Polemik Agama vs Sains (2)

Islam Futuristik Agama Saintifik

COWASJP.COMIni adalah tulisan kedua saya, sebagai tanggapan atas polemik “Agama vs Sains” yang beberapa waktu terakhir meramaikan jagat maya dan social media. Beberapa nama populer yang menyuarakannya, di antaranya adalah Goenawan Mohamad, AS Laksana, Ulil Abshar Abdalla, Denny JA, dan Nirwan Arsuka, serta sejumlah akademisi dan pemikir lainnya.

***

Tidak ada peristiwa yang kebetulan di jagat raya. Ketika di dunia maya dan medsos sedang ramai  diskusi soal Agama vs Sains, saya justru sedang memulai menayangkan program baru di Youtube Channel saya. Yakni, program “Islam Futuristik”. Program yang mengkaji Islam dalam perspekstif sains dan teknologi, melengkapi program sebelumnya: “Cangkir Tasawuf Modern”.

Dari namanya, Anda bisa menebak bahwa saya sedang menyandingkan secara harmonis antara agama dan sains. Bukan memperlawankan seperti yang sedang diramaikan. Karena, sebagaimana saya bahas di tulisan sebelumnya, saya memang tidak sependapat jika agama dipertentangkan dengan sains. Sekali lagi, “tidak apple to apple”. Atau, “tidak Duren to Duren”.

Beberapa tahun yang lalu, di halaman facebook saya ini ada diskusi panjang selama berbulan-bulan tentang Agama dan Sains itu. Yang saking panjangnya, lantas bisa saya terbitkan menjadi tiga buah buku: “Atheis vs Tasawuf Modern”, “Ketika Atheis Bertanya tentang Ruh”, dan “Sang Atheispun Menerima Konsep Takdir”.

BACA JUGA: Agama yang Objektif & Sains yang Subjektif‚Äč

Selain itu, diskusi soal Agama dan Sains di kali lain, di halaman facebook ini juga, menghasilkan dua buah buku berjudul “Al Qur’an Inspirasi Sains” dan “Menjawab Tudingan Kesalahan Saintifik  Al Qur’an”.

Artinya, saya cuma ingin menunjukkan kepada Anda, bahwa bagi saya agama dan sains itu sama sekali tidak bertentangan. Bahkan saling melengkapi, saling menginspirasi, dan saling menjelaskan. Saya tidak menemukan pertentangan di antara keduanya, sebagaimana yang sering dilontarkan oleh kawan-kawan yang berpandangan sekuler.

Bagi yang memahami Islam secara kaffah, dan sering melakukan eksplorasi kandungan Al Qur’an, saya yakin akan tahu bahwa kitab suci ini justru memberikan banyak motivasi dan inspirasi untuk melakukan pengamatan ke jagat raya dan alam sekitar. Ada lebih dari 800 ayat kauniyah – ayat-ayat tentang alam semesta – yang identik dengan kajian ilmiah dan saintifik.

Ambillah contoh, QS. Al Ghasiyah: 17-20 ~ “Maka apakah mereka tidak mengamati / mengobservasi / meneliti unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”

Ayat ini memberikan motivasi dan dorongan kepada umat Islam untuk mengamati, mengobservasi dan meneliti berbagai ciptaan-Nya. Unta dan berbagai macam binatang, langit dan beragam benda langit lainnya, gunung, bumi, dan lain sebagainya. Yang di dalam sains, itu dikenal sebagai Biologi, Astronomi, Kosmologi, Geologi, dan seterusnya. Dalam konteks ini, sains menjadi bagian yang tak terpisahkan dari agama. Jalan untuk lebih mengenal Tuhan melalui ciptaan-ciptaan-Nya.

agus.jpg

Jumlah ayat-ayat kauniyah itu jauh melampaui ayat-ayat fikih dan peribadatan, yang hanya sekitar 150 ayat. Sayangnya, umat Islam lebih banyak membahas dan mengkaji ayat-ayat fikih ketimbang ayat-ayat sains. Sehingga, tidak heran masih banyak di antara kita yang mengira Islam dan sains adalah dua ilmu yang tidak bersentuhan satu sama lain. Bahkan, ada yang mempertentangkan. Bisa dipastikan, pendapat semacam itu muncul dari ketidak-akrabannya terhadap Al Qur’an.

Di program “Islam Futuristik” saya menyandingkan keduanya secara harmonis. Kajian tekstual berpadu dengan kajian kontekstual. Ayat-ayat qauliyah di dalam Al Qur’an berkelindan dengan ayat-ayat kauniyah yang terhampar di alam semesta. Yang kemudian berujung pada kekaguman dan pengagungan Allah, Sang Penguasa Jagat Raya. Begitulah apa yang saya pahami dari dalam Al Qur’an Al Karim sebagai kitab suci yang senantiasa menginspirasi.

QS. Yusuf (12): 105 ~ “Dan betapa banyak tanda-tanda (ayat-ayat) di langit dan di bumi yang mereka lalui, sayangnya mereka tidak mempedulikannya”.

Seandainya, umat Islam akrab dengan ayat-ayat kauniyah yang berjumlah ratusan di dalam Al Qur’an itu, saya yakin tak ada lagi orang yang meragukan, apalagi memperlawankan Islam dengan sains. Karena, sesungguhnyalah ilmu kealaman itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses spiritual seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, Sang Pencipta alam semesta. Allahu a’lam bissawab.(*) 

Penulis: Agus Mustofa, Alumni Teknik Nuklir UGM, Penulis buku-buku Tasawuf Modern, dan Pengasuh Kajian Islam Futuristik. https://id.wikipedia.org/wiki/Agus_Mustofa

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda