In Memoriam Agus Prayitno

Orang Baik Selalu Cepat Pergi

Almarhum Agus Prayitno. (FOTO: Facebook)

COWASJP.COM – Satu lagi tim saya meninggal dunia. Jumat, 19 Juni 2020 pukul 22.30, Agus Prayitno, layouter handal yang sempat dibiayai Jawa Pos belajar di The New Strait Times Singapore, berpulang ke rahmatullah. Ia meninggal di pangkuan istrinya, di rumah mertuanya, Cianjur, dalam usia 55 tahun. Ina, istrinya menyebut, Agus meninggal akibat komplikasi jantung dan diabetes. 

Bersama saya di majalah ENERGINDO sejak medio Februari 2010, kemudian TAPAL BATAS, banyak karya yang dihasilkan Agus. Tidak hanya dua  majalah itu yang digarap layout-nya. Tabloid Masjid dan majalah Al Irsyad, serta beberapa buku yang saya terbitkan, semua digarapnya dengan apik. Karya layout terakhirnya adalah buku Kumpulan Fatwa Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad.

Rabu, 24 Juni lalu, saya berkunjung ke rumah duka dan berziarah ke makam Agus. Kunjungan kali ini, selain bersilaturahmi pada Istri dan tiga anak yang saya kenal dengan baik, juga untuk meng-copy file dalam format indesign. Design buku.

Design buku Kumpulan Fatwa garapan Agus, Selasa lalu (23/6), terpilih untuk segera dicetak. Buku ini, semula dijadwalkan terbit 1 Ramadhan 1441 (24 Mei 2020).  Qodarulloh, pademi corona membuat bahasan tentang hasil layout Agus serta tim lain, baru dimulai Selasa lalu. 

Sebelum meninggal, Agus mengirin design layout itu dalam format PDF ke email saya. Mengingat scedule cetak dijadwalkan awal Juli, maka saya bergegas mengambil hasil asli layoutnya dalam format indesign pada PC (Personal Computer) Agus, tentu seizin istrinya,  di Cianjur.

Sebelum boyongan ke Cianjur pekan kedua Juni 2020, keluarga Agus tinggal di Jatijajar, Depok. Di sini ia mendapat harga sewa rumah  murah dari kawannya. Di rumah kontrakan (3 x 9) dua lantai ini, saya sering berkunjung memberi order layout. Terutama sejak ENERGINDO berhenti terbit pada September 2017.

 Selain saya, banyak teman Agus yang juga memberi kerjaan layout majalah/buku. Agus agaknya tak perlu memasarkan kompetensinya sebagai layouter handal di medsos. Hubungannya yang luas dan karya design layout-nya yang baik, membuat ia sering dapat order tak terduga.

Saya mengenal Agus sebagai pribadi yang menyenangkan. Berbeda dengan sifat umum seniman, yang tidak suka karyanya diubah-ubah atas kemauan klien. Agus  sekali pun tak pernah mengeluh. Apalagi komplain terhadap berbagai perubahan yang diminta. Dengan senang hati dia melakukan perubahan atas arahan klien terhadap layout design yang sudah digarapnya. 

Selain itu, dia juga tidak pernah meminta bayaran tinggi dan uang muka. Semua dikembalikan sesuai kemampuan teman yang memberi order layout.       

Sifat konaah begiti melekat padanya. Tak pelak bila banyak tetangga dan teman mendiang yang kehilangan atas kepergiannya. Mereka lalu berempati pada istri dan anak-anak Agus.

 “Alhamdulilah, semua dimudahkan Allah, pak,’’ kata Ina. “Almarhum meninggal di pangkuan saya. Tidak susah. Hanya satu tarikkan nafas. Banyak tetangga di sini yang mengantarnya hingga dikubur,” sambungnya.

Ina menjelaskan puluhan teman Agus yang meneleponnya. Baik teman-temannya di Jawa Pos grup maupun teman SMA dan kuliah. Dari cerita Ina, rupanya saya baru tahu bahwa Agus pernah kuliah di Universitas WR Supratman Surabaya. Selama ini ia menutup diri. Mengaku hanya lulusan SLTA. Tidak pernah menampakkan diri bahwa dia pandai akutansi. 

“Mas Agus kuliah di fakultas Akutansi. Ada 10 sahabat kuliahnya yang mengabari mau datang ke Cianjur,” kata Ina.

Penuturan Ina tentang Agus itu, agaknya seiring dengan banyaknya ucapan duka yang muncul di Whatsapp Grup (WAG). Di jalur WAG Cowas Jabotabek misalnya, mantan wartawan Jawa Pos, Iwan Samariansyah menyampaikan komen  begini:  “Orang baik selalu cepat pergi. Allahumaghfirlahu.”

Kemudian di jalur WA Chat pribadi saya, Agus Budiarso (Abud) yang sempat satu tim dengan Agus saat jadi korektor serta maketing Jawa Pos grup, menyampaikan pesan: ““Meninggal e apik hari  Jumat. Insyaalloh bebas siksa kubur. Semoga husnul khatimah.”

Pesanan itu masuk ke japri saya,  karena Abud, paham betul  bahwa Agus sering kerja bareng dengan saya. Dan menganggap sy sbg tempat yg tepat untuk mengkonfirmasi kabar dua tentang Agus.

IKHLAS
Ina mengaku sudah ikhlas melepas kepergian suaminya. Asbabnya? Kamis malam, sehari sebelum Agus menghembuskan nafas terakhir, mereka sudah saling minta maaf. Agus menanyakan apakah Ina ikhlas bila suaminya pergi selamanya? Ina menjawab ikhlas. Lalu, ia menyerahkan buku tabungan dan nomor pin BSM (Bank Syariah Madiri pada Ina.

Jumat malam ketika jarum jam beranjak ke pukul 22.30, Agus meminta Ina untuk  membersihkan tubuhnya. “Mas Agus habis pub dan minta dibersihkan. Saat tubuh dimiringkan ke kiri, almarhum sambil istighfar (“ya.. Allah”) menatap tajam wajah saya. Kemudian saat dimiringkan ke kanan, mas Agus meninggal dalam satu tarikan nafas,” tuturnya.

agus-prayitno106ad8.jpgIna (isteri Almarhum) bersama 3 anaknya. dari kiri: Yusuf, Daud dan Mutiara. (FOTO: istimewa)

Ina, yang jadi janda tiga anak di usia ke-37, mengaku sudah berjanji untuk mendampingi Agus hingga ajal menyapa. Ina juga ingin selalu dekat dengan anak dan suaminya.  Itu sebabnya, ia yang dikenal tetangganya sebagai anak mbak Jamu (karena ibu kandungnya jualan jamu gendong), bisa memikul beban eknomi keluarganya. Terutama sejak Agus  sakit awal Februari. Tiap pagi Ina jualan roti. Lalu berupaya   membikin resep  donat goreng, yang dikemasnya dalam betuk froozen. Tinggal goreng ketika hendak mengkonsumsinya. 

“Awalnya, mas Agus itu tidak sakit. Ia  memeriksakan diri ke dokter untuk kontrol nafasnya yang agak sesak. Oleh dokter dikasih obat jantung,’’ ujarnya. “Setelah minum obat itu, kaki dan tubuh mas Agus mulai bengkak-bengkak,” tambahnya.

Saya sempat melihat kaki Agus yang bengkak itu. Pertama saat memberi contoh buku, untuk dipakai acuan melayout  Kumpulan Fatwa Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad.  Pada kunjugan seminggu berikutnya, saya membawakan beberapa herbal untuknya. Dia cocok dengan Bio Cardio yang membuat pernafasannya lebih nyaman. Tapi, pada kunjungan ketiga saat menyapaikan beberapa perubahan design pada proof print, bengkak di kaki dan tubuhnya belum hilang. Saat itu, kepada dua teman cowas JP, Suyunus Rizki dan Tri Yoga, saya sampaikan pada mereka. Terutama untuk segera  mengunjungi Agus dan membantu biaya pengobatannya. 

Mereka pun sempat berkomunikasi lewat telepon  saya dan berniat untuk mengunjungi Agus.       
 
Entah, mereka jadi berkunjung atau tidak. Yang pasti,  sebelum memutuskan boyongan pindah ke Cianjur

 Yang pasti, Agus sempat menolak pindah ke rumah mertuanya. Menurut Ina, kesediaan Agus pindah ke Cianjur itu, setelah ia menyemput ibu kandungnya dengan motor Vario.

 “Saya sengaja meminta ibu untuk merayu mas Agus agar mau pindah ke Cianjur. Mas Agus awalnya ingin pindah ke Sidoarjo untuk dirawat kakak dan adik-adiknya. Dia tidak mau merepotkan mertua,” kata Ina.

Kunjungan mertua, yang sengaja dibonceng dalam perjalanan 3 jam dari Ciganjur, di tengah-tengah ancaman tidak boleh masuk Depok itu, rupanya meluluhkan hati Agus. Ia mau diboyong ke Cianjur.

Ina mengaku, dapat berbagai kemudahan saat boyongan pindah ke Cianjur. Tiba-tiba ada teman Agus yang menawarkan diri mengantar dengan APV-nya. Sehingga, “Mas Agus bisa naik APV, saya di truk mengawal barang dan menjukkan jalan,” jelasya.

Dari cerita Ina, saya mendapat pelajaran tetang sosok wanita baik yang mau mendedikasikan dirinya menjadi  mendekatkan anak-anak kandungnya pada ayahnya. “Saya berupaya mendekatkan tiga anak saya, dengan meminta mereka melihat langsung proses mayat ayahnya dimandikan. Saya ingin mereka ingat terus pada mas Agus dan selalu mendoakannya,” katanya.

Sebelumnya, ia juga mencegah Agus pindah ke Sidoarjo. "Mas Agus pernah berencana memisahkan saya dengan Yusuf ke Sidoarjo. Alhamdulillah, mas Agus membatalkan rencana itu ketika saya bilang, teganya mas Agus memisahkan saya dengan anak,” sambunhya. 

Cerita Ina juga menyiratkan sosok Agus yang kuat menjalin silaturahmi. Terutama pada mantan istri dan anaknya. Kendati pernah dikhianati mantan istrinya,  Agus tetap marajut hubungan baik dengan pihak-pihak yang jadi convirmasi warga  yayasan  silaturahmi. Tak pelak bila dua mantan istri dan anak-anaknya. Tel menyempatkan telepon Ina di Cianjur.

 “Saya memutuskan untuk menikah dengan mas Agus (yang 18 tahun lebh tua) mengingat masa lalu nya dengan dua istrinya,” kata Ina. 

Agus meninggalkan 5 orang anak dari tiga rahim wanita. Dari dua istri yang sudah dicerainya, masing-masing dapat satu anak. Dari Ina yang menemani hingga hembusan nafas terakhirnya, Agus dikarunia 3 anakyatim: Yusuf (kini naik kelas 5 SD), Daud (7 tahun) dan Mutiara (3 tahun). “Alhamdulillah, kedua anak mas Agus dan mantan istrinya itu sudah telepon ke saya di Cianjur,” ujarya. 

Agus Prayitno terlahir dengan nama baptis Yohanes. Nama lengkapnya: Yohanes Agus Prayitno.

Hidayah Allah menghampirinya pada 1997. Pertemannya dengan kawan Jamaah Tabligh, mengantar Agus bersyahadat. Sejak itu, ia sering ikut khuruj (berikhitikaf tiga hari tiap bulan di masjid yang berbeda-beda bersama teman-teman jamaah tablighnya). Sejak jadi mualaf, dia punya nama baru Budi Panembahan. Nama ini lebih senang dia pakai pada mask head (daftar susunan redaksi) majalah yang di-layout-nya.  

Sungguh, saya senang disatukan Allah dengan teman-teman  baik dan meninggal pada hari yang baik. Agus, yang juga pernah jadi GM koran Glodok Standard, adalah satu dari tiga  teman tim majalah ENERGINDO dan TAPAL BATAS. Dua teman lainnya, yakni Widi Yarmanto dan Masdun Pranoto. Keduanya adalah penulis kolom di ENERGINDO.

Pak Widi yg juga mantan Pemred GATRAZ meninggal pd 8 April 2011 saat serangan jatung menyapanya usai sholat Jum'at di kompleks rumahnya. 

Sedangkan pak Masdun Pranoto, mantan Pemred Harian AB dan dua periode menjadi ketua PWI Jaya, meninggal pd usia 71. Saat itu sedang  mengkarantina diri guna menulis buku.(*) 

Penulis: Widjojo Hartono, Wartawan Senior di Jabodetabek.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda