Transformasi Menuju Smart University

Kampus C Unair di Mulyorejo Surabaya. (FOTO: berkuliah.com)

COWASJP.COM – Pandemi Covid-19 menjadi ancaman banyak sektor. Namun,  pandemi  juga memberi peluang yang besar. Tak terkecuali pada sektor pendidikan tinggi. Physical dan social distancing akibat pandemi justru memunculkan kesadaran tentang pentingnya mempercepat transformasi di bidang pendidikan.  Lembaga pendidikan tinggi harus melakukan perubahan cepat agar bisa mempertahankan eksistensinya di masa depan.

Sebagai organisasi yang dipenuhi kaum intelektual, perguruan tinggi (PT) sudah seharusnya menjadi yang pertama mengadaptasi perubahan akibat krisis, seperti pandemi ini. Mengutip Schumpeter, usai resesi melanda negara-negara industri, semua menjadi terbiasa menghadapi konjungsi siklus ekonomi (crises-growth). Siklus bergantian dari tumbuh, krisis, dan tumbuh lagi secara bergantian. 

unair.jpgFOTO: pikiran-rakyat.com

Maka krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi ini harus dipahami sebagai hal biasa. Krisis justru harus memunculkan kreativitas dan inovasi baru, termasuk bagi Perguruan Tinggi. Manusia menghadapi krisis di setiap jaman. Namun, manusia selalu menemukan cara baru untuk mengatasinya. Bahkan, menjadikan hidup pasca-krisis menjadi lebih baik. 

Tanpa pandemi, sebenarnya Perguruan Tinggi sudah harus melakukan transformasi. Pandemi hanya mempercepat saja. Ini tak lepas dari perkembangan teknologi informasi dan digital yang telah menyebabkan shifting pada hampir semua aspek kehidupan. Ratusan jenis pekerjaan diprediksi akan hilang. Namun, juga muncul jenis-jenis pekerjaan baru yang menuntut kemampuan dan penguasaan teknologi. Maka, Perguruan Tinggi harus menyediakan sumberdaya-sumberdaya yang memiliki knowledge dan skill yang technology-friendly yang dibutuhkan oleh industri di masa depan. 

Meski suatu keniscayaan, transformasi perguruan tinggi (PT) harus dilakukan secara hati-hati. Sebab, meski harus  menyesuaikan pasar –kebutuhan industri --, PT tak boleh kehilangan ruhnya sebagai lembaga pendidikan. Bahwa Perguruan Tinggi mengemban amanah  mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Juga mengembangkan potensi mahasiswa menjadi manusia beriman, berilmu, cakap, kreatif dan bertanggung jawab. Bukan hanya menyiapkan lulusan yang siap bekerja pada industri dengan pengetahuan dan skill-nya.

Transformasi itu kini sedang dilakukan Universitas Airlangga (Unair) yang 10 November ini genap berusia 66 tahun. Setelah berhasil meletakkan dasar sebagai research university, kini Unair menuju pada platform baru, Smart University. Menjadi universitas yang memberi kontribusi besar pada masyarakat global melalui optimalisasi teknologi.

unair-2.jpgDanau (kolam konservasi) di Kampus C Unair. (FOTO: unair.ac.id)

Unair sudah cukup berhasil menjadi research university dalam lima tahun ini. Hal itu bisa dilihat dari keberhasilannya dalam menghasilkan riset-riset berkualitas. Jika tahun 2016 Unair hanya menghasilkan 168 publikasi pada jurnal bereputasi terindeks Scopus, tahun ini hingga Oktober  sudah lebih dari 2.800. Itu pun lebih dari 1.000 di antaranya pada jurnal Q1 dan Q2. 

Itu pula yang membuat perangkingan oleh Quacquarelli Simonds (QS) Juni lalu menempatkan Unair pada posisi 521-530  World University Ranking. Ini sekaligus menjadikan Unair sebagai kampus terbaik keempat di Indonesia. Sama seperti pada perangkingan oleh Kemendikbud.

Di beberapa kategori, sebenarnya Unair sudah berada di peringkat 200-an  dunia. Pada  employer reputation dan academic reputation, Unair ada di peringkat 272 dan 350.  Academic reputation menunjukkan reputasi akademik Unair di mata dunia internasional—utamanya para pakar keilmuan dunia. Sementara employer reputation menunjukkan reputasi Unair dalam dunia kerja dan dunia usaha. 

 Untuk dapat berkontribusi besar terhadap dunia, Unair harus memiliki orientasi yang kuat sebagai entrepreneural university. Entrepreneur yang berbasis pada keilmuan dan riset. Keunggulan  pada  health science dan  natural science harus menghasilkan riset-riset berkualitas yang nanti dihilirisasi menjadi produk-produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Di sinilah entrepreneurship sangat dibutuhkan, sehingga selain bermanfaat bagi masyarakat dunia, hasil-hasil riset itu juga menguatkan  kemandirian Unair di masa depan. 

Banyak riset potensial yang telah dihasilkan Unair. Terkait pandemi ini, misalnya, Unair telah menemukan enam whole genome virus Corona. Ditemukannya empat sample yang mengikuti pola China dan dua sample yang mengikuti pola Eropa ini akan bermanfaat untuk mengidentifikasi karakteristik virus corona di Indonesia. Unair yang berkolaborasi dengan UGM dan Lab Hepatika Mataram juga menemukan alat rapid test murah. Unair juga mengembangkan vaksin virus Corona, selain obat kombinasi. Ini melengkapi berbagai hasil riset yang juga sudah dihilirisasi seperti stem cell, semen sapi, kapsul rumput laut, dan sebagainya. 

Basis dari ini semua tentunya adalah inovasi. Karena itu, proses pembelajaran harus menekankan pada penumbuhan inovasi, seperti kreativitas, critical thinking, komunikasi, dan kolaborasi. Mahasiswa harus diberi ruang yang luas untuk  belajar mandiri, yang sebenarnya sudah diamanatkan oleh PP No. 60 tahun 1999. Pada pasal 10 ayat 1, dijelaskan bahwa pendidikan tinggi diselenggarakan melalui proses pembelajaran yang mengembangkan kemampuan belajar mandiri. 

Dalam konsep ini, perkuliahan dan dosen bukan satu-satunya sumber utama pengetahuan. Teknologi informasi yang telah maju seharusnya menjadi sarana bagi mahasiswa dan dosen untuk mengakses sumber ilmu pengetahuan. Kuliah harus diartikan sebagai sarana untuk mengkonfirmasi pemahaman mahasiswa dan dosen terhadap ilmu pengetahuan yang diformat dalam bentuk mata kuliah tertentu. Jadi, pertemuan di kelas dengan dosen bukanlah segala-galanya bagi mahasiswa.

Namun, berbagai penelitian menunjukkan, sebagian besar mahasiswa masih berpikir bahwa kuliah dan dosen adalah sumber utama ilmu pengetahuan. Bahkan satu-satunya. Ini harus diluruskan. Bahwa ilmu, pengetahuan dan ketrampilan merupakan barang bebas. Mahasiswa bisa mendapatkannya dari mana saja.  Mahasiswa harus kreatif, keluar dari paradigma behavioristic yang menggantungkan pada dosen ke konstructivistic. Proses kreatifnya mampu memperluas cakrawala pengetahuannya sehingga melahirkan inovasi-inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. (*)

 

Oleh: Dr Imron Mawardi, Wartawan Senior di Surabaya.

Penulis adalah dosen ekonomi dan bisnis, Wakil Dekan II Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda