya tanya, "Dokter mencari apa?"

"Cari sandal bapak yang satunya (yang sebelah kanan)," jawabnya. 

"Lho dok saya kan hanya pakai satu sandal. Kaki yang satunya kan gak pakai sandal," kata saya. 

Sang dokter cantik itupun tersadar. Kemudian senyum-senyum menahan malu.(*)

Penulis: Mansyur Effendi, mantan bagian pemasaran dan pracetak Jawa Pos.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda