Eksklusif bersama Dirut Leak Kustiya (1)

“Brand Jawa Pos Harus Tetap Terbit dan Hidup”

Abdul Muis, wartawan CowasJP.com dan Leak Kustiya (kanan), Dirut JP Koran. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Sejak menggulirkan program pensiun dini karyawan Jawa Pos secara besar-besaran, per 1 Juli 2020,  tak mudah bagi wartawan untuk menemui Direktur Utama Leak Kustiya. Tiga kali wartawan CowasJP.com berusaha menemuinya di markas besar Jawa Pos (JP) Koran di Graha Pena Surabaya, Jalan Ahmad Yani Surabaya. Selalu saja dikabarkan bahwa beliau tidak ada di tempat. 

Begitu pula saat dijapri via Whatsapp (WA), jawab balasan yang dia tulis hanya: Waalaikumsalm.. kabar sae Boss.. alhamdulillah.

Abdul Muis, wartawan Konco Lawas Jawa Pos (CowasJP.com) – medianya para mantan wartawan dan karyawan Jawa Pos Group - mengucapkan selamat via WA atas terpilihnya kembali Leak Kustiya sebagai Dirut Jawa Pos Koran. Ucapan itu disampaikan sehari setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) JP Holding, Selasa 22/7/2020. Para pemegang saham tetap mempercayakan jabatan Dirut JP Koran kepada Leak Kustiya.

Leak-Kustiya-2.jpgLeak Kustiya (paling kiri) Dirut JP Koran) dan Duta Besar Maroko untuk Indonesia Ouadia Benabdellah (tengah) saat berkunjung ke kantor redaksi Jawa Pos, Surabaya, 26 Agustus 2017. (FOTO: jawapos.com)

Akan tetapi tiada respons.

Semenit kemudian, wartawan media ini menulis, ”Kapan awak dewe diajak ngopi bareng.” 

Pesan ini juga belum dibaca. Status centangnya tetap satu. Belum dua centang (terbaca).

Kirim pesan dilanjut: ”Beberapa kali aku berkunjung ke Grapen (Graha Pena) belum ketemu njenengan.” 

Leak tak juga membuka pesan singkat tersebut.

Hal yang sama dilakukan Leak, ketika dua hari kemudian, 25 Juli 2020, media ini mengirimkan artikel berjudul “Jawa Pos seperti Kapal Titanic.” 

Status message tetap centang satu. Masih tidak dibuka. Ini yang membikin penasaran!

Ada apa? Wallahua’alam. 

Yang pasti, Senin 3/8/2020 masih ada kesempatan menemui bos-bos besar Jawa Pos di Graha Pena. Wartawan media ini kemudian coba menghubungi salah satu pemegang saham, Mahesa Samola. putra Almarhum Eric Samola (founder Jawa Pos Group). Juga gagal. 

Sekuriti gedung JTV menyebut bosnya sedang rapat. Tujuan menemui Mahesa tak lain untuk memastikan alasan mengapa para pemegang saham di RUPS Luar Biasa mempertahankan Direksi Jawa Pos yang programnya “digugat” para karyawannya. 

“Cak Amu ke lantai 4 saja. Bos-bos sedang ngumpul di sana,” ujar seorang karyawan Jawa Pos yang baru saja menerima pesangon pensiun dini, kepada media ini.

Tak sampai lima menit menunggu di ruang tamu lantai 4,terlihat Leak Kustiya keluar dari ruang kerja lantai 4 Graha Pena. Ia bersama salah satu direktur Jawa Pos, Eddy Nugroho, menuju lift.

Pas pintu lift terbuka, media ini langsung ikut masuk. Bergabung bertiga. “Aku Cak Amu… Pak Leak. Ada waktu sebentar. Selamat Anda jadi Dirut lagi,” ujar jurnalis media ini sembari membuka maskernya agar Leak mengenali.

Leak pun akur. Dia memberi waktu ngobrol santai di dekat mobil pribadinya. Di basement. Persis di depan Mushollah. 

Selama setengah jam lebih sedikit, Leak memberikan statement-nya. Gayeng . Polos, tanpa basa-basi.

Leak meyakini para karyawan Jawa Pos saat ini pasti memahami kondisi media cetak di era digital. Tidak seperti dulu. Apalagi berbulan-bulan telah dihadapkan pada kondisi pandemi Covid 19 yang mengancam masa depan perusahaannya. Bahaya jika tidak segera mengambil langkah.

Ia sepakat bahwa Jawa Pos seperti Kapal Titanic yang dianalogikan Dahlan Iskan ketika perusahannya dihantam badai Krisis Moneter (Krismon) 1998. Dahlan yang saat itu menjadi CEO Jawa Pos mengibaratkan perusahannya akan tenggelam. Awak kapal dan penumpangnya harus selamat dengan memberikan sekoci.

BACA JUGA: Jawa Pos seperti Kapal Titanic

Analogi Dahlan itu diakui Leak memang tepat. Hanya saja, kapal yang diibaratkan untuk kondisi Jawa Pos saat ini bukan kapal Titanic. Tapi sebuah kapal yang berbeda, dan tidak sampai tenggelam. 

Leak-Kustiya-3.jpgKetika Presiden Jokowi (paling kanan) mengunjungi markas besar Jawa Pos, Graha Pena Surabaya, 2/2/2019. Leak Kustiya (kedua dari kanan). (FOTO: jpnn.com)

Tapi kedua kapal itu sama-sama harus melempar sekoci.

“Ya, format yang kami lakukan sama, Cak. Melempar sekoci. Cuma, apakah sekoci itu baik yang dulu atau baik yang sekarang? Saya kira itu relatif, Cak,” jelas Leak.

Dia menilai apa yang dilakukannya saat ini sudah cukup baik. Bahwa restrukturisasi harus dilakukan, bukan sekadar karena ada wabah Covid-19. Atau yang lainnya. 

“Ada yang  lebih mendasar,” akunya. 

Apa itu?

“Direksi sebagai penanggungjawab perusahaaan, harus bisa memberikan jaminan kepada pembaca bahwa brand Jawa Pos harus tetap terbit dan hidup,” tegasnya. 

Untuk itu, pihak direksi akan melakukan inovasi agar Jawa Pos tetap eksis sebagaimana yang diharapkan oleh para pemilik dan masyarakat luas. Nah, di sinilah dia dan kawan-kawan perlu melakukan terobosan secara menyeluruh.

“Bukan hanya inovasi pada produk, tapi juga harus ada restrukturisasi,” tegasnya.

Restrukturisasi? 

Ya! Langkah ini harus diambil. Program pertama adalah melakukan penawaran pensiun dini untuk karyawan usia 40 tahun ke atas. Itu dilakukan sejak Jawa Pos menyambut hari jadinya yang ke-71, pada 1 Juli 2020. 

Restrukturasi itu dilakukan oleh direksi untuk semua lapisan.  Pertimbangannya: Jawa Pos ke depan harus ramping dan siap berkompetisi di medan laga berikutnya. 

“Kita bisa berjalan saja sudah bagus. Syukur-syukur bisa berlari kencang dalam kondisi ramping nanti,” harap Leak.

Menurut dia, program pensiun dini ini sebenarnya bukan bertahap. Setelah karyawan usia 40 tahun ke atas, baru kemudian karyawan usia 30 tahun ke atas. Program itu sebenarnya bareng. Penawaran pensiun dini ini untuk SEMUA KARYAWAN. 

“Tidak ada skala prioritas. Semuanya karena base on kebutuhan,” katanya. 

Bahwa Jawa Pos adalah perusahaan media, lanjut Leak, tentu divisi redaksi yang paling banyak kena dampaknya. Sebab, secara komposisi bagian redaksi akan tetap menjadi bagian paling besar timnya. 

“Kemarin Jawa Pos sempat memiliki tiga wakil pemimpin redaksi. Sekarang cukup satu. Kebutuhannya menyesuaikan dengan kondisi ke dapan,” aku mantan karikaturis dan desain grafis andalan Jawa Pos itu.

Leak juga tidak bisa menghalangi karyawan yang tidak puas dengan kebijakannya, lantas memilih jalur hukum. 

“Saya kira ini paling fair. Kepentingan perusahaan dengan kepentingan karyawan, itu kan belum tentu sama,” jelas mantan pemimpin redaksi saat CEO-nya disandang Dahlan Iskan ini.

Apa yang dilakukan manajemen, menurut dia, sudah sesuai aturan. “Hal itu sudah menjadi standar paling bawah di manajemen kita,” tegas Leak.

Ia juga sudah menekankan anak buahnya di bagian HRD. Siapa pun karyawan yang terkena PHK, baik dini atau dalam bentuk yang lain, pihak HRD harus menyesuaikan dengan  standar dasar sesuai undang-undang ketenagakerjaan.

“Kita juga punya peraturan perusahaan di mana poin-poinnya agak berbeda dengan Disnaker,” jelas Leak. “Standarnya harus itu dan tidak boleh di bawah itu,” imbuhnya.

DANANYA DARI ASURANSI

Lantas, apa pertimbangan perusahaan memensiun dini para karyawan usia 40 tahun ke atas, disusul 30 tahun ke atas? “Itu sudah menjadi kebutuhan sebuah organisasi. Perusahaan juga sudah mempertimbangkan seberapa besar manfaatnya untuk karyawan dan perusahaan,” jawab Leak.

Menurut dia, karyawan yang berusia 40 tahun ke atas sudah memahami keberadaan perusahaan. Rata-rata mereka sudah mengambil pesangon. “Bagi kita penting sekali untuk menerima pesangon ini. Bahwa kemudian ada yang tertarik untuk masuk lagi dengan kontrak baru dengan nilai gaji baru, ya silakan,” ungkapnya.

Pihak perusahaan juga sudah memikirkan karyawan yang usia 40 tahun ke atas pasti masa kerjanya lebih panjang. Gajinya lebih besar. “Jika semua menerima tawaran itu, kan kita juga harus memikirkan dana untuk membayar mereka,” jelasnya.

Berapa budget dana untuk pensiun dini? 

Leak tidak bisa menyebut pastinya. “Angkanya belum di-update,” elaknya.

Yang jelas, policy perusahaan: semua karyawan diasuransikan. Setiap bulan mereka dibayarkan preminya. “Dan, ini kebijakan dari direksi,” tegasnya.

Karena itu, tambah Leak, ketika ada kebutuhan untuk pensiun dini atau pensiun biasa, jangan sampai perusahaan dalam kesulitan lantas tidak bisa membayar kewajiban pensiun karyawannya.

“Memang, kita sudah siapkan dari dana asuransi. Setiap dibutuhkan untuk satu orang atau banyak orang, ya mekanismenya ya tinggal dicairkan,” ungkapnya.

Leak menampik tudingan adanya intimidasi terhadap karyawan yang enggan pensiun dini. Ia mengaku sudah memikirkan kelangsungsan hidup perusahaannya sebelum bulan Maret 2020. 

“Kita sudah punya prediksi ketika virus ini masuk dan membuat perekonomian Indonesia mengalami guncangan. Saya kira bisnis Jawa Pos juga terdampak,” jelasnya.

Nah, sejak itulah ia mengajak diskusi beberapa pihak. Termasuk mengumpulkan karyawan yang usianya sudah di atas 40 tahun. 

TABUNGLAH EMAS

Leak berpikir, seandainya kekacauan ekonomi seperti itu terjadi, alangkah baiknya jika karyawan punya duit dan bisa menyimpannya dengan aman. “Syukur-syukur bisa bertambah nilainya,” harap Leak.

Bahkan, saat bertemu pimpinan salah satu bank pemerintah di Surabaya, Leak memperoleh saran agar karyawannya menabung emas. Sebab, harga emas saat itu masih Rp 700 ribu per gram dan terus naik.

Ia berharap para karyawan yang sudah menerima pesangon bisa mengelola dana itu sebaik-baiknya. Berinvestasi yang aman, bisa berkembang dan tidak berisiko. Sarannya waktu itu menabung emas.

Leak menyampaikan saran ini tidak hanya kepada para karyawan Jawa Pos Koran. Karyawan di Radar-Radar – koran anak perusahaan Jawa Pos -- juga diberi pemahaman yang sama. 

Banyak pilihan berinvestasi. “Tapi investasi yang bodong-bodong itu kan banyak. Kami khawatirkan itu. Sudah investasi uang hilang. Tidak balik lagi,” jelasnya.

Pihaknya sudah berusaha membangun komunikasi dari awal.  Pemberian pengertian semacam ini bila disambut dengan baik akan lain ceritanya. 

“Jadi seperti yang Cak Amu bilang: Waduh ini diintimidasi. Mungkin seperti itu persepsinya,” ujarnya.

Padahal sebaliknya. Menurut Leak, manajemen sudah berusaha bicara rasional agar mereka memahami soal itu. “Nah, buktinya sekarang harga emas sudah naik, lebih dari Rp 1 juta per gram,” ungkapnya.

Ia menyadari komunikasinya saat itu tidak mulus. Tapi dia memahami bahwa situasi saat ini sangat mengagetkan. Dari kondisi Jawa Pos sebelum ini yang begitu sangat baiknya, tiba-tiba surut seperti ini.

“Ini kenyataan. Bisa jadi saya menyampaikannya terlalu awal. Bulan Maret saya sudah mulai mewacanakan persoalan itu. Tapi kan persepsi teman-teman bisa berbeda,” aku Leak. (Bersambung)

Pewarta : Abdul Muis
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda