Guest Editor Harian DI'sWay (3)

Agama Ibrahim Logis dan Rasional

Berhala pertama yang disembah manusia. (FOTO: dream.co.id)

COWASJP.COM – Hari Raya Idul Adha ini mengingatkan kita kepada nabi Ibrahim. Pendiri agama Islam. Atau, setidak-tidaknya pemula agama Islam. Karena, sejak zaman beliau itulah agama ini dinamai Islam. Dan pengikutnya disebut muslim.

“(Inilah) agama leluhurmu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) di dalam (Al Qur’an) ini ..” [QS. 22: 78]

Ibrahim adalah warga Babilonia. Kawasan Mesopotamia. Yang sangat subur. Karena, diapit oleh dua sungai besar: Eufrat dan Tigris. Yang bersumber dari pegunungan di Turki. Mengalir ke selatan. Melewati Irak. Dan, bermuara di Teluk Persia. 

Ibrahim terlahir di kota kecil Uhr. Sekitar 2500 tahun sebelum Masehi. Di zaman raja Namrudz. Yang beragama pagan. Penyembah dewa-dewi. Dan patung-patung.

Orang tua Ibrahim adalah seniman terkenal. Pembuat patung. Yang disembah oleh masyarakat pagan. Ibrahim kecil ikut membantu ayahnya. Membuat dan memasarkan hasil karyanya. Untuk disembah-sembah. Di rumah warga. Maupun di rumah-rumah ibadah.

Tapi, Ibrahim muda senantiasa bertanya-tanya. Kenapa masyarakatnya menyembah patung bikinan bapaknya. Yang ia juga membantu membuat dan menjualnya. Akalnya tak bisa menerima. Masa, tuhan kok bikinan manusia. Dan, ia terus mempermasalahkannya. 

Berulang kali ia menanyakan kepada bapaknya. Sampai bapaknya merasa sebal. Dan mengancam untuk melempar batu dan mengusirnya. 

“Berkata bapaknya: bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, pastilah kamu akan kulempari batu. Dan pergilah dariku selamanya.” [QS. 19:46]

Karena tidak mendapatkan jawaban memuaskan dari bapak, Ibrahim mengalihkan pertanyaanya kepada orang-orang di sekitarnya. Teman-temannya. Tetangganya. Siapa saja yang ditemuinya. Yang menyembah patung-patung itu. Mereka pun marah. Seperti juga bapaknya. Dan mengancam mengusir Ibrahim dari kota kelahirannya.

Ibrahim kesal. Kemudian mengambil kapak. Menghancurkan patung-patung di rumah ibadah. Di pusat kota. Disisakan satu. Yang paling besar. Kapaknya dikalungkan di leher patung. Yang paling besar itu. Kemudian dia pergi.

Warga kota pun geger. Saling bertanya. Siapa yang berani menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Sambil meninggalkan kapak di leher patung tersisa. Tak sulit mengetahuinya. Pastilah Ibrahim. Yang sudah lama membuat sebal warga kota. Dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Ibrahim ditangkap. Ramai-ramai. Digiring ke tengah kota. Ke pusat ibadah. Di mana patung-patung bergelimpangan. Dan mereka pun bertanya, apakah benar Ibrahim yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. 

"Ibrahim menjawab: Sebenarnya (patung) yang besar itulah yang melakukannya. Maka tanyakan saja kepada mereka, jika mereka dapat berbicara". [QS. 21:63]

"Kemudian (orang-orang itu) tertunduk (malu): Sesungguhnya kamu (Ibrahim) telah mengetahui bahwa (patung-patung) itu tidak dapat berbicara". [QS. 21:65]

"Ibrahim pun menimpali: lantas, mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak memberi mudharat kepadamu?" [QS. 21: 66]

Begitulah sepotong kisah Ibrahim muda. Yang diceritakan Al Qur’an. Kepada umatnya. Tentang bagaimana proses ketauhidannya. Yang tidak bersifat dogmatis. Seperti masyarakatnya waktu itu. Melainkan, berdasar pada akal sehat. Logis. Dan rasional.

Ketauhidan semacam itulah yang diwariskan Ibrahim kepada keturunannya. Kepada Ishak dan Ismail. Kepada Ya’qub. Kepada Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Isa, sampai Muhammad. Semua adalah anak keturunannya. Yang mewarisi ajaran tauhid agama Ibrahim.

"Dan (lbrahim a. s.) menjadikan (ketauhidan) itu kalimat yang abadi pada keturunannya, supaya mereka selalu kembali (kepada ajaran tauhid itu)". [QS. 43:28]

Maka, tidak heran jika Al Qur’an pun mengajarkan agama yang logis dan rasional. Sebagaimana saya tulis di buku “Beragama dengan Akal Sehat”. Karena sesungguhnyalah, Al Qur’an adalah kelanjutan ajaran Ibrahim. Yang telah disempurnakan melalui nabi terakhir: Muhammad SAW. Yang juga keturunannya.

Maka, lihatlah. Bagaimana Al Qur’an mengajarkan ketauhidan secara akal sehat itu. “Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah: "Unjukkan bukti-bukti argumentasimu, jika kamu orang yang benar” [QS. 27:64]

MasyaAllah. Ketauhidan yang dibangun melalui akal sehat. Dan akan melahirkan cara beragama yang sehat pula. Laa ilaaha illallaah – “Tiada Tuhan selain Allah”. Kalimat tauhid yang menjadi warisan utama Ibrahim. Sang khalilullah: nabi kesayangan Allah … (Dimuat di harian DisWay, Jum'at 31 Juli 2020)

Oleh: Agus Mustofa, Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern, dan Founder Kajian Islam Futuristik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda