Gelombang Tinggi Pengangguran Mengintai

FOTO: jualo.com

COWASJP.COM – Pandemi Covid-19 belum ada tanda-tanda bakal berakhir. Namun, dampak ekonominya sudah sangat berat. Multiplier effect-nya semakin terasa. Ekonomi yang mengalami kontraksi kini diikuti dengan meningkatnya pengangguran yang signifikan. 

Itu terpotret dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tentang keadaan ketenagakerjaan di provinsi dan kabupaten/kota di Jawa Timur.  

Hingga Agustus, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Timur naik 2,02 persen poin, dari 3,82% menjadi 5,8%. 

Kenaikan 2,02 poin ini sama dengan kenaikan 52,87 persen dari angka Agustus 2019. Itu berarti pengangguran bertambah 466 ribu orang. Kini, dari 22,26 juta angkatan kerja, yang bekerja 20,96 juta. Berarti yang tidak bekerja adalah 1,3 juta orang.

Angka ini pun sebenarnya belum menggambarkan secara sesungguhnya pengangguran. Sebab, angkatan kerja adalah usia kerja (lebih dari 15 tahun) yang bekerja, menganggur, dan aktif mencari kerja. Jadi, orang tidak bekerja namun tidak aktif mencari kerja tidak dimasukkan sebagai angkatan kerja. 

Selain itu,  BPS menggunakan standar International Conference of Labor Statisticians (ICLS)19.  Bahwa bekerja adalah memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan minimal selama 1 (satu) jam secara kumulatif dalam seminggu yang lalu. 

Jadi, orang yang bekerja satu jam sehari sudah dianggap tidak menganggur. 

Dengan standar itu, tentunya orang yang benar-benar bekerja, yaitu bekerja penuh 35 jam seminggu jauh lebih sedikit lagi. Hanya sekitar 63 persen atau  13,23 juta. Menurun 6,77 persen poin dibanding tahun lalu. Yang bekerja kurang dari 35 jam tapi tidak lagi mencari kerja (pekerja paruh waktu) mencapai 27,91 persen. 

PENGANGGURAN TERTINGGI SIDOARJO

Jika Jatim harus hati-hati, Kabupaten Sidoarjo harus mewaspadai pengangguran. Sebab, kabupaten yang berbatasan dengan Surabaya ini memiliki pengangguran sangat tinggi.  TPT (tingkat pengangguran terbuka) per Agustus mencapai 10,97 persen dan menjadi yang tertinggi di Jatim. Ini berarti naik 6,35 persen poin atau 77 ribu orang. 
Angka ini berarti naik 137 persen (dari 4,62% ke 10,97%). 

sirie.jpg

Survey BPS menunjukkan, bukan saja warga Sidoarjo sulit memperoleh pekerjaan. Yang bekerja pun turun signifikan, yaitu  53,7 ribu pekerja. Penurunan paling tinggi ada di industri manufaktur, disusul sektor jasa. Sektor primer, pertanian, yang relatif tidak terganggu, karena hanya turun 0,16 persen. 

Tingginya tingkat pengangguran terbuka di Sidoarjo ini memang tak bisa dilepaskan dari pandemic. Sebab, berdasar survey BPS, Covid dirasakan oleh 20 persen penduduk usia kerja atau 357,7 ribu orang. Sebanyak 47 ribu di antaranya menganggur karena Covid dan 288,2 ribu orang merasakan pengurangan jam kerja dan berdampak pada pengurangan pendapatan.

JUGA DIPENGARUHI UMK TINGGI

Gelombang tinggi angka TPT ini harus menjadi perhatian serius. Sebab, sebenarnya Covid-19 bukan satu-satunya penyebab banyaknya pengangguran. Sebab, sebelum pandemic pun, angka pengangguran di Sidoarjo, misalnya, juga sudah cukup tinggi.  Sebagai daerah yang sangat mengandalkan pada industri manufaktur, ketenagakerjaan di Sidoarjo memang cukup rawan. Industri manufaktur berkontribusi sekitar 40 persen terhadap PDRB Sidoarjo.

Kondisi ekonomi global dan nasional akan sangat berdampak pada industri manufaktur. Sebelum Covid, kondisi ekonomi global juga dalam keadaan slowdown. Itu membuat permintaan terhadap produk impor di Amerika Serikat dan Eropa menurun drastis. Begitu juga permintaan dari Jepang dan China sebagai tujuan ekspor tradisional Indonesia. Permintaan produk ekspor dari industri-industri di Indonesia pun menurun. Termasuk dari Sidoarjo. 

Keadaan ini diperparah dengan UMK Sidoarjo yang sangat tinggi. Tahun ini, UMK kabupaten penyangga Surabaya ini mencapai  Rp 4.193.581 dan naik Rp 100 ribu pada tahun 2021. Ini menimbulkan gelombang migrasi perusahaan-perusahaan manufaktur ke daerah lain yang UMK-nya rendah. Tahun ini saja, ada 11 perusahaan besar yang merelokasi pabriknya ke Nganjuk, Kediri, dan daerah sekitar. Ribuan pekerja pun terkena PHK. 
Ini bisa dimaklumi. UMK Nganjuk, misalnya, tahun 2020 ini hanya Rp 1.954.705. Ini tak sampai separo dari UMK Sidoarjo. 

Begitu juga daerah seperti Madiun dan Kediri. Dengan adanya akses jalan tol Surabaya-Madiun, tentunya kendala transportasi ke pelabuhan relatif tak menjadi kendala. Untuk perusahaan yang memiliki karyawan ribuan, selisih UMK itu sangat signifikan bagi perusahaan. 

GEJALA DE-INDUSTRIALISASI

Ini diperparah dengan gejala de-industrialisasi. Banyak perusahaan pilih mengimpor, daripada memproduksi sendiri dengan biaya jauh lebih mahal. Tenaga kerja mahal, biaya modal, perizinan, dan rumitnya birokrasi menjadikan banyak industri tak mengembangkan pabriknya. Mereka pilih mengimpor barang dari China untuk dipasarkan di sini. 
Faktor lain adalah teknologi. Di banyak daerah, ada industri-industri baru, namun tidak banyak menyerap tenaga kerja. Ini disebabkan mereka banyak menggunakan teknologi yang padat modal dengan berbagai alasan. Selain karena UMK yang terlampau tinggi, banyak pengusaha menghindari risiko sosial dan beban masa depan dengan memiliki banyak karyawan. 
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa banyak tidak terserapnya tenaga kerja juga disebabkan oleh kurang sesuainya SDM dengan kebutuhan industri. Ini tampak pada tingginya lulusan SMK yang tak terserap ke pasar tenaga kerja. Cepatnya perkembangan teknologi membuat skill lulusan SMK seringkali tidak up to date. Laboratorium milik SMK banyak yang ketinggalan dengan teknologi yang digunakan industri.

Agar dalam jangka panjang pengangguran dapat diatasi, pemerintah harus memberi insentif kepada industri padat karya. Sebab, alasan utama perusahaan merelokasi pabriknya dari Sidoarjo adalah karena UMK yang tinggi. Tanpa insentif, sulit mengharapkan pabrik-pabrik akan mengembangkan usahanya di Sidoarjo, sementara banyak daerah menerapkan UMK rendah dengan akses transportasi yang mudah. 
Selain itu, Pemkab perlu terus mendorong wirausaha agar tenaga kerja di Sidoarjo tidak terlalu tergantung pada industri manufaktur. Apalagi, Sidoarjo dikenal sebagai kota UKM yang memiliki beragam produk andalan untuk ekspor. Dengan support modal, manajeman, dan pasar, para UKM ini bisa diandalkan untuk mengurangi tingkat pengangguran di Sidoarjo.(*) 

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Wakil Dekan Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda