Wali Paidi Episode 8

Coba Menghindar, lantas Diingatkan Nabiyullah Khidir

Berwudlu di sungai. (FOTO: bebasbaru.com)

COWASJP.COM – Wali Paidi menyusuri jalan, pergi tanpa arah dan tujuan. Dia hanya berjalan dan berjalan.

 Lupa akan makan dan minum, Wali Paidi pingin menghindari orang-orang yang mulai tahu kedudukannya.

Mulai banyak orang sekarang yang memanggilnya gus, memanggilnya kiai. 

Bahkan ada yang terang-terangan menggangilnya sang wali.

Kehidupan Wali Paidi sekarang tampak ramai, ada saja orang yang memerlukan bantuannya. 

BACA JUGA: Selalu Husnudzon dengan Siapa pun​

Soal jodoh, soal penglaris dan ada juga yang hanya minta barokah do'a. 

Yang paling berat ada yang minta diakui murid.

Wali Paidi merasa terusik. Dia kepingin merasakan kehidupannya yang dulu. 

Orang-orang hanya mengenalnya sebagai penjual minyak wangi, dengan pengajar alif-alifan di musholla kecilnya.

Dan sekarang banyak orang yang berlomba-lomba pingin membangun mushollanya. 

Wali Paidi pingin menghindari itu semua. Dia jenuh akan semua pujian yang dialamatkan pada dirinya.

Lebih-lebih akan datangnya Malaikat yang

mengunjunginya baru-baru ini.

Wali Paidi mulai memasuki hutan belantara.

Dia berjalan terus dan berhenti ketika dia melihat di depannya ada sungai.

Dia mendekati bibir sungai, dilihatnya airnya begitu jernih. 

Wali Paidi menunduk dan mulai membasuh tangan dan mukanya, lalu memperbarui wudlunya. 

Karena Wali Paidi ini diberi kemampuan oleh Allah untuk selalu dalam keadan suci (punya wudlu) atau bahasa ngaji sak paran parannya "Da'imul wudlu."

Setelah wudlu, Wali Paidi baru sadar kalau ada orang yang agak jauh di sampingnya.

Orang itu sedang memancing. Wali Paidi mendekati orang itu. Dia merasa orang itu bukan orang sembarangan. 

Melihat wajahnya, tiba-tiba saja hati Wali Paidi semakin tenteram. 

Ketika melihat orang ini, Wali Paidi mau mengucapkan salam tapi kedahuluan orang tersebut.

"As-salamu'alaikum kang Paidi," ucap orang itu.

"Wa-alaikum salam. Kalau boleh tahu siapakah Anda," tanya Wali Paidi keheranan.

"Untuk saat ini namaku Syukron Fahmi," jawab orang itu.

Wali Paidi terdiam, dia hanya menunduk memikirkan jawaban orang tersebut.

Tiba-tiba saja sikap Wali Paidi berubah dengan sendirinya tanpa ia sadari. 

Dia bersikap seakan mengahadapi gurunya.

"Kang Paidi sampeyan tidak seharusnya menghindari semua itu. Pujian-pujian itu adalah ujian buatmu.

Ujian yang berupa pujian itu lebih berat dari penghinaan.

Allah mau meningkatkan derajat sampeyan," ucap orang itu.

Wali Paidi semakin menunduk, ternyata orang yang sedang memancing ini tahu akan keadaan dirinya.

"Kang Paidi, dengan menghindari pujian-pujian itu sama saja sampeyan menafikan kekuatan Allah.

Karena sampeyan merasa tidak mampu, padahal Allah-lah yang memberi kekuatan," kata orang itu lagi.

Wali Paidi hanya bisa diam dan semakin menunduk. Air mata mulai meleleh dari matanya.

"Ingat, La Haula Wala Quwwata Illa Billah, merasa mampu dan merasa tidak mampu itu tidak boleh, itu sudah syirik khofi bagi orang setingkat sampeyan.

Karena Allah yang memberi kekuatan. Allah meliputi segalanya," lanjut orang itu.

Wali Paidi menangis sesenggukan, dia yakin orang yang di depannya adalah Nabiyullah Khidir. 

Dia ingin bersalaman dengannya untuk memastikannya.

Setelah menangisnya agak reda, Wali Paidi mengangkat wajahnya dan mau bersalaman dengan orang itu.

Tapi orang yang mengaku bernama Syukron Fahmi sudah hilang dari hadapannya....

Setelah bertemu sosok yang mengaku bernama Syukron Fahmi, Wali Paidi masih terdiam dalam duduknya.

Masih terngiang-ngiang ucapan sosok misterius yang menggugah jiwanya itu.

Wali Paidi berdiri membersihkan tempat duduknya dan mulai melaksanakan sholat. 

Setelah salam, Wali Paidi berdiri lagi dan melakukan sholat lagi. 

Begitu terus sampai malam kira-kira sekitar jam 9 malam, Wali Paidi berhenti dan melanjutkan dengan melakukan wirid.

Dia duduk bersila, memusatkan pikirannya, membuang jauh-jauh pikiran-pikiran tentang dunia.

Tanpa disadari, Wali Paidi, kemudian berdzikir Sirr. Entah berapa lama hal ini terjadi.

Kemudian Wali Paidi merasakan alam di sekitarnya begitu hampa.

Tidak ada suara, semua yang berada di sekitarnya jadi hitam gelap gulita. 

 Wali Paidi seakan menjadi udara yang hampa dan bergerak mengitari alam yabg hitam pekat ini.

Setelah berkeliling tampak di depannya ada dua sosok manusia yang sedang duduk seperti duduknya orang tahiyat. 

Berdiri di samping keduanya sosok berjubah putih yang bercahaya. 

Lamat-lamat Paidi mengenali salah satu sosok yang duduk di. depannya tersebut.

"Tidak salah lagi, beliau adalah Imam al-Ghozali mujtahid Islam," bathin Wali Paidi.

Lalu Wali Paidi melihat sosok baju putih itu maju ke depan dan berkata kepada sesuatu yang di depannya, dan sesuatu yang tidak terlihat.

"Gusti... bagaimana menurut njenengan terhadap kedua kekasihmu ini yakni Nabi Musa dan al-Ghozali?" tanya sosok putih itu.

Lalu ada suara yang mengatakan:

"Musa dengan ijinku bisa menghidupkan orang yang telah mati, tapi aku lebih suka terhadap al-Ghozali, karena dia dengan ijinku pula bisa menghidupkan hati hamba-hamba-ku yg telah mati.

Banyak menghilangkan kebodohan dan membuka jalan buat hamba-hambaku untuk lebih mengenalku...."

Lalu ketiga sosok itu samar-samar hilang dari pandangan Wali Paidi.

Lalu lamat-lamat terdengarlah Adzan Subuh, sedikit demi sedikit alam mulai terlihat kembali. 

Setelah sholat Wali Paidi bangkit dan kembali pulang. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda