Diliput Wartawan, Aksi SP Jawa Pos Tak Maksimal

Para anggota Serikat Pekerja Jawa Pos berkumpul dan menyampaikan pernyataan sikap di Warkop Ojo Gelo. (FOTO: Cowas JP)

COWASJP.COM – Aksi Serikat Pekarja (SP) Jawa Pos tidak maksimal. Rencana mereka menggelar pernyataan sikap keprihatinan atas pemberitaan yang viral: Jawa Pos “Keropos” terkendala kehadiran wartawan.

Puluhan  karyawan Jawa Pos yang menggelar aksi solidaritas ini, sejak pukul 11.00 WIB sudah mulai berdatangan di Warung Kopi (Warkop) Ojogelo. Lokasinya tidak jauh dari markas besar Jawa Pos di gedung Graha Pena, Jalan Ahmad Yani 88, Surabaya. 

Sejam kemudian mereka sudah berkumpul. Mereka duduk di antara kursi dan meja warkop yang berasingan. Satu per satu menandatangani secarik kertas absen. Tidak ada kain atau spanduk yang bertuliskan tentang suara aksi.

BACA JUGA: Jawa Pos “Keropos”

Kesan yang terlintas seperti orang nongkrong di warkop. Sejurus kemudian, seoerang rekan mereka berdiri di atas bangku. Menyampaikan keprihatinannya atas pemberitaan media digital. Tidak lama ia berdiri dan membacakan “petisi”. 

Seorang pentolan aksi kemudian medaulat salah seorang wartawan senior Jawa Pos, yang sudah pensiun untuk memberikan spirit kepada yuniornya agar tidak patah arang..

Wartawan lawas yang tergabung dalam komunitas pensiunan koran terbesar di Indonesia, Cowas (Konco Lawas) Jawa Pos itu, tak butuh waktu lama untuk menyampaikan keprihatinannya atas perkembangan terakhir Jawa Pos. Ia pun tak rela Jawa Pos tumbang.

BACA JUGA: #SaveJawaPos​

Di hadapan rekan wartawan yang meliput aksi tersebut, mantan karyawan yang juga menjadi korban pemaksaan pensiun dini ini, meminta untuk tidak menayangkan pernyataannya. “Off the record ya. Ini persoalan internal kami,” pitanya.

“Kita harus menyelamatkan Jawa Pos. Ini almamater kita. Kebanggaan kita semua. Saya jadi terkenal dan besar dari Koran ini. Jawa Pos harus eksis. Mari bersatu untuk mempertahankannya,” pekik senior Jawa Pos itu.

Salah seorang pentolan aksi mengamini pernyataan sikap seniornya. Ia menyebut aksi kali ini sebenarnya akan gayeng jika tidak ada wartawan media lain yang meliput. 

“Kami tetap punya etika. Aksi ini hanya untuk internal kita. Tapi, apa mau dia sudah terekspose CowasJP.Com. Yang notabene media sesepuh kami,” ujarnya.

Ia sangat menghormati sikap seniornya. Rekan-rekan yang tergabung dalam SP Jawa Pos semula curiga atas pemberitaan yang viral dan dibaca ratusan ribu viewers itu. 

“Tapi, setelah kami pelajari ada sesuatu dari berita itu yang membuat teman-teman semangat untuk menyelamatkan Jawa Pos. Kami mau dibawa kemana sama manajemen,” cetus senior di antara karyawan redaksi ini.

Karena itu, ia di hadapan rekan-rekannya meminta agar tidak su’uzdon terhadap pemberitaan yang dilakukan para seniornya lewat media portal yang dikelola secara independen ini. Ia juga mengharap para senior Jawa Pos untuk ikut andil dalam menyelamatkan almamaternya agar tetap eksis. 

Jawa Pos bukan milik seseorang. Kini sudah menjadi milik kita bersama. #SaveJawaPos,” pinta rekan lainnya.

Serikat pekerja didirikan, menurut nara sumber yang namanya minta dirahasiakan ini,  bukan sekedar untuk mewadahi aspirasi karyawan tentang nasib dan masa depannya. Lebih dari itu. Menyelamatkan aset masyarakat dan bangsa Indonesia. 

jp1.jpg

“Kami bukan menolak pensiun dini. Kami ingin menyelamatkan media ini. Mengapa manajeman hanya dihantam covid tiga bulan, manuver yang dilakukan adalah memutus hubungan kerja,” jelasnya.

Jika perusahaan tidak sanggup menggaji karyawan untuk masa mendatang, menurut dia, mengapa harus memangkas habis karyawan berusia 40 tahun keatas. “Kebijakan ini sangat tidak masuk akal. Itu bukan bertujuan efisiensi. Ada sesuatu di balik itu.” timpal karyawan bagian non-redaksi lainnya.

Logikanya, lanjut dia, jika skala prioritas karyawan yang dipangkas di atas usia 40 tahun, itu berarti wartawan-wartawan senior yang ada di redaksi bakal habis. “Dua puluh lebih rekan kami yang mayoritas redaktur bisa digusur,” ujar seorang redaktur yang juga wanti-wanti tidak perlu menyebut namanya di media ini.

Menurut dia, usia matang seorangan wartawan ada di umur tersebut. Apa relevansi manajemen membuat kebijakan itu. “Ini bertarti sama saja menebang pohon dari akar. Apa itu solusinya?” 

Ia berharap komisaris Jawa Pos yang berencana melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Rabu (22/7/2020) mau mendengar aspirasi karyawan. Mereka  berharap ada perubahan struktur pengurus direksi yang bisa memimpin demi kelanggengan hidup perusahaan. 

“Karyawan butuh kenyamanan dan keamanan masa depan,” ungkap seorang karyawan lain sembari menyebut rekannya ada yang sudah bekerja puluhan tahun namun statusnya masih kontrakan.

Kepada media ini, karyawan yang disebut itu, mengaku tak habis pikir dengan sikap manajemen. Ia sudah 24 tahun mengabdi. Namun statusnya masih dikontrak tiap tahun. Nah, ketika ada program pensiun dini, dia paling dirugikan karena pesongannya pasti kecil.

Karyawan pracetak ini tidak punya tempat mengadu. Ketika minta pertanggungjawaban kepada pimpinannya, jutsru dipong pong. “Saya minta pertanggungjawaban Pak Leak, malah saya disuruh nanya Pak Dahlan. Setelah saya cross check, Pak Dahlan (Dahlan Iskan, CEO lama Jawa Pos)  tidak pernah bilang begitu. Ini gimana?” keluhnya.

AGEN IKLAN

Selain persoalan internal, seorang agen iklan juga akhir-akhir ini merasakan dirugikan oleh manajemen Jawa Pos. Seorang  agen iklan jitu yang mengaku sudah 20 tahunan bekerja sama menilai kebijaksanaan  bos iklan tidak realistis.

“Komisi iklan jitu 15 persen. Tapi komisi yang diberikan langsung 12,5 persen. Sedangkan 2,5 persen ditabung dan baru cair atau diberikan ke agen setelah 6 bulan,” ungkapnya.

Alasannya? Uang tabungan itu dianggap sebagai uang jaminan. “Gak jelas kenapa harus ada aturan baru seperti itu. Ini diberlakukan sudah bertahun tahun,” jelasnya.

Belum lagi uang THR iklan jitu, menurut dia, persentasenya dari omzet iklan selama satu tahun gak jelas hitungannya. Pernah omzet setahun 12 juta lebih tapi uang THR yang diberikan dalam amplop dalam acara Buku Bersama hanya Rp 500.000. 

“Buat THR pembantu terima iklan saja gak cukup,” keluh Cak Dar, bukan nama sebenarnya.

Apa reaksi manajemen? Saat dikonfirmasi, jurnalis media ini belum berhasil menemui para direksinya. “Pak Leak jarang ke kantor,” ujar seorang karyawan front office. Leak yang dimaksud adalah Leak Kustiya, Direktur Utama Jawa Pos Koran.

Begitu pula ketika menghubungi Direktur Utama Jawa Pos Holding, Ratna Dewi, selalu sibuk rapat.. “Beliau-beliau sekarang ini sibuk rapat karena akan ada RUPS,” jelas seorang karyawan.

Hanya HRD (Human Resources Developmen) Rudy Ahmad Syafii Harahap yang bisa dijumpai. Namun kapasitasnya hanya melaksanakan tugas sesuai fungsinya. Ia mengaku tidak bisa melarang karyawan yang melakukan aksi keprihatinan di Warkop Ojogelo.

Sehari sebelum acara itu digelar, Rudy menyebut itu hak karyawan untuk mengekspresikan diri. Ia sendiri membenarkan pernyataan Eddy Nugroho dalam pemberitaan sebelumnya di CowasJP.Com yang berjudul: Jawa Pos “Kropos” itu. Jawa Pos memang tengah melakukan efisiensi karena pemasukan iklan dan Koran terus menurun. (*)

Pewarta : Abdul Muis
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda