Wali Paidi Episode 5

Disuruh Mencari Kiai Ali Firdaus

Bangunan langgar di sebuah kampung. (FOTO: zona inspiratif wsi.blogspot.com)

COWASJP.COM – Sesampai di rumah dari Gunung Arjuna, Wali Paidi menjalankan aktifitas sebagaimana biasanya. 

Tiap pagi Wali Paidi pergi ke pasar berjualan minyak wangi. Orang-orang di pasar dan di rumahnya biasa memangilnya Kang Paidi tukang minyak.

Sekitar jam 1 siang Wali Paidi ini menutup tokonya dan pulang. 

BACA JUGA: Kerajaan Jin yang Angker Berubah Jadi Warung Kopi

Setelah sholat Ashar sehabis istirahat siang, Wali Paidi mengajari anak-anak kecil di langgarnya belajar membaca Alqur'an sampai waktu Magrib.

Dulu di langgar Wali Paidi yang sederhana ini ramai sekali dipenuhi anak-anak kecil yang belajar mengaji.

Tapi setelah ada sistem iqro' dan qirati, langgar Wali Paidi ini sepi.

Anak-anak pada pindah ke TPQ-TPQ yang memang banyak tersebar di kampungnya. 

Wali Paidi sebenarnya juga ikut pelatihan metode iqro maupun qiroati yang diwajibkan kepada seluruh guru TPQ guna mendapatkan syahadah (semacam ijazah).

Tapi Wali Paidi tidak lulus dalam pelatihan ini, karena seringnya Wali Paidi merokok dan bawa kopi di dalam kelas.

Jadinya metode yang digunakan di langgar Wali Paidi tetap memakai metode lama. Yaitu metode bagdadi. 

Karena bagi guru TPQ yang tidak punya syahadah tidak boleh mengajar dengan memakai metode iqro maupun qiroati.

Lama kelamaan murid-murid Wali Paidi habis. Tinggal 5 anak saja yang tetap mengaji di langgarnya.

Orang tua dari kelima murid Wali Paidi ini tetap mempercayakan anaknya ke Wali Paidi disebabkan masalah ekonomi.

Mereka adalah orang-orang miskin yang tidak mampu membelikan seragam TPQ dan buku untuk anak mereka.

Dari pada tidak mengaji mereka tetap menitipkan anak-anaknya pada Wali Paidi.

Di langgar Wali Paidi tidak ada tarikan uang, Mereka bebas dari biaya apa pun. 

Malah mereka sering dikasih uang jajan oleh Wali Paidi.

Menjelang magrib datanglah seorang pemuda kira-kira berumur 35 tahun mencari Wali Paidi. 

Pemuda ini adalah seorang murid thoriqoh yang disuruh gurunya mencari Wali Paidi.

"Nak carilah kiai di daerah ini namanya Ali Firdaus, tapi orang-orang di kampungnya biasa memanggil dgn sebutan Paidi (orang yg memberi faedah), umurnya seumuran denganmu dan hanya beliau satu-satunya yang bernama Paidi di kampung itu. Kalau kamu ketemu dengannya sampaikan salamku dan mintalah nasehat kepadanya."

Begitulah yang dikatakan guru pemuda ini kepadanya.

Pemuda ini disuruh mencari Wali Paidi karena seringnya pemuda ini mengalami hal-hal aneh, seperti ketika sholat, tiba-tiba ia sudah berada di Makkah dan sholat di hadapan Ka'bah. 

Banyak orang yang melihatnya sholat di atas daun, padahal dia ada di rumah.

Pemuda ini akhirnya sowan ke gurunya dan melaporkan semua kejadian yang dialaminya. Dan gurunya menyuruh pemuda itu mencari Kiai Ali Firdaus atau Kiai Paidi.

Sesampai di kampung yang dimaksud, pemuda ini bertanya-tanya kepada orang-orang di manakah rumah Kiai Paidi.

"Di sini tidak ada yang namanya Kiai Paidi, yang ada Kang Paidi seorang penjual minyak wangi," begitu jawab orang kampung ketika ditanya pemuda ini.

"Baiklah, di mana rumah Kang Paidi penjual minyak wangi itu," tanya pemuda ini.

Pemuda ini yakin bahwa Kang Paidi itulah kiai paidi yang dicarinya karena gurunya juga bilang bahwa nama Paidi hanya satu orang di kampung ini.

Pas waktu magrib pemuda ini sampai di rumah Wali Paidi. Pemuda ini bertanya kepada seorang wanita yang berada di depan rumah Wali Paidi. 

"Apakah benar ini rumah Kang Paidi penjual minyak wangi?"

"Benar nak, dia ada di langgar itu, sedang ngimami sholat magrib," jawab wanita itu sambil menunjukkan langgar yang berada di sebelah rumah Wali Paidi. 

"Terima kasih bu," jawab pemuda ini sambil menuju ke langgar guna sholat magrib sekalian sowan ke Kiai Paidi.

Sehabis wudlu pemuda ini masuk ke langgar sholat berjamaah bersama yang lain. 

Dilihatnya yang sholat di langgar cuma 3 orang, dia berdiri di samping mereka. 

Ketika pemuda ini mendengar surat Al-fatihah yang dibaca Wali Paidi, hati pemuda ini menjadi galau karena Wali Paidi ketika membaca huruf "ain" menjadi "ng" , Robbil 'alamin menjadi "Robbil ngalamin ".....

"Gimana mau khusu' dan diterima sholatnya wong bacanya aja udah keliru, apakah tidak salah gurunya menyuruhnya sowan kepadanya," 
gumam pemuda ini dalam hati. 

Setelah salam dan melakukan wirid seperti biasa pada umumnya, Wali Paidi melanjutkan dengan sholat sunnah. 

Sehabis sholat sunnah Wali Paidi keluar dari langgar dan duduk-duduk di teras sambil merokok. 

Pemuda ini menghadap kepada Wali Paidi. 
"Assalamu'aaikum," salam pemuda ini.

"Wa ngalaikum salam," jawab Wali Paidi sambil tersenyum.

Setelah menyampaikan salam gurunya kepada Kiai Paidi, pemuda ini menceritakan maksud kedatangannya dan hal-hal aneh yang dialaminya kepada Wali Paidi.

"Hhmm... saya juga heran, kok kamu sampai bisa seperti itu yah... mengalami hal-hal yang menakjubkan.
Padahal sholat kamu tadi aja masih sibuk ngurusi tajwid daripada ingat kepada Allah," kata Wali Paidi kepada pemuda ini.

Seketika pucatlah wajah pemuda ini, dan dalam hati pemuda ini berkata : "Masya Allah, ternyata gurunya tidak salah mengenai kiai muda ini" 

Pemuda ini semakin menundukkan kepalanya di hadapan Wali Paidi ini. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda