Jawa Pos vs “Jawa Pos”

Berlaga Berebut Pelanggan

COWASJP.COM – Bisnis apa pun, di mana pun tak akan luput dari persaingan. Bisa jadi persaingan sudah dimulai sejak berdirinya suatu bisnis, atau beberapa saat setelahnya. Selalu muncul persaingan.

Dan, persaingan tak akan pernah selesai. Itulah dunia bisnis yang penuh dengan persaingan. Cukup banyak contoh persaingan bisnis  yang  terus terjadi.  Puluhan tahun bahkan sampai ratusan tahun masih berlangsung hingga kini.  

Meskipun suatu ketika suatu perusahaan memenangkan persaingan, akan selalu muncul pesaing baru yang akan merepotkan bisnisnya. Begitu seterusnya.   

Medan persaingan akan menguntungkan semua pihak.  Produk semakin baik, efisien, harga menjadi kompetitif, dan semua kemajuan yang kita nikmati sampai hari ini adalah wujud dari persaingan.

Demikian juga dengan keberadaan perusahaan media, baik cetak maupun online pasti  menghadapi  persaingan. Masalah berat ringannya persaingan tersebut tergantung dari para pengemudi perusahaan. 

Di masa pandemi Covid-19 dan penurunan ekonomi yang cukup berat, dunia pewartaan di Jawa Timur digoyang dengan munculnya Harian DI's Way (HarDI’s). Media cetak harian memproklamasikan diri sebagai bukan koran pada Sabtu 4 Juli 2020 di Surabaya.  

Pada hari yang sama di Kota Malang juga muncul koran baru bernama: New Malang Pos, yang semua awak medianya berasal dari  Malang Post.

Semua media yang baru tersebut hampir seluruhnya mantan awak media Jawa Pos Group. Apalagi HarDI’s yang dikomandani Sang Begawan Media: Dahlan Iskan. Sejarah mencatat, Dahlan Iskan dan Laskarnyalah yang  telah membesarkan dan merawat Jawa Pos sejak 1982 sampai 2017. Hingga Jawa Pos mengejewantah jadi imperium media cetak di Nusantara.  

Begitu juga Malang Post dan New Malang Pos. Para pengelolanya berasal dari awak media Jawa Pos.  Sehingga di antara mereka sudah saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing.   

Dahlan pasti tahu apa yang akan dilakukan anak didiknya, begitu pula bekas anak didiknya  paham apa yang akan dilakukan Dahlan Iskan.

lawang3.jpgHarian DI's Way edisi Rabu 26 Agustus 2020. (FOTO: Surya Aka)

Rivalitas di antara teman seperusahaan dan berlanjut di bisnis yang sama adalah hal yang lumrah. Contoh lama adalah Thomas Alva Edison dan Nikola Tesla, yang sebelumnya adalah bapak buah dan anak buah. Bahkan persaingan bisnis listrik tersebut terus berlanjut, meskipun kedua kerabat tersebut sudah meninggal dunia.  

Begitu juga Bill Gates (64 tahun) dan Steve Job (65 tahun), yang satu pendiri Microsoft, satunya pendiri Apple. Dengan adanya persaingan, maka kecepatan untuk mendapatkan hasil terbaik akan segera terwujud. Itulah buah persaingan.

Kita batasi saja pembahasannya dengan kiprah para mantan Jawa Pos. Tidak membahas media lain yang mungkin jadi pesaing juga, tapi membahas Jawa Pos yang pernah digawangi cukup lama oleh Dahlan Iskan.   

Pada kompetisi yang mungkin terjadi saat ini, tentu keberadaan Jawa Pos lebih diuntungkan. Jawa Pos sudah lama berdiri dan sudah sangat besar. Sedangkan HarDI’s baru mulai. 

Jawa Pos telah memiliki semua perangkat lunak maupun keras. Bahkan sudah punya pabrik kertas dan percetakan di berbagai kota. Sudah settle. Manajemen Jawa Pos sekarang tinggal melanjutkan dan merawat yang sudah besar itu. Dan,

menyongsong  persaingan bahkan mungkin bisa menghantam HarDI’s dengan tandas.

Tapi apakah semudah itu? Tentu tidak. Pengelola HarDI’s yang diluncurkan 4 Juli lalu tentu paham seperti apa “jerohan” Jawa Pos. Sampai jumlah meja kursi dan siapa saja yang duduk di kursi tersebut. Bahkan apa saja yang berada di atas meja lantai 4 Graha Pena diketahui oleh HarDI’s. Begitulah ibaratnya.   

abror-2.jpgKenangan indah seorang bawahan Soerijadi mengalungkan medali penghargaan di leher CEO Jawa Pos kala itu. Ketika kohesi persatuan masih sangat kuat. (FOTO: istimewa)

Malah isi kepala tokoh-tokoh Jawa Pos saat ini dipahami dengan baik oleh orang-orang HarDI’s, karena mereka dulu rekan sekerja. Langkah-langkah yang dilakukan Dahlan Iskan dan anak buahnya pasti sudah diperhitungkan dengan seksama untuk menghadapi Jawa Pos.  Sebab, mau tidak mau, Jawa Pos adalah kompetitor terkuat yang sudah menunggu di halaman HarDI’s.

Dalam beberapa bulan terakhir pendapatan penjualan koran dan iklan Jawa Pos menurun drastis. Semua media cetak di Indonesia mengalami hal yang sama. Tergencet hebat oleh media digital.

Kini muncul pula pesaing sesama media cetak. Yang walaupun awalnya masih kecil, dan tampilannya belum heboh, tapi harus diperhitungkan dengan secermat-cermatnya.

Jawa Pos harus bergerak cepat dengan munculnya HarDI’s.  Harus berbenah diri dan merampingkan semua bidang agar lebih ringan, efisien, dan tentu bisa bergerak lebih lincah.    Sudah menjadi penyakit perusahaan besar di mana pun, gerakannya relatif  lamban, terlalu gemuk, dan kurang efisien. Wakil pemimpin redaksi Jawa Pos pun sampai 3 orang.  

Sebaliknya, HarDI’s sebagai penantang baru dalam dunia cetak pasti jauh lebih efisien dan ramping. Satu lagi kelebihan dari harian yang masih kecil adalah rasa kebersamaan di antara para karyawannya. Apalagi jika 98% saham benar-benar diberikan kepada para karyawan yang masih aktif.

Para mantan anak buah Dahlan Iskan yang relatif masih muda dan sudah pensiun di Jawa Pos, diajak turun gunung untuk ikut mengisi amunisi HarDI’s. 

Kelemahan Jawa Pos yang cukup menyedihkan adalah cara mereka memperlakukan para pensiunannya. Para pensiunan dianggap seperti sekrup mesin yang dibuang setelah tidak dipakai lagi. Tidak pernah satu kali pun para mantan Jawa Pos diundang untuk menghadiri syukuran HUT Jawa Pos. Sekadar tumpengan pun tidak pernah.

Mereka dianggap bukan seperti orang-orang yang pernah berkontribusi dalam pengembangan Jawa Pos yang luar biasa itu.  Selesai waktu pensiun, dilepas begitu saja. Tanpa secarik kertas pun sebagai bukti pernah bekerja di Jawa Pos! 

lawang2.jpg

Jawa Pos edisi non-Minggu. (FOTO: Gramedia Digital)

Ada beberapa orang yang beruntung karena dikontrak lagi untuk beberapa tahun. Tapi setelah dianggap selesai ya good bye. Seperti model pembantu rumah tangga atau penjaga toko, begitu tak dibutuhkan ya sudah dilepas seperti layangan putus. Tak ada hubungan lagi.   

Tentu ke depan akan sulit untuk mendapatkan orang-orang  yang mumpuni sesuai dengan keinginan perusahaan. Anak muda yang punya potensi tinggi tentu berpikir ribuan kali sebelum bergabung. Mereka tak ingin dibuang di awal kerja. Lebih baik berkarier di bidang lain.   

Hal inilah yang perlu dipikirkan masak-masak oleh para petinggi Jawa Pos.

Bayangkan, tokoh sehebat Dahlan Iskan bisa dilengserkan. Dengan berbagai cara. Begitu juga anaknya Azrul Ananda. Apalagi orang lain?

Anak-anak muda potensial pun mungkin tak ingin bermimpi lagi jadi wartawan dan karyawan Jawa Pos. Semua lambang kebanggaan tenggelam. Bahkan kabarnya ada karyawan yang hanya dikontrak sebulan dan enam bulan. Setelah kontrak habis, tanda tanya besar. Kapan saja tak dibutuhkan melayanglah Anda. Mungkin saja masih ada anak muda yang melamar kerja, tapi hanya ingin numpang lewat untuk sekadar mencari pengalaman. Apalagi rasa hormat kepada mantan karyawan? Alamak, ngeri-ngeri sedap.  

Masalah ini – kontrak pendek model outsourcing – mungkin dianggap sepele, tapi bisa jadi masalah besar dalam perjalanan ke depan.

Pekerjaan di media cetak, mulai dari divisi redaksi, iklan sampai pemasaran membutuhkan kemampuan berpikir dan menganalisis. Bagi divisi redaksi masih ditambah dengan kemampuan mengolah bahasa agar mudah dipahami pembaca. Kemampuan memilih angle dan mengolah berita-berita besar. Ini semua membutuhkan jam terbang.

Jangan lupa, dulu 1982-1989 Jawa Pos dibesarkan oleh kombinasi tenaga senior dan junior yang militan. Tidak ada yang instan di arena bisnis apapun. 

Sedangkan HarDI’s, walaupun masih anyar dan kecil, tapi dimulai dengan kombinasi tenaga senior dan junior. Mereka bahu membahu membangun HarDI’s. Kabarnya Pak Dahlan sudah jauh lebih sabar. Tidak menggedor-gedor lagi seperti ketika membangun Jawa Pos 1982-1989 dulu di Markas Kembang Jepun.

lawang1.jpgHarian DI's Way. (FOTO: Cowas JP)

Mungkin pengaruh usia, makin sepuh makin sabar. Mungkin pula karena HarDI’s adalah milik sendiri. Bukan seperti ketika membangun Jawa Pos dulu ketika Dahlan Iskan hanya berstatus sebagai pekerja. 

Tidak perlu revolusioner. Tidak perlu radikal. Perubahan cukup gradual. Sembari menjaring segmen pembaca yang anyar, misalnya para anggota jemaat Gereja Bethany. Dan kalangan pengusaha rekanan Dahlan Iskan.

Jawa Pos sendiri bermula 1982 dari oplah sebecak, baru bisa menembus oplah 100.000 eksemplar pada 1986. Dua tahun kemudian sudah bisa membeli tanah di Karah Agung dan membangun percetakan modern kala itu. Tahun 1990-an baru ekspansi ke luar Jawa dengan membeli saham koran-koran lokal.

Apakah capaian luar biasa itu karena keberhasilan Dahlan Iskan seorang? Tentu tidak. Tanpa didampingi orang-orang loyal dan mumpuni dibelakangnya,  yang bisa nyetel dan paham keinginan Dahlan Iskan, akan sulit mencapai kehebatan itu.

Dahlan kini sedang membangun pasukan anyar yang militan.

Para wartawan mudanya,  yang baru direkrut, akan belajar banyak dari para seniornya. Bagaimana menulis yang enak dibaca dan mudah dipahami. Bagaimana menciptakan berita-berita besar. Mereka tidak dikontrak per tahun, apalagi per enam bulan dan pe rsatu bulan. Mereka lebih memiliki ketenangan dan kepastian dalam bekerja. Walau gaji belum sebesar Jawa Pos.

Sedikit demi sedikit pelanggan Jawa Pos akan digerogoti  oleh HarDI’s. Selain terpangkas oleh media online.

Harian HarDI’s sudah mulai bergerilya di jalanan. Tapi rupanya Jawa Pos tak menyerah begitu saja. Buktinya 23 Agustus 2020, Jawa Pos menerbitkan edisi khusus hari Minggu yang menyerupai Harian Di'sWay.    

Isinya, wouw lebih baik dari HarDI’s. Menurut saya lho.   Halamannya lumayan banyak , 64 halaman. Isi beritanya lebih banyak, bisa lebih longgar bagi wartawannya untuk menuangkan idenya. Mungkin sudah dipersiapkan cukup lama. Akan sangat menarik apabila terbit setiap hari seperti edisi hari Minggu.

Bagaimana dengan HarDI’s? Konten yang ada sepertinya belum benar-benar menggigt. Ya ini menurut pendapat orang pinggiran. Kurang mantab. Tapi mungkin saja pendapat saya tidak benar. Bisa saja ada pelanggan yang justeru tertarik dan berlangganan karena sesuai dengan seleranya.   

Saya yakin tiap hari HarDI’s melakukan survey terhadap konten beritanya. Sampai pas betul dengan keinginan para pelanggannya. 

Yang jelas, cover (halaman depannya) terkesan gelap. Warna dasar hitam tulisan putih.  Apakah warna dasar hitam sebagai warna keberuntungan, ciri khas, atau..?  Tidak ada yang  berani bertanya: Why?

Terlepas dari dimulainya kompetisi antara para mantan Jawa Pos versus Jawa Pos, para pembaca di Jawa Timur akan disuguhi pilihan dalam memperoleh berita yang lebih berkualitas.   

Semoga dengan adanya persaingan ketat akan memunculkan ide-ide baru yang menguntungkan dan memanjakan para pelanggan pembaca Koran dan Bukan Koran.

Pertanyaannya: sampai berapa lama arena persaingan itu akan terjadi? Siapa pemenangnya nanti? Kalau HarDI’s tahun depan berkembang cukup signifikan, berarti para mantan Jawa Pos unggul. Selamat menikmati. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda