Bisa Dukung Program Biodiesel Pemerintah

Minyak Jelantah Melimpah, Bisa Jadi Berkah

COWASJP.COM – Limbah minyak jelantah yang melimpah dapat dimanfaatkan menjadi berkah untuk mendukung program pemerintah. Itulah yang menjadi benang merah webinar Katadata bertema Peluang Minyak Jelantah Sebagai Alternatif Bahan Baku Biodiesel, Kamis (7/1).

Webinar ini menghadirkan narasumber seperti VP Strategic Planing Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional Prayitno, Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna, Ricky Amukti (Manajer Riset Traction), Tenny Kristiana (Researcher ICCT untuk Program Bahan Bakar), dan Andy Hilmi (Pendiri GenOil Makassar).

Menurut data, Indonesia termasuk salah satu negara pengguna minyak sawit yang cukup banyak. Pada 2019, penggunaan minyak goreng di Tanah Air mencapai 13 juta ton per tahun atau setara dengan 16,2 juta kiloliter per tahun. Sedangkan potensi minyak jelantah setiap tahunnya 3 juta kiloliter.

Adalah Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna yang menegaskan bahwa minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) memiliki berbagai kegunaan, terutama untuk biodiesel. "Kalau (minyak jelantah ini) bisa kita kelola dengan baik, bisa memenuhi sebagian kebutuhan biodiesel nasional," ungkap Andriah.

Ditambahkannya, pengembangan biodiesel berbasis minyak jelantah memiliki peluang untuk dipasarkan baik di dalam negeri maupun untuk diekspor. Dipasarkan di luar negeri pun memiliki peluang yang cukup besar.

Dengan memanfaatkan minyak jelantah, biaya produksi pun bisa lebih hemat 35 persen, dibandingkan dengan biodiesel dari minyak nabati yang dihasilkan dari tanaman buah kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO).

"Tapi, ini harus dilihat lagi, karena kita lihat dari beberapa industri yang ada tidak bisa sustain. Ada hal-hal yang memengaruhi biaya operasionalnya," lanjut Andriah.

Sementara itu, VP Strategic Planing Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional Prayitno lebih banyak bercerita tentang pemanfaatan minyak jelantah sebagai feedstock biorefinery.

Menurut Prayitno, pekerjaan rumah besar untuk minyak jelantah atau UCO adalah bagaimana kita mengumpulkan minyak jelantah untuk skala industri, termasuk logistik dan handling-nya. "Kita bisa benchmark dari perusahaan di luar (negeri), bagaimana mereka mengumpulkan minyak jelantah," jelas Prayitno.

 "Untuk CPO, kita perlu jaminan feedstock serta semacam kebijakan atau support dari stakeholder untuk memastikan secara bisnis juga, baik bagi perusahaan yang melaksanakan kegiatan ini," tandasnya.

Prayitno banyak menceritakan upaya Pertamina mengelola gasoline, biodiesel maupun HVO. Mulai dari Kilang Dumai, Plaju hingga Cilacap.

Andy Hilmi dari GenOil Makassar yang selama ini telah mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel menceritakan pengalamannya. Usaha yang didirikannya sejak mahasiswa itu harus dengan perjuangan berat. Modal diperoleh dengan menggadaikan motor, mobil dan tanah.

Namun, upayanya untuk mengelola minyak jelantah demi kesehatan dan lingkungan berkembang dengan baik. Produksi minyak jelantah sebesar 17.600 liter/hari di Makassar sebagian sudah bisa dikelolanya. Bahkan, GenOil bisa memproduksi 1 liter biodiesel dari 1 kg minyak jelantah. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda