Sandiku Sayang Tinggal Dikenang

Sandiaga Salahuddin Uno disayangkan mau menerima jabatan menteri. (FOTO: Facebook)

COWASJP.COM – TERPILIHNYA Sandiaga Salahuddin Uno sebagai salah satu menteri baru pemerintahan Jokowi-Ma’ruf tak pelak merupakan salah satu fenomena yang unik dalam percaturan politik bangsa. Sebab hal itu telah menjadikan dua rival Jokowi-Ma’ruf – yang dulu seolah tak terkalahkan – kini bertekuk lutut sebagai anak buah Jokowi. 

Bagi orang-orang yang dulu jadi pendukung mereka, hal ini ibarat luka yang tiba-tiba diasami dengan perasan jeruk. Semakin disadari, semakin terasa perihnya. Semakin direnungi, semakin dalam jatuhnya airmata. 

Harus diakui dan tidak diragukan lagi, Sandiaga Salahuddin Uno sudah menjadi nama yang besar. Jauh sebelum jadi menteri seperti sekarang. Nama ini telah jadi magnit penanggukan suara pemilih dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Khususnya bagi kalangan milenial. Yang lebih cenderung memilih tokoh muda yang potensial seperti dirinya. 

Apalagi sebagai Cawagub pasangan Cagub Anies Baswedan. Salah satu nama besar lainnya dari kalangan tokoh muda. Yang kemampuan personal maupun kapabilitas kepemimpinannya sudah diakui banyak kalangan. Dus, sebagai seorang pengusaha muda kaya raya, nama ini diidolakan begitu banyak orang. 

Sandi – begitu ia akrab disapa – tidak hanya dikenal sukses sebagai pengusaha. Tapi juga terkesan alim. Untaian tasbih seolah tak pernah lepas menghiasi jari jemarinya. Seolah sudah jadi bagian dari gaya hidupnya. Bukan dimaksudkan sebagai alat pencitraan. Karena tidak mesti difoto secara khusus. Lalu disiarkan untuk konsumsi publik. 

Di samping itu, sejumlah pemberitaan tentang dirinya pun selalu viral di berbagai media. Di antaranya, tentang ketaatan ibadahnya. Tentang ibadah sholat dhuha yang tak pernah tertinggal. Tentang tips sukses yang pernah dia bagikan di berbagai seminar. Misalnya, bagaimana caranya rejeki mengejar kita. Bukan kita yang susah payah mencari rejeki. Yaitu dengan rutin mengerjakan sholat dhuha. 

Bagi generasi muda Islam khususnya, suami Nur Asia Uno ini juga jadi idola yang ingin mereka tiru. Tidak hanya karena kesuksesannya sebagai pengusaha muda yang benar-benar tajir. Begitu juga bagaimana begitu gencarnya pemberitaan di berbagai media. Soal tingkah dan prilakunya yang tawadhu’. Tidak mentang-mentang sebagai orang kaya muda. Yang tidak sedikit pun tampil menyombongkan diri. 

Selain itu, tidak sedikit pula yang mengagumi ibadah-ibadah khusus yang rajin dia jalankan. Misalnya, soal intensitas dirinya dalam melaksanakan puasa Daud. Yaitu puasa rutin berganti hari. Sehari puasa, sehari tidak. Yang tidak mudah dilakukan banyak orang. Apalagi bagi kalangan milenial. 

sandi.jpgSandiaga Uno dan sang isteri, Nur Asia Uno ketika usai pencoblosan Pilpres 2019. (FOTO: bisnis.com)

Denganmu seabrek kesuksesan yang telah dia raih, Pemilik perusahaan besar PT Saratoga Investama Sedaya Tbk ini begitu dielu-elukan kalangan pemilih muslim. Apalagi dalam pilkada DKI Jakarta 2017, kebetulan dia dan Anies berhadapan dengan Basuki Tjahaya Purnama (BTP) alias Ahok. Yang berpasangan dengan Jarot Saipul Hidayat. Bertepatan pula dengan saat Ahok dilaporkan ke pihak berwajib sebagai penista agama. 

Karenanya momen pilkada DKI Jakarta 2017 plus meningkatnya desakan agar Ahok dipenjarakan sebagai penista agama adalah momen yang tepat bagi pasangan Anies-Sandi. Yang membuat mereka menjadi “the right man in the right place and the right moment”. Yang melahirkan dukungan dari jutaan umat Islam. Sehingga terjadinya aksi demo damai yang luar biasa di seputar Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Berjilid-jilid. Berlapis-lapis. Ketika jutaan orang datang tidak hanya dari seputar Jakarta. Tapi juga dari berbagai pelosok tanah air. Untuk mendesakkan tuntutan agar BTP, yang dianggap menistakan agama Islam, ditahan. 

Tak dapat dipungkiri, semua itu telah memberikan dukungan yang tidak terbayangkan kepada pasangan Anies-Sandi. Gerakan massa untuk menuntut agar BTP dipenjarakan telah diperjuangkan sejumlah nama organisasi massa Islam. Seperti PA 212 yang dipimpin Slamet Ma’arif, GNPF MUI yang diketuai Ustadz Bachtiar Nasir, EfPiAi yang diimami EjArEs. 

Apalagi gerakan massa yang penuh gelora itu juga didukung sejumlah ulama terkenal. Seperti pimpinan Pesantren Darut Tauhid Bandung KH. Abdullah Gymnastiar (AA Gym), pendakwah sejuta umat Ustadz Abdul Somad (UAS), pimpinan Perguruan Islam Asy-Syafi’iyah KH. Abdul Rasyid Syafi’i dan banyak ulama besar lainnya. Semuanya tidak hanya berhasil mendesakkan agar BTP dipenjara. Tapi juga berhasil menggelorakan semangat umat untuk menjatuhkan pilihan mereka kepada Anies-Sandi. 

Momen Pilpres 2019

Hemat kita, gerakan massa Islam dan dukungan para ulama kondang tidak hanya melejitkan nama Sandi di pentas Pilkada DKI Jakarta 2017. Tapi juga sebagai Cawapres yang layak dipilih pada Pilpres 2019. Karenanya momen Pilpres 2019 itu merupakan momen yang sangat penting bagi perjuangan politik Sandiaga Uno. 

Apalagi pada momen yang tepat itu, dia berpasangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra yang juga mantan Danjen Kopasus Prabowo Subianto. Tokoh militer yang tidak kalah tajir. Yang menjelang Pilpres 2019 lalu banyak disebut sebagai salah satu “macan asia”. Tokoh yang diharapkan akan mampu membawa negeri ini menjadi negeri yang besar. Negeri yang gemah ripah loh jinawi. Baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur. Negeri yang aman sentosa dan sejahtera, yang bernaung di bawah panji-panji Allah. Tuhan yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. 

Sayangnya, pada momen Pilpres 2019 itu mereka justru kalah. Tidak pada tempatnya lagi kita bicara tentang isu kecurangan yang terjadi dalam perhelatan besar itu. Walaupun isu itu santer disuarakan para pendukung mereka. Toh pada akhirnya mereka memang kalah. Joko Widodo alias Jokowi terpilih jadi presiden untuk kedua kalinya. Didampingi Mantan Ketum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amien.

Betapa besarnya duka umat Islam ketika kekalahan itu akhirnya jadi kenyataan. Tak dapat mereka bantah. Tak dapat mereka tolak. Karena pada akhirnya Jokowi-Ma’ruf dilantik sebagai presiden dan wakil presiden, hari Minggu 20 Oktober 2019.

Duka umat Islam itu tidak ubahnya seperti luka yang meruyak kian dalam. Karena tidak lama kemudian Prabowo – yang calon Macan Asia itu – tiba-tiba merapat ke kubu Jokowi-Ma’ruf. Gerindra dijatahi dua posisi menteri. Yaitu Prabowo sebagai Menteri Pertahanan dan Eddy Prabowo sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Para pendukung yang dulu mati-matian memperjuangkan mereka dengan begitu mudahnya ditinggalkan. 

Ketika Eddy Prabowo ditangkap KPK dan reshuffle kabinet dilakukan Jokowi, Partai Gerindra masih tetap diberi jatah 2 menteri. Sayangnya salah satu menteri Gerindra itu adalah Sandi Uno.  Tentu saja umat Islam dan mereka yang dulu adalah  pendukung Prabowo-Sandi terperangah. Karenanya tidak dapat dihindari munculnya narasi penuh canda: Yang menang jadi presiden dan wakil presiden, yang kalah jadi menteri. Satu bentuk lontaran perasaan kesal menghadapi kenyataan yang bernada protes.

Untuk Dikenang

Banyak yang beranggapan bahwa duka cita umat Islam itu mencapai puncaknya ketika tersebar berita penembakan terhadap 6 anggota Lasykar EfPiAi di kilometer 50 tol Jakarta-Cikampek, hari Senin (7/12/2020) dini hari.

Apalagi kemudian Imam Besar EjArEs juga ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka kasus kerumunan. Banyak yang menolak keputusan menjadikannya tersangka ini. Karena merasa itu keputusan yang janggal. Ketika banyak kerumunan lain tidak ada orang yang ditersangkakan. 

Tapi apa boleh buat itu adalah domain kepolisian untuk menetapkannya sebagai tersangka atau tidak. Sehingga jutaan orang yang mengidolakannya sebagai ulama panutan dan zurriyah Rasul semakin menangis. Tak dapat menerima begitu saja keputusan pahit yang mengiris jantung mereka. 

Dan duka itu terasa semakin dalam ketika Prabowo – Sandi yang dulu mereka perjuangkan dengan sepenuh jiwa dan raga tidak sedikit pun peduli. Ketika 6 lasykar EfPiAi tertembak mati pun bahkan tidak ada komen sedikit pun dari Prabowo – Sandi. Capres dan Cawapres yang dulu mereka agung-agungkan itu seperti hilang ditelan bumi. Begitu juga ketika AiBi EjArEs ditangkap dan dijadikan tersangka. Jangankan memberikan pembelaan. Bahkan secuil komentar pun tidak terlontar dari mulut mereka. 

Pengorbanan para mujahid yang begitu rupa seolah tak ada artinya. Tidak teringat lagi pengorbanan Emak-Mak garis keras yang luar biasa.  Tidak terbayang lagi bagaimana Ahmad Dani terpaksa meringkuk di dalam penjara. Sama seperti tidak perlu dikenang lagi bagaimana Neno Warisman dipersekusi. Dan banyak lagi kenangan-kenangan manis maupun pengalaman pahit yang sangat berharga, ketika sama-sama berjuang dahulu.

Sandiaga Uno yang dulu mereka idolakan ternyata sama saja dengan banyak politisi yang berseliweran di tengah kehidupan bangsa ini. Sandi yang dulu mereka elu-elukan hanya layak untuk dikenang. Karena tidak mampu istiqomah. Bertahan bersama memperjuangkan cita-cita mulia umat yang mendukungnya. 

Karenanya banyak yang mempertanyakan, mengapa dia tidak menolak jabatan itu. Sebagaimana keputusan Sekum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mukti. Yang dengan tegas menolak jabatan Wamendikbud. Dengan alasan tidak mampu mengemban tugas itu. Padahal alasan yang sebenarnya adalah bahwa dia tidak ingin direndahkan, karena hanya dijadikan wakil menteri. 

Kalau saja dia bisa bertahan, bisa jadi dia akan jadi salah satu calon pemimpin bangsa yang akan mendapatkan dukungan penuh umat Islam. Kalau tidak jadi Capres, dia bisa saja jadi Cawapresnya Anies Baswedan yang kini dipandang paling potensial untuk posisi itu. 

Kini, ibarat nasi sudah jadi bubur, mimpi Sandi untuk menjadi orang pertama maupun kedua di republik ini sudah terkubur untuk selamanya. Apa boleh buat. Barangkali itulah taqdir Tuhan untuknya. Wallahu a’lam! (*) 

Nasmay L. Anas, wartawan senior di Bandung

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda