Gairah Rumah Subsidi

FOTO ILUSTRASI: ppdpp.id

COWASJP.COM – Pekan lalu saya diundang Ketua Asosiasi Perumahan Sehat Sejahtera Nasional (Apernas) Bangkalan di Madura. 

Melihat salah satu perumahan subsidi yang lagi di kembangkannya, 

The Besel Regency. 

Imron-Mawardi-3.jpgGerbang masuk perumahan D'Besel Regency. (FOTO: ppdpp.id)

Hari itu kantornya cukup ramai. Banyak orang datang untuk bertanya rumah subsidi. Sebagian langsung memesan untuk membeli. 

Tapi manajemen hanya mencatat saja. Tak mau menerima uang tanda jadi. Apalagi uang muka. Sebab, rumah yang ditawarkan sudah habis terjual. Yang pengembangan masih menunggu administrasi beres. 

Dalam catatan manajemen, sudah ada 75 yang antri untuk membeli. Itu berarti sudah hampir satu hektar. 

Edy Sofyan, Ketua DPD Apernas itu, sebenarnya pemain baru di industri property. Dulu dia pedagang besar barang-barang rumah tangga di Surabaya. Yang diimpor dari China. Seperti panci presto, blender, juicer, dan sebagainya. 

Tapi, sejak dua tahun lalu dia banting stir ke pengembang perumahan. Alasannya, prospek property sangat bagus. 

Kini, melalui PT Bangkit Lestari, dia sudah memiliki tiga perumahan. Graha Mangkisan Permai, Graha Cantikan Permai, dan The Besel Residence. 

Perusahaannya memang mengembangkan perumahan yang tak terlalu luas. Satu hingga tiga hektar saja per perumahan. Satu hektar bisa untuk 100 hinga 110 rumah. Sebab, luas rumah yang dibangun hanya 60 hingga 72 meter persegi. Luas bangunan 30 meter persegi. 

UANG MUKA TOTAL RP 9 JUTA

Rumah subsidi memang menarik bagi yang belum punya rumah. Harganya Rp 150,5 juta. Uang muka hanya 1 persen atau Rp 1,5 juta. Ditambah biaya realisasi dari bank, totalnya sekitar Rp 9 juta. 

Yang menarik, cicilan cuma Rp 950 ribu. Rasanya semua pekerja di sektor formal mampu membeli rumah ini. Apalagi yang bekerja di Surabaya. Yang upah minimumnya Rp 4.200.479. 

Imron-Mawardi-4.jpgEdy Sofyan, Ketua DPD Apernas. (FOTO: istimewa)

Bahkan yang bekerja di Bangkalan dengan UMK Rp 1.954.705.

Karena syaratnya harus rumah pertama, rumah subsidi ini seperti tak terdampak pandemi. Apalagi sasaran marketnya adalah PNS, polisi, TNI, dan karyawan BUMN. 

Pendapatan mereka relatif tidak terdampak Covid-19. Apalagi, bank-bank juga masih melepas kredit perumahan subsidi ini. 

Ada beberapa skema rumah subsidi sehingga menjadikan rumah ini mudah dimiliki. Ada skema subsidi selisih bunga. Bunga kreditnya hanya 5% flat 10 tahun. Ada fasilitas yang 20 tahun. Juga ada skema BP2BT berupa subsidi uang muka Rp 40 juta. 

“Tujuannya memang agar sekitar 10 juta penduduk usia 21-45 tahun yang belum punya rumah  bisa memiliki rumah,’’ kata Edy.

Bagi daerah seperti Bangkalan, rumah subsidi memang masih mudah ditawarkan. Posisinya cukup strategis setelah ada jembatan Suramadu. Apalagi jika memperoleh tanah tak jauh dari jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa-Madura ini. Selain itu, harga tanah masih berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 175 ribu. 

Bergairahnya property kelas bawah di tengah pandemic ini cukup menarik. Ternyata pandemic tak membuatnya lesu. Padahal, berbagai sektor termasuk property pada umumnya juga lesu darah terdampak Covid. 

Pandemi  mengubah perilaku (behavior) ekonomi masyarakat. Kebutuhan berubah. Cara mendapatkannya juga berubah. 

Salah satu yang menguntungkan property kelas bawah, pandemic menjadikan masyarakat  bersikap lebih realistis. Physical distancing membuat mereka tak lagi perlu kontak sosial langsung, sehingga tak memerlukan kebutuhan penghargaan (esteem needs) dan aktualisasi diri. 

Masyarakat akan fokus pada kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan fisiologis yang merupakan hirarki terendah kebutuhan dalam piramida Maslow. Juga  safety dan mungkin  social needs, tapi dengan cara berbeda. 

Gaya hidup baru ini tentunya akan mengakibatkan pergeseran permintaan kebutuhan. Bukan lagi barang-barang yang sebenarnya sekedar ingin dibeli (wants), tapi memang barang yang diperlukan (needs). Permintaan terhadap barang-barang branded seperti produk fesyen, tas, sepatu, atau parfum yang mahal, akan berkurang. 

Masyarakat akan lebih realistis dengan membeli sesuatu yang memang sangat dibutuhkan. 

Gampangnya, masyarakat kembali pada kebutuhan dasar. Kebutuhan fisiologis dalam piramida Maslow atau kebutuhan adh-dharuriyyat dalam hirarkhi kebutuhan Asy-Syatibi dan Al-Ghazali. Dan rumah adalah kebutuhan dasar yang sangat dibutuhkan. 

Karena itulah, rumah subsidi yang khusus sebagai rumah pertama, tetap saja dibeli. Mungkin rumah kelas atas yang banyak dibeli untuk investasi tak sebergairah rumah subsidi. (*)

 

Oleh: Dr Imron Mawardi, Wartawan Senior di Surabaya.

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Wakil Dekan Sekolah Teknologi Maju dan Multidisiplin (STMM) Universitas Airlangga.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda