Islam, Islami, Syariah, atau Halal

COWASJP.COM – Awal pekan ini sosial media dihebohkan oleh unggahan  di Instagraam  “kue klepon tidak Islami”. Entah ini unggahan serius, lucu-lucuan, atau apa. Pengunggahnya pun, Abu Ichwan Aziz, sudah menghilang. Yang jelas, pengguna  sosial media menanggapinya serius. Dan, biasa, karena ada kata-kata Islam, banyak yang menanggapinya dengan berbagai sindiran. 

 Denny Siregar, misalnya,  merespons dengan nada sindiran “klepon itu dari Bahasa Yunani yang artinya  aku yahudi”. Ada juga yang menulis “klepon telah berhijrah”, “apa klepon punya agama?”, dan berbagai nada negatif lainnya. Akhirnya sebagian menganggap unggahan itu sebagai ejekan dan mendiskreditkan Islam. Hmm.... jadi amat serius. 

Karena terlanjur viral, ada baiknya masyarakat memahami dengan baik istilah-istilah yang seringkali disalahpahami ini. Ya, kata Islam, Islami, syariah, dan halal. Secara substansi, sebenarnya empat kata itu memiliki maksud yang sama, meski tidak persis: sesuai ajaran Islam. Dan ini memang konsekuensi muslim, karena harus ber-Islam secara kaffah –pada seluruh kehidupan.

Namun, ketika penempatannya tidak tepat  akhirnya  disalahpahami dan jadi kontraproduktif. Apalagi kalau penyebutan terhadap sesuatunya sendiri tidak tepat, seperti masalah klepon itu. Mengapa? Karena klepon tidak layak disifati “tidak Islami”, sehingga kalimat itu jelas salah. 

Dalam hal makanan, yang jamak adalah istilah halal. Bukan Islami yang menggambarkan kata sifat. Jadi seharusnya kalimat itu secara bahasa menjadi  “kue klepon tidak halal”. Kalimat ini  tidak benar, karena  klepon adalah makanan halal. Klepon adalah jajan tradisional berbahan tepung, gula, dan kelapa.

Pasti tak akan viral, jika unggahan itu berbunyi “daging babi  tidak Islami”. Meski dari sisi kalimat kurang tepat, tapi memang babi adalah haram. Berarti tidak diizinkan dimakan sesuai syariah Islam. 

Islam Tidak Selalu Islami?

Kata Islam mengandung arti sesuai syariah Islam. Namun digunakan pada sesuatu yang bersifat sistem, seperti negara Islam, bank Islam, atau sekolah Islam. Jadi, tentu tidak tepat untuk menyebut makanan seperti “makanan Islam”. 

Kata Islami memiliki makna kata sifat. Artinya, sesuai ajaran Islam. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya bersifat keislaman atau akhlak. Penggunaana yang tepat adalah untuk menggambarkan bahwa sesuatu itu sesuai ajaran Islam atau sesuai akhlak Islam, meski bukan berasal dari Islam. 

Kata Islam dan Islami bisa sangat berbeda. Jadi, yang Islam (menerapkan system Islam) tidak tentu Islami. Begitu juga Islami belum tentu (bersistem) Islam. Kita bisa menyebut negara (sistem) Islam tapi tidak Islami. Sekolah Islam, tapi tidak Islami. Ini karena Islami menunjuk pada sifat, sementara Islam menunjuk pada sistem atau subyeknya. Seperti juga, orang Islam (muslim) tidak selalu Islami. 

Contoh ini bisa dilihat dari riset peneliti George Washington University,  Hossein Askari dan Scheherazade S. Rehman (2010).  Mereka menulis di Global Economy Journal,  How Islamic are Islamic Countries? (Vol. 10, Issue 2, 2010). Dan  An Economic Islamicity Index (Vol. 10, Issue 3, 2010).

Intinya, mereka mengindentifikasi karakteristik negara Islami dan menemukan 113  indikator. Dari indikator itu, mereka memotret 208 negara, baik negara Islam dan mayoritas muslim serta bukan negara Islam/non-mayoritas muslim. Hasilnya, Irlandia menjadi negara paling Islami—paling banyak menerapkan karakteristik Islam. Arab Saudi yang  negara Islam justru berada di urutan 91. Indonesia nomor 130-an. 

Dari riset itu, dapat dipahami bahwa negara Islam tidak selalu Islami. Pun negara non-Islam bisa Islami. Realitas ini mungkin bisa lebih memudahkan kita membedakan apa Islam dan apa Islami. Meski, ini  tidak selalu benar, karena tergantung indikator untuk mengukur tingkat ke-Islaman negara. 

Lalu apa syariah? Dalam konteks ekonomi, istilah syariah hanya ada di Indonesia. Ini digunakan untuk menyebut lembaga seperti bank syariah, asuransi syariah, koperasi syariah, dan sebagainya. Juga untuk produk:  gadai syariah, reksadana, saham, atau obligasi syariah. 

Di kancah global, semua menggunakan kata Islam. Islamic bank, Islamic insurance (takaful), atau Islamic cooperative. Juga  produk seperti Islamic stock, Islamic mutual fund, dan sebagainya. Istilah  syariah artinya hukum atau aturan. Syariah bank berarti hukum atau aturan bank. 

Ada cerita mengapa istilah syariah digunakan menyebut hal-hal terkait ekonomi dan keuangan Islam. Jelang para ulama  bertemu Presiden Soeharto untuk minta restu pendirian bank syariah tahun 1991,  Mensesneg Moerdiono berpesan agar tidak menggunakan istilah Islam. Pak Harto masih Islamophobia. Maka dicarilah istilah syariah, model bagi hasil seperti koperasi. Respons Pak Harto pun positif. 

 Bagaimana dengan halal? Kita biasanya menggunakan istilah halal hanya untuk makanan, minuman, atau obat. Tapi, pada kancah global, istilah halal digunakan untuk menyebut  semua indikator ekonomi syariah, kecuali keuangan (Islamic finance). Menurut Global Islamy Indicator, lainnya adalah halal food, halal fashion, halal tourism, halal media and recreation, dan halal cosmetic and pharmacy. 

Istilah halal terdengar lebih enak untuk menyebut hal yang terkait ekonomi. Halal hotel,  makanan halal, wisata halal, atau yang latah sekali pun: pijat halal (halal massage).  Wallahu a’lam. (*)

 Penulis adalah Dosen Ekonomi Syariah FEB dan Wakil Dekan Sekolah Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda