IJP-Institute, Terbentuk langsung Ada Kerjasama

COWASJP.COM – ALUMNI program Indonesia Journalist Programe (IJP) di Institute for Training and Development (ITD), Massachussets, AS tahun 2000 dan 2001 sepakat membentuk IJP-Institute. Satu kelembagaan yang lebih terprogram agar semakin bisa memberi manfaat. Dengan IJP Institut diharapkan pula semakin leluasa dalam membuat jejaring untuk memperkuat kebebasan berpendapat, aksi-aksi kemanusiaan dan lingkungan.

Ada kesamaan visi dari sesama alumni yang berasal dari sejumlah provinsi di Indonesia ini. Visi ini diingatkan lagi oleh Dr Elias Tana Moning yang menjadi fasilitator dan mendampingi peserta IJP selama program berlangsung.

“Arahan yang akan kita pakai dalam IJP Institute ini apa? Ya, kita kembali kepada tujuan utama dari Journalism ethics yang kita pelajari selama program. Yaitu mencari dan mengutamakan Kebenaran dan melakukan serta menceritakannya dengan meminimalisir Kerugian atau kerusakan yang bisa ditimbulkannya,“ pesan Elias Tana Moning.

Maksimalkan Kebenaran dan Minimalkan Kerugian, kerusakan kepada masyarakat. Itu prinsip dalam penulisan tapi juga pas diberlakukan dalam setiap langkah kehidupan.

Dalam bahasa keren yang selalu diucapkan berkali-kali dan sangat dihafal oleh para alumni, terutama angkatan pertama yaitu: Maximize Truth, Minimize Harms. Maksimalkan Kebenaran dan Minimalkan Kerugian, kerusakan kepada masyarakat. Itu prinsip dalam penulisan tapi juga pas diberlakukan dalam setiap langkah kehidupan.

Elias menyampaikan pesannya itu saat diminta bicara dalam pertemuan online, Selasa (21/7) pukul 20.00-22.15 WIB. Pertemuan diikuti oleh para alumni IJP. IJP ini berlangsung dua kali. Angkatan pertama IJP terdiri dari 3 provinsi yang rentan konflik di Indonesia dengan 12 jumlah wartawan. Sedangkan angkatan kedua, dari 3 provinsi rawan konflik anarkis dengan 13 jurnalis.

Dari 25 jurnalis tersebut tiga orang telah tiada karena sakit dan bencana alam tsunami Aceh tahun 2004. Sejumlah orang pensiun dari media tempatnya bekerja, tapi kemudian masih bergelut di media baru, ada pula yang berkarir di pemerintahan hingga menjadi Kepala Dinas. Pertemuan juga diikuti oleh fasilitator lain yang kini menjadi dosen di Universitas Hamburg Jerman, Yanti Mirdayanti.

Pertemuan online berlangsung gayeng. Acara yang terwujud setelah ada grup Whatsapp ini menjadi ajang saling sapa dan mengenang kisah-kisah tak terlupakan selama program. Beberapa orang pernah bertemu langsung, tapi banyak yang lama tidak berjumpa.

Selain memutuskan membentuk IJP Institute disepakati pula sejumlah poin. Di antaranya Sekretariat sementara berada di Pontianak dan kepemimpinan bersifat kolektif-kolegial. Diputuskan pula untuk mempersiapkan kelengkapan kelembagaan atau organisasi seperti membuat logo, menyusun visi-misi dan program kerja.

Para alumni IJP juga sepakat menulis pengalaman mengikuti program IJP dan dampak setelah kembali ke tanah air. Masing-masing peserta IJP menulis satu artikel dan dilengngkapi foto. Deadline satu bulan mendatang. Tulisan ini direncanakan menjadi satu buku yang bisa menginspirasi banyak orang.

Yang menarik, kendati baru disepakati terbentuk IJP-Institute, tawaran merajut networking untuk pengembangan masyarakat sesuai kompetensi yang ditekuni telah datang. Kerjasama pertama dari IASI (Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia) di Jerman. Pada 17 Agustus nanti sudah ada sejumlah webinar dengan mengundang IJP-Institute sebagai narasumber.

Kompetensi alumni di sejumlah bidang, juga akan memperkuat IJP-Institute. IJP Institute bisa melaksanakan webinar sendiri dengan tema-tema tertentu dari kompetensi setiap alumni—saling mengisi saling membantu.

Begitulah, hikmah pandemi Covid-19, memungkinkan jejaring 20 tahun yang lalu ini hidup kembali. Semoga pandemi segera berakhir, dan IJP-Institute terus berkembang dan bermanfaat. (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda