Teman-Teman di Sulsel Lebih Jawa dari Orang Jawa

Suasana malam hari di Alun alun Kota Pare Pare, kota masa kecil Presiden Habibie. (FOTO: Bambang Supriyantoro/Cowas JP)

COWASJP.COM – Adalah menjadi kodrat manusia apabila kadang muncul keinginan mendatangi tempat-tempat yang dulu memberikan kesan mendalam terhadap kehidupannya. Begitu juga saya. Yang pernah ditugaskan PT Petrokimia Gresik bekerja di Sulawesi Selatan, Makassar, 1995 – 2002.

Waktu itu saya ditugaskan meng-cover pemasaran wilayah Indonesia Timur sampai Provinsi Papua.

Yang membuat terkesan selama tugas di sana adalah rekan kerja yang berkeinginan keras dan mau bekerja keras untuk maju. Benar-benar babat alas. Mulai dari nol. Pedoman kerja dan petunjuk teknis pun nggak ada.

Semangat kerja keras membubung, tapi apa yang harus dikerja-kerasi?  Selama 7 tahun bekerja sangat jarang dilakukan evaluasi kerja. Alhasil, apakah saya dan teman-teman kerja di sana sudah bekerja dengan baik atau belum, ya nggak tahu.

Jika memang dinilai belum baik, bagaimana caranya agar berubah menjadi baik. Kalau sudah baik bagaimana caranya untuk  meningkatkan kinerja.  Tapi tidak pernah dinilai. 

Akibatnya, kami hanya bisa me-reka-reka. Sebagai tenaga lapangan/pemasaran , kami meniru saja cara kerja pegawai negeri sipil yang kami jumpai setiap hari.

Berangkat kerja pukul 07.00 atau 08.00 Wita. Ke lapangan pas hari pasarannya, mempromosikan produk perusahaan ke petani yang berkunjung ke kios pertanian.Kemudian sekitar pukul 14.00 Wita pulang istirahat.  Awal bulan depan menerimagaji.    

Ada yang konyol. Karena tak bekerja pun tetap mendapat gaji utuh  tiap bulan, ada petugas lapangan  yang ke luar pulau sebulan. Bukan untuk menjalankan tugas, tapi cuma jalan-jalan belaka. Dan, dia tetap mendapat gaji utuh di awal bulan depan.

Tidak ada atasan yangmengontrol. Pendek kata, mau kerja atau tidak,  gaji lancar-lancar saja. Enaak tenan. 

gapura.jpgGapura masuk Kota Pare Pare.

Atasan sama sekali tak pernah mengevaluasi dan mengkontrol anak buah yang bekerja di daerah. Andai sekali saja dalam setahun atasan mengunjungi anak buah, sudah bagus.  

Sampai-sampai terlontar guyonan. “Podho karo nyangoni  arek mbambung  minggat!” (Sama dengan memberi uang saku gelandangan minggat).

Seperti itulah kondisinya kala itu. Salahkah mereka? Tidak juga. Lha wong mereka memang tidak tahu harus berbuat apa dengan pekerjaannya?  Terus bagaimana cara merekrut tenaga kerjanya? 

“Wis embuh, ruwet cak (Ya nggak tahu, ruwet bang),” kata arek Surabaya.

Lantas saya coba merekonstruksi cara berpikir dan pola kerja para petugas lapangan. Dengan berjalannya waktu, rupanya mereka merasa menemukan kegairahan bekerja.  

Jika sebelumnya mereka dengan sangat mudah ditemui. Sore hari pasti sudah di rumah.  Tapi setelah mereka tahu apa yang harus dikerjakan dan memiliki kepercayaan diri, mereka jadi tidak mudah ditemui. Kadang sampai malam pukul 21.Wita pun belum pulang.  

“Belum pulang Pak, sejak pagi tadi ,“ kata isterinya saat saya tanya ke mana.  

Pernah saya coba mendatangi rumahnya pukul 6.00 Wita. Tidak ada juga!

“Sudah berangkat kerja, Pak,” kata isterinya.

Akhirnya mereka membuat catatan yang ditempelkan di sisi depan pintunya. Semacam logbook, jadwal kerja hari ini. Dengan begitu saya tidak kesulitan lagi menemuinya. Jam sekian dia berada di mana, jam sekian di mana. Saya datangi saja sesuai jadwal dan lokasinya. Pasti ketemu.

Setelah 7 tahun bersama mereka, saya dimutasi ke Medan. Kami pun berpisah. Tak pernah bertemu selama 10 tahun. Apalagi setelah saya ditarik ke kantor pusat di Gresik.  Nah pada saat senggang, saya kangen ingin bermain ke Sulawesi Selatan (Sulsel). Ingin silaturahmi ke teman-teman perjuangan dulu.

Waktu itu, tahun 2012, ada liburan tahun baru Islam. Saya cuti 3 hari (Senin sampai Rabu). Total bisa liburan 9 hari. Saya kontak bekas anak buah di Sulsel. Saya pingin jalan-jalan di Sulsel karena sudah lebih dari 10 tahun saya tinggalkan. Saya juga ingin tahu kemajuan apa yang telah dicapai oleh provinsi yang pernah saya jelajahi selama 7 tahun. 

Tak disangka, ternyata mantan anak buah menyambut gembira rencana kedatangan saya. 

"Kapan Bapak datang? Saya jemput di Makassar ya. SMS saja, pesawat apa dan jam keberangkatan dari Surabaya," kata mantan anak buah. 

"Bagaimana kalau Minggu 11 November (2012) besok," jawab saya agak ragu karena belum pesan tiket. 

"Terserah kapan saja, Bapak berangkat, saya siap," jawab bekas anak buah melalui HP.

Setelah mendapat kepastian tiket pesawat untuk keberangkatan Minggu 11 November 2012, saya SMS ke bekas anak buah. Pesawat berangkat dari Bandara Juanda. 

Hati mengambang ragu. Semoga saya tidak mengganggu pekerjaan mereka. Sebab, saya hanya ingin jalan-jalan keliling Sulsel. Tidak ada maksud lain yang spesifik. Sekadar menghilangkan kejenuhan kerja saja.

Kalau mereka tidak menjemput, saya sudah siap untuk keliling sendiri tanpa tujuan. Tiket pulang sudah di tangan, Kamis 15 November 2012.

palopo.jpgPersimpangan di Desa Peka'e Kabupaten Sengkang, menuju Kota Wajo, Palopo, Makassar.

Bisa saja tiba-tiba mantan anak buah saya itu ada acara lain karena tugas kantor atau acara keluarga. Nggak tahulah. Apa kata nanti.

Pada hari H, saya pun siap terbang ke Makassar. Hati saya plong ketika menerima SMS dari bekas anak buah saat di ruang tunggu Bandara Juanda. 

"Pak, kalau mau naik pesawat, tolong di SMS. Sekarang saya sudah di Makassar bersama teman-teman. Mau jalan-jalan ke kota dulu." Demikian bunyi SMS. Maklum, bekas anak buah ini tempat tinggalnya di sekitar kota Sidrap, yang jaraknya sekitar 200 Km dari Makasar. Mungkin ada kepentingan lain, mumpung di Makassar.

Di dalam pesawat pikiran ke mana-mana. Teringat awal kedatangan saya di Makassar 25 tahun yang lalu, tahun 1995. Tak bisa kulupakan perjalanan Sulsel. Komunikasi dengan banyak petani dan kios dengan bahasa dan logat yang berbeda. Kelucuan yang pernah terjadi karena perbedaan bahasa. 

Rutinitas selama seminggu: bisa 3 hari kumpul dengan teman-teman berbahasa Bugis, 2 hari dengan teman-teman berbahasa Makassar. Kemudian bertemu orang Toraja, Duri, dan Luwu yang bahasanya berbeda.

Tak terasa berapa jam sudah berada di pesawat lantaran asyiknya melamun. Rasanya ingin segera bertemu bekas anak buah, teman-teman kios, dan banyak hal lain yang menjadi kenangan selama bertugas 7 tahun tugas di Sulsel. 

Saya tersentak dari lamunan panjang ketika pramugari mengumumkan bahwa beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar.

Dari jendela pesawat saya amati, Bandaranya sudah jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Keluar dari badan pesawat, saya agak bengong. Setelah masuk ruangan Bandara tambah bengong. Rangka atapnya berubah tinggi dan terkesan luas. Menurut saya, bandara ini lebih lega, luas dan megah dibandingkan dengan Juanda.

Asyik melihat kiri kanan ruangan Bandara Hasanudin. Menikmati perubahan wajah bandara. Seperti wong ndeso. Biasalah naluri wartawan, celingukan. He he he. 

Tiba-tiba SMS masuk lagi. "Pak, saya sudah di ruang kedatangan.“ 

Saya pun bergegas mengambil tas yang saya begasikan, dan segera keluar ruangan bandara untuk segera bertemu para mantan anak buah yang telah berpisah 10 tahun. 

Karena banyaknya para penjemput, saya clingukan mencari wajah bekas anak buah. Cukup lama saya berdiri di depan pintu keluar ruang kedatangan, belum juga menemukan wajah yang saya kenal. Akhirnya saya coba menelepon mantan anak buah, sambil terus melihat para penjemput. 

Tapi sebelum connect, ada dua orang yang melambai-lambaikan tangannya ke arah saya sambil tersenyum. Saya amati, nah inilah orangnya. Langsung saya batalkan panggilan HP. 

Seperti biasa ketemu mengucapkan salam, berangkulan, saling melihat bentuk tubuh masing-masing. Saling mengomentari. 

"Bapak sudah putih semua rambutnya, cuma kelihatan lebih sehat, perutnya rata," kata salah seorang mantan anak buah. " Iya, Pak, kelihatan lebih bersih, ndak pernah ke lapangan lagi ya Pak?" sahut yang lain. 

"Ya biasa, orang kantoran jarang ketemu sinar matahari. Anda berdua kelihatan agak gemuk, dan penampilan lebih trendy. Hanya orang Polmas ini yang tetap kurus tak berubah," jawab saya sambil memandang mantan anak buah yang tertua.

Di dalam mobil SUV yang relatif baru, tiga teman saya cerita singkat perjalanan mereka dari Poliwali, Pinrang dan Sidrap. Kami terus melaju ke luar Bandara Hasanuddin. 

"Pak ayo kita lihat-lihat dulu kota Makassar. Sekarang sudah ramai dan macet di mana-mana," kata salah seorang mantan anak buah dengan bangga atas perkembangan kota Makassar. 

"Pantai Losari sudah tidak seperti dulu lagi. Tanjung Bunga tambah ramai, ada tempat hiburan punya Trans TV," tambah yang lain, tak mau kalah mempromosikan Makassar. 

"Nanti apakah kita tidak kemalaman sampai di Sidrap?" jawabku.

"Tak masalah Pak. Jalan sudah mulus dan lebar, nanti hanya 3 jam sudah sampai Sidrap ," kata salah seorang bekas anak buah.

Dalam hati, saya benar-benar masih dianggap Bos. Sebenarnya saya tak ingin merepotkan mereka, malah diajak keliling kota seperti Kabayan Saba Kota. Mereka ingin menunjukkan bahwa Makassar telah banyak berubah dibandingkan 15 tahun yang lalu. 

Kota Makassar memang benar-benar sumpek. Kendaraan roda 4 maupun 2 memenuhi jalanan. Padahal menjelang Magrib. Mobil bergerak perlahan dan berhenti, jalan, berhenti lagi..ya.. sama seperti di Surabaya.

"Bapak mau lihat perumahan yang dikontrak dulu?" kata mantan anak buah yang sedang menyopir. 

"Wah ndak usahlah, jalanan kayak gini ramainya. Kita cari makan ikan laut saja setelah sholat Magrib," kata saya.

pare-pare.jpgJalanan di Kota Wajo menuju Pare Pare relatif sepi.

Singkat ceritera selama 4 malam di Sulsel, saya diantar dan dimanjakan para mantan anak buah keliling Sulsel. Meskipun belum lengkap. Mulai bertemu teman-teman kios di Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja, Palopo dan Sengkang. Di Toraja sempat melihat upacara kematian yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Ada adu kerbau sebelum disembelih. Harganya bisa lebih dari Rp 100 juta. Padahal dulu selama 7 tahun di Sulsel belum sekalipun melihat acara seperti ini.  

Melihat proses tenun sutra sekaligus  belanja kainnya. Tak lupa beli telor ikan di sekitar Danau Tempe. Cukup banyak warga sekitar danau yang menjual telor ikan.   

Dalam setiap kesempatan mereka tak henti-hentinya berceritera masa lalu tentang diri saya yang dinilainya keras membimbing mereka bekerja. Sekarang mereka merasa berhasil secara ekonomi, dan bisa mengangkat derajat keluarga. 

Dan tak pernah ketinggalan, saya selalu dikenalkan dengan orang tuanya dan kerabatnya yang menyambutnya dengan gembira setiap mampir ke rumah mereka . 

"Ini Pak Bambang baru berkunjung kembali setelah lama tak ke Sulawesi," kata mereka. 

Penyambutan seperti ini benar-benar di luar perkiraan saya. Mereka juga selalu mengingatkan saya harus minum obat. "Pak, obatnya sudah diminum? " 

"Kita cari makan yang sehat saja Pak, nanti di Sengkang."

Hal-hal kecil inilah yang membuat saya terharu dengan perhatian mereka. Padahal sekarang mereka bukan anak buah saya lagi. Bahkan mereka sengaja bersama-sama cuti selama tiga hari mulai saat menjemput, berkeliling daerah dan mengantar saya kembali ke Bandara Hasanuddin. 

Lebih terharu lagi, mereka selalu menelepon saat perjalanan dari Juanda ke Lawang. "Sudah sampai di mana Pak ?" 

"Alhamdulillah, sudah sampai di rumah Lawang. Kamu sampai di mana " jawab saya. 

"Masih di Pare-Pare Pak. Teman-teman mampir mampir, syukurlah kalau sudah sampai Pak."

Mereka menemani saya sampai ada panggilan boarding di Bandara Sultan Hasanuddin.

Saya sendiri tak tahu mereka dulu pernah saya apakan, kok sambutannya sebaik itu.  Saya merassa lebih banyak memarahi dari pada memujinya. Apalagi kalau pekerjaannya tak beres dan kalah dalam bersaing.  

Bahkan salah satu dari mereka pernah saya marahi lewat telepon jam 11 malam, karena berceritera lewat telepon  membeli mobil baru. Padahal 8 tahun setelah berpisah, setelah mereka tidak menjadi anak buah saya lagi.  

“Kalau beli mobil pick up saya setuju sekali, lha ini mobil pribadi buat apa? Apakah sudah punya rumah? Modal untuk usaha bagaimana?” kata saya.

 “Yang bapak sebut tadi saya sudah ada Pak. Rumah di Pinrang dan di Makassar ada. Beli sawah 2 hektar Pak di kampung isteriku,” jawabnya dengan perasaan bangga.  

Saya senang mereka lebih makmur. Sudah punya mobil semua. Rumah punya dan bagus. Bahkan secara ekonomi mereka lebih mapan dari saya. Alhamdulillah.

“Mendingan Anda keluar dari pekerjan ini secepatnya. Bila tak mau kerja keras, saya akan sedih nanti setelah kamu berumur dan pensiun, kehidupanmu kepayahan. Saya tak mau ini  terjadi pada diri kalian. Mumpung masih muda, silakan bekerja sungguh sungguh, mumpung ada kesempatan“, kata saya setiap berkumpul dengan mereka. 

Begitu baiknya mereka, meskipun mereka bukan anak buah saya lagi. Mereka lebih jawa (menghargai dan menghormati) dari orang Jawa.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : tribunnews

Komentar Anda