Frankfurt Book Fair (3)

Spirit Nasionalisme Ekonomi Jerman Mengagumkan

Sastrawan Taufiq Ismail membacakan sajak langsung diterjemahkan ke Bahasa Jerman di stand Indonesia. (FOTO: Moch. Makruf/Cowas JP)

COWASJP.COM – Pukul 1.45 waktu Abu Dhabi (04.00 WIB), boarding open untuk Etihad 001 tujuan Frankfurt. Sebelum masuk ke boarding room, para penumpang diperiksa petugas imigrasi setempat. Biasa, barang-barang bawaan dimasukkan  X-ray. 

Yang tidak biasa, pemeriksaan imigrasi di sini ketat sekali. Kami harus melepaskan sepatu, keluarkan isi dompet, lepas ikat pinggang, jam tangan -- semua yang terbuat dari metal -- untuk dimasukkan ke box X-ray. 

BACA JUGA: Backpacker Hemat Rp 5,8 Juta‚Äč

Empat petugas imigrasi menolak penumpang masuk pintu metal detector karena terdeteksi membawa logam. Mereka harus keluar dan membersihkan dirinya dari unsur bawaan metal. 

Ada seorang remaja dari Frankfurt membawa hard disk tebal dan panjang sekitar 20 cm. Petugas tidak tahu kalau itu hard disk. Barang sempat disita dan dikonsultasikan atasannya, seorang wanita berwajah dingin. Namun, barang itu akhirnya lolos.

Masuk boarding room, tak lama kemudian -- dua staf wanita Etihad berpakaian pramugari -- sudah siap menerima penumpang. Para penumpang menyerahkan boarding passnya. Disobek lantas penumpang masuk pesawat.

Pesawat meninggalkan Abu Dhabi menuju Frankfurt. Perjalanan panjang sesi kedua dimulai. Di dalam pesawat, kami disuguhi menu breakfast. Kali pertama roti sandwich. Taste-nya sudah Eropa tidak spicy. Satu jam kemudian, kami disuguhi scrable egg, yogurt, buah, dan roti.

TIBA DI FRANKFURT

Setelah menempuh perjalanan sekitar 8.500 kilometer dari Abu Dhabi, pukul 6.45 (11.30 WIB), pesawat mendarat di Frankfurt Airport di Main. Penumpang turun dan masuk bandara. Kami lantas menuju ke baggage claim (pengambilan bagasi). 

Sebelum menuju ke lokasi baggage claim, kami dihadang oleh dua polisi Jerman, satu lelaki dan satu wanita. Mereka mengenakan seragam atasan biru dan bawahan hitam. Kami diperiksa passportnya dan tujuan kedatangan.

Kami lantas menuju loket imigrasi. Ada dua booth loket. Satu booth diisi dua petugas. Proses imigrasi cepat. Tanpa ditanyai, petugas langsung menyetempel passport, saya langsung ke baggage claim.

Di baggage claim ambil troly harus bayar dengan memasukkan koin ke mesin self service, muncul tiket. Troly yang semula terkunci bisa  dilepas  tempatnya.

MERCY, BMW dan AUDI MENDOMINASI

Pukul 07.00 waktu setempat, kami meninggalkan baggage claim menuju pintu keluar bandara. Kelompok IKAPI di-handle oleh seorang guide dari travel agent yang menyertainya. Mereka kumpul di bandara pada pukul 09.00, setelah itu ke areal pameran. Sebelum kumpul mereka dipersilakan mandi atau merapikan diri di bandara itu.

Sedangkan saya, karena berangkat sendiri, ya harus mengatur perjalanan sendiri. Dengan langkah pede saya keluar dari bandara. Di luar ternyata ada shuttle bus ke station kereta api antarkota dan taksi-taksi sudah berderet.

Saya memlih naik shuttle bus -- yang bentuknya memanjang bercat kuning. Bila berhenti secara hidrolis bodinya turun sehingga  memundahkan penumpang memasuki bus.

jerman.jpg1.jpgStand Malaysia. (FOTO: Moch. Makruf/Cowas JP)

Saya pilih shuttle bus karena mau naik kereta api antarkota. Bus pun meluncur  menuju ke stasiun kereta api yang lokasinya masih di sekitar bandara. 

Bus masuk jalan raya. Di sini mata saya baru terbuka. Ternyata Jerman, menurut saya, seperti dunia baru. Semua mobil yang berseliweran rata-rata baru. Merek-mereknya sebagian besar mobil produk dalam negeri BWM, Mercedes Bens, Audi dan VW. Spirit nasionalisme ekonomi bangsa Jerman kuat sekali. Saluut. 

Berbeda dengan Australia, misalnya, mobil keluaran lama masih ditemui  berseliweran di jalan raya.

''Harga mobil di sini memang murah. Yang mahal adalah biaya hidup. Upah kerja penduduk 20 Euro per jamnya = Rp 340 ribu per jam. Kurs sekarang 1 Euro = Rp 17.250.

Sebulan, pekerja kantor bisa mendapatkan gaji 2000 Euro = Rp 34 juta, kotornya 3.500 Euro = Rp 60,3 juta,'' kata seorang teman asal Bogor yang tinggal di Jerman sejak 1988. Dia dua kali beristrikan wanita Jerman. Dia saya temui ketika berada di pameran.

Teman saya ini ternyata punya usaha sendiri jual beli apartemen. Memiliki 23 karyawan orang Jerman. ''Harga apartemen yang termurah Rp 1 miliar. Yang ideal Rp 2,3 miliar bila dikurskan Rupiah,'' kata teman tadi. 

Arsitektur gedung-gedung perkantoran dan hotel semuanya modern. Sempat saya melihat  Hilton Hotel yang arsitekturnya futuristik, seperti telur memanjang. Dan, lingkungan di sekitarnya sangat bersih.

Tiba di stasiun kereta api, saya turun. Dan, uhh, hawa dingin menusuk badan. Musim gugur (autumn) di Jerman suhu udaranya sekitar 6 − 7 derajat Celcius . 

Setelah tanya sana-sini, saya tidak jadi naik kereta api untuk menuju ke Hotel Tourist di Baseler Strasse 23-25, Frankfurt am Main. Saya disarankan oleh sopir shuttle bus naik taksi saja, meski mahal. Itu lebih bagus daripada tersesat, mengingat saya baru kali pertama ini berkunjung ke Jerman. 

Saya terpaksa naik taksi Mercedes Benz. Itu karena semua taksi di sana sebagian besar Mercedes Benz. Taksi meluncur masuk tol dan keluar tol memasuki kota. Sekitar 30 menit, taksi sudah tiba di hotel yang letaknya memang strategis. Tidak jauh dari lokasi Frankfurt Book Fair. 

Berapa biaya taksi? 28 Euro = Rp 483.000. Cukup mahal juga.

Masuk hotel diterima resepsionis seorang lelaki tua. Saya menunjukkan email konfirmasi booking saya. Dia mengecek  email booking saya di filenya.  Dia menemukannya kemudian saya bayar hotel Euro 394 untuk stay 14 sampai 20 Oktober 2011. Saya masuk kamar hotel. Kamar cukup bersih dan bagus. Saya pun mandi untuk persiapan pergi ke area pameran. 

KALAH DENGAN MALAYSIA DAN THAILAND 

Sekitar pukul 10.00 waktu setempat, saya harus menuju ke lokasi Frankfurt Book Fair (FBF) 2011 di Fusthalle/Messe.   Saya naik trem sekitar 10 menit. Halte trem sendiri berada di depan hotel, tinggal menyeberang jalan saja. 

Saya naik trem nomor 16 bercat hijau dangan panjang sekitar 10 meter menuju ke lokasi pameran. Setelah melalui 3 kali halte, salah satunya stasiun besar Hauptbahnhof Trem. Sekitar 15 menit kemudian tiba di Messe/Festhalle, lokasi Frankfurt Book Fair.

Jerawat.jpg2.jpgStand Thailand. (FOTO: Moch. Makruf/Cowas JP)

Area pameran sangat luas. Luas Jatim Expo hanya 15 persen dibanding lokasi pameran di sini. Begitu luasnya area pameran, ada sekitar 6 shuttle bus kecil yang melayani pengunjung langsung menuju ke lokasi pameran.

Frankfurt Buchmesse ini menempati 8 hall. Bus-bus tadi melayani para penumpang yang turun di hal-hal tersebut. Hall 8 international adalah lokasi pameran terjauh. 

Stan Indonesia sendiri berada di hall 5 internasional. Hall 5 internasional terbagi dua, 5.0 dan 5.1. Stan Indonesia berada di hal 5.0, nomor stan 911. 

Saya masuk dari pintu utama yang terdiri 3 pintu pull. Pas masuk sudah menunggu 3 polisi Jerman yang gayanya kaku --baik wanita dan laki-lakinya. Mereka menyebarkan brosur sosialisasi keamanan.

Di dalam, seorang resepsionis cantik sibuk melayani para pengunjung dengan komputer LDC-nya. Dia mengenakan seragam blaser merah dan bawahan merah. Tampak profesional. Di belakangnya adalah tulisan welcomen atau welcome.

Sisi kiri dan kanannya map besar tertempel. Ini untuk memudahkan pengunjung menuju ke lokasi pameran. Saya langsung menuju ke loket masuk. Ada lima petugas yang siap menerima tiket masuk, discan, dan dipersilahkan masuk. 

Untung saya sudah beli tiket online sebelum kedatangan ke pameran. Harga tiket 30 Euro (Rp 517.500) per hari. Bila beli langsung 12-16 oktober 2011 tiketnya 60 Euro = Rp 1.035.000. 

Harga tiket terintegrasi dengan tiket public transport. Tapi bila kita belum membelinya, loket tiket ada di depan.  

Saya masuk area pameran, setelah sebelumnya ada pemeriksaan tas. Saya langsung menuju ke hall 5. Tiba di hal 5, masuk area pameran. Saya terkejut. Ternyata stan-stan per masing-masing peserta sangat bagus plus penataan bukunya keren banget.

Stan Prancis misalkan. Stan ini tampil elegan dan elite. Stan yang dimonopoli warna merah, menampilkan buku-buku hardcover hasil cetak dan finishing-nya, membuat kita berdecak. Judul-judul bukunya juga sangat bagus. Porche, yang warna buku didominasi merah. Selain itu, ada pula buku kumpulan seni-seni zaman Rennaisance.

Lokasi hall 5.0 ternyata ada di lantai bawah. Naik eskalator, saya turun ke bawah. Tiba di lokasi, saya menemukan stan Malaysia. Design interior stannya cukup bagus. Warna didominasi hitam dan merah. Penataan buku yang dipamerkan untuk dijual copy rightnya juga cukup bagus.

Malaysia menampilkan 50 Best Malaysian Titles for International Rights 2011. Tim penerbit lebih siap dengan pameran ini termasuk buku dan katalognya. Semuanya sudah menggunakan bahasa Inggris. Stan ini juga menyediakan souvernir-souvernir untuk para pengunjung.

Menuju ke stan Thailand, juga tidak kalah bagusnya. Stan ini didominasi kuning dan merah. Desain interior stannya sangat bagus. Demikian pula penataan bukunya. Setiap penerbit dan print-nya ada bagian sendiri. Ada dua resepsionis yang siap melayani pengunjung dan membagikan katalog buku-buku yang dijual copy right-nya pada penerbit lain.

Akhirnya, saya tiba di stan Indonesia yang bertemakan “Indonesia in Colors”. Setelah memperkenalkan diri dengan Ibu Nova dari IKAPI pusat yang ditunjuk sebagai koordinator stan, saya langsung mengeluarkan 10 buku PT Jepe Press Media yang saya bawa dari Indonesia. Untuk saya tawarkan copy right-nya.

Buku-buku tersebut disertai katalog dengan resensi singkat bahasa Inggris per masing-masing buku. Ada tiga buku yang  berbahasa Inggris: Egony, My Israel Question (Antony Loewenstein, Australia), dan SMS Motivation. 

Ada juga buku hardcover Ekspedisi Bukit Barisan (Kopassus), tulisan saya.  Saya berharap buku-buku saya laku dijual copy right-nya di pameran ini. 

Bagaimana stan Indonesia? Saya sulit menjelaskannya. Stan Indonesia sebenarnya menggunakan tema Bali. Ada skets penari Bali di bagian depan dan dalam. Namun design interior stand-nya terasa hambar. Tidak ada kesesuaian buku dan interiornya. 

Buku-buku yang ditawarkan juga sedikit yang hard cover. Sebagian besar buku-buku nonteks DAK. Stan Indonesia jauh dari yang diharapkan. Kabarnya persiapan stan ini mendadak, hanya seminggu sebelum kegiatan. 

''Stan Indonesia dalam Frankfurt Book Fair 2010 lebih bagus dari stan 2011,'' ujar Satrio, seorang rekan Indonesia yang sejak 1988 tinggal di Jerman dan beristrikan wanita Jerman juga.

Ya sudahlah lupakan kondisi stan Indonesia. Saya tidak tahu apa ada transaksi copy right di stan ini pada hari pertama dan ketiga. Karena saya ke situ pada hari keempat. ''Tidak ada transaksi, mas,'' ujar Dewi, mahasiswa Indonesia yang tinggal 9 tahun di Jerman.

Para penjaga stan Indonesia diambil dari anak-anak mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman. Keberadaan mereka juga berkat koordinasi dengan Konsulat Indonesia di Frankfurt. Ada di antara mereka yang lahir di Jerman karena kedua orang tuanya puluhan tahun tinggal di Jerman.

HADIRKAN SASTRAWAN TAUFIQ ISMAIL  

Pada 14 Oktober 2010, stan Indonesia di Frankfurt menghadirkan sastrawan gaek Taufiq Ismail. Dia akan membacakan empat puisinya yang diterjemahkan dalam Bahasa Jerman oleh Berthold Damshauser. 

Bagi  para pejabat konsulat Indonesia, Berthold tak asing lagi. Dia bisa dikatakan kepala sukunya orang Jerman yang master soal budaya dan sastra Indonesia. 

Dia cukup lama berteman dengan sastrawan Taufik. Dan, dia editor in chief Orientierungen, jurnal mengenai kebudayaan Asia dan redaktur Jurnal Sajak. Pada 1977, dia mendirikan Komisi Indonesia-Jerman untuk bahasa dan sastra. 

Sejak 2003, dia bersama Agus R Sarjono menjadi editor Seri Puisi Jerman yang terbit di Indonesia. 

Pada 2010, Berthold dipilih oleh Kementerian Luar Negeri RI sebagai Presidential Friend of Indonesia. Sejak 1986, dia mengajar sastra dan bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Institut fur Orient-und Asienwissensch. Menariknya, dia beristrikan wanita Indonesia.

Selain Berthold, ada lagi pengajar Indonesia study di Goethe Universitat, Frankfurt/Main  yang hadir saat itu. Dia adalah Holger Warnk, MA. Bahasa Indonesianya cukup lancar. Bila menceritakan soal kekayaan budaya Indonesia, dia sangat bersemangat, menghayati ucapannya, dan sepertinya dia lebih Indonesia dari orang Indonesia sesungguhnya. (Bersambung)

Penulis: Mochamad Makruf, Wartawan Senior di Surabaya dan mantan staf JP Books.

Pewarta : Mohammad Makruf
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda