Pro Cowas JP

Belajar dari Keringat Pensiunan

Salah satu stand PGS (Pusat Grosir Surabaya). (FOTO: Guritno Baskoro)

COWASJP.COM – Pusat grosir terbesar di Surabaya sudah mulai didatangi pengunjung.

Namun masih sepi. Tidak ramai seperti sebelum ada pandemi Covid-19. 

Banyak sebab, imbas dari pandemi sehingga banyak pertokoan sepi pembeli. Para pedagang saling merayu pengunjung untuk mampir ke lapaknya. Dengan memakai masker.

Saat berada di tengah kerumunan pembeli, aku berusaha mengikuti seorang wanita separuh baya. Langkahnya gesit menembus lorong-lorong kios. Adakalanya tersumbat oleh pembeli. Jika demikian, ia memutar mencari jalan lain. Supaya tetap jaga jarak.  

Aku menguntit di belakangnya. Padahal, ketika aku berpapasan dengan wanita lain yang gemuk, aku harus berjalan miring supaya tidak bertumbukan dengan dadanya yang jumbo. 

Aku terus membuntutinya. Ia hafal betul tempat yang harus didatangi. Kios yang sudah menjadi langganannya mulai dari lantai 1 sampai dengan lantai 5. Aku tetap mengendus supaya tidak kehilangan jejaknya.

Aku amati gerak geriknya, saat dia singgah di kios yang dituju. Dari caranya memilah, aku harus banyak belajar memilih barang.

Bagaimana cara menyibak kerumunan orang. Dari situ aku harus belajar bersabar.

Tidak pula tampak kelelahan saat berpindah-pindah kios. Dari satu kios ke kios lainnya. Dari situ pun aku belajar mengatur waktu. Supaya tidak kelelahan dan kehilangan waktu yang terbuang.

Aku mulai terengah-engah mengikutinya.

Tapi wanita ini tidak terlihat letih meskipun sebetulnya lelah.

Ia senang aku ikuti. Karena bisa saling berbagi saran.

Sudah bertahun-tahun ia berbelanja barang dagangannya di sini, namun baru sekarang aku bisa mengikuti "kulakan" seharian.

Sebelum matahari terbit, ia sudah siap. Jam 05.00  sudah harus berangkat ke Surabaya. Dengan harapan jam 10.00-an sudah tiba di pusat grosir di Surabaya itu.

Setelah aku menjalani masa pensiun.

Aku berusaha menyempatkan diri untuk bisa mengantarnya. Yang dulu hampir tidak bisa, kecuali hari libur. Itupun ketika masih tinggal di kota Gresik, waktu masih aktif bekerja. 

Dari mulai mengamati bagaimana ia mempersiapkan dan menjalani usahanya, aku mengaguminya.

Aku kagum akan kegigihannya. Juga perjuangannya. 

Jualannya, dimulai dengan berbekal 2 tas cangklong yang dipakai untuk kulakan, seiring waktu menjadi 1 mobil SUV dan sekarang sebagian barang dagangannya dikirim melalui jasa ekspedisi. Karena sudah tidak muat lagi dimasukkan ke dalam mobil yang aku supiri sendiri.

Pernah aku menanyakan, mengapa setiap kulakan harus datang langsung ke Surabaya?

"Bisa melihat model yang lagi "in" dan dengan datang sendiri dapat meraba bahan kain pakaian yang dijual. Kalau hanya per telepon sering terkecoh," katanya.

baskoro1.jpgGuritno Baskoro dan isterinya yang ulet bisnis. (FOTO: istimewa)

Ternyata benar, jika lewat on line atau WA saja tidak cukup. Dari pengalaman, sering tidak sesuai ekspektasi jika hanya melihat foto. Kecuali re-order untuk barang yang sama yang sudah pernah kulakan sebelumnya.

Menjelang tutup toko, kami baru selesai berbelanja. Setiap kulakan, ia selalu mengunjungi tempat perbelanjaan di JMP dan PGS.

Sore itu juga, aku langsung mengantar kembali ke Jember. 

Waktu tempuh perjalanan lewat tol sekitar 4 jam. Bisa lebih. 

Tiba di Jember sekitar jam 10 atau 11 malam.

Rasa lelah terbayar sudah. Meskipun rasa lelah tidak bisa disembunyikan.

Karena aku sudah tidak muda lagi. Tidak seperti 20 tahun yang lalu.

Rasanya, cucuran keringat ini semakin berarti buat diriku.

Yang aku kagumi dari wanita ini, ketelatenan dan ketekunannya dalam menjalani usahanya. 

Wanita ini adalah belahan hatiku. Ia adalah isteriku. Untuk itu kami selalu bersyukur, karena bisa saling melengkapi. Sejauh ini.

Pekerjaan baruku, aku lakukan dengan senang hati. Aku ambil positifnya. Mengantar isteri sambil rekreasi.

Kegiatanku lainnya, olahraga bersepeda. Bersama komunitas sepeda para lansia.

Kini, seiring usiaku bertambah tua  dan tubuh mulai mengalami kemerosotan,  lantas, bagaimana menjaga tubuh kita agar tetap sehat dan berguna?

Yaitu dengan memperbaharui cara berpikir - hati kita - dari hari ke hari.

Memahami bahwa kehidupan ini hanya sangat sementara dan karena itu waktu yang tersisa amatlah bernilai, sehingga membuat kita benar-benar menghargai kehidupan ini.

Tidak ada yang lebih baik dalam kehidupan ini, selain setiap hari terus belajar untuk mengisi kehidupan dengan hal-hal yang baik. 

Kami selalu panjatkan doa, mohon lindungan dan tuntunanNYA. 

Supaya dapat meningkatkan isi batin kami dari hari ke hari.

Saling setia dan dapat berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

Seperti saat bersepeda. Agar roda tetap menggelinding, pedalnya - isi hati kita - harus dikayuh. Terus menerus sampai akhir. (*)

Penulis: Guritno Baskoro, mantan karyawan PT Petrokimia Kayaku, Gresik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda